Alana menunggu Bara di ruang tamu. Dia akan berpura-pura tidak tahu kemana pria itu berada. Dia ingin lihat, apakah setelah mereka berbaikan, Bara akan jujur padanya atau tidak. Jika Bara mengatakan hal yang sebenarnya pada Alana, dia akan memperjuangkan cintanya. Tapi jika Bara berbohong, maka dia akan mundur secara perlahan.
Alana melihat jam yang menempel di dinding, sudah pukul 17:00 tapi Bara belum juga pulang. Dia berdecak kesal dan memilih pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Tapi baru saja dia memasukkan sayuran dan beberapa bumbu lainnya, tiba-tiba sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang.
"Apa yang kau masak?" tanya Bara
Alana terkejut. Tapi dia membiarkan Bara memeluknya. "Kau baru pulang?" bukannya menjawab pertanyaan Bara, tapi Alana justru balik bertanya.
Bara hanya mengangguk pelan. Dia menopang dagunya di bahu Alana. "Kau belum mandi?" goda Bara
Alana melirik sinis Bara yang terkekeh. Dia melepas paksa pelukan Bara dan mematikan kompornya. "Aku akan menyajikan makanan nya, kau mandilah terlebih dahulu. Kau pasti sangat lelah setelah seharian mengajar." Alana sengaja menekan setiap kata yang dia ucapkan dan hal itu membuat Bara sadar jika Alana sedang kesal
"Baiklah, aku akan mandi." Bara memilih untuk membiarkan Alana terlebih dahulu. Nanti dia akan menjelaskannya saat mereka bersantai saja agar suasana tidak terlalu mencekam seperti sekarang.
Sementara Alana hanya bisa menghela nafas. Dia mengira jika Bara menghindar darinya. Tapi biarlah. Dia akan menunggu sampai besok. Jika Bara masih diam, maka dia akan segera mengambil keputusan saat itu juga.
Alana menyajikan makanan di meja makan. Dia duduk menunggu Bara sambil memainkan ponselnya.
"Maaf membuatmu lama menunggu." Bara langsung duduk di kursi sebelah Alana. Dia melirik Alana yang fokus memainkan ponselnya. Bara berdehem keras yang membuat Alana tersentak dan segera meletakkan ponselnya.
"Kau mau makan pakai apa?" tanya Alana
"Apa ponsel itu lebih menarik, sampai-sampai kau tidak sadar jika aku sudah ada di sampingmu?" tanya Bara yang membuat Alana terdiam.
"Aku mau semuanya." ucap Bara lagi
Alana berdiri dan mengambilkan makanan untuk Bara. Sedang pria itu melirik sekilas saat ponsel Alana bergetar. Dia melihat nama Rayhan tertera di depan layar ponsel Alana.
"Ini!!" Alana meletakkan makanan di depan Bara. Baru setelahnya, dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Hanya terdengar dentingan piring yang beradu dengan sendok. Mereka terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing.
Alana masih menunggu Bara untuk menjelaskan padanya, kemana dia pergi? Sementara Bara penasaran dengan apa yang Alana bahas dengan pria yang bernama Rayhan itu.
"Aku sudah selesai." Alana berdiri dan membawa piring kotornya ke dapur.
Sedangkan Bara hanya menatap Alana. Dia juga mengakhiri makan malam nya dan menyusul Alana ke dapur dengan membawa piring kotornya juga.
"Mau aku bantu?" tanya Bara
"Tidak perlu." seru Alana
Bara hanya mengangguk pelan. Dia berdiri di belakang Alana dan memeluk Alana. "Maaf." ucap Bara
Alana terdiam. Dia mematikan kran wastafel dan berkata, "Untuk apa Mr. meminta maaf?"
"Karena aku pulang terlambat. Tadi siang maag Manda kambuh. Dan dia meminta tolong padaku untuk mengantarnya pulang Jadi...."
Alana mengusap tangannya yang basah dan melepas pelukan Bara. Dia berbalik menatap Bara dan berkata, "Mr, tidak perlu repot-repot menjelaskannya padaku. Lagipula, itu bukan urusanku, bukan?"
"Aku mengatakan hal itu agar kau tidak salah paham, Al." seru Bara
Alana hanya menganggukkan kepalanya dan pergi begitu saja. Dia mengambil ponselnya yang dia letakkan di meja makan dan memilih ke kamar.
Bara menghela nafas panjang. Dia menyusul Alana ke kamar. "Al!! Tunggu!!" seru Bara
Alana tidak perduli. Walaupun Bara sudah berusaha menjelaskannya, tapi tetap saja alasan yang Bara berikan membuatnya kesal.
"Al!!" Bara masuk ke kamar Alana dan melihat gadis itu duduk di meja belajar. Dia tersenyum dan menghampirinya. "Walaupun sedang di skors, tapi kau masih semangat belajar ya." seru Bara
"Aku hanya sedang mempersiapkan diri untuk ujian agar aku bisa lulus dengan nilai yang baik. Lalu aku akan kuliah di universitas pilihan ku agar bisa bekerja dan menghasilkan uang yang banyak. Dan...." Alana menjeda ucapannya dan mendongak menatap Bara, "dan aku akan menikah dengan pria yang baik padaku."
Ucapan Alana membuat raut wajah Bara berubah. Dia menarik Alana untuk berdiri dan mendorongnya ke tempat tidur dan menindihnya.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Alana
"Beraninya kau mengatakan hal itu di depan suamimu sendiri, Alana." seru Bara dengan ekspresi dingin
Glek
Alana menelan ludahnya kasar. Dia menatap Bara yang terlihat sangat menyeramkan. "Ja-jangan seperti ini, Mr! Kau membuatku takut." seru Alana terbata
"Sekarang kau takut padaku, hm?" Bara mendekatkan wajahnya dan mengendus leher Alana. "Kita suami istri, Alana. Jadi sah-sah saja jika kita melakukannya." ucap Bara lagi
Alana bergetar ketakutan. Walaupun mereka suami istri, walaupun dia mulai mempunyai perasaan pada Bara, tapi dia belum siap jika Bara meminta hak nya.
Dia bukan gadis bodoh yang tidak tahu tentang hubungan intim. Hanya saja, dia tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Ciuman saja baru pertama kali dia lakukan dengan Bara. Yang dia tahu, kata orang-orang, akan sakit saat melakukan hubungan intim pertama kali.
"Aish.. Apa yang kau pikirkan, Alana?" gerutu Alana dalam hati. Dia mendorong bahu Bara hingga tatapan mereka bertemu. "Jika kau mengatakan hal itu lagi, aku akan melakukannya walaupun kau menolaknya." seru Bara
Glek
Lagi-lagi Alana menelan ludahnya kasar. Apa maksud Bara, dia akan memperkosa istrinya sendiri? Ah.. Dia lupa. Pria bisa melakukan hal itu tanpa cinta karena pria mempunyai nafsu.
"Apa kau mengerti?" seru Bara lagi
"I-iya, aku tidak akan mengatakannya sebelum kita benar-benar bercerai." ucapan Alana kembali mendapatkan tatapan horor dari Bara. Dia segera memukul bibirnya dan berkata, "Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi."
Bara tersenyum dan mengecup singkat bibir Alana. "Gadis pintar." Bara beranjak dari atas Alana dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, "Aku tahu, kau marah padaku. Tapi untuk kali ini, percayalah padaku. Aku dan Amanda tidak mempunyai hubungan apapun."
"Aku tidak percaya. Bukankah dia cinta pertamamu?" sanggah Alana
Bara terdiam. Memang Amanda adalah cinta pertamanya. Bahkan dia kebingungan saat Amanda pergi. Dan saat Amanda kembali, dia sangat senang. Tapi dia tidak tahu perasaannya saat ini adalah cinta atau karena kasihan.
"Kenapa Mr. diam?" tanya Alana lagi
Bara duduk di samping Alana dan menggenggam tangan gadis itu. "Aku tahu kau ragu. Bahkan aku sendiri juga merasakan hal yang sama. Untuk itu aku ingin meminta waktu untuk mengartikan perasaanku ini." pinta Bara
"Baiklah kalau begitu. Tapi aku punya satu syarat." seru Alana
"Syarat apa?"
"Dulu kau melarangku dekat dengan pria lain. Dan sekarang kau ragu dengan perasaamu. Jadi aku ingin kau menjauhi Mrs. Amanda."
"Tap......"
"Jika dia membutuhkan bantuanmu, kau harus menolak dan minta orang lain untuk membantunya. Kau mendapat julukan guru killer di sekolah, masak tegas dengan sesama guru, kau tidak bisa?" sela Alana
"Kau bilang, kau ragu dengan perasaanmu, bukan? Dengan jauh darinya, kau akan tahu apakah kau mencintainya atau tidak." lanjut Alana
Bara terdiam. Sedetik kemudian dia mengangguk menyetujuinya. Tidak ada salahnya mencoba apa yang Alana katakan. Jika dia menjauhi Amanda, dia pasti akan merasakan kehampaan sama seperti saat Alana pergi darinya.
Tunggu dulu!!!
Bara memegang dadanya dan menatap Alana yang terlihat serius belajar. Dia merasa khawatir saat Alana pergi. Dia sangat marah saat kata cerai terucap dari mulut Alana. Dan saat Alana menghindarinya, dia merasa ada yang kurang dalam dirinya. Apakah dia mulai mencintai Alana?
"Haha.. Itu tidak mungkin." batin Bara
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
human😎
jangan sampe sama baralah gk rela aku, laki kok plin plan
2025-02-28
0
Yunerty Blessa
hati mu tidak bisa berbohong Bara 😒
2024-10-10
0
Yunerty Blessa
mantap Alana dengan jawapan mu
2024-10-10
0