Ketakutan Kalila berlanjut, tidak peduli walau Yudha sudah mencoba menenangkan dirinya, tetap saja dia takut. Bagaimana tidak, dahulu saja kala dia terlihat memukau bahkan dianggap sempurna, keluarga besar Juan tidak begitu menerima kehadirannya. Lantas bagaimana saat ini, pikir Kalila.
"Tenangkan dirimu, mereka pasti sudah melihat kita," bisik Yudha mengeratkan genggaman tangannya.
"Ada papamu?"
"Tentu saja," jawab Yudha tersenyum tipis, jujur saja tatapan Bima di depan sana membuatnya gugup.
Entah siapa yang merencanakan ini semua, tapi Yudha cukup terkejut melihat saudaranya juga ada di sana. Bima tidak sendiri, tapi juga dengan keluarga kecilnya yang membuat Yudha semakin berdegub tak karu-karuan.
"Ibumu?"
"Ada juga," jawab Yudha menatap ke arah sang istri yang kini tampak berkeringat karena gugup dihadapkan dengan situasi ini.
"Saudaramu?"
Yudha tertawa pelan, sejak kemarin Kalila sudah bertanya banyak tentang keluarga Yudha, terutama saudara. Stigma Kalila bahwa calon adik ipar itu tidak bersahabat masih begitu melekat.
Kalila beralasan dahulu saudara perempuan Juan dengan tegas mengatakan jika tidak suka padanya. Yudha mencoba membuka mata Kalila bahwa tidak ada yang ditakutkan, dia juga sudah menjelaskan bahwa kedua adiknya laki-laki dan menyukai kehadiran wanita.
Namun, ucapan Yudha kala itu agaknya tidak berhasil membuat Kalila tenang. Terbukti hari ini jemarinya masih dingin, Kalila juga melangkah begitu berat seolah tengah berada dalam masalah besar.
"Aku serius, adik-adikmu ada juga tidak?"
"Ada, tetap di sampingku maka kamu akan baik-baik saja."
Jawaban Yudha sama sekali tidak membuatnya santai, tapi justru semakin panas dingin. Terlebih lagi, kala Bima mulai menyapa dan menghampiri Yudha yang berdiri di hadapannya.
"Kau di sini?" tanya Yudha kala Bima memeluknya, entah atas dasar apa, tapi yang jelas tatapan pria itu seolah menegaskan jika dia bangga pada Yudha.
"Iya, sengaja ... ingin bertemu kakak ipar," jawab Bima kemudian menatap sekilas wanita cantik yang berada di sisi Yudha.
Tidak selesai di sana, Bima juga menyapa Kalila begitu hangat. Terlalu bersemangat, Bima hampir keadaan Kalila dan mengulurkan tangannya. Seketika tatapan dan mata tajam Yudha membuat Bima menarik tangannya segera.
Bima menggigit bibir dan khawatir Yudha tersinggung, keadaan berubah canggung sesaat. Bahkan saat Lengkara turut menyapa Kalila, Bima masih merasa tak enak hati dan serba salah.
Beruntung saja, di saat suasana tengah genting Raja yang hyperactive datang dan Memeluk Kalila sebagai bentuk sapaan. Ya, Bima memang selamat, tapi Yudha tidak sama sekali.
"Bidadari dari mana ini? Aku sudah menunggu Kak Lila dari lama, tahu!!" seru Raja menyambut hangat Kalila, tanpa dia sadari jika tindakannya membuat Yudha yang ramah mendadak tak bersahabat sama sekali.
"Oh iya? Ini Arjuna?" tanya Kalila menerka-nerka, dia tidak tahu bagaimana sikap kedua adik Yudha sebenarnya karena di hari pernikahan juga tidak seheboh ini.
"No, ini Raja ... aku yang paling tampan di antara mereka," jawab Raja seketika membuat ketakutan Kalila gugur segera.
Agaknya dia dipertemukan dengan orang-orang yang memang mengerti dengan keadaannya. Raja menarik tangan Kalila dan memintanya menyentuh wajah pria itu. Sama sekali tidak bisa Kalila simpulkan setampan apa, tapi yang jelas lebih tinggi dari Yudha.
"Gimana? Sudah berasa tampannya?"
"Iya, sudah," jawab Kalila tersenyum hangat, sebuah senyuman yang membuat Yudha tak tega untuk menghentikan Raja. Sebisa mungkin Yudha berpikir positif, besar kemungkinan Raja memang tengah menghibur istrinya.
"Ah senyumnya manis sekali, Kakak tahu tidak? Kalau senyum begini kakak mirip mantanku," celetuk Raja yang membuat Yudha berdecak dan mulai mengeluarkan taringnya.
"Kalau tidak senyum mirip siapa?" tanya Kalila baik-baik, entah karena hanya ingin menghargai Raja, atau memang benar penasaran dia tidak tahu juga.
"Calon istriku," jawab Raja tampak santai dan tengah bicara pada orang asing yang kerap dia goda.
"Calon istri kepalamu, hentikan, Raja!!" sentak Yudha benar-benar meledak pada akhirnya.
Sejak tadi dia diamkan, nyatanya Raja cari perkara dan kembali berlalu menjauh. Agaknya anak terbuang itu benar-benar perlu dibuang agar tidak membuat sakit kepala, pikir Yudha dengan kekesalan yang kini mengalir deras dalam darahnya.
"Sudah, Papa sama Ibu menunggu di dalam ... jika kau marah, maka kau yang kalah, Yudha." Bima mencoba menenangkan Yudha meski tahu sekesal apa perasaan saudaranya kini.
"Dia yang cari perkara, calon istri apanya!! Awas saja nanti, kublokir semua kartunya," umpat Yudha menatap kesal Raja yang sudah menghilang dari hadapan mereka, napas Yudha terasa tidak lega sekalipun sudah membuka dua kancing kemejanya.
.
.
Tidak jauh berbeda dengan keluarganya, Kalila merasakan kehangatan yang sama di keluarga sang suami. Kedatangannya disambut dengan baik, tidak ada yang mencela ataupun melontarkan kata-kata yang melukai hati Kalila, mungkin sudah Yudha wanti-wanti sebelumnya.
Kekhawatirannya tidak terbukti, tidak ada adik ipar cerewet, tidak ada pula mertua kejam seperti yang dia takutkan. Bahkan, para pelayan di sini benar-benar menghormati Kalila layaknya istri majikan.
Mungkin hanya di keluarga ini, orang-orang tidak mengganggapnya menyedihkan dan bersikap sebaik mungkin demi menjaga hati. Jika terus begini, kemungkinan besar Kalila tidak keberatan jika harus tinggal bersama mertua.
Tiba di kamar sang suami, Kalila tidak dapat membayangkan bagaimana keadaannya. Yudha mencoba memberikan gambaran begitu sabar pada Kalila kala mereka pertama kali masuk ke kamarnya.
"Delapan langkah dari meja rias, ada meja dan beberapa buku, siapa tahu kamu berminat buat bac_" Yudha memejamkan mata, seketika sesal berkecampuk dalam dirinya.
Percayalah, dia benar-benar tidak sengaja dan semua itu spontan lolos dari bibirnya. Kalila tidak marah, dia hanya tersenyum getir seraya mendengar ucapan Yudha.
"Maaf, Kalila, aku tidak sengaja."
"Tidak masalah, suatu saat aku pasti akan baca," jawabnya begitu yakin, Yudha yang kini menatapnya hanya menghela napas panjang. "Kamu tahu, aku sangat suka baca buku ... di rumah biasanya aku menghabiskan banyak waktu di ruang baca, hanya saja sekarang tidak bisa," lanjutnya lagi.
Istrinya sama sekali tidak marah, walau Yudha tahu kalimat itu mungkin luar biasa sakitnya. Yudha merusak semua hal dalam diri Kalila, wajar saja Papa Gian mengatakan jika kebutaan itu membuat Kalila kehilangan dunianya.
"Iya, nanti kamu akan baca lagi," ucap Yudha menempelkan dahi seraya memejamkan mata. Jarak keduanya begitu dekat, hingga helaan napas berat Yudha begitu terdengar nyata di telinga Kalila.
"Maafkan aku."
"Oh iya, keluarga kamu baik ternyata ... mereka benar-benar menerimaku, terima kasih ya." Kalila mengalihkan pembicaraan lantaran Yudha tak jua angkat bicara.
"Hm? Terima kasih untuk apa?"
"Sudah meyakinkan keluargamu untuk menerima wanita buta sepertiku. Aku yakin, pasti sangat sulit bukan?" tanya Kalila kemudian, sontak pertanyaan itu membuat batin Yudha terisis seketika.
"Tidak sama sekali, yang sulit itu justru meyakinkan wanita ini untuk menerimaku sebagai suami," ucap Yudha sebelum kemudian menggendong tubuh Kalila tanpa aba-aba, jelas hal itu membuat Kalila tergelak dan panik bersaman.
"Mau kemana? Kamu tidak akan melemparku dari jendela, 'kan?" tanya Kalila yang berhasil menciptakan gelak tawa untuk Yudha.
"Haha tidak, tapi ke ranjang," bisik Yudha seraya melangkah pelan menuju tempat tidur.
"Ranjang?"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Erna Okta
raja nantinya yg jadi polisi itu kan ya?
2024-12-24
0
Nanik Kusno
Keluarga yg sdh kompak....dan baik
2024-04-08
1
Puji Hartati Soetarno
sambil ku ingat2 lagi ...Arjuna dan Radja,,adik2 Bima Yudha..adik beda ibu beda bapak...
berarti Radja Arjuna tetap ikut ortunya Yudha ya,dan ibu kandung mereka di penjara
2024-03-14
0