"Aaawh badanku sakit semua."
Pagi menjelang siang di kediaman keluarga besar Aksa, setelah melewati malam panjang bersama sang suami, pagi ini Kalila merasakan tubuhnya seolah remuk bak melakukan olahraga berat. Rasa kantuk masih berkuasa, tapi suara motor dan teriakan kedua adik iparnya yang terdengar samar membuat Kalila mengerjap pelan dan menerka jika matahari sudah meninggi.
Perlahan Kalila meraba sisi kanannya, tidak ada siapapun di sana. Kemungkinan besar Yudha sudah berlalu keluar sejak dia masih terlelap, entah satu atau dua jam lalu, tapi yang pasti Kalila malu karena bangun kesiangan di kediaman mertua.
Baru Kalila pahami kenapa waktu itu Yudha panik hanya karena bangun kesiangan, ternyata rasanya sangat aneh dan mendadak khawatir dipandang buruk. Dia yang sedari awal tidak sempurna, semakin takut andai orangtua Yudha kian menyesal telah memberikan restu untuk menantu sepertinya.
Dalam keadaan begini, tidak mungkin dia akan terus berdiam diri. Kalila harus ke kamar mandi, sementara Yudha entah dimana. Sebenarnya Kalila tidak begitu sulit, jika hanya ke kamar mandi mungkin bisa dengan bantuan tongkat dan instingnya.
Namun, baru saja hendak beranjak dia merasakan ngilu yang terasa amat asing di bawah perutnya. Ya, Kalila tahu ini adalah akibat kegiatan tadi malam, sejak dahulu dia juga tahu bahwa memang akan sakit walau tidak sesakit melahirkan, tapi tetap saja tidak nyaman.
"Apa tunggu saja ya? Tapi kalau ngompol gimana?"
Sempat berpikir untuk menunggu, tapi Kalila tidak sesabar itu dan memilih mandiri dan mengabaikan rasa sakitnya. Jika harus menunggu Yudha, besar kemungkinan dia akan tersiksa karena memang sudah diujung tanduk.
.
.
"Kalian bisa diam?!"
Jika di kamar Kalila tengah berharap Yudha naik segera, di sisi lain pria itu tengah berusaha membuat kedua adiknya diam lantaran khawatir Kalila terganggu.
Entah ajaran siapa, Raja tiba-tiba pamer knalpot berisik itu di pagi hari hingga Yudha naik darah. Padahal, yang punya anak adalah Bima dan seharusnya pria itu yang lebih cerewet, tapi kali ini justru berbeda.
"Jangan banyak tingkah kalau tidak mau kubakar motormu," ancam Yudha usai berhasil membuat Raja terdiam, sementara Arjuna yang sempat berteriak histeris lantaran kagum dengan keahlian sang kakak memilih pergi sebelum menjadi sasaran amarah Yudha.
"Apa salahnya, Kak? Aku cuma mengasah hobi_"
"Hobi? Kau tau suara motormu itu berisik sekali, Kalila masih tidur dan kegiatan konyolmu ini sangat mengganggunya, paham!!" bentak Yudha menunjuk ke arah kamar depan di lantai dua dengan jendela yang tampak terbuka.
Siapa lagi yang melakukannya jika bukan Yudha sendiri, pria itu adalah menantu yang super penurut, jelas dia mengikuti anjuran Mama Zura. Sejak terjaga Yudha sudah mematikan AC dan membuka jendela agar sirkulasi udara yang diterima tubuh Kalila berkualitas.
Sayangnya, baru satu jam setelah Yudha terbangun tiba-tiba Raja berulah dan membuatnya tidak punya pilihan lain dan terpaksa meninggalkan sang istri yang masih begitu lelap. Yudha hanya tidak ingin Kalila sampai sakit setelah semalam dia ajak begadang dan kerja cukup berat.
"Maaf, Kak, aku tidak tahu kalau kak Kalila masih tidur ... Dewangga sama Dewantara saja sudah mandi jadi kupikir ya sudah bangun, mana kutahu kalau kalian masih tidur." Yudha sudah sekesal itu padanya, dan kini Raja tampak santai saja seakan tidak sedang melakukan kesalahan besar.
"Bisa sekali mulutmu menjawab, terakhir kali dan jangan pernah coba lagi jika masih sayang motormu, ingat itu!" Yudha memberikan penekanan sekali lagi, berharap setelah ini Raja akan berhenti walau sebenarnya setelah menikah Yudha tidak punya rencana menetap di sini untuk waktu lama.
Usai membuat Raja ciut pagi ini, Yudha kembali masuk dengan langkah panjang. Tidak peduli sekalipun telinganya mendengar samar bagaimana Raja yang tengah mengumpat dan bingung kenapa Yudha mendadak galak.
Bukan galak sebenarnya, tapi memang kali ini Raja bersalah. Bagaimana Yudha tidak kesal dibuatnya? Susah payah dia berusaha agar Kalila tetap terlelap ketika dia hendak melepas pelukan, bahkan membuka jendela saja sebegitu pelannya. Kini, Raja dengan tanpa merasa bersalah memamerkan motor yang katanya keren, tapi bagi Yudha tidak sama sekali.
Masih dengan kekesalan dalam benaknya, Yudha merasa tenggorokannya kering akibat mengomel panjang lebar di depan. Tidak peduli sekalipun masih pagi, Yudha memilih cola dingin favoritnya dan menegak hingga habis dalam waktu tak sampai lima detik, mungkin kesal menjadi pengaruh utamanya.
"Apa aku berlebihan?" tanya Yudha seraya menghela napas pelan, sedikit perasaan bersalah, tapi kekesalan juga lebih besar dalam dirinya.
.
.
Tidak berselang lama, Bima yang sudah terlihat rapi menggeser tubuh Yudha dengan alasan yang sama, minum. Saat ini Yudha sedang lelah untuk bertengkar, karena itu dia memilih diam dan pasrah saja meski Bima menyebalkan.
"Aah leganya, kenapa Semarang pagi ini panas sekali? Apa mungkin karena kemarin hujan?" Entah pada siapa Bima bertanya, yang jelas saat ini hanya ada Yudha.
"Entahlah, kebetulan saja mungkin," jawab Yudha lesu yang membuat Bima menatapnya bingung.
"Kau kenapa? Pagi-pagi kusut begitu?" selidik Bima usai mengembalikan minuman yang baru dia minum setengah itu, sebuah kebiasaan buruk yang kerap menyebabkan istrinya naik darah.
"Raja cari masalah, pagi-pagi berisik ... dia pikir sedang ada di sirkuit atau bagaimana." Jelas sekali terlihat bagaimana kekesalan Yudha, jika dia ingat-ingat sungguh ingin menghantam Raja dan Arjuna dengan bogem mentah.
"Hahah biarkan saja, namanya masih muda. Raja sedang menikmati kesenangannya, jangan dirusak," cetus Bima seraya tersenyum tipis, sungguh jawaban yang membuat Yudha makin kesal karena kini Bima justru membela Raja.
"Sial, kau membelanya? Yang Raja lakukan sudah masuk kategori pencemaran suara!! Istriku sedang tidur, kau pasti paham bagaimana kesalnya, Bima," pungkas Yudha tak mau kalah, baginya yang kali ini salah memang Raja dan pantas dihadapi dengan emosi.
"Pencemaran suara?"
Yudha tak lagi menjawab pertanyaan Bima, dia masih kesal kenapa saudaranya justru membela Raja. Hingga, Bima terkekeh pelan sebelum kemudian kembali melontarkan kata-kata yang akan membuat mata Yudha membola.
"Semalam kau juga sama, telingaku juga merasa tercemar ketika tiba di depan kamarmu," celetuk Bima kemudian menghela napas kasar.
"Heh? Ma-maksudmu?"
"Lain kali kunci pintu!! Aku tahu kau buru-buru, tapi pastikan dulu semuanya aman," pungkas Bima sebelum meninggalkan Yudha yang kini tampak memerah dan mengusap kasar wajahnya.
"Jadi kunyuk itu menguping semalam?"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ros Ani
/Grin//Grin//Grin//Grin/ kedengaran
2024-12-16
0
Halimah
Astaghfirullah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-12-01
0
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-01
0