Alana masih merasa kesal dengan perbuatan duo keong racun. Bahkan hal itu masih berlanjut saat jam pulang sekolah. Alana melihat mereka yang keluar dari kelas dan hendak membuat perhitungan, tapi tiba-tiba, Raihan mencekal lengannya, "mau kemana?" tanyanya. Dia melihat arah pandang Alana dan tahu maksud gadis itu, "sudah!! Tidak usah hiraukan mereka. Jika kau membalas mereka, yang ada masalah kalian akan berkepanjangan." seru Raihan
Alana hanya mengangguk pelan dan mencoba meredam kekesalannya. Dia berjalan lebih dulu, diikuti Raihan di belakangnya. " Mau pulang bareng?" tanya Raihan menawarkan diri.
Alana terdiam. Sebenarnya dia mau saja pulang bersama dengan Raihan, tapi dia teringat dengan ucapan Bara. Dan lagi, dia juga takut Raihan akan curiga, karena saat pertama kali Raihan mengantarnya, dia mengatakan pada pria itu jika rumah itu milik neneknya.
Bagaimana jika Raihan terus bertanya dan ingin mampir? Bisa gawat jika hal itu terjadi. Apalagi sekarang dia sedang dalam misi untuk mengambil hati Bara agar nyaman dan jatuh cinta padanya. Jadi lebih baik dia menolak ajakan Raihan. Lagipula uang pemberian Bara masih banyak dan itu cukup untuk naik kendaraan umum dan jajannya beberapa hari kedepan.
"Ayo aku antar pulang!!" ajak Raihan lagi.
"Hm... Mungkin lain waktu saja, Ray." tolak Alana
Raihan hanya tersenyum simpul. Sebenarnya dia sedikit kecewa dengan penolakan Alana. Tapi tidak masalah. Lain waktu dia akan mencobanya lagi. "Kalau begitu, aku duluan ya." Raihan mengusap kepala Alana dan pergi begitu saja.
Alana memegang kepalanya dan tersenyum tipis. Dia bergegas ke halte bus untuk segera pulang.
Sesampainya di rumah, Alana sudah disibukkan dengan pekerjaan rumah yang sudah menumpuk. Dia yang awalnya mengeluh, tapi sekarang dia sudah mulai biasa. Terkadang, Bara juga membantunya. Seperti siang ini, Alana bertugas membersihkan setiap ruangan. sedangkan Bara menyiapkan makan siang. Dan setelah semua beres, mereka menikmati makan siang mereka bersama-sama.
"Apa kau lelah?" tanya Bara
"Sedikit. Mungkin karena aku belum terbiasa." jawab Alana
Bara mengangguk paham. Dia hanya meminta Alana menyiapkan makanan dan membersihkan rumah jika dia senggang. Dan untuk pakaian, mereka bisa memasukkannya ke laundry. Tapi Alana justru mengerjakan semuanya.
Dia tidak mau Alana kelelahan. Karena bagaimanapun, Alana masih harus belajar. Dia takut pekerjaan rumah justru membuat nilainya turun . Apalagi sekarang Alana sudah kelas Xll dan sebentar lagi akan di adakan ujian Nasional.
Tapi meskipun begitu, Bara sangat kagum dengan Alana. Dia sedikit tahu mengenai Alana dari para guru. Alana adalah siswi satu-satunya yang menjadi langganan tetap para guru. Alana selalu berulah dan hampir setiap hari dia mendapat hukuman. Tapi beberapa hari ini, dia tidak mendengar kabar Alana di hukum. Bahkan semua guru justru membicarakan perubahan Alana yang membuat para guru merasa senang.
"Aku sudah selesai." seru Alana
"Oh.. Aku juga sudah." Bara membantu Alana membersihkan meja makan, sedangkan Alana mencuci piring. Dan bersamaan dengan itu, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Baik Bara maupun Alana merasa heran, siapa yang bertamu ke rumah mereka? Apa tetangga?
"Biar aku yang buka." seru Bara. Dia membuka pintu dan melihat siapa yang datang? Sedangkan Alana masih membereskan ruang dapur
Ting Tong Ting Tong
"Ya, sebentar!!" teriak Bara. Saat dia membuka pintu, dia dibuat terkejut dengan kedatangan empat manusia berusia hampir sama, berdiri di depan pintu rumahnya.
"Mo-mommy, Daddy!!" seru Bara terbata
"Halo putraku, apa kabar?" Cynthia dan Bima memeluk Bara bergantian.
"A-aku baik, Mom." jawab Bara
"O iya, Alana mana?" kali ini,Erwin yang bertanya. Dia sangat merindukan gadis nakalnya. Dan saat Bara menunjuk ke dapur, Erwin dan Sovia bergegas menghampiri putri semata wayangnya.
"Sayang!!!" sapa Sovia
Alana mengerutkan keningnya. Dia merasa tidak asing dengan suara ini. Suara orang yang tega mengusirnya secara halus dengan menjualnya pada pria menyebalkan seperti Bara.
"Alana, Kau tidak merindukan mommy, hm?" tanya Sovia yang kini berdiri tidak jauh di belakang Alana.
"Mommy?" lirih Alana. Dia memutar tubuhnya dan mendapati kedua orang tuanya berdiri disana.
"Mommy!! Daddy!!" Alana berlari memeluk ibu dan ayahnya bergantian. "Kenapa tidak memberitahuku, jika kalian akan kemari?"
"Kejutan sayang." seru Erwin. Dia melihat apa yang baru saja Alana kerjakan, dan hal itu membuat Erwin merasa senang. Untuk pertama kalinya, dia melihat Alana pergi ke dapur untuk mencuci piring. Apalagi Bara juga mengatakan jika Alana sekarang sudah banyak berubah. Putrinya jadi giat mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak lagi membuat onar di sekolah. Untuk itu mereka datang mengunjungi Alana. Mereka ingin membuktikan, apakah benar yang di katakan Bara?
Dan ternyata semua benar. Sepertinya menjodohkan Alana dengan Bara adalah keputusan yang tepat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ❤️⃟Wᵃf 𝐊𝐢𝐤𝐲𝐀⃝🥀
Semangat Thor.... and lanjut up nya klo bisa sekarang, tpi aku ga maksa yaa thor😂
2023-07-02
3