Alana, Bara dan kedua orang tua mereka, bercengkerama di ruang keluarga. Mereka sangat senang karena hubungan putra putri mereka sangat baik. Apalagi kedua pasangan pengantin baru itu terlihat mesra di depan mereka.
Mereka tidak tahu saja jika semua itu hanya akting. Keduanya akan terlihat mesra hanya di depan orang tua saja. Selebihnya, mereka seperti dua orang asing yang saling menguntungkan satu sama lain, yang hidup dalam satu atap.
"Kami sangat senang, hubungan kalian baik-baik saja. Ya, walaupun pada awalnya, kami khawatir karena bagaimanapun Alana sangat nakal. Tapi, sepertinya dia mengalami banyak perubahan sekarang." seru Erwin
"Iya, Bara mendidiknya dengan sangat baik. Bahkan aku yang ibunya saja, tidak bisa membuat Alana masuk ke dapur." sahut Sovia
"Jangan begitu mom, Dad!! Sebenarnya Alana ini anak yang baik. Hanya saja, selama ini dia malas. Makanya dia seperti itu." seru Bara
Alana melirik sinis Bara yang duduk di sampingnya. Apa maksudnya bicara seperti itu? Dia tidak malas, tapi dia tidak mau melakukan hal yang tidak dia sukai. Dan alasan kenapa dia suka berbuat ulah, karena dia tidak mau di tindas. Seperti tadi di sekolah. Jika bukan karena Bara, duo keong racun itu pasti sudah habis di tangannya.
"Kau juga jangan keras-keras pada Alana, Bar. Ingat, dia masih sekolah. Jangan biarkan dia mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Kau tidak kekurangan uang cuma untuk membayar seorang pembantu, bukan?" seru Bima
Alana mengangguk setuju. Dia tersenyum dan menatap Bara yang juga menatapnya. Alana mengedipkan kedua matanya, menampilkan wajah imutnya seolah memohon agar keinginannya di kabulkan. Tapi sayangnya, Bara hanya tersenyum simpul dan kembali menatap kedua orang tuanya.
"Aku sangat ingin mencari pembantu. Tapi kami hanya berdua saja. Jadi pekerjaan rumah masih bisa kami kerjakan. Bukan begitu, sayang?" Bara menatap Alana dan menekan kata Sayang yang membuat Alana tersenyum kikuk dan membenarkan ucapan Bara.
"I-iya, itu benar. Kami hanya berdua di rumah ini. Jadi pekerjaan rumah masih bisa kami kerjakan bersama." ucap Alana. Dalam hati dia mendengus kesal karena Bara menolak untuk mencari pembantu. Sepertinya Bara sengaja melakukan hal itu untuk mengerjainya, agar dia tidak mengeluarkan biaya untuk membayar pembantu. Hah.. Sangat menyebalkan. pikir Alana
"Baiklah, Kami terima keputusan kalian. Dan maksud kedatangan kami hari ini adalah, kami ingin menginap di rumah kalian. Tenang saja, kami hanya akan menginap satu malam saja."
"APA?" pekik keduanya
"A-ada apa sayang? Kenapa kalian seperti itu? Kalian tidak suka kami menginap?" tanya Cynthia
"Bu-bukan begitu mom. Hanya saja, kami belum membersihkan kamar tamu. Jika sebelumnya kalian memberitahu kami akan datang, kami pasti akan membersihkan nya terlebih dahulu." seru Bara
"I-iya, itu benar." sahut Alana
"Tidak masalah. Kami akan menunggu." seru Cynthia.
Bara dan Alan tersenyum kikuk. Mereka berpamitan untuk menyiapkan kamar untuk orang tua mereka. Bara dan Alana terlihat panik, Bara langsung meminta Alana memindahkan barang-barangnya ke kamarnya agar orang tua mereka tidak curiga. Bisa gawat, jika mereka tahu jika selama ini Bara dan Alana tidur terpisah.
"Cepat pindahkan semua barang mu, ke kamar ku. Jangan sampai mereka tahu jika selama ini kita tidur terpisah." perintahnya pada Alana. Alana hanya bisa mengangguk. Dia memindahkan satu persatu barangnya ke kamar Bara.
Dalam hati dia merasa sangat kesal. Di sekolah dia sudah di ganggu oleh dua makhluk astral yang dia juluki duo keong racun, sesampainya di rumah dia harus mengerjakan pekerjaan rumah dan sekarang, dia harus memindahkan semua barangnya ke kamar Bara, yang artinya mereka akan tidur di ruang yang sama. Benar-benar menyebalkan.
Setelah selesai menyiapkan kamar untuk orang tua mereka, Alana, Sovia dan Cynthia memasak untuk makan malam sambil bercengkerama di dapur. Sedangkan para pria, mereka bermain catur di ruang keluarga.
"Makanan sudah siap!!" seru Cynthia.
Para suami mengakhiri permainan mereka dan bergabung dengan para istri di meja makan.
"Bara, kami senang jika kau menjalani hidup dengan baik bersama istrimu. Untuk itu, kami sudah menyiapkan acara makan malam romantis di restoran agar kalian bisa lebih dekat lagi." seru Bima memulai pembicaraan
"A-apa? Makan malam?"
"Iya, Kami harap kau mau mengajak Alana pergi besok." lanjut Bima.
Bara menghela nafas panjang dan menyetujui permintaan ayahnya. Sedangkan Alana, tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya. Hanya makan malam, kan? Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan
Setelah selesai makan, mereka pergi ke kamar masing-masing. Begitu juga dengan Bara dan Alana. Mereka terdiam saling pandang setelah berada di ruangan yang sama. Alana berinisiatif mengambil bantal dan membaringkan tubuhnya di sofa. Dia sedang malas berdebat karena sangat lelah hari ini.
"Kenapa kau tidur di situ?" tanya Bara
"Kita tidak mungkin tidur di tempat tidur yang sama , kan?" seru Alana
Bara hanya terdiam. Dia menatap Alana cukup lama hingga gadis itu terlelap dalam tidurnya. "Cepat sekali dia tertidur." gumam Bara. Dia menghampiri Alana dan menatap wajah polos Alana yang terlelap. Dia tersenyum tipis dan memindahkan Alana ke tempat tidur, sedangkan dia membaringkan tubuhnya di sofa menggantikan Alana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
banyak² sabar Alana
2024-10-10
0