Bos Excel : Tunggu di tempat parkir, jangan pergi dulu.
Membaca itu, Max jadi bingung. “Ini bos Excel kenapa?” batinnya yang kemudian melirik Nina. Di hadapannya, lagi-lagi Nina yang ia yakini sebagai Cinta, mirip orang linglung. Itu sungguh bukan gaya Cinta yang biasanya. Karena biasanya, Cinta akan terlihat tenang, berkelas, tegas, benar-benar elegan. Karena Cinta yang biasa, juga memiliki jiwa pemimpin dan baginya sangat cocok bersanding dengan Helios yang super dingin bahkan kejam.
“Enggak perlu banyak rencana, cukup kabur saja terus langsung pulang. Karena semuanya dimulai dari mereka yang harus mengetahui wajah baruku, agar saat mereka bertemu Cinta, mereka ragu dan malah menganggap itu aku. Benar-benar ini yang harus aku lakukan dan pastinya, aku jangan sampai ke pernikahan Cinta. Biarkan Cinta saja yang menikah dengan pria buruk rupa itu!” pikir Nina yang mewajibkan dirinya bisa melarikan diri secepatnya. Karena hal yang harus Nina lakukan sekarang adalah membuat orang-orang yang telah membuatnya kehilangan jati diri, khususnya ibu Sulastri, pak Surat, dan juga Reno, melihat sekaligus bertemu dengannya secara langsung.
Tak peduli apa yang akan terjadi nanti, bahkan andai Nina menjadi buro*nan sekalipun, Nina harus siap karena hanya dengan begitu ia bisa memiliki kebebasan, termasuk kemenangan yang ia impi-impikan.
“Non, ayo kita ke tempat parkir!” sergah Max santun meski tampang khususnya tatapan kedua matanya mirip seorang psikopat.
Yang Max bingungkan, walau Cinta ada bersamanya dan wanita itu tampak tidak memegang ponsel, nomor ponsel Cinta juga terus mengiriminya pesan.
“Kok makin aneh, ya?” pikir Max.
Calon Istrinya Bos Helios : Max, langsung ke hotel ya. Hotel buat resepsi. Nanti turunin aku di basement saja. Habis itu berarti tugas kamu selesai. Sekali lagi, makasih banyak ya 🙏🏻
Hanya saja, Max yang baru akan masuk mobil dan siap mengemudi, justru makin bingung karena Cinta yang ia jemput dan belum lama ia bantu untuk masuk mobilnya, malah buru-buru pergi. Nina yang awalnya hanya melangkah cepat, kini justru lari, keluar dari area parkir menuju jalan raya.
“Sebenarnya Non Cinta kenapa? Barusan WA, tapi sekarang justru lari begitu,” batin Max yang kemudian menyusul kepergian Nina.
Awalnya, Max hanya melangkah lebar. Namun karena tak ada tanda-tanda Cinta di sekitar sana, ia buru-buru lari. “Sekarang bahkan menghilang.” Max uring-uringan sendiri dan memang kehilangan jejak Nina.
Di sana tidak ada tanda-tanda Cinta atau Nina. Max benar-benar kehilangan jejak Nina apalagi yang Max tahu, wanita itu sungguh calon istri sang bos. Hingga Max sengaja membuat dirinya memperlakukan Nina layaknya Ratu karena andai Max tahu, Nina merupakan tawanan Cinta, bisa ia pastikan wanita itu tak sedikit pun jauh dari pandangannya. Bukan malah seperti sekarang dan benar-benar tak meninggalkan jejak.
“Terus, ini aku harus gimana?” Max berpikir cepat. Max hendak mengirimi Cinta pesan singkat, tapi Excel Lucas sudah ada di hadapannya. Pria itu menggunakan motor trail.
Tanpa terlebih dulu mematikan mesin motornya, Excel yang melepas helmnya berkata, “Kamu langsung ke hotel saja. Bos Helios sudah menunggu di sana. Perketat keamanan takutnya Jay dan Cobra kembali rusuh!”
“Tapi ini non Cinta—” Sadar dirinya salah karena telah kehilangan jejak Cinta, bukannya melanjutkan ucapannya, ia justru buru-buru berlutut.
“Max, jangan begitu. Tugasmu mengurus Cinta sudah selesai. Sekarang tugasmu cukup kembali ke hotel dan perketat pengamanan. Urusan Cinta, biar aku yang ambil alih karena kami sudah janjian. Kami mau pulang kampung dan baru akan kembali besoknya. Cinta bilang mau ke makam mamahnya dulu yang ada di kampung. Ini kami langsung mau berangkat bareng.” Setelah berhasil meyakinkan Max dan Max juga buru-buru minta maaf hingga akhirnya pria itu pergi, Excel juga buru-buru bergegas. Tak jauh dari sana, di sekitar SPBU, seorang berpakaian serba panjang memakai celana panjang lengkap dengan jaket kulit panjang dan juga memakai helm rapat. Excel langsung menghampiri sekaligus membiarkan wanita itu memboncengnya.
“Pegangan yang erat, aku akan mengantarmu pulang! Selajutnya, lakukan apa pun yang kamu mau!” lanjut Excel masih berteriak lantaran ia sudah kembali memakai helem dan hanya membuka kaca bagian mulutnya.
“Iya, Mas. Aku siap! Terima kasih banyak!” Itu Nina, sementara pakaian yang sebelumnya ia dapat dari Max, sudah ia tinggalkan di kantong ruang toilet SPBU.
Memakai wajah Cinta membuat Nina membiasakan diri bergerak cepat layaknya seorang Ninja. Termasuk kini, sudah malam tapi ia harus memboceng motor trail. Beruntung, itu hanya sementara karena selang tiga puluh menit dari perjalanan mereka, Excel ganti motor. Masih motor gede tapi jauh lebih nyaman untuk Nina yang dibonceng.
“Mungkin ini sudah jalanku, dan dari sini aku yakin, Alloh mulai memberi jalan. Melalui orang baik ini yang akan membantuku menggagalkan rencana jahat Cinta, aku benar-benar melarikan diri. Aku akan mulai menjalani misi balas dendamku!” batin Nina tidak berani memeluk Excel walau dari tampangnya, Excel yang sangat tampan terlihat jauh lebih baik dari Max.
Perjalanan menggunakan motor dan membuat mereka ngebut sepanjang jalan itu membuat Nina kewalahan. Rasa dingin tetap Nina rasakan walau ia sudah memakai pakaian hangat serba panjang.
“Jangan lemah. Ini belum apa-apa karena ini baru awal. Makan yang banyak, habiskan agar kamu punya tenaga dan cepat sehat. Kamu juga tetap boleh menangis, tapi kamu tetap harus memberi mereka pelaja*ran. Percayalah, aku akan membantumu hingga akhir meski aku tidak akan selalu bersamamu selama dua puluh empat jam!” ucap Excel.
Di malam yang mulai sunyi, mereka tengah beristirahat di rest area. Excel membelikan Nina mie seduh dan teh manis hangat sekaligus segelas es teh manis.
Sambil tersedu-sedu karena merasa terharu, Nina melahap semua yang diberikan Excel. Bukan hanya makanan maupun minuman, tapi juga rencana Excel yang menyarankannya agar ia tidak langsung membuat orang tua tirinya mati. Nina harus membuat keduanya berakhir di penderitaan hidup segan mati pun tidak bisa.
“Kamu enggak perlu bikin mereka harus dipenjara. Karena membuat mereka hidup segan mati tidak bisa, lalu membuat kejahatan mereka vir*al hingga masyarakat luas bahkan dunia mengetahuinya, itu akan menjadi hukuman keji untuk ibl*is berwujud manusia seperti mereka!” lanjut Excel masih berdiri di sebelah Nina duduk yang mana Nina memang masih makan.
Nina yang masih tersedu-sedu, mengangguk-angguk. “Makasih banyak, Mas. Sekali lagi, doa terbaik untuk Mas sekeluarga. Semoga istri dan anak-anak Mas selalu sehat dan juga dilimpahkan rezekinya. Orang baik seperti Mas juga harus selalu sehat!” ucapnya masih tidak berani menatap Excel.
“Amin-amin. Terima kasih banyak juga buat doanya. Yang harus kamu ingat, walau sekarang kamu enggak berjuang sendiri, kamu jangan sampai jadi orang lemah! Kamu harus selalu siaga. Pukul balas pukul, nyawa balas nyawa!” tegas Excel dan Nina langsung mengangguk-angguk paham.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Kamiem sag
Axcel keren mak
2025-01-11
0
Nendah Wenda
good excel
2024-11-16
0
Samsia Chia Bahir
Oooooooo bangggg exel 🤗🤗🤗
2024-05-06
2