Bara merasa bersalah karena membuat Alana menangis. Tapi dia tidak bermaksud untuk mengatakan sesuatu yang menyakiti hati gadis itu. Dia hanya ingin Alana tidak melewati batas, karena bagaimanapun tetangga tahu jika mereka sudah menikah. Bagaimana jika muncul gosip tidak sedap tentang hubungan mereka? Apalagi mereka baru kemarin menikah.
Tapi sepertinya Bara sedikit keterlaluan. Tapi biarkan saja. Nanti juga Alana akan kembali seperti biasa, pikir Bara.
Bara tidak tahu saja jika saat ini Alana tengah menyusun rencana untuk membalasnya. Alana akan membuat Bara jatuh cinta padanya. Dan jika berhasil, dia akan mencampakkannya begitu saja. Ide yang bagus, bukan?
Sadis memang. Tapi ini cara ampuh untuk membalas pria itu. Agar dia tahu rasa sakit yang Alana rasakan saat ini. Tuduhan dan kata kasar yang terlontar dari mulut Bara, masih membekas di hati dan pikirannya. Untuk itu dia akan membuat Bara juga tidak bisa melupakan rasa sakit yang akan dia terima nantinya.
Alana mencari cara menjadi istri yang baik di internet. Dia juga membaca tentang resep makanan sederhana rumahan dan akan mempraktekkan nya besok. Cukup lama dia berselancar di dunia maya, sampai-sampai dia melewatkan makan malamnya. Dan hal itu membuat Bara khawatir.
"Kenapa bocah itu tidak keluar dari kamar? Apa dia tidak lapar?" gumamnya bermonolog. Dia teringat saat Alana bilang jika dia tidak mempunyai uang untuk naik kendaraan umum. Itu artinya, gadis itu tidak mempunyai uang, bukan? Lalu bagaimana bisa garis itu menahan lapar selama itu?
"Aish... Dasar bocah. Membuatku tidak enak hati saja." gerutu Bara. Dia pergi ke kamar Alana untuk mengecek gadis itu. Jangan sampai gadis itu mati kelaparan karena dirinya. Hah.. Sepertinya dia harus mengalah dan menyiapkan makan untuk mereka berdua. Dia harus memaklumi karena Alana yang belum pandai memasak.
Tok Tok Tok
"Hei bocah!! Kau tidak mau makan? Apa kau tidak lapar? Aku sudah memasak untuk makan malam. Keluarlah!! Kita makan malam bersama." seru Bara
Tidak ada jawaban dari Alana. Bara kembali mengetuk pintu, tapi kali ini dia mengetuknya lebih keras. "Hei... Kau tidak mati, kan?" teriak Bara
Cklek
Alana membuka pintu begitu saja . Dan hal itu membuat Bara terkejut. "Ma-makan malam sudah...."
Alana menatap Bara sekilas dan melewatinya begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sedangkan Bara hanya bisa menghela nafas panjang dan mengikuti Alana ke ruang makan.
Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun saat makan. Bara sesekali melirik Alana yang makan dengan tenang, tidak heboh seperti biasanya.
Biasanya? Padahal baru dua hari mereka tinggal bersama, tapi Bara seolah sudah terbiasa dengan Alana yang banyak bicara. Dan sekarang, Alana terlihat diam saja dari tadi. Hal itu membuatnya merasa aneh.
"Aku...."
"Maaf." sela Alana
"Ng?"
"Aku minta maaf untuk semua kesalahanku. Harusnya aku tidak meminta Raihan untuk mengantarku. Kita baru saja menikah. Jika aku pergi bersama pria lain, pasti akan menjadi pembicaraan tetangga." seru Alana
Bara terdiam. Mendengar ucapan Alana membuatnya kembali merasa bersalah. Tapi syukurlah kalau Alana sudah menyadari kesalahannya. Karena bagaimanapun semua itu juga untuk dirinya.
"Aku juga minta maaf karena sudah membentak mu tadi." ucap Bara
"Tidak apa-apa. Aku mengerti kenapa kau seperti itu. Dan mulai besok, aku akan belajar menjadi istri yang baik. Aku akan melakukan tugasku, seperti yang kau tulis di kertas yang kau berikan padaku kemari."
"Hah?" Bara tercengang mendengarnya. Alana, gadis yang terkenal sering berbuat ulah dan tidak suka melakukan hal yang tidak dia inginkan. tiba-tiba mau menerima peraturan yang dia buat? Apa dia tidak salah dengar? Bahkan kemarin. Alana langsung merobek kertas yang dia berikan padanya. Tapi sekarang, Alana justru mengatakan jika dia akan melakukan semuanya. Setan apa yang merasuki gadis itu?
"Aku sudah selesai." Alana membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya. Bahkan dia juga membersihkan peralatan memasak yang Bara gunakan tadi dan juga membereskan meja makan.
"Sudah selesai, aku ke kamar dulu." ucap Alana lagi
Bara masih terbengong melihat Alana. Secepat itukah gadis itu berubah? Bahkan dia memukul pelan pipinya untuk memastikan jika semua itu bukan mimpi.
Plak
"Aw..." Bara mengusap pelan pipinya. "Sakit. Jadi ini bukan mimpi." Bara menatap punggung Alana yang semakin menjauh. Rasanya sangat aneh, tiba-tiba gadis itu berubah seperti itu. Tapi bukankah itu bagus?
"Ah sudahlah. Biarkan saja dia melakukan apa yang ingin dia lakukan. Pasti nanti dia akan kembali ke wujud semula." Bara memilih kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
...----------------...
Keesokan harinya, Alana benar-benar melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Pagi-pagi sekali, Alana bangun dan membersihkan rumah. Dia juga sudah menyiapkan sarapan untuknya dan Bara. Tapi dia hanya membuat sarapan sederhana karena dia belum bisa memasak makanan mewah.
"Hah.. Akhirnya selesai juga. Aku tidak menyangka jika mengerjakan pekerjaan rumah, sangat melelahkan." Alana menyeka keringatnya dan melihat kearah jam dinding. Sudah jam 05:45, masih ada waktu untuk bersiap. Dia kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap ke sekolah.
Sementara Bara yang sudah selesai bersiap, penasaran apakah Alana benar-benar melakukan tugasnya sebagai istri atau tidak. Dia melihat arlojinya dan bergegas pergi ke dapur. Dia takut Alana hanya membual saja dan tidak menyiapkan sarapan untuknya seperti kemarin.
Tapi sesampainya di ruang makan. dia dibuat tercengang dengan makanan yang tersaji di meja makan. Di sana ada dua piring nasi goreng dengan telur diatasnya. "Apa Alana yang menyiapkan semua ini?" gumamnya bermonolog. Dia penasaran dengan rasanya karena ini pertama kalinya Alana memasak. Jangan sampai dia sakit perut nantinya. Tapi setelah dia cicipi, ternyata rasanya lumayan untuk ukuran pemula seperti Alana.
"Selamat pagi." sapa Alana yang baru saja datang. Dia melihat Bara yang melahap sarapan buatannya. "Bagaimana rasanya?" tanya Alana
"Lumayan. Setidaknya makanan ini layak untuk di makan." jawab Bara
Alana menggeram dalam hati. Dia memang baru belajar memasak. Tapi apa harus mengatakan jika makanannya layak untuk dimakan? Jika tidak enak, bilang saja tidak enak. Tidak perlu bilang tidak layak di makan. Tapi dia merasa cukup senang karena eksperimen pertamanya, lumayan menurut Bara.
Dia tersenyum dan ikut makan bersama Bara. Dan setelahnya, dia mencuci piring keduanya.
"Walaupun kau sudah melakukan tugasmu, tapi kau tetap tidak bisa berangkat ke sekolah bersamaku. Tapi...." Bara mengeluarkan beberapa lembar uang bergambar proklamator dan memberikannya pada Alana. "Ini uang jajan untuk mu. Gunakan baik-baik. Dan untuk uang belanja bulanan, aku akan memberikannya nanti." Setelah mengatakan hal itu Bara bergegas berangkat ke sekolah dengan mobilnya. Sedangkan Alana menatap uang berlembar-lembar ditangannya dengan wajah yang sumringah.
"Yes... Aku bisa jajan sepuasnya. Ups..." Alana menutup mulutnya dan kembali tersenyum. Dia akan menahan diri untuk sementara waktu. Bagaimanapun juga, dia ingin mengambil hati Bara. Setelah Bara nyaman bersamanya, maka dia akan meninggalkannya begitu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Dynamite
dan nyata nya type keras cowok sketika luluh akan adanya kelembutan. this is real 👍
2023-09-04
0
Sriutami Utam8
waaaaahhhhj idevyg cemerlang
2023-06-28
1