"Tapi apa?"
"Om Haidar justru sebaliknya ... dia terpuruk sangat lama karena cintanya sudah habis untuk orang lama. Dia sempat menikah, niatnya untuk membuat semua orang percaya bahwa dia sudah baik-baik saja, tapi baru satu tahun menikah kandas juga karena merasa semakin tersiksa." Kalila kembali bercerita, sejak dahulu dia selalu tertarik dengan masa lalu orang-orang yang di sekitarnya.
"Sampai akhirnya, dia berusia 37 tahun baru bersedia menikah lagi, Itu juga karena opa yang minta cucu," jelas Kalila tersenyum getir, sejak tadi dia sudah hancur sebenarnya, tapi sebisa mungkin dia tahan dan mencoba untuk tidur.
Sama sekali tidak dia duga jika sang suami memiliki masa lalu yang rumit dan hampir seperti orang tuanya, hanya berbeda posisi saja. Satu hal yang Kalila takutkan dalam hubungan, yakni kehadiran orang lama. Ya, Selama ini Kalila sangat percaya bahwa orang lama memang pemenangnya.
Sudah terlalu banyak bukti yang bisa terlihat dan terpampang jelas di depan mata, tidak sedikit hubungan teman dekat Kalila hancur karena masih terjebak belenggu masa lalu.
"Ya Tuhan, kenapa dunia ini lucu sekali," gumam Kalila menggigit bibirnya.
Yudha masih diam membisu, dia tidak mengerti Kalila hendak bicara apa setelahnya. Namun, yang jelas saat ini dia sudah ketar-ketir karena mata sang istri mulai membasah seolah tengah menanggung beban hidup yang luar biasa berat. "Jika om Haidar saja butuh waktu 15 tahun untuk kembali membuka hati, lalu bagaimana denganmu? Apa masuk akal dalam waktu lima tahun bisa melupakan Lengkara sepenuhnya?"
"Kalila ...." Yudha menarik napas dalam-dalam, percayalah kepalanya kini sudah berasap dengan rahang yang sudah mengeras.
"Awalnya aku bingung kenapa kamu datang padaku secara tiba-tiba dan meratukanku seperti papa, tapi setelah mendengar cerita Lengkara ... perlahan aku bisa menebak apa alasanmu menikahiku," tutur Kalila seketika membuat Yudha mengerjap pelan.
Sejak tadi Kalila terlihat santai dan tidak ada masalah. Sama sekali tidak Yudha duga ketika tiba di kamar pembicaraan Kalila seserius ini. Konflik batin yang melibatkan hati dan perasaan, jiwa Kalila terguncang. Dia terkejut, dan bingung tentang malaikat yang datang padanya satu bulan lalu.
"Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan, Yudha? Apa kamu menikahiku hanya karena ingin membodohi mereka jika sudah baik-baik saja?" tanya Kalila kemudian, sebuah pertanyaan singkat yang berhasil membuat dada Yudha seakan sesak.
"Tidak, Kalila ... demi Tuhan tidak," bantah Yudha dengan suara bergetar, selama ini dia cukup banyak mengenal wanita. Menghadapi Lengkara yang cerewet dia jagonya, tapi dihadapkan dengan Kalila, dia belum menemukan cara yang tepat.
"Jangan membohongi hatimu, terlebih lagi dengan menyeret wanita tidak berdaya sepertiku," tegas Kalila kemudian menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
Beberapa hari lalu dia melambung ke angkasa dan percaya bahwa dunia tidak segelap penglihatannya, tapi hari ini dia merasa semua benar-benar gelap tak bermakna.
Niat hati Kalila hanya ingin tahu sedikit tentang Yudha, tapi Kalila telanjur penasaran dengan kisah mereka di masa lalu. Dia tidak marah pada Lengkara, bahkan sangat berterima kasih lantaran bersedia jujur padanya. Namun, ingatan buruk Kalila tentang rumitnya sebuah cinta dan masa lalu kedua orang tuanya membuat ketakutan itu menggelora dalam diri Kalila.
Bahkan, dia tidak berbohong dan sempat terbesit sebuah pertanyaan apa mungkin yang dia alami saat ini adalah karma atas luka yang papanya berikan pada Om Haidar. Hal itu berhasil membuat Kalila benar-benar menangis di bawah dekapan selimut tebal itu.
"Kalila," panggil Yudha pelan dan mencoba menyingkap selimutnya, dan jelas saja dia tidak pasrah begitu saja.
"Kalila, buka ... aku bisa jelaskan, Sayang," pinta Yudha begitu lembut, tapi Kalila tidak akan luluh saat ini.
"Tidak mau," tolaknya masih lembut, Yudha masih berusaha menyingkap selimut dan mulai memperlihatkan kening Kalila sedikit.
"Sayang ayolah, atau kamu mau kupaksa?"
"Tidak mau!!" tolak Kalila sedikit meninggi dan kini ganti posisi menjadi tengkurap, persis katak yang siap berpindah dari batu yang ke batu yang lain.
Dia dalam keadaan marah, tapi perut Yudha sudah sakit melihat posisi sang istri yang kini bersembunyi di balik selimut. Susah payah Yudha menahan, dia sadar jika kini mereka tengah dalam masalah serius. Anehnya, kenapa juga Kalila harus begitu? Apa mungkin begitu cara marahnya, pikir Yudha seraya menggigit bibir demi menahan agar gelak tawanya tidak pecah.
.
.
"Mungkin kau sudah mendengar semuanya dari Kara, dan aku tidak akan bercerita lagi ... Lengkara memang banyak bicara, tapi aku percaya dia tidak akan mengada-ada."
Jika harus menunggu Kalila bersedia menatap ke arahnya mungkin akan lama. Oleh karena itu, Yudha berpikir akan lebih baik dia memberikan penjelasan walau Kalila tidak meminta.
"Beberapa orang mungkin berpikir aku munafik, tapi aku adalah orang yang tidak akan pernah mempermainkan sebuah pernikahan." Yudha mulai angkat bicara usai susah payah menahan tawa.
"Jauh sebelum aku bertemu denganmu, bahkan sejak awal Bima dan Lengkara menikah aku sudah melepasnya. Sakit memang awalnya, tapi aku menerima semua itu sampai akhirnya benar-benar lupa jika pernah mencintainya," lanjut Yudha menjelaskan panjang lebar, begitu tertata dan tanpa keraguan dalam mengutarakannya.
"Jika kamu berpikir aku menikahimu hanya karena sedang berusaha membodohi mereka, kamu salah besar. Bukan begitu caranya jika aku mau, aku menikahimu karen_ aaarrghh!! Ya, Tuhan, Kalila!!" Sejak tadi Yudha benar-benar fokus menjelaskan, tapi kala Yudha menoleh, dia terkejut lantaran Kalila sedang menatap kosong ke arahnya.
"Karena apa? Kamu belum selesai bicara," ujar Kalila tetap terlihat tenang usai membuat jantung Yudha berdegub tak karu-karuan, sedikitpun dia tidak terkejut dengan suara Yudha yang melengking itu.
Cukup lama dia menatap Kalila lekat-lekat, Yudha mendekat hingga wajah keduanya hanya berjarak beberapa centi saja. Wajah Kalila yang putih dan tampak kemerahan itu mempertegas jika dia baru saja selesai menangis.
"Karena memang sudah waktunya aku menikah, kebetulan jodohnya kamu," jawab Yudha pelan, besar kemungkinan untuk kali ini Kalila tidak akan menerima jawabannya.
"Jawaban yang lain, jawaban itu terlalu umum," pinta Kalila kemudian, sesuai dugaan dan benar-benar tepat sasaran.
Mana mungkin Yudha mengatakan alasan utama yang menjadi awal dia menikahi Kalila. Tidak, belum waktunya dan dia tidak ingin Kalila semakin terluka nanti. Memang segala sesuatu perlu kejujuran, tapi untuk yang kali ini dia lebih memilih menuruti anjuran papa mertuanya.
"Karena kamu cantik."
"Aku tahu kalau soal itu, yang lain saja," pinta Kalila kemudian, dia masih belum berdebar mendengar jawaban Yudha.
"Aku jatuh hati pada pandangan pertama, hari itu hujan turun dan di bawah rintik hujan hatiku berdebar ketika melihatnya ... sampai akhirnya, aku tahu siapa nama gadis itu dan memutuskan untuk meminta izin pada papanya agar dia menjadi milikku, sepenuhnya dan seutuhnya."
Yudha tidak sepenuhnya berbohong, memang hatinya sudah terpaut sejak pertama kali melihatnya. Bahkan, liontin yang Kalila pakai sore itu tidak dia kembalikan ketika keluarga besar Kalila tiba di rumah sakit. "Tidak ada istilah orang lama dalam hidupku, saat ini dan hingga akhir nanti Kalila adalah orangnya ... mengerti?" Yudha menggenggam erat jemari sang istri, perlahan senyum di wajahnya mulai terbit.
"Enam tahun, kalian pasti pasangan yang romantis, 'kan? Kara bilang kamu pernah gendong Lengkara sejauh 2 KM pas liburan di Bandung karena kaki Kara tertusuk paku," ucap Kalila mencebik dan kembali membuat ubun-ubun Yudha seakan mendidih.
"Ah itu karena dia petakilan, untuk saja tidak tetanus," umpat Yudha terdengar sekali kesalnya, wajar saja Kalila sesedih itu. Dadanya sudah bergemuruh, dan tangan Yudha kini mengepal kuat. "Awas saja kau, Lengkara ... adik ipar laknat!!"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
_yuniarti.sherli_
lengkara sama Yuda itu kayak adik kakak perempuan, gak pernah akur 😂😂
2024-12-22
0
Halimah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-11-30
0
mom gibran
😆😆😆😆lengkara vs yuda
2024-11-11
0