Keesokan harinya, Bara tengah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ini hari Senin, jadi dia harus berangkat lebih awal. Biasanya dia bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan. Tapi sekarang sudah ada Alana. Jadi dia bisa sedikit lebih santai.
Bara melihat arlojinya, sudah pukul 06:30. Dia mengambil tasnya dan bergegas ke ruang makan. Tapi sesampainya di sana tidak ada apapun di meja makan. Bara mendengus kesal dan menyiapkan sepotong roti untuk sarapannya.
Saat hendak melahap rotinya, tiba-tiba Alana datang dengan terburu-buru. "Mr, mana sarapanku?" tanya Alana sambil tergesa-gesa memakai sepatunya.
Bara hanya melirik sekilas dan menikmati rotinya tanpa memperdulikan Alana.
"Mr!!!" teriak Alana
"Harusnya aku yang tanya padamu, mana sarapanku? Bukannya aku sudah memberitahu peraturan dan juga apa saja tugasmu di rumah ini?"
Alana menegakkan badannya setelah selesai memakai sepatu. Dia berkacak pinggang didepan Bara dan berkata, "Aku kan sudah bilang tidak mau melakukannya. Aku ini masih pelajar, mana aku tahu cara mengurus rumah. Harusnya Mr. mencari istri yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga." seru Alana
"Lagian, jaman sekarang kok masih saja ada perjodohan. Emangnya kita hidup di jamannya Kabayan?"
Bara yang saat itu sedang makan, sontak tersedak mendengar ucapan Alana. Kabayan? Sejak kapan perjodohan ada di jaman Kabayan? Bukankah yang benar itu, Siti Nurbaya?
"Mr, kau tidak apa-apa?" Alana menepuk pelan punggung Bara dan mengambilkan minum untuknya. "Makanya kalau makan itu pelan-pelan." ucapnya lagi
Bara mendengus kesal. Dia tersedak juga karena Alana. Tapi gadis itu seolah tidak merasa bersalah. "Ekhm... Jadi sekarang kau menyalahkan ku karena menerima perjodohan ini?" tanya Bara
"Aku tidak menyalahkan mu. Aku mengerti kenapa kau menerima perjodohan ini. Begitu juga denganku. Aku tidak mau menjadi anak durhaka dan berakhir seperti Malin Kundang." gerutu Alana
Bara tersenyum dalam hati. Kali ini dia setuju dengan ucapan Alana. Jika kita durhaka, maka kita bisa bernasib sama seperti Malin Kundang. Itu perumpamaan yang tepat.
"Sangat tidak etis, gadis cantik sepertiku berubah jadi kodok karena durhaka pada orang tua, bukan." imbuh Alana
Bara menepuk jidatnya. Dia tarik ucapannya, ternyata Alana sangat bodoh. Hah.. harusnya dia mencari tahu tentang calon istrinya terlebih dahulu. Maka endingnya tidak akan seperti ini. Sudahlah lupakan!! Dia harus segera berangkat karena dia sudah sangat terlambat.
Bara membawa piring dan gelas kotornya ke dapur dan menenteng tas nya berangkat ke sekolah.
"Mr, tunggu!!!" teriak Alana
Bara tidak memperdulikannya. Pagi ini dia sudah dibuat kesal, jadi dia berharap nanti di sekolah, dia tidak bertemu dengan Alana lagi.
"Mr!!" Alana berdiri didepan Bara dan menengadahkan tangannya. "Uang jajan." pintanya
Bara tersenyum sinis dan berkata, "Atas dasar apa kau meminta uang jajan padaku? Apa karena aku suamimu, maka aku harus membiayai kebutuhanmu? Lalu kau sendiri bagaimana? Apa kau sudah melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri?"
"A-aku....
"Jika kau menginginkan sesuatu, maka kau harus berusaha. Di dunia ini tidak ada yang gratis." Bara tersenyum mengejek dan pergi meninggalkan Alana. Dia tidak perduli bagaimana Alana akan pergi ke sekolah. Itu bukan urusannya.
"Bara Erfian Rahardian!!!" Alana menggeram kesal dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Raihan. Ya, tidak ada pilihan selain minta tolong pada Raihan untuk menjemputnya.
...****************...
"Tumben sekali, kau memintaku untuk menjemputmu? Dan kenapa kau bisa berada di halte itu?" tanya Raihan. Dia merasa heran, karena Alana berada di halte yang jauh dari rumahnya.
"I-itu...." Alana terlihat panik. Dia lupa jika Raihan tidak tahu jika dia sudah menikah dan sekarang tinggal di rumah suaminya. Tapi untungnya, belum sempat Alana menjawab, mereka sudah lebih dulu sampai di sekolah, bertepatan dengan bel yang berbunyi.
Alana menghela nafas lega dan mereka bergegas ke lapangan untuk melakukan upacara bendera. Selama upacara berlangsung, Alana tidak hentinya menatap sinis pria yang kemarin sudah sah menjadi suaminya. Dia mengumpat mengeluarkan sumpah serapahnya melihat Bara yang bersikap seolah tidak merasa bersalah. Cih.. Menyebalkan.
Selesai upacara, semua siswa berbondong-bondong masuk ke kelas masing-masing karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Begitu juga dengan Alana dan Raihan. Mereka langsung duduk di kursi masing-masing dan mengeluarkan buku pelajaran mereka.
"Selamat pagi anak-anak!!" sapa Bu Siska
"Pagi bu!!" jawab mereka serempak
"Sekarang kumpulkan pr kalian dan buka buku paket halaman 91." pinta Bu Siska
Semua siswa mulai mengumpulkan pr mereka ke depan. Tapi tidak dengan Alana. Sejak mendengar kata pr, Alana mulai mengeluarkan keringat dingin. Itu karena dia lupa mengerjakan pr nya. Dia terlalu stress memikirkan pernikahannya sampai-sampai mengabaikan sekolahnya. Heh.. Bukannya ini bukan pertama kalinya kau tidak mengerjakan pr, Alana?
"Kau kenapa Alana?" tanya Raihan pelan. Tapi Alana tidak menjawabnya. Gadis itu menatap ke depan dan menelan ludahnya berulang kali seolah takut dengan sosok didepannya.
"Alana!! Mana pr mu?" tanya Bu Siska, tapi Alana tidak menjawab. Bu Siska menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pelan. Dia menyuruh Alana untuk berdiri diluar kelas sampai jam pelajarannya selesai.
Alana hanya bisa pasrah dan melakukan apa yang diperintahkan Bu Siska. Dia berdiri didepan kelas dengan perut yang lapar karena dia melewatkan sarapannya dan semua itu karena Bara.
Alana terus mengeluh lapar dan terbesit pikiran untuk kabur ke kantin. Tapi saat hendak pergi, tiba-tiba duo keong racun menghampirinya.
"Wah.. Wah.. Wah. coba lihat!! Siapa ini? gadis gila, pembangkang dan pembuat onar. Pasti kau dihukum, kan?" tebak Agnes
Alana hanya memutar kedua matanya malas. Dia sudah biasa menghadapi dua keong racun didepannya ini, gadis-gadis menyebalkan yang mengandalkan kekayaan orangtuanya untuk menindas yang lemah.
"Kenapa kau diam saja? Aku benar, bukan?" lanjut Agnes
"Yeah, kau benar. Aku memang sedang dihukum. Lalu, apa masalahmu?" tanya Alana malas
"Masalahku? Tentu saja ini," Agnes mengambil ponselnya dan mulai merekam, "Guys!! Gadis pembuat onar kembali dihukum berdiri didepan kelas." Agnes dan Erika terlihat sangat puas dan hal itu membuat Alana kesal. Dia ingin membuat perhitungan, tapi mereka sudah lebih dulu kabur.
Tapi Alana tidak kehabisan akal. Dia melepas sepatunya dan melemparnya kearah Agnes dan Ericka. Tapi naas, sepatunya mendarat sempurna di kepala seorang pria yang sangat dia kenal
"AW...!!" pekik pria itu
Deg.
Alana kembali berdiri dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tapi bukti ada di depan mata. Pria itu mengambil sepatu tersebut dan menatap Alana yang hanya menggunakan sepatu sebelah.
"Alana!!!" geram Bara
...****************...
"Dasar menyebalkan, pria brengsek, tidak punya hati. Argh... Kenapa dia tega melakukan hal ini padaku?" teriak Alana. Setelah hukuman dari Bu Siska selesai, dia kembali mendapat hukuman dari Bara. Dia di hukum membersihkan toilet wanita di seluruh sekolah itu. Gila, bukan?
Bahkan Bara tidak mau mendengar penjelasannya. Ya mana dia tahu jika tiba-tiba Bara akan keluar dari kelas sebelah. Hah.. Semenjak dia bertemu dengan Bara, entah kenapa dia selalu saja sial.
"Alana!!"
Alana menoleh, melihat Raihan yang menghampirinya. "Ada apa Rai?" tanya Alana
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Raihan langsung merebut pel dari tangan Alana dan mulai mengepel lantai toilet.
Alana tersenyum. Lagi dan lagi Raihan membantunya. Dia senang, setidaknya ada Raihan yang mau berteman dengannya. Mereka membersihan toilet bersama-sama sambil tertawa. Dan interaksi keduanya dilihat oleh Bara yang kebetulan ingin mengecek pekerjaan Alana.
"Siapa pria itu?" batin Bara
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
syukur lah ada Raihan bantu
2024-10-10
0
Yunerty Blessa
sabar Alana,kucing lagi marah
2024-10-10
0
Yunerty Blessa
semoga bukan Bara 🤣🤣
2024-10-10
0