Bab 2 Menikah

Malam harinya, Alana dan kedua orang tuanya tengah bersiap untuk makan malam di restoran. Alana terlihat cantik dengan gaun terbuka berwarna peach dengan panjang sampai batas lutut. Dan makeup tipis yang membuat wajah Alana terlihat cantik natural.

"Wah.. Putri mommy cantik sekali." puji Sovia

Alana hanya tersenyum kikuk. Ini pertama kalinya dalam sejarah, dia memakai gaun terbuka seperti ini. Bahkan selama ini dia tidak pernah memakai makeup. Dia biasa memakai pelembab dan lips balm saja. Tapi sekarang, demi menyenangkan kedua orangtuanya, dia rela melakukan apa yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.

Dia merasa sangat tidak nyaman. Wajahnya terasa sangat tebal walaupun Sovia hanya memakaikan makeup tipis di wajahnya. Bahkan dia berulang kali memastikan jika gaunnya tidak melorot.

"Sudah siap?" tanya Erwin yang dijawab anggukan oleh kedua wanita beda generasi itu. Mereka bergegas berangkat ke restoran tempat mereka akan bertemu dengan sahabat Erwin dan juga calon suami Alana.

Di sepanjang perjalanan, Alana hanya diam. Dalam hati dia tidak hentinya mengumpat dan merasa hal itu sangat tidak adil. Haruskah dia menikah di usia dini? Dan yang lebih tidak masuk akal adalah alasan kedua orang tuanya menjodohkannya agar dia bisa berubah. Gila, bukan?

Setelah menempuh perjalanan -+ 1 jam, mereka sampai di restoran. Mereka dituntun pelayan ke ruangan VIP yang sudah dipesan keluarga Rahardian.

"Sepertinya mereka belum datang." seru Sovia

"Kita tunggu saja." Erwin menarik kursi untuk Sovia duduk, baru kemudian dia duduk di samping Sovia.

Cukup lama mereka menunggu hingga tidak berapa lama pintu terbuka dan terdengar suara sepasang suami istri yang menyapa Erwin dan Sovia.

"Akhirnya kalian datang juga " Erwin dan Sovia menyambut kedua sahabatnya.

Mereka duduk dan menanyakan kabar masing-masing. Sesekali mereka tertawa seolah tidak menghiraukan perasaan Alana yang berada di sana.

"Oh iya, perkenalkan, ini putri kami namanya Alana." ucap Sovia memperkenalkan Alana pada sepasang suami istri yang saat ini duduk berseberangan dengannya.

"Cantik sekali." puji Cynthia

Alana hanya bisa tersenyum. Ini pertama kalinya orang lain memujinya cantik. Apa dia harus berbangga diri? Tidak!! Bahkan yang ada didalam pikirannya hanya ingin cepat pulang.

"Come on !! kapan semua ini akan berakhir?" batin Alana

Saat mereka tengah berbincang, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Bima dan Cynthia merasa lega akhirnya putra mereka datang juga.

"Maaf, saya datang terlambat." Ucap pria itu dengan suara beratnya. Pria itu berdiri di belakang Alana karena gadis itu duduk membelakangi pintu.

"Tidak masalah." Sahut Bima. Dia memberi kode pada putranya untuk duduk di sebelah Alana karena hanya itu kursi yang tersisa.

Alana hanya terdiam. Entah mengapa dia merasa tidak asing dengan suara tersebut. Tapi Alana terlalu malas untuk berfikir.

Sampai saat pria itu duduk di sampingnya, Alana refleks menoleh. Begitu juga dengan pria itu. Untuk sesaat mereka saling pandang. Tapi bukan karena terpesona, melainkan mereka terkejut karena saling mengenal.

"KAU!!" pekik mereka bersamaan

"Kalian saling kenal?" tanya Erwin.

"Tentu saja aku mengenalnya. Dia murid kurang ajar yang berani menimpuk gurunya menggunakan kaleng bekas." Seru Bara melirik sinis Alana yang duduk di sebelahnya

Alana hanya bisa menunduk dan mengusap keningnya untuk menutupi wajahnya. Ini sangat memalukan. Kenapa dia harus bertemu dengan Bara di sini? Apa pria yang akan di jodohkan dengannya adalah pria mengerikan itu? Jika itu benar, maka dia dalam masalah besar. Dia pasti akan hidup bagaikan di neraka jika tinggal satu atap dengan manusia lucknut yang mendapat gelar guru killer itu.

"Apa itu benar, Alana?" Tanya Erwin. Dia memang sudah tahu, jika putrinya melakukan kesalahan. Tapi dia tidak tahu jika guru yang menjadi korban Alana adalah Bara

"Kenapa kau diam saja? Ayahmu sedang bertanya, kau tidak bisu, bukan?" suara Bara terdengar sangat lantang dan tegas. Hal itu membuat Alana menelan ludahnya berulangkali.

"I-iya dad." Jawab Alana terbata. "Tapi aku tidak sengaja dad. Aku..."

"Wah..wah..wah.. bahkan sampai sekarang kau masih tidak mau mengakui kesalahan mu? Sungguh luar biasa." Bara bertepuk tangan karena Alana masih berani menyangkal.

"Lihat dad!! Apa ini wanita yang akan kau jodohkan dengan ku? Wanita urakan yang suka berbuat onar. Bahkan dia dijuluki murid abadi di sekolah." Lanjut Bara

Alana mengepalkan tangannya erat. Ini sudah keterlaluan. Walaupun benar apa yang Bara katakan, tapi apa harus pria itu mempermalukannya di depan semua orang?

"Ya. Aku memang berandalan. Lalu kau mau apa? Menghukum ku?Apa hanya karena kau guru yang di takuti di sekolah, maka aku akan takut padamu, begitu? Tidak Mr. Aku tidak takut padamu karena aku memang tidak bersalah." Ucap Alana dengan lantang. "Kau bahkan tidak pantas di panggil guru karena kau hanya percaya dengan apa yang kau lihat tanpa mau mencari tahu kebenarannya." Lanjut Alana yang membuat Bara geram.

"TUTUP MULUTMU, SIALAN!!" teriak Bara

"CUKUP!!" Bima kehabisan kesabaran. Dari tadi dia hanya diam. Tapi lama-kelamaan keduanya justru malah bertengkar. Bara sudah membuatnya malu di depan Erwin. Begitu juga Erwin yang malu karena perbuatan putrinya.

"Jangan kalian kira, kami akan membatalkan perjodohan ini hanya karena kalian bertengkar. Kami akan tetap menjodohkan kalian. Dan sekarang, kami akan memberi waktu pada kalian untuk menyelesaikan masalah kalian." Bima menatap tajam Bara dan kembali berkata, "kau sudah dewasa, jadi bijaksana lah. Ayo kita pergi!!" Bima mengajak Erwin dan yang lain untuk pergi dan meninggalkan Alana dan Bara. Anggap saja ini sebagai pendekatan untuk keduanya. Walaupun mereka yakin jika pada akhirnya mereka hanya akan berdebat. Tapi biarkanlah mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Alana melirik sinis Bara. Begitu juga sebaliknya. Acara makan malam mereka berantakan karena pertengkaran keduanya. Dan ini menjadi awal pertemuan yang buruk. Akan jadi seperti apa rumah tangga mereka nanti? Alana bahkan tidak bisa membayangkannya. Yang ada, setiap hari pasti mereka akan bertengkar.

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Mereka mulai menggeser kursi masing-masing, saling menjauh satu sama lain.

"Apa maksud Mr. berkata seperti itu? Kau mau mempermalukan ku, ya." sentak Alana

"Cih untuk apa aku mempermalukan orang yang tidak punya malu." Ucap Bara sinis. "Dengar baik-baik, aku menolak perjodohan ini karena aku mencintai wanita lain. Jadi lebih baik kau mundur saja." Lanjut Bara

"Cih.. apa kau pikir aku mau menikah dengan pria gila seperti mu?" Balas Alana

Bara melebarkan kedua matanya geram. "Apa katamu? Pria gila? Kau yang gila, sialan!!" Teriak Bara. Bukannya menyelesaikan masalah, mereka justru terus berdebat dan saling menyalahkan.

"Kita sama-sama menolak perjodohan ini. Jadi, bagaimana jika Mr. bilang pada kedua orang tua kita untuk membatalkan nya? Aku sudah mencobanya tapi Daddy malah mengancam ku." gerutu Alana

"Apa kau pikir, aku menerima begitu saja perjodohan ini? Tentu saja tidak. Apalagi wanita itu adalah berandalan sepertimu."ucap Bara sinis.

Alana hanya bisa menggeram kesal karena Bara terus saja menghinanya. Hah.. kenapa nasibnya sangat sial? Dia di jodohkan dengan pria menyebalkan seperti Bara. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka terjebak dalam permainan kedua orang tua mereka.

Cukup lama mereka berdiam diri, hingga akhirnya Bara membuka suara, "Begini saja, kita buat perjanjian pranikah. Dan aku ingin pernikahan ini di rahasiakan. Jangan sampai orang lain tahu. Terutama lingkungan sekolah." usul Bara

Alana melebarkan kedua matanya. Dia hendak protes tapi Bara lebih dulu menyela, "setelah satu tahun, kita akan bercerai."

Alana nampak berfikir. Dia merasa jika itu bukan ide yang buruk, "Oke, deal!!"

...----------------...

Dua Minggu kemudian, pernikahan Alana dan Bara di gelar tertutup di kediaman Erwin. Hal itu dilakukan atas permintaan Alana karena dia tidak mau teman-temannya tahu tentang pernikahannya.

Kedua orang tuanya tidak masalah asalkan Alana dan Bara menikah.

"Selamat ya sayang. Akhirnya kau menikah juga. Mommy bahagia sekali." seru Sovia

Alana hanya tersenyum kikuk. Bahagia karena dia sudah menikah atau bahagia karena tidak ada lagi yang membuat mereka kesal? Huh.. Entah mengapa dia merasa seperti dijual oleh kedua orang tuanya. Atau mungkin diusir secara halus dari rumahnya? Entahlah, yang pasti dia kecewa pada kedua orang tuanya.

Setelah acara selesai, Bara memboyong Alana ke rumah pribadinya. Ya, mereka memutuskan untuk tinggal terpisah dari orang tua mereka agar mereka lebih leluasa dalam melakukan hal apapun.

Eit... Jangan salah paham!! Mereka sudah membuat perjanjian pranikah yang isinya tidak boleh ada kontak fisik yang artinya mereka akan tidur terpisah. Tidak boleh ikut campur urusan masing-masing dan setelah satu tahun pernikahan, mereka sepakat untuk bercerai.

Sampai di rumah Bara, Alana dibuat kagum dengan desain interior rumah Bara yang terkesan mewah dan elegan untuk ukuran pria seperti Bara. "Wah... Rumah Mr. besar sekali. Mr. tinggal sendiri?" tanya Alana

"Tidak. Aku tinggal dengan dedemit." jawabnya ketus

Alana berdecak pelan dan kembali melihat-lihat. Hingga Bara menyodorkan sebuah kertas padanya. "Apa ini?" tanya Alana. Dia membaca setiap kalimat yang tertera di kertas tersebut dan beberapa detik kemudian dia melotot kan kedua matanya sempurna. "What? Apa maksudnya ini, Mr?" tanya Alana

"Kau bisa membacanya, kan? Harusnya kau tahu apa itu." Ucap Bara sinis

Alana menggeram kesal. Dia tahu apa itu, tapi maksudnya, kenapa semua pekerjaan rumah harus dia yang mengerjakannya? Dia seorang istri bukan pembantu. Lagipula, dia masih sekolah. Mana tahu urusan rumah tangga. Makan saja masih di siapkan ibunya, bagaimana dia bisa memasak dan mengerjakan pekerjaan lainnya?

"Itu peraturan yang harus kau patuhi dan apa saja yang harus kau kerjakan." seru Bara

Alana mendengus dan merobek kertas tersebut. Dia Alana, bukan gadis lemah yang mudah ditindas. Jangan harap dia mau melakukan semua itu.

"Hei... Apa yang kau lakukan?" teriak Bara

"Aku tidak mau melakukannya. Aku istrimu, bukan pembantumu. Jika kau ingin istri yang bisa melakukan itu semua, menikah saja dengan pembantu. Enak saja menyuruh orang untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Memangnya ini rumah siapa, hah?"

"Kau...." Bara mengepalkan tangannya dan menghela nafas panjang. Oke, sepertinya dia harus mempunyai stok kesabaran yang banyak saat menghadapi Alana. Di sekolah saja Alana sudah membuatnya darah tinggi dan sekarang mereka harus tinggal satu atap. Huft... Bisa-bisa dia gila jika terus seperti ini.

"Aku tidak mau tahu. Ini rumahku, dan kau hanya menumpang. Jadi lebih baik kau ikuti aturan rumah ini." setelah mengatakan hal itu, Bara masuk ke kamarnya. Dia tidak perduli dengan teriakan Alana yang terus menolak aturannya.

Terpopuler

Comments

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

Darah tinggi langsung strok 🤣🤣

2024-10-10

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

tahniah buat pernikahan kalian berdua Bara dan Alana...

2024-10-10

0

Yunerty Blessa

Yunerty Blessa

kena kau Bara

2024-10-10

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Dijodohkan
2 Bab 2 Menikah
3 Bab 3 Di Hukum
4 Bab 4 Selingkuh?
5 Bab 5 Menjadi Istri Yang Baik
6 Bab 6 Menahan Emosi
7 Bab 7 Kedatangan Orang Tua
8 Bab 8 Menginap
9 Bab 9 Sandiwara Di Pagi Hari
10 Bab 10 Makan Malam Yang Gagal
11 Bab 11 Perasaan Aneh
12 Bab 12 Guru Baru
13 Bab 13 Meminta Penjelasan
14 Bab 14 Kegelisahan Bara
15 Bab 15 Aku Membencimu, Mr.
16 Bab 16 Dia Adalah Istri ku
17 Bab 17 Ciuman Pertama
18 Bab 18 Penjelasan Alana
19 Bab 19 Syarat
20 Bab 20 Peringatan
21 Bab 21 Percobaan Penculikan
22 Bab 22 Maaf Mr.
23 Bab 23 Rencana Lain Amanda
24 Bab 24 Balasan Alana
25 Bab 25 Balasan Alana 2
26 Bab 26 Aku Yang Menyebarkan Video Itu
27 Bab 27 Pengakuan Alana
28 Bab 28 Sakit
29 Bab 29 Jangan Baik Padaku, Mr.
30 Bab 30 Pamer
31 Bab 31 Bahaya Mengintai
32 Bab 32 Di Culik
33 Bab 33 Di Culik 2
34 Bab 34 Rencana Kabur
35 Bab 35 Pura-pura Kerasukan Hantu
36 Bab 36 Petunjuk
37 Bab 37 Kemarahan Bara
38 Bab 38 Pingsan
39 Bab 39 Rencana Bara Dan Rayhan
40 Bab 40 Tertangkap Lagi
41 Bab 41 Keberadaan Alana
42 Bab 42 Terluka
43 Bab 43 Membaik
44 Bab 44 Apa Benar Kau Mencintaiku?
45 Bab 45 Pertanyaan Yang Sama
46 Bab 46 Ketahuan
47 Bab 47 Menyesal
48 Bab 48 Sama-sama Gengsi
49 Bab 49 Pengakuan
50 Bab 50 Gagal
51 Bab 51 Keputusan
52 Bab 52 Mulai Bucin
53 Bab 53 Gosip
54 Bab 54 Pengumuman
Episodes

Updated 54 Episodes

1
Bab 1 Dijodohkan
2
Bab 2 Menikah
3
Bab 3 Di Hukum
4
Bab 4 Selingkuh?
5
Bab 5 Menjadi Istri Yang Baik
6
Bab 6 Menahan Emosi
7
Bab 7 Kedatangan Orang Tua
8
Bab 8 Menginap
9
Bab 9 Sandiwara Di Pagi Hari
10
Bab 10 Makan Malam Yang Gagal
11
Bab 11 Perasaan Aneh
12
Bab 12 Guru Baru
13
Bab 13 Meminta Penjelasan
14
Bab 14 Kegelisahan Bara
15
Bab 15 Aku Membencimu, Mr.
16
Bab 16 Dia Adalah Istri ku
17
Bab 17 Ciuman Pertama
18
Bab 18 Penjelasan Alana
19
Bab 19 Syarat
20
Bab 20 Peringatan
21
Bab 21 Percobaan Penculikan
22
Bab 22 Maaf Mr.
23
Bab 23 Rencana Lain Amanda
24
Bab 24 Balasan Alana
25
Bab 25 Balasan Alana 2
26
Bab 26 Aku Yang Menyebarkan Video Itu
27
Bab 27 Pengakuan Alana
28
Bab 28 Sakit
29
Bab 29 Jangan Baik Padaku, Mr.
30
Bab 30 Pamer
31
Bab 31 Bahaya Mengintai
32
Bab 32 Di Culik
33
Bab 33 Di Culik 2
34
Bab 34 Rencana Kabur
35
Bab 35 Pura-pura Kerasukan Hantu
36
Bab 36 Petunjuk
37
Bab 37 Kemarahan Bara
38
Bab 38 Pingsan
39
Bab 39 Rencana Bara Dan Rayhan
40
Bab 40 Tertangkap Lagi
41
Bab 41 Keberadaan Alana
42
Bab 42 Terluka
43
Bab 43 Membaik
44
Bab 44 Apa Benar Kau Mencintaiku?
45
Bab 45 Pertanyaan Yang Sama
46
Bab 46 Ketahuan
47
Bab 47 Menyesal
48
Bab 48 Sama-sama Gengsi
49
Bab 49 Pengakuan
50
Bab 50 Gagal
51
Bab 51 Keputusan
52
Bab 52 Mulai Bucin
53
Bab 53 Gosip
54
Bab 54 Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!