Bara bergegas ke apartemen Amanda karena takut terjadi sesuatu pada wanita itu. Tapi saat dia sampai, dia justru terkejut karena Amanda yang baik-baik saja. Bahkan wanita itu tengah menyiapkan makan siang di dapur
"Manda, kau baik-baik saja?" tanya Bara
Amanda tersenyum dan menarik Bara untuk duduk. "Tunggu disini!! Aku akan mengambilkan makanan untuk mu."
Bara hanya terdiam. Dia justru teringat dengan ucapan Alana yang ingin bercerai darinya. Entah mengapa dia tidak senang mendengarnya.
Dia akui, dia bersalah karena mengabaikan gadis itu. Semenjak bertemu Amanda di restoran, Bara lebih memilih menemani Amanda dari pada istrinya sendiri. Tapi bukan tanpa alasan, kenapa Bara melakukan hal itu.
Amanda mengatakan jika dia ketakutan. Dia bercerita jika dia selalu di siksa mantan kekasihnya. Untuk itu dia kabur dan tanpa sengaja bertemu dengan Bara di restoran.
Karena terlalu senang bertemu dengan wanita yang dulu dia cintai, Bara sampai tidak sadar jika Alana sudah tidak ada di sampingnya. Baru setelah Amanda bertanya, siapa gadis yang datang dengannya, dia baru menyadarinya. Bara mencari Alana dan bertanya pada pelayan. Tapi, ternyata Alana sudah lebih dulu pulang. Untuk itu, Bara kembali ke meja di mana Amanda berada dan mengatakan pada wanita itu jika Alana adalah istrinya.
Selama ini, Bara menemani Amanda untuk menenangkan wanita itu. Dia menghibur Amanda dan mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Bahkan tanpa sadar, Bara mengatakan akan melindunginya. Itulah sebabnya Bara selalu datang ke apartemen Amanda untuk memastikan jika wanita itu aman.
Dan sekarang, Bara justru terlihat bingung karena Alana ingin bercerai darinya.
"Sial!! Kenapa aku jadi gelisah seperti ini?" geram Bara dalam hati. Karena kata cerai yang keluar dari mulut Alana, membuat Bara tidak bisa berhenti memikirkan Alana. Bahkan dia mengabaikan Amanda yang menyajikan makanan di depannya.
"Aku membuatkan makanan kesukaan mu." seru Amanda. Dia mengerutkan keningnya, melihat Bara yang diam, "ada apa Bar?" tanya Amanda
"Ah.. A-aku tidak apa-apa." seru Bara. Dia tersenyum dan memakan makanan buatan Amanda. Sejenak dia teringat saat Alana menyiapkan makanan untuk nya. "Sial. kenapa aku jadi memikirkan nya?" gerutu Bara dalam hati.
Selesai makan, mereka bercengkerama di ruang santai. Mereka saling bercerita, bernostalgia saat mereka masih bersekolah. Hingga tidak terasa hari sudah malam. Bara ingin pulang, tapi Amanda justru menahan Bara.
"Malam ini, kau mau kan menemaniku lagi?" pinta Amanda
"Tapi Manda, Alana....."
"Aku takut Bar." Amanda memeluk lengan Bara dan menunjukkan ekspresi ketakutan.
Bara hanya bisa menghela nafas panjang dan mengangguk, menyetujuinya. Tentu saja hal itu membuat Amanda senang.
"Kau belum menceritakan padaku, kenapa kau pergi waktu itu?" tanya Bara
Amanda menegakkan tubuhnya dan menatap Bara. Dia menghela nafas dan berkata, "setelah lulus kuliah, ayah dan ibu pindah ke luar negeri. Dan mau tidak mau, aku harus ikut. Aku ingin mengatakannya padamu, tapi waktu itu sangat mendadak. Jadi, ya begitulah. Di sana aku bertemu dengan Steven. Dan kami menjalin hubungan. Tapi ternyata dia sangat kasar. Dia sering menyiksa ku. Makanya aku memilih kembali ke Indonesia." terang Amanda
"Tapi, jika hanya mengatakan nya, kau bisa menghubungi ku. kan? Tapi waktu itu, nomor ponselmu sama sekali tidak bisa di hubungi." seru Bara
"Po-ponselku hilang Bar." seru Amanda beralasan
Bara menghela nafas panjang. Pantas saja wanita itu tidak bisa di hubungi. Tapi, apa itu masuk akal? kenapa kebetulan sekali?
"Kau marah?" tanya Amanda
"Tidak. Untuk apa aku marah. Hanya saja, sebenarnya aku ingin menyatakan perasaan ku padamu, setelah lulus kuliah waktu itu. Tapi, kau menghilang di telan bumi." seru Bara
"Maaf." sesal Amanda. Dia menggenggam kedua tangan Bara, hingga mereka berhadapan. Kedua mata mereka bertemu, dan entah bagaimana, tiba-tiba bibir mereka sudah menyatu.
Mereka terbawa suasana syahdu malam itu. Hanya terdengar suara decapan dari kedua bibir mereka di ruangan tersebut. Tapi tiba-tiba bayangan Alana melintas di pikiran Bara. Dia membuka matanya dan mendorong Amanda hingga ciuman mereka terlepas.
"A-ada apa Bar?" tanya Amanda dengan nafas memburu.
"I-ini salah Manda. Ini salah. Aku sudah menikah." sahut Bara
"Tapi, bukankah kalian tidak saling mencintai? Kalian hanya di jodohkan, bukan?"
"Apapun alasannya, semua ini tidak seharusnya kita lakukan." Bara berdiri dan berkata. "maaf, aku tidak bisa menemani mu malam ini. Aku harus pulang." Bara meninggalkan Amanda begitu saja.
"Argh... Sial!!" umpat Amanda.
Di perjalanan, Bara terus mengutuk apa yang sudah dia lakukan. Dia merasa bersalah pada Alana. Tidak seharusnya dia melakukan hal itu. Itu sama saja dia mengkhianati pernikahan mereka.
"Sial!! Apa yang sudah aku lakukan ?" umpat Bara. Dia menambah kecepatan mobilnya, hingga tidak berapa lama, Bara sudah sampai di rumahnya.
Dia bergegas turun dari mobil dan berlari, masuk ke dalam rumah. Tapi dia terhenti saat melihat Alana tertidur di sofa dan masih memakai seragam sekolahnya.
Bara mendekat dan jongkok di samping Alana. Dia melihat buliran air mata yang belum mengering di sudut mata gadis itu. Untuk sesaat dia merasa sangat bersalah. Jujur, hatinya saat ini masih ragu, apakah dia masih mencintai Amanda atau tidak? Karena yang dia rasakan saat ini adalah rasa ingin melindungi wanita itu. Tapi, jika teringat kata cerai dan sikap Alana akhir-akhir ini padanya, dia mulai merasa gelisah. Padahal, dia tidak mencintai Alana, tapi dia tidak ingin mereka bercerai.
Tangan Bara terangkat, ingin membelai wajah Alana. Tapi dia urungkan. Dia mengepalkan tangannya dan mendesah panjang. Dia terduduk dilantai dan kembali menatap Alana.
"Ada apa dengan ku? Kenapa hatiku sakit melihat nya menangis?" batin Bara
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Bara selingkuh di belakang Alana 😏😏
2024-10-10
0
Alifiah Nur Azizah
udah mulai nyesek
2023-11-22
0
☠ᵏᵋᶜᶟ❤️⃟Wᵃf 𝐊𝐢𝐤𝐲𝐀⃝🥀
Ya krn Lo udah ada rasa sama dia dodol
2023-07-11
0