Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah tirai jendela kamar. Angel masih sedang tidur di atas kasur empuknya. Hawa panas mulai terasa memenuhi ruangan. Angel terbangun. Ia melirik jam weker di atas nakas samping tempat tidur yang menunjukkan pukul 09.30 pagi.
"Astaga, aku bangun kesiangan!"
Angel langsung melompat bangun dari atas tempat tidur. Ia ingat hari ini akan pergi ke taman hiburan bersama mamanya. Angel pun bergegas mandi. Setelah mandi Angel berlari ke lemari pakaian untuk memilih pakaian apa yang akan dikenakannya. Beberapa saat memilih akhirnya pilihannya jatuh pada dress putih dengan motif bunga kecil tanpa lengan dan bolero hitam. Usai mengenakan pakaian, ia langsung turun ke bawah menemui Gracia.
Gracia berada di ruang tengah dengan pakaian rapi. Ia sedang memasukkan beberapa barang dengan terburu-buru ke dalam tas tangannya. Angel berjalan mendekatinya dengan senyum mengembang di bibir.
"Mama, hari ini kita akan ke ...."
Gracia langsung memotong. "Maaf, Angel, mendadak Mama ada rapat hari ini. Kemarin Mama ingin memberitahumu saat pulang. Tapi melihatmu sudah tertidur pulas, Mama tidak tega membangunkan mu. Jadi, hari ini kita tidak bisa pergi, ya!"
"Tapi, mama kan sudah janji," rengek Angel. Ia nampak kecewa. Senyum di wajahnya seketika menghilang.
"Angel, Mama juga tidak punya pilihan. Rapat ini juga bukan kehendak Mama," ucap Gracia pasrah.
"Ya, sudah ... terserah Mama saja!" kata Angel yang langsung berlari ke lantai atas kembali ke kamarnya.
Gracia hanya bisa menatapnya dengan perasaan bersalah. Setelah barang bawaannya siap, ia pun segera berangkat. Namun sebelum pergi ia memberitahu Angel.
"ANGEL ... MAMA PERGI, YA!" teriak Gracia dari ruang tengah.
Tak ada jawaban dari Angel. Gracia hanya menghela nafas dan pergi meninggalkan Angel sendiri di rumah.
Di dalam kamar, Angel meringkuk di atas kasurnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Perasaannya diliputi kekecewaan terhadap mamanya.
'Mama dari dulu memang tidak pernah berubah. Selalu lebih mementingkan pekerjaan daripada keluarga. Pantas saja Papa memilih pergi dan menikah lagi,' gerutu Angel dengan kesal.
Di saat gundah seperti ini ia berharap Lei tiba-tiba muncul di hadapannya, walau hanya untuk sekedar mengejek atau mengagetkannya. Itu sudah cukup untuk mengusir rasa sepi dan sedih. Mendadak Angel jadi merindukan kehadiran Lei.
'Lei ... Kenapa aku jadi rindu padanya? Apa yang ia lakukan sekarang? Apa dia tahu aku sedang sedih? Andai ia muncul di hadapanku saat ini ...,' harap Angel dalam hati.
Kebersamaannya dengan Lei muncul kembali di pikirannya. Teringat saat mereka bermain di pantai kemarin, benar-benar terasa gembira.
Suara dari bel rumah yang tiba-tiba berbunyi menyadarkan Angel dari lamunannya. Ia segera keluar dari kamar untuk melihat siapa yang datang. Angel membuka pintu rumahnya dan nampaklah seorang wanita cantik yang tidak asing berdiri di sana melemparkan senyumnya pada Angel.
"Ibu Michelle?!" seru Angel kaget.
"Hai, Angel. Boleh aku masuk?" tanya Michelle dengan senyum hangat.
"Oh, tentu saja. Mari, silahkan masuk!" ujar Angel.
"Silahkan duduk!" tawar Angel.
Michelle pun mengikuti Angel duduk di ruang tamu.
"Maaf, ada perlu apa Ibu datang kemari?" tanya Angel penasaran karena tak biasanya Michelle mengunjunginya.
"Oh, iya, begini ... tadi Mamamu menelepon Ibu dan meminta Ibu untuk datang menemanimu. Mamamu merasa bersalah karena telah membatalkan janjinya denganmu. Dia sangat ingin pergi denganmu, tapi tidak bisa," jelas Michelle.
"Oh, soal itu," ucap Angel mengerti dengan maksud kedatangan Michelle.
"Mamamu mencemaskan dirimu, Angel. Dia tahu kamu pasti kecewa. Jadi dia meminta ku untuk datang menghiburmu," kata Michelle lagi.
"Mama selalu seperti itu. Lebih memikirkan pekerjaan daripada keluarganya," ucap Angel masih sedikit kesal.
"Bukan begitu, itu semua demi masa depanmu kelak. Mamamu harus bekerja untuk membiayai sekolah dan semua kebutuhanmu. Ditambah tak lama lagi kamu akan melanjutkan ke universitas. Oleh karena itu dia harus bekerja lebih keras," jelas Michelle memberi pengertian ke Angel.
"Tapi ... aku hanya ingin dia punya sedikit waktu untukku," ungkap Angel merasa terabaikan.
"Angel, percayalah mamamu pasti juga ingin memberikan lebih banyak waktu untukmu. Hanya saja sekarang belum bisa. Kamu tahu kan dia sangat menyayangimu. Dia bekerja keras sendiri agar dapat memberikan kehidupan yang layak untukmu. Dia tidak ingin kamu hidup susah. Dia ingin kamu sekolah yang tinggi dan memiliki banyak waktu agar kamu bisa menikmati masa remajamu seperti teman-temanmu," terang Michelle dengan lembut.
Angel terdiam merenungi ucapan Michelle.
'Mungkin perkataan Ibu Michelle benar juga. Selama ini mama tidak pernah mengeluh. Meskipun mungkin ia sangat lelah tapi tidak pernah menunjukkannya padaku. Seharusnya aku lebih mengerti dengan keadaan mama. Padahal aku sama sekali tidak melakukan apapun untuk membantu mama,' batin Angel.
"Angel, karena mamamu tidak bisa pergi denganmu. Bagaimana kalau kita pergi bersama saja?" ajak Michelle.
"Ke taman hiburan? Bersama Ibu?" tanya Angel sekali lagi.
"Iya. Kebetulan hari ini Ibu tidak ada kegiatan. Bagaimana?" kata Michelle.
Setelah berpikir sejenak akhirnya Angel pun menyetujui ajakan Michelle. "Baiklah."
Dengan cepat Angel berjalan menuju ruang tengah mengambil kunci dan tasnya. Kemudian kembali ke ruang tamu di mana Michelle menunggu. Setelah mengunci pintu rumah, barulah mereka pergi menuju ke taman hiburan.
...🍁🍁🍁...
Di rumah Michelle, Lei sedang menonton TV di ruang tamu. Ia tahu sekarang Michelle pergi ke rumah Angel atas permintaan Gracia. Oleh karena itu ia hanya di rumah saja menonton TV. Padahal ia sedang sangat bosan tetapi tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan. Kalau biasanya dia sudah pergi mengganggu Angel. Lei meraih remote TV di depannya dan mengganti siaran lain.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan dari pintu depan terdengar jelas. Lei beranjak dari tempatnya lalu pergi ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Saat pintu dibuka, nampak Maria berdiri di sana menyambutnya dengan senyum manis. Lei tak menyangka Maria akan datang ke rumahnya.
"Mau apa lagi kamu?" tanya Lei dengan wajah dingin.
"Kau tidak menyuruhku masuk dulu?" tanya Maria dengan lembut.
"Tidak perlu!" Lei langsung menutup pintu. Namun Maria berhasil menahan pintu dengan tangannya sebelum Lei menutup rapat pintu.
"Ijinkan aku masuk sebentar saja. Aku hanya ingin memberikan sesuatu sebagai permintaan maaf. Aku janji, setelah ini aku akan pergi dan tidak mengganggumu lagi," pinta Maria.
Lei tampak malas meladeninya. Ia membuka sedikit lebar pintu rumah dan tanpa mengatakan apa-apa langsung membalikkan badan masuk ke dalam rumah. Maria langsung mengikuti Lei masuk.
"Rumahmu bagus juga, ya! Walaupun tidak begitu besar," puji Maria dengan pandangan menjelajahi sekeliling ruangan.
Lei melemparkan tubuhnya kembali ke sofa.
"Cepat selesaikan urusanmu dan pergi dari sini!" kata Lei dengan pandangan fokus ke TV.
"Neville ...," panggil Maria.
"Panggil aku Lei," potong Lei.
"Baiklah. Lei ... Em, aku ingin minta maaf atas kejadian semalam. Dan ... sebagai tanda permintaan maafku ... aku bawakan coklat untukmu. Aku baru tahu coklat di sini rasanya sangat enak dan dibuat dengan berbagai bentuk yang cantik" ucap Maria sambil meletakkan sekotak coklat yang terlihat mahal ke atas meja.
"Kita lupakan saja kejadian semalam. Anggap saja kemarin tidak terjadi apa-apa, oke?!" lanjut Maria kemudian.
Lei hanya diam saja menonton TV sambil terus mendengar ocehan Maria.
"Kamu mau kan memaafkan aku?" tanya Maria dengan penuh harap.
Lei meliriknya sebentar. Kedatangan Maria hari ini benar-benar sangat mengganggu baginya. Lei berpikir bagaimana caranya agar Maria cepat pergi dari sini. Akhirnya Lei mengangguk mengiyakan setelah terdiam cukup lama. Ia hanya berharap dengan begitu Maria bisa segera pergi dari rumahnya.
"Nah, kau harus mencoba satu coklat ini," kata Maria dengan senang.
Kejengkelan semakin terlihat jelas di wajah Lei. Namun Maria tidak peduli. Maria mengambil salah satu coklat dari kotaknya dan memberikannya kepada Lei.
"Sekarang buka mulutmu!" suruhnya.
"Kenapa aku harus memakannya?" tanya Lei yang jengkel.
"Sebagai bukti kau telah memaafkan ku dan tanda bahwa kita berteman," kata Maria sambil tersenyum manis.
Meskipun Lei enggan menerima coklatnya namun Maria terus menyodorkannya dan menunggu Lei membuka mulutnya. Ia sangat berharap Lei memakannya.
'Entah apa lagi yang direncanakan malaikat satu ini. Aku berharap dia bisa secepatnya pergi dari sini,' batin Lei.
"Letakkan saja di situ. Nanti aku bisa memakannya sendiri. Kamu cepatlah pergi dari rumahku," kata Lei sedikit mengusir.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau memakannya," ujar Maria agak memaksa.
"Kenapa kamu begitu memaksaku untuk memakan coklat itu?" tanya Lei penasaran.
"Karena rasanya sangat enak. Dan juga supaya aku yakin bahwa kau benar-benar memaafkanku. Apa kau masih tidak percaya padaku? Bukankah aku sudah membuktikannya semalam, kalau aku tidak berbohong?! Sampai kapanpun aku tidak akan menangkapmu," jelas Maria dengan serius.
Lei terdiam.
"Atau kau takut aku meracunimu? Kalau begitu aku akan makan duluan untuk membuktikan bahwa aku tidak menaruh apa-apa di dalam coklat ini," kata Maria.
Ia pun langsung memasukkan coklat yang ada di tangannya itu ke dalam mulut. Setelah coklat itu lumer habis di mulutnya, ia berkata kepada Lei.
"Kau lihat kan aku tidak apa-apa? Apa kau masih tidak percaya?"
Lei masih terdiam. Sambil melirik Maria sebentar yang akhirnya membuatnya menyerah.
"Baiklah. Aku akan makan. Tetapi setelah aku makan coklat itu, kamu harus pergi dari rumahku," kata Lei.
"Baik," jawab Maria senang. Ia pun menyodorkan sekotak coklat itu kepada Lei. Lei mengambil salah satu coklat dan memakannya.
Maria tersenyum manis sambil menatap Lei. Dengan segera coklat itu lumer di dalam mulut Lei. Memang rasanya sangat enak, manis dan lembut, membuat suasana hati jadi lebih baik. Namun sesaat kemudian tiba-tiba Lei merasakan pusing di kepalanya. Diikuti munculnya sebuah perasaan yang aneh.
'Apa yang telah dimasukkan Maria ke dalam coklat ini?' ucap Lei dalam hati sembari menatap Maria tajam.
Ia masih menyadari ada yang tidak beres dengan coklat yang dimakannya. Ia menunjuk Maria hendak mengatakan sesuatu. Namun sebelum kata-kata itu sempat terucap Lei sudah kehilangan kesadaran diri.
Beberapa menit berlalu. Akhirnya Lei terbangun. Dengan setengah sadar, ia memegang kepalanya yang masih terasa sedikit pusing. Samar-samar ia melihat bayangan Maria yang berada di hadapannya.
'Maria?! Kenapa? Maria ... Itukah dia? Ah, apa yang terjadi? Kenapa ini ... Aku ... Sungguh tidak mengerti ... Perasaan apa ini?!' Tiba-tiba Lei merasakan jantungnya berdegup kencang. Maria mulai mendekat.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Maria.
Kini Lei dapat melihat dengan jelas wajah Maria yang cemas. Seketika Lei merasakan suatu perasaan bergejolak di dalam hatinya. Lei langsung memeluk erat Maria seperti sudah lama tidak bertemu.
"Maria ...," ucap Lei.
Maria mengembangkan senyum penuh kebahagiaan. "Neville, sekarang kau adalah milikku!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Nona M 𝓐𝔂⃝❥
lah..masuk dalam jebakan.
2023-12-20
2
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
Makanya AngeL pakai alarm biar biar gk terlambat bangun
2023-11-09
3