"Tehnya? A-aku lupa ... habis gulanya, besok saja ya."
Masuk akal sekali alasan Yudha, entah di akal siapa, yang jelas bukan di akal Kalila karena kini wanita itu terkekeh begitu mendengar jawaban Yudha. Sekalipun dia tidak bisa melihat, jelas dia bisa merasakan jika keluarga Yudha bukan keluarga biasa. Rasanya tidak mungkin tidak menyimpan cadangan gula, pikir Kalila.
"Kenapa tertawa? Lucunya dimana, Sayang?" tanya Yudha seraya mengerutkan dahi, selain mudah menangis sang istri juga mudah tertawa, dalam waktu dekat suasana hatinya memang berubah secepat itu.
"Kamu yang lucu," jawab Kalila yang seketika membuat Yudha tertegun, dia menatap Kalila yang kini tersenyum simpul usai memujinya. Tidakkah dia sadari pujian sesederhana itu berhasil membuat Yudha porak poranda.
"Selain lucu, aku tampan juga," ucap Yudha mendadak narsis di hadapan sang istri, pelan tapi pasti dia bersikap seadanya dan benar-benar jadi dirinya sendiri kala bersama Kalila.
Niat Yudha membuat istrinya semakin terhibur, tapi nyatanya kini Kalila justru terdiam dan menatap kosong. Lagi dan lagi, Yudha menghela napas dengan perubahan suasana hati Kalila yang secepat kilat itu.
"Aku tahu itu, jadi tidak sabar ingin melihat wajahmu."
Setelah sempat terdiam beberapa saat, kini dia mengucapkan sebuah kalimat yang menggetarkan hati Yudha. Terlebih lagi, saat ini dia mengusap pelan wajah Yudha penuh perasaan, pertama kalinya Kalila memiliki keberanian untuk menyentuh sang suami secara terang-terangan.
"Nanti, pandangi aku puas-puas jika sudah bisa," jawab Yudha dengan lidah yang seketika terasa kaku.
Matanya kembali memanas, mengingat dengan jelas bagaimana tragedi sore itu. Hanya karena mengejar pencopet yang melarikan tasnyaa, Yudha seolah hilang kendali hingga tidak menyadari jika Kalila berada di depannya.
Padahal, hingga detik ini tas tersebut juga tidak dia temukan pada akhirnya. Apa yang menimpa Kalila membuat Yudha merelakan tas kerjanya, sekalipun memang terdapat laptop yang sudah begitu lama menemaninya di sana, dia memilih ikhlas andai tidak ditemukan.
Beruntung saja data-data penting perusahaan tidak ada di sana, hanya saja file-file pribadi yang dia simpan sejak menjadi asisten Zean ada di sana. Cukup mengkhawatirkan, tapi untuk saat ini Yudha tidak terlalu memikirkannya. Sembari Jack berhasil menemukan benda itu, dia akan fokus pada Kalila saja.
Kalila kembali meringis kala Yudha mengoleskan alkohol ke lukanya. Dia pikir sudah selesai, ternyata masih banyak tahapannya dan berhasil membuat Kalila terperanjat kaget beberapa saat.
"Di luar hujan, apa ada pelangi?"
"Tidak ada, yang ada hanya gelap ... cuaca akhir-akhir ini tidak dapat diprediksi, padahal tadi cerah sekali," tutur Yudha turut melihat ke luar jendela, suasana di luar sana tidak hanya sekadar gelap, tapi menakutkan sebenarnya.
"Iya, ketika Tuhan berkehendak dalam waktu sekejab semua bisa berganti ... tadinya mendung tiba-tiba cerah, begitu juga sebaliknya. Sama seperti hati manusia, semudah itu berpindah tanpa bisa kita duga."
Yudha paham yang kini Kalila bahas bukan lagi tentang hujan, tapi tentang dirinya. Untuk itu Yudha masih memilih diam, dia terus memandangi Kalila yang berceloteh cukup panjang.
"Kalila boleh aku tanya sesuatu?" Tidak ingin Kalila nanti terjebak dalam kesedihan atau semacamnya, Yudha mengalihkan pembicaraan.
"Hm? Boleh, tanya apa?" tanya Kalila kala Yudha mendekat dan duduk di sisinya. Tanpa dia duga, tangan pria itu melingkar di pundaknya tanpa izin dan sengaja mendekat hingga keduanya tak berjarak.
"Jika sedang hujan, apa yang paling kamu ingat?" tanya Yudha kemudian sesaat setelah Kalila menyandarkan kepala hingga keduanya benar-benar merasa dekat.
"Hujan?" Kalila kembali memastikan, khawatir nanti justru salah jawab dan Yudha naik darah.
"Iya, apa? Pasti ada, 'kan?"
Pertanyaan yang tidak begitu sulit, mudah sekali bagi Kalila untuk menjawabnya. Apalagi yang dia ingat saat hujan, tidak lain dan tidak bukan sudah pasti. "Mie rebus, pakai telur setengah matang dengan irisan cabai ... ah aku jadi lapar," jawab Kalila bertepuk tangan dan memejamkan mata seolah tengah membayangkan kelezatan dari semangkuk mie instan yang disajikan hangat di hadapannya.
"Heh? Mie rebus?" Yudha menduga jawabannya akan berhubungan tentang hati atau semacamnya, sama sekali tidak dia kira Kalila akan memberikan jawaban paling realistis di dunia.
"Iya, biasanya kalau hujan begini aku sama Kama diam-diam masak mie instan lalu makan di kamar karena Papa melarang ... kan jadi kangen." Kalila mencebik seketika, dia kembali merasakan kerinduan dalam benaknya, kerinduan tak tertahan dan sungguh luar biasa.
"Kangen Kama?" tanya Yudha kemudian, sedikit menyesal juga dia bertanya semacam itu jika sang istri justru bersedih dibuatnya.
"Bukan, kangen Mie rebus," tutur Kalila sembari medongak hingga Yudha bisa menatap mata penuh permonohan itu, tanpa kata dia paham apa keinginan istrinya.
"Ya sudah ayo, kita turun."
"Yeay!! Beneran?" Kalila berbinar, sebuah bukti nyata dan dia percaya bahwa Lengkara tidak berbohong tentang kepekaan hati Yudha sebagai pasangan.
"Hm, tapi jangan banyak-banyak, sayurnya dimakan," tegas Yudha kemudian sebelum benar-benar berlalu dari kamar.
"Iya, telurnya dua ya!!" Yudha terkekeh mendengar permintaan Kalila, ternyata benar bahwa sejatinya wanita memang banyak mau.
"Dua butir? Atau dua kilo?" tanya Yudha tergelak, wajah Kalila mendadak berubah dan kini mencubit perut sang suami.
"Dua kandang, ya dua butirlah!!" pungkas Kalila sebelum kemudian memekik kala Yudha menggendongnya, padahal hanya ke dapur saja.
.
.
Dunia menjadi milik berdua ternyata bukan isapan jempol belaka, setelah bertahun-tahun Yudha hanya menjadi saksi dan terkadang membuat perutnya mual, kini dia benar-benar merasakan hal itu sendiri.
Berawal dari pembahasan tentang hujan, berakhir menjadi chef dadakan yang ternyata mengundang pihak lain turut ke dapur. Tidak lain dan tidak bukan, mereka adalah Raja tanpa mahkota dan Arjuna tanpa panah yang nekat cari perkara dan berani merepotkan Yudha.
Tidak ingin melihat keberadaan mereka lebih lama, Yudha terpaksa berbaik hati dan mengikuti apa maunya. Dua mie rebus untuk kedua adiknya, agak sedikit menyebalkan, tapi jika dia bersikap kasar khawatir istrinya justru tidak nyaman.
"Sudah sana, makan di tempat lain," titah Yudha dengan mata mendelik dan wajan anti lengket di tangan kanannya yang siap mendarat di kepala Raja andai membantah.
"Mau sama kak Kal_ iya-iyaaa aku ke kamar!!" Raja panik dan berlalu pergi kala Yudha mengambil ancang-ancang untuk memukulnya.
Tersisa dia dan sang istri saat ini, Yudha meghampiri Kalila dan menghidangkan menu spesial untuk tuan putrinya. Mie rebus dengan dua telur sesuai keinginan Kalila, selama ini permintaan Kalila masih wajar-wajar saja. Bahkan terkesan sungkan untuk meminta, padahal melihatnya sesenang ini Yudha merasa sangat berharga.
"Maaf merepotkan, suatu saat aku yang masakin kamu... aku bisa masak sedikit-sedikit." Ucapan Kalila sangat wajar, dia juga tidak bersedih tapi berhasil membuat Yudha bungkam dan tidak kuasa untuk sekadar menjawab sepatah kata pun. "Seandainya saat itu sudah tiba, kuharap kamu masih bersedia memasak untukku, Kalila."
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Halimah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-11-30
0
Halimah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-11-30
0
Laksmi Amik
ceritamu gk pernah gagal ya sll keren
2024-08-29
1