Raihan terdiam menatap Alana dan Bara yang semakin menjauh. Dirinya seolah tidak percaya jika gadis yang dicintainya ternyata sudah menikah. Hatinya sakit. Padahal dia berencana untuk menyatakan perasaannya, tapi ternyata Alana sudah menikah dengan Bara.
Tapi, bagaimana bisa mereka menikah? Apa mereka menjalani hubungan diam-diam selama ini? Atau mereka di jodohkan?
Entahlah. Memikirkan hal itu kepalanya semakin sakit. Hah... Pantas saja selama ini Alana hanya menganggapnya sahabat. Ternyata, hatinya sudah ada yang memiliki.
"Selamat atas pernikahan mu, Alana. "gumam Rayhan. Dia pulang dengan hati yang hancur.
Sementara Alana, tidak hentinya memberontak saat Bara terus memaksanya untuk pulang. Dia tidak mau kembali ke rumah itu karena hal itu akan membuat hatinya semakin sakit.
"Lepas, Mr!!! Aku tidak mau pulang." berontak Alana
"Jika kau tidak mau pulang, kau mau kemana, hah? Pergi dengan pria itu?" teriak Bara
"Dia punya nama, Mr. Dan namanya adalah Rayhan." seru Alana tidak kalah geram
"Aku tidak perduli. Sekarang, kau ikut pulang dengan ku. Kita selesaikan masalah kita."
"Aku tidak mau!! Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak mau pulang dengan mu!!" teriak Alana
Dada Alana kembang kempis karena berteriak, meluapkan amarahnya. Untuk apa mereka menyelesaikan masalah yang tidak akan pernah menemukan titik terang untuk keduanya. Dia yakin, tetap dia yang di salahkan. Satu-satunya jalan terbaik adalah bercerai.
"Dengar Mr!! Tidak ada gunanya kita membicarakan masalah kita. Yang ada, kita hanya akan bertengkar. Satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah kita adalah, kita bercerai."
Deg
Bara mengepalkan tangannya, "Cerai? Apa yang ada di pikiran mu hanya itu, Hah? Apa kau pikir dengan kita bercerai semua akan selesai? Kau tidak memikirkan perasaan kedua orang tua kita?" teriak Bara
"Lalu bagaimana dengan dirimu? apa selama ini kau memikirkan perasaan ku?" sentak Alana
Alana menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sejenak. Dia kembali menatap tajam Bara dan berkata. "Kita sepakat untuk tidak ikut campur urusan masing-masing. Dan aku melakukan. Aku tidak pernah bertanya ini itu mengenai kedekatan mu dengan Mrs. Amanda. Tapi kenapa disaat aku dekat dengan yang lain, kau melarang ku dengan alasan tanggung jawab?"
"Aku juga ingin mempunyai teman. Aku tidak mau sendirian. Aku mempunyai suami, tapi dia milik orang lain. Bahkan dia tidak percaya padaku dan malah memberiku hukuman dan membentak ku di depan semua orang. Apa kau tahu bagaimana perasaan ku, hah?" Alana meluapkan semua emosinya yang membuat Bara terdiam.
"Hah... Sudahlah Mr. Jangan membuat semua menjadi sulit. Satu-satunya jalan untuk kita menyelesaikan masalah kita adalah bercerai. Kau tenang saja, aku akan menjelaskan nya pada orang tua kita, jadi....." ucapan Alana terhenti saat tiba-tiba Bara menarik tengkuknya dan mencium bibirnya.
Alana melebarkan kedua matanya sempurna. Tapi dia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Dia terlalu terkejut, karena semua terjadi secara tiba-tiba.
Ini adalah ciuman pertama nya. Dan diambil oleh suaminya sendiri, pria yang dia cintai. Haruskah dia merasa senang?
Bara melepaskan ciuman mereka dan menempelkan keningnya di kening Alana. "Jika kau mengucapkan kata cerai lagi, aku akan menghukum mu lebih dari ini." ucapnya dengan suara parau.
Alana mematung. Dia menatap kedua mata Bara yang juga menatapnya. Bahkan saat Bara kembali menyatukan bibir mereka, Alana masih saja terdiam. Dunia rasanya berhenti berputar. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Begini kah rasanya ciuman?
Perlahan, Alana memejamkan matanya dan membalas setiap gerakan bibir Bara.
Mereka seolah tenggelam dalam dunia mereka sendiri tanpa menghiraukan orang-orang sekitarnya. Dan setelah cukup lama mereka berciuman, Bara mengakhiri kegiatan mereka. Dia mengusap bibir Alana yang basah karena ulahnya.
"Kita pulang ya!!" ajak Bara lembut
Tidak ada penolakan dari Alana. Dia hanya diam saat bara menuntunnya pulang. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lakukan? Bara menciumnya?
Alana menyentuh bibirnya. Ciuman itu masih terasa di sana. Dia tersenyum tipis dan memalingkan wajahnya menghadap keluar jendela. Dia merasa sangat senang. Apakah itu artinya, Bara juga mempunyai perasaan yang sama padanya?
Alana melirik sekilas Bara yang terlihat fokus mengemudi. Wajah pria itu terlihat biasa saja. Bahkan Alana merasa jika Bara seolah lupa dengan apa yang mereka lakukan. Apa pria seperti itu setelah berciuman? Ekspresi mereka benar-benar sulit di tebak.
Alana tidak tahu saja, jika Bara setengah mati menahan sesuatu agar tidak melakukan hal yang tidak-tidak pada Alana. Berciuman dengan Alana, membuat hasratnya bangkit. Ini sangat aneh, bahkan saat dia berciuman dengan Amanda, dia tidak merasakan hal seperti ini. Rasanya dia tidak mau berhenti. Dia ingin mengulanginya lagi dan lagi. Tapi dia terlalu takut, karena bagaimanapun Alana masih terlalu kecil.
Tapi setidaknya sekarang Alana mau pulang dengan nya. Dan hal itu membuatnya lega. Setelah ini, dia akan mencoba mendengarkan Alana dan selalu ada untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
sepatutnya sebagai isteri kau katakan dengan pelan kenapa sampai bertingkah....
2024-10-10
1
Qaisaa Nazarudin
Di Kiss aja langsung luluh..
2024-09-25
0
Dynamite
neh kalok gini kan enak.. yg tadi nya gedeg deg deg deggg sama ente bar
2023-09-06
0