Alana merasa muak. Dia pulang dalam keadaan marah. Dia sangat kesal karena Bara membentaknya di depan semua orang. Dan yang lebih membuatnya geram, Bara justru membela Amanda.
"Tidak ada gunanya menangisi semua ini. Semua sudah jelas. Dari awal pernikahan ini tidak akan bertahan lama. Tapi... Tapi aku mencintainya. Hiks .. hiks.. Aku mencintaimu, Mr." Alana merosot kan tubuhnya di lantai dan menangis terisak. Niat ingin membuat Bara patah hati, tapi justru dia yang patah hati. Ini pertama kalinya dia jatuh cinta, dan itu dengan suaminya sendiri. Tapi, suaminya juga yang mematahkan hatinya. Hah.. Sangat lucu. Dia merasakan jatuh cinta dan patah hati secara bersamaan.
"Cukup Al!! Kau harus bangkit." Alana menyemangati diri sendiri. Dia bangun dan mulai membereskan semua barang-barangnya. Dia sudah memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Bara. Karena pria itu lebih percaya pada Amanda dari pada dirinya.
Alana membawa semua barang-barangnya. Dia pergi dari rumah tanpa berpamitan ataupun meninggalkan pesan. Biarkan saja, dia yakin Bara tidak akan mencarinya. Toh pria itu pasti akan lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah kekasihnya.
"Selamat tinggal, Mr." ucap Alana saat keluar dari rumah Bara. Dia menatap sekali lagi rumah yang sudah dia tempati selama -+ 3 bulan ini. Tempat di mana pertama kalinya dia jatuh cinta.
Sementara di sekolah, Bara terlihat gelisah. Dia merasa sudah sangat keterlaluan pada Alana. Bahkan dengan keras, dia membentaknya di depan semua orang. Saat ini gadis itu pasti sangat sedih.
Tapi dia benar-benar marah karena Alana berani menampar Amanda. Bara bukan bermaksud membela Amanda, tapi Amanda adalah seorang guru. Dan ini untuk pertama kalinya ada murid yang begitu kurang ajar pada gurunya. Apalagi banyak saksi yang melihat Alana menampar Amanda.
"Sepertinya aku harus berbicara dengan Alana." Bara meraih kunci mobilnya dan pulang menyusul Alana. Dia begitu mengkhawatirkan gadis itu. Ya, dia memang salah. Harusnya dia mendengar kan penjelasannya terlebih dahulu. Walaupun Alana nakal, tapi dia tidak mungkin bertindak jika tidak ada penyebabnya.
"Bara!!"
Langkah Bara terhenti saat seseorang memanggil nya. "Manda!!"
"Kau mau kemana? Kenapa terburu-buru seperti itu?" tanya Amanda
"Aku harus pulang. Aku ingin melihat keadaan Alana." seru Bara
"Tapi Bar, ini masih jam pelajaran. Memang nya kau tidak mengajar?" seru Amanda. Dia mencoba menahan Bara agar tidak pergi. Ini awal yang bagus menjauhkannya dari Alana. Jadi dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan
"Aku sudah meminta ijin dan memberi tugas untuk anak-anak. Jadi kau tidak perlu khawatir." Bara bergegas pergi meninggalkan Amanda yang menggeram kesal. Dia mengepalkan tangannya erat karena gagal menahan pria itu. Tapi tidak masalah. Dia yakin saat Bara dan Alana bertemu nanti, mereka akan bertengkar. Lalu, mereka bercerai. Hah... Amanda sudah tidak sabar menunggu hal itu terjadi.
...----------------...
Bara mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya benar-benar gelisah. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Alana. Bagaimanapun juga, Alana masih labil. Bagaimana jika dia melakukan hal yang nekad?
Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, Bara sampai di rumah. Dia bergegas masuk dan mencari Alana.
"Alana!! Al!!" Bara terus memanggil Alana. Dia mencari di kamar, tapi gadis itu tidak ada di sana.
"Al!! Kau di mana?" panggil nya lagi. Tapi Alana tidak menyahut. Dia terdiam sejenak dan melihat Kamar Alana yang sangat rapi. Tiba-tiba dia mempunyai firasat buruk. Dia membuka lemari baju Alana dan ternyata kosong. Hal itu membuat Bara semakin gelisah. Dia mengusap wajahnya kasar dan bergegas turun. Dia mengendarai kembali mobilnya untuk mencari Alana. Dia yakin jika gadis itu belum pergi jauh.
"Kau di mana Al?" gumamnya khawatir.
Bara terus mencari Alana. Dia menghubungi semua teman-teman Alana, tapi tidak ada satupun yang tahu Alana di mana. Hingga dia terdiam, mungkinkah Alana pulang?
"Tidak ada salahnya memastikan." Bara menekan kontak Erwin dan menempelkan ponsel di telinganya.
"Halo Bar.. Ada apa menelepon?" tanya Erwin
"Em.. Maaf mengganggu Dad. Aku hanya ingin memastikan, apakah Alana sudah sampai di sana atau belum?" tanya Bara
"Apa maksud mu? Alana tidak kemari." seru Erwin
"Em.. Be-begini dad. Tadi di sekolah, Alana meminta ijin jika dia ingin mengunjungi Daddy sepulang sekolah. Aku tidak bisa mengantar karena masih ada pekerjaan di sekolah. Jadi, aku hanya ingin memastikan saja." ucap Bara bohong
Terdengar tawa di seberang sana. Erwin memahami Bara yang mengkhawatirkan istri nya. "Dia belum sampai di sini. Jika dia sudah sampai, aku akan menghubungimu." seru Erwin
"Terimakasih Dad." bara mematikan sambungan teleponnya. Dia mengusap kasar wajahnya karena Alana tidak pulang ke rumah orang tuanya. Lalu kemana sebenarnya gadis itu?
Sementara itu, Alana yang tidak tahu harus kemana, hanya melangkahkan kakinya asal. Dia tidak mungkin pulang, karena dia tidak tahu harus berkata apa kepada kedua orang tuanya. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, pasti ayahnya akan marah karena bagaimanapun juga memukul orang itu perbuatan yang salah.
Apapun alasannya, kita tidak boleh membalas kekerasan dengan kekerasan. Tapi saat kita di hina, apa kita harus diam saja?
"Huh... Aku lelah." Alana duduk di taman. Dia menatap keatas di mana langit sudah gelap dengan bintang-bintang yang menghiasinya.
"Aku harus kemana?" gumamnya
"Al!!"
Deg
Alana menoleh dan melihat seseorang yang dia kenal menghampirinya. Dia tersenyum dan menggeser Tubun agar orang itu bisa duduk di sampingnya.
"Ray!!" sapa Alana
"Ternyata benar kau. Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rayhan. Dia menatap koper di depan Alana dan kembali bertanya, "Kau pergi dari rumah?"
Alana mengangguk dan menunduk dalam. Entah apa yang Alana alami tapi mendengar cerita dari ya, pasti gadis itu bertengkar hebat dengan ayahnya. pikir Rayhan
"Harusnya kau menghadapi masalahmu, dan bukan malah kabur." seru Rayhan
Alana mengerutkan keningnya dan menoleh menatap Rayhan. "Apa maksud mu?" tanya Alana
"Kau pergi dari rumah karena bertengkar dengan ayahmu, kan?" tebak Rayhan
Alana menahan tawanya. Dia merasa sedikit terhibur dengan ucapan Rayhan. Ya, selama ini Rayhan hanya tahu jika dia mempunyai masalah dengan Ayahnya. Jadi tidak salah jika pria itu mengira jika dia bertengkar dengan ayahnya.
"Kenapa kau tertawa? Aku benar, kan?"
"Iya, kau benar. Aku memang sedang bertengkar. Tapi dia tidak mempercayai ku dan malah membela orang yang salah." seru Alana sendu
Rayhan mengerutkan keningnya bingung. Siapa yang ayahnya bela? Bukankah Alana anak tunggal?
Melihat Rayhan yang kebingungan membuat Alana kembali terhibur. Dia mencoba menahan tawanya dan menepuk pelan bahu Rayhan, "terimakasih." ucap Alana
"Hah? Terimakasih? Kenapa kau malah berterima kasih padaku?" tanya Rayhan bingung
Tapi Alana tidak menjawabnya. Dia justru merangkul bahu Rayhan dan menepuknya pelan, "Kau memang sahabat terbaikku."
Rayhan tersenyum kecut. Dari dulu Alana hanya menganggap nya sebagai sahabat. Apakah levelnya tidak bisa naik lagi menjadi kekasih misalnya? Tapi tidak masalah. Masih ada banyak waktu. Dan dia akan berusaha menaikkan level tersebut.
Tapi tanpa mereka sadari, ada sepasang mata mengawasi mereka. Dia adalah Bara. Dia sangat marah melihat Alana yang berduaan di taman dengan pria lain.
Dia menghampiri keduanya dengan muka yang merah padam. "Pulang!!" ucapnya dingin
Alana dan Rayhan menoleh kearah sumber suara. Mereka sama-sama terkejut karena orang itu adalah Bara.
"Mr." sapa Rayhan. Tapi lagi-lagi Rayhan di acuhkan. Bara justru fokus menatap tajam Alana yang berdiri di samping Rayhan
"Apa kau tuli? Aku bilang pulang!!" perintah Bara
"Aku tidak mau pulang." tolak Alana
Rayhan nampak bingung. Untuk apa Bara menyuruh Alana untuk pulang? Apa mereka bersaudara?
"Aku tidak menerima penolakan." Bara menarik kasar tangan Alana dan menyeretnya pergi dari taman.
"Lepaskan!!" seru Alana memberontak
Melihat hal itu, Rayhan mencoba menghalangi Bara. Entah apa hubungan keduanya, tapi tidak seharusnya Bara berlaku kasar pada Alana.
"Jangan paksa Alana, Mr.!! Dia tidak mau pulang, jadi biar dia..." Belum selesai Rayhan berucap, Bara sudah lebih dulu menghadiahi pria itu bogem mentahnya.
"Jangan ikut campur, sialan!! Ini urusanku dengan nya." teriak Bara
Alana histeris melihat Bara memukul Rayhan. Dia menyetak tangan Bara hingga terlepas dan membantu Rayhan untuk bangun. "kau tidak apa-apa?" tanya Alana
"Aku baik-baik saja." sahut Rayhan
Melihat tangan Alana yang memegang tangan Rayhan, membuat Bara tersulut emosi. dia kembali memukul Rayhan dan berkata, "Jangan pernah ikut campur urusan rumah tangga kami. Atau kau akan menerima akibatnya." teriak Bara
deg
Rasa sakit di wajah Rayhan seketika hilang mendengar ucapan Bara. Justru kini hatinya yang sakit. Apa maksud dari ucapan Bara? Rumah tangga kami? Apa Alana....?
"Apa yang kau lakukan?" Alana tidak kalah geram. Dia ingin membantu Rayhan, tapi Bara lebih dulu menarik tangannya.
"Dia adalah istri ku. Jadi, jangan pernah dekati dia lagi atau kau akan menerima akibatnya." ancam Bara. Dia melirik Alana dan menariknya pergi dari sana, "Ayo kita pulang!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
kasian Raihan
2024-10-10
0
Yunerty Blessa
itu lebih baik
2024-10-10
0
Qaisaa Nazarudin
Terus apa kabar dgn Amanda? Apa pantas seorang pendidik mengeluarkan kata-kata seperti itu,Harisnya Bara mencari tau sebabnya,Jangan main asal nuduh aja,Siswa/i lain juga,Gak tau asal usul malah main nyelonong aja..
2024-09-25
1