Malam harinya, Alana dan kedua orang tuanya tengah bersiap untuk makan malam di restoran. Alana terlihat cantik dengan gaun terbuka berwarna peach dengan panjang sampai batas lutut. Dan makeup tipis yang membuat wajah Alana terlihat cantik natural.
"Wah.. Putri mommy cantik sekali." puji Sovia
Alana hanya tersenyum kikuk. Ini pertama kalinya dalam sejarah, dia memakai gaun terbuka seperti ini. Bahkan selama ini dia tidak pernah memakai makeup. Dia biasa memakai pelembab dan lips balm saja. Tapi sekarang, demi menyenangkan kedua orangtuanya, dia rela melakukan apa yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Dia merasa sangat tidak nyaman. Wajahnya terasa sangat tebal walaupun Sovia hanya memakaikan makeup tipis di wajahnya. Bahkan dia berulang kali memastikan jika gaunnya tidak melorot.
"Sudah siap?" tanya Erwin yang dijawab anggukan oleh kedua wanita beda generasi itu. Mereka bergegas berangkat ke restoran tempat mereka akan bertemu dengan sahabat Erwin dan juga calon suami Alana.
Di sepanjang perjalanan, Alana hanya diam. Dalam hati dia tidak hentinya mengumpat dan merasa hal itu sangat tidak adil. Haruskah dia menikah di usia dini? Dan yang lebih tidak masuk akal adalah alasan kedua orang tuanya menjodohkannya agar dia bisa berubah. Gila, bukan?
Setelah menempuh perjalanan -+ 1 jam, mereka sampai di restoran. Mereka dituntun pelayan ke ruangan VIP yang sudah dipesan keluarga Rahardian.
"Sepertinya mereka belum datang." seru Sovia
"Kita tunggu saja." Erwin menarik kursi untuk Sovia duduk, baru kemudian dia duduk di samping Sovia.
Cukup lama mereka menunggu hingga tidak berapa lama pintu terbuka dan terdengar suara sepasang suami istri yang menyapa Erwin dan Sovia.
"Akhirnya kalian datang juga " Erwin dan Sovia menyambut kedua sahabatnya.
Mereka duduk dan menanyakan kabar masing-masing. Sesekali mereka tertawa seolah tidak menghiraukan perasaan Alana yang berada di sana.
"Oh iya, perkenalkan, ini putri kami namanya Alana." ucap Sovia memperkenalkan Alana pada sepasang suami istri yang saat ini duduk berseberangan dengannya.
"Cantik sekali." puji Cynthia
Alana hanya bisa tersenyum. Ini pertama kalinya orang lain memujinya cantik. Apa dia harus berbangga diri? Tidak!! Bahkan yang ada didalam pikirannya hanya ingin cepat pulang.
"Come on !! kapan semua ini akan berakhir?" batin Alana
Saat mereka tengah berbincang, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Bima dan Cynthia merasa lega akhirnya putra mereka datang juga.
"Maaf, saya datang terlambat." Ucap pria itu dengan suara beratnya. Pria itu berdiri di belakang Alana karena gadis itu duduk membelakangi pintu.
"Tidak masalah." Sahut Bima. Dia memberi kode pada putranya untuk duduk di sebelah Alana karena hanya itu kursi yang tersisa.
Alana hanya terdiam. Entah mengapa dia merasa tidak asing dengan suara tersebut. Tapi Alana terlalu malas untuk berfikir.
Sampai saat pria itu duduk di sampingnya, Alana refleks menoleh. Begitu juga dengan pria itu. Untuk sesaat mereka saling pandang. Tapi bukan karena terpesona, melainkan mereka terkejut karena saling mengenal.
"KAU!!" pekik mereka bersamaan
"Kalian saling kenal?" tanya Erwin.
"Tentu saja aku mengenalnya. Dia murid kurang ajar yang berani menimpuk gurunya menggunakan kaleng bekas." Seru Bara melirik sinis Alana yang duduk di sebelahnya
Alana hanya bisa menunduk dan mengusap keningnya untuk menutupi wajahnya. Ini sangat memalukan. Kenapa dia harus bertemu dengan Bara di sini? Apa pria yang akan di jodohkan dengannya adalah pria mengerikan itu? Jika itu benar, maka dia dalam masalah besar. Dia pasti akan hidup bagaikan di neraka jika tinggal satu atap dengan manusia lucknut yang mendapat gelar guru killer itu.
"Apa itu benar, Alana?" Tanya Erwin. Dia memang sudah tahu, jika putrinya melakukan kesalahan. Tapi dia tidak tahu jika guru yang menjadi korban Alana adalah Bara
"Kenapa kau diam saja? Ayahmu sedang bertanya, kau tidak bisu, bukan?" suara Bara terdengar sangat lantang dan tegas. Hal itu membuat Alana menelan ludahnya berulangkali.
"I-iya dad." Jawab Alana terbata. "Tapi aku tidak sengaja dad. Aku..."
"Wah..wah..wah.. bahkan sampai sekarang kau masih tidak mau mengakui kesalahan mu? Sungguh luar biasa." Bara bertepuk tangan karena Alana masih berani menyangkal.
"Lihat dad!! Apa ini wanita yang akan kau jodohkan dengan ku? Wanita urakan yang suka berbuat onar. Bahkan dia dijuluki murid abadi di sekolah." Lanjut Bara
Alana mengepalkan tangannya erat. Ini sudah keterlaluan. Walaupun benar apa yang Bara katakan, tapi apa harus pria itu mempermalukannya di depan semua orang?
"Ya. Aku memang berandalan. Lalu kau mau apa? Menghukum ku?Apa hanya karena kau guru yang di takuti di sekolah, maka aku akan takut padamu, begitu? Tidak Mr. Aku tidak takut padamu karena aku memang tidak bersalah." Ucap Alana dengan lantang. "Kau bahkan tidak pantas di panggil guru karena kau hanya percaya dengan apa yang kau lihat tanpa mau mencari tahu kebenarannya." Lanjut Alana yang membuat Bara geram.
"TUTUP MULUTMU, SIALAN!!" teriak Bara
"CUKUP!!" Bima kehabisan kesabaran. Dari tadi dia hanya diam. Tapi lama-kelamaan keduanya justru malah bertengkar. Bara sudah membuatnya malu di depan Erwin. Begitu juga Erwin yang malu karena perbuatan putrinya.
"Jangan kalian kira, kami akan membatalkan perjodohan ini hanya karena kalian bertengkar. Kami akan tetap menjodohkan kalian. Dan sekarang, kami akan memberi waktu pada kalian untuk menyelesaikan masalah kalian." Bima menatap tajam Bara dan kembali berkata, "kau sudah dewasa, jadi bijaksana lah. Ayo kita pergi!!" Bima mengajak Erwin dan yang lain untuk pergi dan meninggalkan Alana dan Bara. Anggap saja ini sebagai pendekatan untuk keduanya. Walaupun mereka yakin jika pada akhirnya mereka hanya akan berdebat. Tapi biarkanlah mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Alana melirik sinis Bara. Begitu juga sebaliknya. Acara makan malam mereka berantakan karena pertengkaran keduanya. Dan ini menjadi awal pertemuan yang buruk. Akan jadi seperti apa rumah tangga mereka nanti? Alana bahkan tidak bisa membayangkannya. Yang ada, setiap hari pasti mereka akan bertengkar.
Untuk beberapa saat mereka terdiam. Mereka mulai menggeser kursi masing-masing, saling menjauh satu sama lain.
"Apa maksud Mr. berkata seperti itu? Kau mau mempermalukan ku, ya." sentak Alana
"Cih untuk apa aku mempermalukan orang yang tidak punya malu." Ucap Bara sinis. "Dengar baik-baik, aku menolak perjodohan ini karena aku mencintai wanita lain. Jadi lebih baik kau mundur saja." Lanjut Bara
"Cih.. apa kau pikir aku mau menikah dengan pria gila seperti mu?" Balas Alana
Bara melebarkan kedua matanya geram. "Apa katamu? Pria gila? Kau yang gila, sialan!!" Teriak Bara. Bukannya menyelesaikan masalah, mereka justru terus berdebat dan saling menyalahkan.
"Kita sama-sama menolak perjodohan ini. Jadi, bagaimana jika Mr. bilang pada kedua orang tua kita untuk membatalkan nya? Aku sudah mencobanya tapi Daddy malah mengancam ku." gerutu Alana
"Apa kau pikir, aku menerima begitu saja perjodohan ini? Tentu saja tidak. Apalagi wanita itu adalah berandalan sepertimu."ucap Bara sinis.
Alana hanya bisa menggeram kesal karena Bara terus saja menghinanya. Hah.. kenapa nasibnya sangat sial? Dia di jodohkan dengan pria menyebalkan seperti Bara. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka terjebak dalam permainan kedua orang tua mereka.
Cukup lama mereka berdiam diri, hingga akhirnya Bara membuka suara, "Begini saja, kita buat perjanjian pranikah. Dan aku ingin pernikahan ini di rahasiakan. Jangan sampai orang lain tahu. Terutama lingkungan sekolah." usul Bara
Alana melebarkan kedua matanya. Dia hendak protes tapi Bara lebih dulu menyela, "setelah satu tahun, kita akan bercerai."
Alana nampak berfikir. Dia merasa jika itu bukan ide yang buruk, "Oke, deal!!"
...----------------...
Dua Minggu kemudian, pernikahan Alana dan Bara di gelar tertutup di kediaman Erwin. Hal itu dilakukan atas permintaan Alana karena dia tidak mau teman-temannya tahu tentang pernikahannya.
Kedua orang tuanya tidak masalah asalkan Alana dan Bara menikah.
"Selamat ya sayang. Akhirnya kau menikah juga. Mommy bahagia sekali." seru Sovia
Alana hanya tersenyum kikuk. Bahagia karena dia sudah menikah atau bahagia karena tidak ada lagi yang membuat mereka kesal? Huh.. Entah mengapa dia merasa seperti dijual oleh kedua orang tuanya. Atau mungkin diusir secara halus dari rumahnya? Entahlah, yang pasti dia kecewa pada kedua orang tuanya.
Setelah acara selesai, Bara memboyong Alana ke rumah pribadinya. Ya, mereka memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua mereka agar mereka lebih leluasa dalam melakukan hal apapun.
Eit... Jangan salah paham!! Mereka sudah membuat perjanjian pranikah yang isinya tidak boleh ada kontak fisik yang artinya mereka akan tidur terpisah. Tidak boleh ikut campur urusan masing-masing dan setelah satu tahun pernikahan, mereka sepakat untuk bercerai.
Sampai di rumah Bara, Alana dibuat kagum dengan desain interior rumah Bara yang terkesan mewah dan elegan untuk ukuran pria seperti Bara. "Wah... Rumah Mr. besar sekali. Mr. tinggal sendiri?" tanya Alana
"Tidak. Aku tinggal dengan dedemit." jawabnya ketus
Alana berdecak pelan dan kembali melihat-lihat. Hingga Bara menyodorkan sebuah kertas padanya. "Apa ini?" tanya Alana. Dia membaca setiap kalimat yang tertera di kertas tersebut dan beberapa detik kemudian dia melotot kan kedua matanya sempurna. "What? Apa maksudnya ini, Mr?" tanya Alana
"Kau bisa membacanya, kan? Harusnya kau tahu apa itu." Ucap Bara sinis
Alana menggeram kesal. Dia tahu apa itu, tapi maksudnya, kenapa semua pekerjaan rumah harus dia yang mengerjakannya? Dia seorang istri bukan pembantu. Lagipula, dia masih sekolah. Mana tahu urusan rumah tangga. Makan saja masih di siapkan ibunya, bagaimana dia bisa memasak dan mengerjakan pekerjaan lainnya?
"Itu peraturan yang harus kau patuhi dan apa saja yang harus kau kerjakan." seru Bara
Alana mendengus dan merobek kertas tersebut. Dia Alana, bukan gadis lemah yang mudah ditindas. Jangan harap dia mau melakukan semua itu.
"Hei... Apa yang kau lakukan?" teriak Bara
"Aku tidak mau melakukannya. Aku istrimu, bukan pembantumu. Jika kau ingin istri yang bisa melakukan itu semua, menikah saja dengan pembantu. Enak saja menyuruh orang untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Memangnya ini rumah siapa, hah?"
"Kau...." Bara mengepalkan tangannya dan menghela nafas panjang. Oke, sepertinya dia harus mempunyai stok kesabaran yang banyak saat menghadapi Alana. Di sekolah saja Alana sudah membuatnya darah tinggi dan sekarang mereka harus tinggal satu atap. Huft... Bisa-bisa dia gila jika terus seperti ini.
"Aku tidak mau tahu. Ini rumahku, dan kau hanya menumpang. Jadi lebih baik kau ikuti aturan rumah ini." setelah mengatakan hal itu, Bara masuk ke kamarnya. Dia tidak perduli dengan teriakan Alana yang terus menolak aturannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Darah tinggi langsung strok 🤣🤣
2024-10-10
0
Yunerty Blessa
tahniah buat pernikahan kalian berdua Bara dan Alana...
2024-10-10
0
Yunerty Blessa
kena kau Bara
2024-10-10
0