Keesokan harinya, Alana mendapati dirinya yang terbangun di tempat tidur. Dia merasa bingung, karena dia yakin semalam tidur di sofa. "Kenapa aku bisa tidur di sini?" gumamnya. Dia menatap kearah sofa dan mendapati Bara yang tidur di sana. Dia jadi berfikir, apa pria itu yang memindahkannya? Tapi rasanya itu tidak mungkin.
Tidak mau ambil pusing, Alana memilih untuk mandi karena dia sudah sangat terlambat. Dia bangun kesiangan, dan saat ini pasti mertuanya akan berfikir hal yang buruk tentangnya. Ya, walaupun ada ibunya yang akan menjadi penyelamatnya, tapi tetap saja, dia tidak mau di cap buruk oleh mertuanya, karena hal itu bisa membuatnya kesulitan mengambil hati Bara.
Tapi sialnya, dia lupa membawa baju ganti saat ke kamar mandi. Dan dia kebingungan untuk keluar dari sana karena ada Bara di kamar. "Akh... Sial!! Aku lupa membawa baju ganti. Sekarang bagaimana aku keluar?" Alana hanya memakai selembar handuk yang melilit di tubuhnya. Tidak ada pilihan lain, dia membuka sedikit pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya. Dia merasa lega, karena Bara yang masih tertidur. Dia buru-buru keluar dan mengambil seragamnya. Tapi tiba-tiba, Bara bangun dan berdiri dibelakang Alana.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Bara dengan suara khas bangun tidur
"Oh my God!!" Alana terkejut dan refleks memukul Bara.
"Aw.." pekik Bara, "Apa yang kau lakukan?" teriaknya. Bara hendak membuat perhitungan, tapi Alana sudah lebih dulu berlari ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Dasar!! Awas kau ya." gerutu Bara. Dia duduk di tepi tempat tidur dan mengusap perutnya yang mendapat bogem mentah dari Alana. Dia menunggu Alana keluar dari kamar mandi. Dan seolah menyimpan dendam, dia ingin membalas Alana.
Dia sudah mengalah dengan tidur di sofa, tapi dia justru mendapat bogem mentah di pagi hari. Tentu saja dia tidak terima. Dia melirik ke arah pintu dan terlihat seringai aneh dari wajah Bara.
Setelah selesai memakai baju seragamnya, Alana keluar dari kamar mandi. Dia menatap sinis Bara yang juga menatapnya. Pagi ini dia sangat sial karena lupa membawa baju ganti dan Bara dengan wajah tanpa berdosa, justru melihatnya yang hanya memakai handuk saja. Itu merupakan pelecehan, tapi di tuntut pun percuma karena mereka suami istri. Tapi tetap saja, dia tidak rela ada yang melihat tubuh indahnya.
Bara beranjak dan masuk kamar mandi tanpa memperdulikan Alana..Dia tersenyum sinis dan menutup pintu dengan keras.
"Monyet!!" sentak Alana kaget. Dia mendengus kesal dan menyisir rambutnya, baru setelahnya dia menyiapkan buku pelajarannya dan keluar dari kamar. Tapi saat dia membuka pintu, ternyata pintu tersebut terkunci. Dia mendengus kesal karena dia tahu, semua ini pasti ulah Bara.
Alana hanya bisa menunggu Bara selesai mandi. Tapi dengan tidak tahu malunya, Bara keluar dengan handuk melilit di pinggangnya. Alana refleks memalingkan wajahnya kesal. "Dasar tidak tahu malu." gerutu Alana
"Sama seperti dirimu, yang tidak tahu malu." balas Bara
"Aku lupa membawa baju ganti. Lagipula, waktu aku keluar, kau masih tidur. Kenapa tiba-tiba kau berdiri di belakangku? Harusnya kau tidak usah bangun." protes Alana
Bara berdecih pelan. Dia memakai baju dan celananya di depan Alana yang memalingkan wajahnya. Dia tersenyum sinis dan menghampiri Alana. "Aku sudah selesai berpakaian." ucapnya
Alana mendengus menatap Bara. Dia meminta pria itu untuk membuka pintunya karena dia tidak mau di cap sebagai istri yang tidak baik karena tidak menyiapkan sarapan. Walaupun dia tahu, jika ibunya pasti sudah menyiapkannya untuk mereka.
Bara dan Alana menuruni anak tangga sambil bergandengan tangan. Mereka menampilkan senyuman bahagia di depan orang tua mereka.
"Selamat pagi semua." Sapa Bara dan Alana bersamaan
"Selamat pagi sayang." sahut Sovia dan Chyntia
Alana menatap makanan yang tertata rapi di meja makan. Tepat seperti dugaannya, jika ibunya sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Maafkan aku tidak membantu kalian." sesal Alana
"Tidak apa-apa sayang. Lagipula kau pasti lelah mengerjakan pekerjaan rumah. Di tambah, kau harus belajar." seru Chyntia
Alana tersenyum dan mengangguk. Dia merasa lega karena mertuanya tidak mempermasalahkannya yang tidak membantu menyiapkan makanan. Sedangkan Bara berdecak dalam hati. Dia akui akting Alana sangat bagus. Gadis itu sangat pandai mengambil hati ibunya. Padahal dia sangat tahu jika ibunya tidak suka dengan orang yang tidak tepat waktu. Tapi sepertinya, hal itu tidak berlaku untuk Alana.
"Wah.. Kalian sudah berkumpul di sini? kalau begitu, ayo kita makan!!" Erwin dan Bimo ikut bergabung di meja makan. Dan dengan sigap, Alana melayani Bara dengan mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya itu. Bahkan Alana membuatnya kopi yang biasa Bara minum di pagi hari.
Entah karena ingin mengambil hati keluarga dan Bara, atau karena sudah terbiasa, tapi Alana melakukan hal itu tanpa berfikir panjang. Dan hal itu membuat orang tuanya merasa sangat senang.
Mereka beranggapan jika hubungan keduanya sangat dekat. Atau mungkin keduanya sudah saling mencintai? Entahlah, yang jelas mereka berharap putra putri mereka akan seperti itu selamanya. Sampai maut memisahkan.
Sayangnya mereka tidak tahu jika putra putri mereka sudah menandatangani surat perjanjian yang mana mereka akan bercerai setelah satu tahun menikah. Dan apa yang mereka lihat saat ini, hanyalah sandiwara semata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments