“Sekarang kamu di mana?” Dari seberang, suara Akala masih sengau.
Cinta berdeham-deham kemudian menghela napas. “Di kampung. Di rumah yang ada di kampung. Tadi pagi setelah pergi dari resepsi, aku sampai sini! Semalam aku diantar sopir papah setelah aku juga sampai pulang dulu ke rumah buat ambil keperluan!” jelasnya.
“Aku ke sana sekarang juga. Harusnya tidak sampai satu setengah jam, aku sampai,” balas Akala.
“Kamu beneran baik-baik saja, kan? Jadi yang sakit bukan kamu? Apa bagaimana? Apa ibu Warisem ibunya mbak Arimbi yang sakit?” tanya Cinta cepat karena terlalu khawatir.
Bukannya menjawab, Akala malah menghela napas dalam sekaligus panjang. Membuat Cinta yang mendengar itu menjadi ikut sesak.
“Ya sudah, hati-hati. Aku tunggu apalagi sekarang sudah malam.” Cinta tulus mengatakan itu.
“Iya, makasih.”
Namun, balasan Akala dari seberang terdengar asing. Termasuk ketika akhirnya Akala sampai. Waktu menunjukkan tepat pukul sembilan malam, di jam dinding yang ada di ruang keluarga selaku ruang pertama di sana.
Akala hanya diam, menyapa Cinta dengan canggung dan itu menggunakan suara lirih. Selain itu, Akala juga seolah membatasi pandangannya dari Cinta. Membuat Cinta yang sudah memakai piyama lengan panjang, buru-buru pamit mengambil jilbab kemudian langsung memakainya.
“Akala ...?”
“Ayo ikut aku. Aku pakai motor, jadi kamu pakai jaket. Pakaian yang hangat. Ada sepatu, kan?”
Cinta tak merespons lantaran tanggapan lembut Akala kali ini, terasa dingin untuknya. “Aku minta maaf buat semua kesalahanku. Aku memang salah.”
“Aku sudah memaafkan kamu sebelum kamu meminta,” lembut Akala meski sampai detik ini, ia masih menjaga jarak dari Cinta.
“Boleh peluk?” pinta Cinta yang perlahan menangis.
Tatapan Akala kepada Cinta menjadi berat. Sama beratnya dengan helaan napas dan juga langkahnya. Sebab Akala memang sengaja melangkah, merapatkan jarak mereka kemudian memberikan pelukannya kepada Cinta. Ia memeluk Cinta sangat erat. Lebih erat dari biasanya ketika tubuhnya masih mirip gentong.
“Ta, semuanya sayang kamu. Papah Maheza, mamah Aleya, Chalvin, Chole ... semuanya beneran sayang kamu! Buktinya, Chole rela ... Chole mengorbankan dirinya demi kamu!” lirih Akala, dan dalam dekapannya, Cinta menjadi tersedu-sedu sekaligus mengangguk.
“Semuanya beneran sayang kamu, jadi kamu jangan merasa sendiri, merasa paling kesepian. Karena jika kamu saja terus begitu, apa gunanya kami? Jangan mikir apalagi melakukan yang aneh-aneh. Aku sayang kamu karena aku sudah menganggap kamu sebagai saudaraku!” yakin Akala masih lirih dan benar-benar lembut.
Sempat membuat Cinta merasa sangat tenang, tapi kalimat terakhir Akala sudah langsung membuat pikiran Cinta berkelana. Baru kali ini Akala bilang begitu. Bilang sayang tapi sebagai saudara. Kendati demikian, kenyataan tersebut tidak mengurungkan niat Cinta ikut dengan Akala. Akala mengajak Cinta ke rumah sakit tanpa menjelaskan siapa yang sakit.
“Saudara, kritis. Dia terluka sangat parah dan sampai sekarang masih di ICU.”
“Innalilahi, kasihan banget. Saudara yang mana sih?” Cinta menunggu Akala memakaikan helm untuknya, tapi pria itu tak kunjung melakukannya. Karena yang ada, setelah memakai helmnya sendiri, Akala langsung duduk dan bersiap di atas motor. Pria itu langsung menyalakan motor matic warna hitamnya.
“Aku enggak yakin kamu kenal enggaknya, tapi harusnya sih kenal,” balas Akala tak mau mengungkap jati diri Nina sekarang.
“Akala pasti masih butuh waktu apalagi dia tahu, aku sempat menduakannya. Bisa jadi ini karena Excel, dan bisa jadi, saudaranya juga sampai melarang Akala sama aku lagi. Bismilah, harusnya semuanya baik-baik saja,” batin Cinta.
Sepanjang perjalanan dengan suasana jalan yang terbilang sepi, Akala dan Cinta memilih bungkam. Keduanya disibukkan dengan pemikiran masing-masing. Cinta yang terus mengkhawatirkan nasib hubungannya dan Akala, juga Akala yang mengkhawatirkan masa depan Cinta maupun Akala.
“Meski Cinta ibarat salah jalan, di sini yang lebih menjadi korban tentu Nina. Justru, cara Cinta sampai menjadi bagian hidup Nina benar-benar fatal. Keji. Padahal, harusnya Cinta belajar dari kasus mas Chiko. Ya Alloh, Nina yang malang. Aduh ... enggak kebayang bagaimana perasaan papah Maheza, mamah Aleya, juga Chole yang sudah mengorbankan hidupnya menikah dengan mas Helios,” batin Akala. “Ya Alloh, kok sampai sefatal ini! Bisa-bisanya Cinta sampai kepikiran buat operasi wajah orang lain jadi mirip dia.” Akala yang masih berbicara dalam hati sampai menitikkan air mata. “Nin, kamu wajib kuat. Paling tidak kamu harus melihat ketidakadilan yang kamu dapatkan terbayar. Maju, biar yang bernasib seperti kamu juga punya power buat bangkit sekaligus melawan! Setidaknya kamu wajib hukum mereka karena kamu berhak!” batinnya lagi.
“Akala sampai bawa aku ke rumah sakit yang ada di kabupaten, berarti saudaranya memang sakit parah. Terus, ngapain dia bawa aku ke sana? Tumben, biasanya dia paling ingin aku bisa istirahat,” pikir Cinta bertanya-tanya.
Setelah mengarungi perjalanan hampir dua jam meski Akala terbilang ngebut, akhirnya mereka sampai. Akala langsung memarkirkan motornya di tempat parkir bagian samping. Karena Akala tak sampai menggandengnya, Cinta sengaja melakukannya. Akala tidak menolak, tapi juga tidak membalas.
Suasana rumah sakit sudah terbilang sepi dan hanya beberapa petugas yang melintas. Akala membawa Cinta masuk lift, dan di sana Cinta memperhatikan Akala yang tak sedikit pun meliriknya. Cinta melakukannya melalui pantulan bayangan mereka yang menghiasi sebelah kanan lift mereka berada.
Sampai di ruang tujuan, suasana jauh lebih sepi. Lorong ruang ICU di sana nyaris tak dihiasi orang lain di luarnya. Tak ada yang menemani menunggu di luar, atau memang pasien yang di sana hanya sedikit dan semuanya dijaga mandiri oleh seorang penjaga di setiap ruangan.
Suasana terbilang temaram dan Cinta masih baik-baik saja. Ia belum melihat Nina terlebih pandangannya tertutup punggung Akala yang terbilang paling kokoh dari semua punggung saudara laki-lakinya.
“Assalamualaikum, Nin. Bangun. Aku sudah membawa Cinta ke sini,” ucap Akala lirih sekaligus berat.
Cinta langsung mengerjap bingung terlebih baginya, panggilan “Nin” yang terlontar dari Akala, baginya tidak asing. Ia sampai miring, mencoba melongok wajah pasien yang tidak hanya dibantu infus. Karena di sana ada ventilator, dan juga EKG.
Awalnya, Cinta belum bisa mengenali wajah Nina efek wajah itu lebam parah, bibirnya bengkak hingga dua kali lipat lebih besar dari ukuran normal, juga pelipis kanan yang dihiasi luka cukup lebar.
“Ayolah, ini siapa? Kok aku sudah ketakutan begini? Dan kenapa juga, Akala sampai mengenalkannya kepadaku, seolah Akala sengaja menjanjikan kehadiranku kepada Nin—na ...?” batin Cinta.
Membayangkan wanita di ranjang rawat justru Nina, Cinta langsung sempoyongan. Otak Cinta langsung tidak bisa berpikir, dan perlahan tapi pasti, ia mundur.
Akala yang awalnya digandeng Cinta berangsur menoleh tak lama setelah Cinta mengakhirinya. Ia melihat keterkejutan, ketakutan, kebingungan, kesedihan, bahkan kehancuran dari seorang Cinta sekarang. Cinta bahkan jadi tidak berani menatapnya.
“Silahkan jelaskan!” lembut Akala membiarkan air matanya berjatuhan membasahi pipi. Ia juga membiarkan Cinta menyaksikannya.
Sempat tercengang menatap Akala, yang Cinta bisa hanyalah menangis sambil menggeleng.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kamiem sag
Cinta menyesal?
2025-01-11
0
Nendah Wenda
punya hati juga cinta
2024-11-19
0
himawatidewi satyawira
duaarr
2024-10-20
0