Bara penasaran dengan siswa yang membantu Alana, tapi dia juga tidak perduli. Toh mereka sudah sepakat untuk tidak ikut campur urusan masing-masing. Tapi dia berharap jika Alana tahu batasannya, karena bagaimanapun mereka sudah menikah.
Bara memilih kembali ke ruangannya. Dia duduk di kursinya dan menyandarkan punggungnya. Nafasnya terdengar berat, pandangannya menerawang keatas, mengingat wanita yang sangat dia cintai. "Dimana kau sekarang, Amanda?" gumamnya. Dia mengambil sebuah foto dari dompetnya dan menatap dalam foto tersebut
Di foto itu terlihat, dia sedang bersama wanita cantik yang tersenyum sangat manis. Dia adalah Amanda, wanita yang sangat dia cintai. Dia teringat saat-saat terindah dengan wanita itu saat masih kuliah. Bahkan dia berencana untuk mengungkapkan perasaannya setelah lulus kuliah. Tapi, tiba-tiba Amanda pergi begitu saja tanpa berpamitan padanya. Entah kemana sekarang wanita itu berada? Dia sangat ingin tahu kabar wanita itu. Tapi, bagaimana jika suatu hari nanti mereka dipertemukan kembali? Apa yang akan dia lakukan? Di tambah sekarang dia sudah menikah. Akan semakin sulit dia menyatakan cintanya.
"Aku merindukanmu, Amanda." Bara mengecup singkat foto tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam dompetnya. Dia tidak mau tenggelam dalam kesedihan. Lebih baik dia mengecek Alana, apakah gadis itu menjalankan hukuman nya dengan baik atau tidak.
Bara sampai di toilet tempat Alana di hukum dia mengecek semua toilet dan setelah semuanya bersih, dia meminta gadis itu untuk kembali ke kelas. Tidak lupa dia mengancam Alana untuk tidak melakukan kesalahan lagi.
"Aku harap ini yang terakhir kalinya, aku menghukum mu." seru Bara
"Baik Mr, terimakasih." sahut Alana
...----------------...
Jam pelajaran sudah usai. Bara mengendarai mobilnya pulang seorang diri. Dia bisa saja pulang bersama dengan Alana. Tapi dia tidak mau orang lain tahu dan timbul gosip yang tidak dia inginkan. Lagipula, dia masih kesal dengan Alana soal tadi pagi. Biar saja ini sebagai hukuman untuknya agar lebih bertanggungjawab lagi.
Bara memarkirkan mobilnya setelah sampai rumah. Dia bergegas masuk dan mengganti pakaiannya. Hari ini adalah hari yang melelahkan. Padahal dia melakukan aktivitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Entahlah, mungkin juga karena statusnya sekarang yang sudah berubah membuat tanggungjawab nya semakin besar. Ditambah, istri kecilnya hanya bisa menyusahkannya saja.
Huh.. Andai dia bisa menentang keinginan kedua orang tuanya, Andai pernikahan ini tidak terjadi, andai wanita yang dia cintai ada di sini bersamanya. Andai.....
"Semua sudah terlambat, Bara. Dan kau hanya bisa menjalaninya saja." ucapnya bermonolog. Dia menoleh kearah pintu, kala mendengar suara sepeda motor terparkir di depan rumahnya. Dia keluar dari kamar dan mengintip dari jendela, dimana Alana baru saja pulang bersama siswa yang tadi membantunya membersihkan toilet.
Dia tidak perduli, mau dengan siapa Alana pulang. Tapi yang membuat dia geram adalah Alana yang duduk di jok belakang dengan memeluk pria itu, di tambah mereka tertawa senang. Dia hanya tidak mau ada tetangga yang melihat hal itu. Bagaimanapun juga Alana sudah menikah. Bagaimana jika muncul gosip mengenai hubungan mereka? apalagi mereka baru menikah kemarin.
"Ini tidak bisa di biarkan." Bara menunggu Alana masuk, dan setelah pria yang mengantar Alana pergi, Bara langsung mencegat Alana di depan pintu dan menatap tajam gadis itu.
"A-ada apa?" tanya Alana
"Ada apa ? Kau bertanya ada apa? Apa kau tidak bisa menahan sebentar saja untuk tidak bermesraan di sini, hah? Kau ingin tetangga tahu perselingkuhan mu?" sentak Bara
"A-apa? Selingkuh? Siapa yang selingkuh?" tanya Alana bingung
"Tentu saja kau, siapa lagi?" teriak Bara. Dia menarik Alana masuk dan menghempaskan tubuh Alana begitu saja. "Kita memang sudah sepakat untuk merahasiakan pernikahan kita dan tidak ikut campur urusan masing-masing. Tapi apa kau tidak bisa, untuk tidak membawa pria itu ke rumah? kita baru saja menikah, tapi kau sudah membawa pria lain. Apa kau mau di cap sebagai wanita murahan?" bentak Bara
deg
Hati Alana berdenyut sakit mendengar ucapan Bara. Apa salahnya dia pulang bersama temannya? Lagipula, dia terpaksa pulang dengan Raihan karena Bara lagi-lagi meninggalkan nya. Di tambah dia tidak mempunyai uang untuk naik kendaraan umum. Lalu, di mana letak kesalahannya?
Dan lebih menyakitkan, pria yang baru kemarin sah menjadi suaminya, tega mengatakan hal yang menyakiti hatinya.
"Aku tidak berselingkuh. Aku terpaksa pulang karena aku tidak mempunyai uang." lirih Alana yang masih terdengar oleh Bara. Dia menatap Bara dengan mata yang berembun. Dia tersenyum sinis dan pergi meninggalkan Bara begitu saja.
Alana masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Dia melempar tasnya begitu saja dan duduk ditempat tidur. "Selingkuh? Heh... Apa dia tidak tahu jika aku begini karena dirinya?" ucapnya bermonolog. Dia menghapus air matanya kasar. Ini pertama kalinya dia menangis karena orang lain. Bahkan orang tuanya sendiri tidak pernah mengatakan hal yang menyakiti hatinya, apalagi sampai membuatnya menangis. Dan sekarang, justru suaminya sendiri, orang yang tidak dia cintai, tega mengatakan hal itu padanya.
"Bara Erfian Rahardian, aku pasti akan membalas mu. Lihat saja nanti!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
sabar Alana
2024-10-10
0