"Sayang?"
Tanpa sadar sebenarnya, Yudha gelagapan kala Kalila kini bertanya demi memastikan hal itu. Seketika Yudha mengatupkan bibir, dia terlalu lancang sepertinya. Bukankah akan lebih baik jika ditanya lebih dulu? Lidahnya masih terbawa suasana dimana spontan bersikap lembut jika pada seorang wanita.
"Iya, kenapa? Tidak suka ya?"
"Suka, cuma agak kaget dikit." Hanya karena sebuah panggilan sayang, Kalila tersenyum sehangat itu.
Berdosa sekali rasanya Yudha, bisa-bisa beberapa saat lalu dia justru merindukan sosok wanita lain sementara kini Kalila bisa sebahagia itu hanya dengan kata sayang.
Hanya sedikit rindu, bukan apa-apa karena memang pemandangan mertua dan kakak iparnya membuat Yudha seolah kembali ke masa lalu.
Kendati demikian, perasaan itu hanya berlangsung beberapa saat. Yudha sadar bagaimana keadaannya saat ini, dia sudah punya istri dan tidak ingin melibatkan bayang-bayang mantan kekasihnya.
Sudah tentu dia akan membiasakan diri, tidak peduli seindah apa masa lalunya, tapi yang dia miliki saat ini adalah Kalila. Wanita polos yang tidak tahu apa-apa itu tidak seharusnya mendapatkan pria dengan cinta yang telah habis untuk orang lama.
Yudha akan berusaha menumbuhkan kembali rasa itu. Seperti yang Bima katakan beberapa hari setelah dia melamar Kalila, cinta yang disebabkan karena kasihan dan tanggung jawab adalah bentuk paling tulus.
Bagaimana tidak, dengan Yudha yang mencintai Kalila atas dasar itu, sama sekali tidak berharap balasan nantinya. Semata-mata dia akan menjaga sang istri penuh cinta dan akan selalu menunggu saat dimana Kalila mendapat pendonor kornea mata yang cocok untuk sang istri.
.
.
Sesuai keinginan sang mertua, Yudha menetap untuk beberapa hari di kediaman keluarga Wijaya. Hingga tiba waktunya, keluarga besar harus merelakan Kalila ikut Yudha ke Semarang.
Sebagai putri yang lahir dari keluarga sempurna, jelas saja bukan hal mudah untuk melepas Kalila. Bandara menjadi saksi bagaimana tangis haru keluarga itu kala berpisah.
Yudha begitu banyak mendapat nasihat dari mertuanya. Sama sekali tidak dia duga jika Papa Gian sangat mempercayai Yudha sepenuhnya untuk merawat Kalila. Bukan hanya merawat lahirnya, tapi juga batin Kalila.
"Jaga Kalila baik-baik, papa percaya kau tidak akan mengkhianati janjimu, Yudha," tutur Papa Gian menepuk pundak Yudha beberapa kali.
"Iya, Pa." Yudha mengangguk pelan seraya menjawab tegas ucapan papa mertuanya.
Tidak hanya Papa Gian yang angkat bicara, Kama juga memberikan penegasan berkedok salam perpisahan. Maklum saja, Kama yang keras hati tidak bisa mengikuti perintah sang papa untuk lemah lembut dan bersikap hangat pada Yudha.
"Sekali lagi aku ingatkan, jangan pernah menyakiti adikku sedikit saja," bisik Kama penuh penekanan seraya memeluk tubuh Yudha, benar-benar penyamaran yang sempurna.
"Jangan khawatir, aku suaminya jadi tahu tanggung jawabku, Kama," jawab Yudha mengimbangi sandiwara Kama.
Jika suadara iparnya hanya sebatas memeluk, Yudha kini mengusap pelan pundak Kama seolah hubungan mereka memang benar-benar hangat seperti harapan Papa Gian.
"Bagus, jika sampai kau berulah aku tidak akan tinggal diam," lanjut Kama lagi, walau sedikit geli dengan usapan tangan Yudha dia rela bertahan demi menjaga diri dari terkaman sang papa.
Diawali dengan pelukan, berakhir dengan saling melepas dan melayangkan tatapan tajam. Satu minggu hidup di atap yang sama tidak membuat Kama dan Yudha bisa menjalin kedekatan sebagaimana mestinya.
Bukan tanpa alasan, tapi memang sejak Yudha hadir dengan sikap lembut dan hangatnya, membuat Kama yang malas bicara dan bertahan dengan sikap dinginnya terpojok dan dibanding-bandingkan.
"Satu lagi, tolong tatap adikku sebagai wanitamu yang sebenarnya dan jangan sesekali kau menjadikan dia bayangan masa lalumu, Yudha."
Sebelum menjauh, Kama melontarkan sebuah kalimat yang membuat mata Yudha membola. Entah kenapa dia merasa yang Kama ucapkan bukan asal bicara, tapi sebuah peringatan sesungguhnya.
Senyum tipis Kama benar-benar menjadi tanya, Yudha hendak menuntut penjelasan, tapi tidak lagi punya kesempatan karena mereka harus segera berlalu pergi. Sialnya, ucapan itu membekas dan sulit sekali Yudha hilangkan.
Bahkan, hingga sepanjang perjalanan ucapan itu selalu terngiang dalam benak Yudha. Pria itu menoleh sekilas, sang istri yang kini terlelap dia pandangi lekat-lekat. Kalila yang begitu mudah tertidur berhasil membuat senyum Yudha tertarik tipis, agaknya di dunia ini tidak ada hal menarik selain tidur menurut Kalila.
"Kamu tidur terus, seperti kubuat begadang saja, padahal belum," tutur Yudha menggeleng pelan seraya tersenyum tipis.
.
.
Tidak butuh waktu lama mereka kini tiba di Semarang, tanah kelahiran Yudha dengan sejuta kenangan yang mengajarkannya betapa manis pertemuan dan bagaimana sakitnya perpisahan.
Semarang adalah tempat pertama dia bertemu Bima, saudara kembar yang terpisah sejak lahir. Namun, Semarang pula yang menjadi saksi perpisahannya bersama Lengkara, mantan kekasih sekaligus wanita pertama yang pernah menjalin hubungan serius dan kini menjadi adik iparnya.
Yudha tidak ingin membawa Kalila dengan hati yang berkecamuk dengan masa lalu, tidak sama sekali. Dia pulang dengan membawa diri sebagai pribadi yang baru, sebagai suami Kalila tentu saja.
"Selamat datang, Tuan dan Nona ... bagaimana perjalanan hari ini?" sapa Jack, asisten pribadi Yudha yang tampak terkejut lantaran istri bosnya menguap lebar di depan sana.
Yudha tertawa pelan kala Kalila tampak panik dan menutup mulutnya. Jack yang sudah menunggu sejak beberapa menit lalu ikut tertawa melihat pemandangan di depannya.
"Kau lihat? Istriku mengantuk berat jadi kita pulang sekarang."
Kalila menunduk dalam-dalam, kebiasaan di rumah masih terbawa dan dia memang tidak bisa menahan diri karena ngantuknya luar biasa. Entah apa penyebabnya, mungkin karena tablet anti mabuk yang Mama Zura berikan karena khawatir putrinya mabuk udara.
Rasa malu Kalila menjalar hingga ke seluruh aliran darah dalam tubuhnya. Andai bisa, mungkin dia ingin bersembunyi di bawah ketiak Yudha saja hingga nanti tiba di kamar.
Selain malu, dia juga takut dengan tanggapan keluarga Yudha nanti jika mereka sudah tiba. Meski di pesta pernikahan sudah sempat dikenalkan, tapi demi Tuhan rasa tidak percaya diri dalam diri Kalila kembali menjalar seiring perjalanan yang Yudha katakan kian dekat.
Semakin lama, detak jantung Kalila semakin tidak dapat diajak bekerja sama. Sama seperti perasaan kala Juan kenalkan pada kedua orang tuanya, Kalila takut dan khawatir jika nantinya dia justru diperlakukan berbeda.
Hingga, ketika mobil berhenti di sebuah istana megah itu, Kalila menggenggam erat tangan Yudha. Kuku-kuku Kalila bahkan membuat Yudha merasa kesakitan. Jelas saja pria itu bingung kenapa sang istri bersikap demikian.
"Kenapa? Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Yudha lembut seraya mengusap pelan punggung tangan Kalila. Tidak peduli meski sebelah tangannya tersiksa Yudha tidak meminta Kalila melepaskannya.
"A-aku takut, nanti keluargamu tidak suka aku bagaimana?"
"Keluargaku tidak seperti itu, ketika kita menikah mereka semua hadir dan menyapamu dengan hangat, Kalila masih ingat, 'kan?" tanya Yudha mengusap pelan wajah sang istri.
"Masih, tapi di sinetron banyak yang begitu. Awalnya hangat semua, tapi nanti ketika pemeran utamanya masuk ke rumah tokoh utama prianya beda lagi."
"What? Si-sinetron?" Yudha menghela napas kasar, matanya mengerjap pelan bersamaan dengan Kalila yang menggangguk perlahan. "Astaga, apalagi ini."
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
anita
sinetron yg d produseri kama itu kalilaaaa
2024-09-06
1
Laksmi Amik
lanjoot
2024-08-29
0
Nanik Kusno
next
2024-04-07
0