Angel berjalan dengan lunglai menuju ke ruang kelasnya. Ruang kelas Angel berada di lantai dua. Sesampai di kelas Angel langsung duduk di bangkunya dan menempelkan kepalanya ke atas meja. Perasaan kantuk masih sangat mengganggunya akibat dari kurang tidur semalam gara-gara kemunculan Neville.
Lucy masuk ke dalam kelas dan melihat sahabatnya yang sedang tak bersemangat. Ia langsung menghampirinya.
"Hei! Pagi-pagi sudah lemas. Mana semangatnya?" sapa Lucy.
Angel mengangkat kepalanya dengan mata sayu menatap Lucy.
"Masih ngantuk. Semalam kurang tidur," kata Angel sambil menguap.
"Lho, memangnya kamu habis ngapain? Sampai bisa kurang tidur segala," tanya Lucy penasaran.
"Gara-gara kemunculan makhluk aneh dari cermin," jawab Angel mengingat kejadian semalam.
"Mahkluk aneh? Dari cermin? Maksudmu?" tanya Lucy tak paham.
"Kamu ingat buku kuno dan cermin yang aku beli di toko barang antik kemarin?" tanya Angel pada Lucy.
"Ya. Aku ingat. Itu kalung. Hanya saja memiliki cermin di balik sisi lainnya. Lalu kenapa?" tanya Lucy kembali.
"Aku mencoba melafalkan mantra dari buku kuno itu. Katanya orang yang berjodoh dengan ku kelak, wajahnya akan muncul di permukaan cermin. Dan ... kau tahu apa yang kemudian terjadi?" cerita Angel dengan serius.
"Tidak," jawab Lucy singkat.
"Sesosok makhluk bersayap keluar dari dalam cermin itu. Matanya berwarna hitam pekat, dia memiliki senyum yang misterius. Dia bahkan bisa melayang, terbang dan ...." Belum selesai Angel bercerita, Lucy langsung memotong ucapannya.
"Angel, mungkin kamu hanya bermimpi. Mana mungkin ada mahkluk yang bisa muncul dari cermin?! Sadarlah, ini sudah pagi dan kamu sudah berada di sekolah," potong Lucy sebelum Angel menyelesaikan ceritanya.
"Tidak. Ini nyata. Aku tidak sedang bermimpi. Aku benar-benar mengalaminya semalam. Kamu tidak akan percaya dengan apa yang terjadi, Lus!" sahut Angel memastikan bahwa apa yang dirinya ceritakan itu memang benar.
"Well, aku memang tidak percaya. Sudahlah sepertinya kamu terlalu menghayati mantra kuno itu sehingga dengan mudah terpengaruh olehnya. Kamu merasa itu seolah-olah terjadi padamu padahal kamu sedang tidur. Faktanya kamu hanya bermimpi tetapi kamu merasa itu seperti nyata terjadi padamu," ujar Lucy yang mulai bosan dengan cerita Angel.
"Tapi aku tidak sedang bermimpi ataupun tidur. Aku benar-benar dalam keadaan sadar saat semua itu terjadi," jelas Angel meyakinkan.
"Angel, sudahlah! Lupakan cerita konyol yang tidak masuk akal itu. Jika kamu merasa kurang enak badan sebaiknya beristirahat di ruang kesehatan dulu. Berpikirlah dengan logis, jangan terlalu banyak membaca cerita dongeng. Aku mau ke kantin dulu, oke. Bye, Angel," kata Lucy kemudian pergi meninggalkan Angel.
Angel hanya menatap kepergian Lucy. Ia tidak percaya sahabatnya itu langsung meninggalkannya begitu saja.
...🍀🍀🍀...
Suasana kelas yang tadinya berisik seketika menjadi hening ketika guru memasuki kelas.
"Selamat pagi, murid-murid. Hari ini kita kedatangan murid baru," kata Ibu guru yang langsung memanggil murid baru itu untuk masuk.
Murid baru itu berjalan memasuki ruang kelas. Semua mata pun langsung tertuju padanya. Murid-murid perempuan seketika dibuat kagum dengan ketampanan murid baru tersebut. Kelas yang tadinya hening pun mulai terdengar suara bisik-bisik. Mata Angel yang tadinya sayu juga ikut terbelalak. Rasa kantuk hilang seketika melihat sosok murid baru itu.
'Di ... Di ... Dia ... Dia itu ... bukankah Neville!'
Yap, murid baru itu adalah Neville. Sosok makhluk bersayap yang muncul di kamar Angel waktu tengah malam kemarin.
Neville memahami apa yang ada di pikiran Angel. Neville kembali melemparkan senyumnya yang misterius itu kepada Angel dengan tatapan aneh yang tak dimengerti oleh gadis itu.
"Silahkan perkenalkan diri!" kata Ibu guru kepada Neville.
"Perkenalkan namaku ... Lei. Senang berkenalan dengan kalian. Berhubung aku masih baru di sini jadi aku mohon bantuan dari teman-teman semua," sapa Neville ramah sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Lei, di sana ada bangku kosong. Kamu bisa duduk di sana!" perintah Ibu guru sambil menunjuk tempat duduk kosong tersebut. Tempat duduk kosong itu terletak di sudut ruang kelas di samping jendela.
"Baik. Terima kasih, Ibu guru!" ucap Neville lalu menuju bangku yang dimaksud.
Dengan posisi tempat duduk di samping jendela, Lei dapat melihat pemandangan taman sekolah yang ada di lantai bawah. Angel duduk di barisan kiri atau di sebelah barisan tempat duduk Lei. Murid-murid di sekolah ini duduk sendiri-sendiri. Sedangkan di sisi kiri Lei berhadapan langsung dengan Lucy. Dan Angel berada dua bangku di belakang Lucy. Dari tempat duduknya Angel dapat menatap punggung Lei dengan jelas.
'Apa yang dia lakukan di sekolahku? Kenapa harus menyamar menjadi seorang siswa? Dan kenapa dia mengenalkan diri dengan nama Lei? Jelas-jelas dia memberitahuku namanya Neville. Aneh sekali!' Bertubi-tubi pertanyaan muncul di dalam hati Angel. Membuat perasaannya tidak enak akan kehadiran pemuda tampan itu di sekolahnya.
Kepala Neville bergerak ke samping. Ia melihat Angel melalui sudut matanya. Menyadari Angel yang juga sedang menatapnya, ia sengaja memamerkan senyum misteriusnya. Hal itu membuat Angel semakin tidak tenang. Ia segera menepiskan perasaan itu dan berusaha untuk tetap konsentrasi pada pelajarannya.
Sementara Lucy, gadis itu mulai mencuri pandang ke arah Lei secara diam-diam.
...🍀...
[Kriiiiiinggggg ....]
Bel jam istirahat berbunyi. Sebagian murid berhamburan meninggalkan kelas. Beberapa datang mengerumuni tempat duduk Lei. Kebanyakan adalah murid perempuan yang ingin berkenalan dengan dirinya. Angel berlari menuju ke tempat Lucy. Dengan setengah berbisik ia berbicara kepada Lucy.
"Lus, kamu lihat Lei itu .... Dia sebenarnya adalah makhluk aneh bersayap yang tadi pagi aku ceritakan. Yang semalam keluar dari cerminku. Kamu tahu tidak, kemarin dia memberitahuku namanya Neville tapi tadi dia ...."
"Angel, jangan berkata yang tidak-tidak tentang Lei. Dia itu murid baru di sini. Kita juga tidak mengenalnya. Bagaimana kamu tahu dia itu mahkluk seperti dalam ceritamu? Jangan menuduh yang macam-macam!" tegur Lucy memotong kalimat Angel sebelum ia selesai bicara. Lucy mulai tak sabar menghadapi Angel.
"Lucy, aku sudah katakan aku tidak bermimpi. Sungguh, mahkluk dengan sayap yang mengaku malaikat dan bernama Neville itu adalah Lei. Wajahnya, matanya, senyumnya semuanya mirip. Aku yakin itu Neville. Aku tidak berbohong," jelas Angel penuh keyakinan.
"Angel, cukup! Beginilah akibatnya karena kamu terlalu banyak membaca cerita dongeng dan percaya terhadap hal yang tidak jelas begitu. Sudahlah, aku tidak mau lagi dengar cerita tentang mahkluk bersayap atau apapun itu. Kamu benar-benar sudah tak waras!" sahut Lucy ketus. Lalu dengan kesal ia pergi meninggalkan Angel.
"Lucy, tunggu!" panggil Angel tapi tak dihiraukannya.
Angel menatap tempat Lei berada. Teman-teman sekelasnya itu masih berada di sana. Mengajak Lei bicara dan bertanya banyak hal tidak penting kepada murid baru itu.
Dengan sebal Angel berjalan keluar dari kelas menuju ke tempat yang paling tenang di sekolah sekaligus tempat favoritnya yaitu atap sekolah.
...🍀🍀🍀...
Angin bertiup perlahan. Suasana tenang tanpa gaduh dan berisik suara manusia. Ini memang tempat pelarian Angel kala sedang suntuk ataupun kesal. Angel berjalan ke tepi pagar dan memperhatikan halaman sekolah di bawahnya penuh dengan murid-murid yang menghabiskan waktu istirahat. Baru sebentar Angel menikmati kesendiriannya, tiba-tiba suara yang tak asing muncul di belakangnya.
"Apa yang kamu lakukan sendiri di sini?" tanya suara itu.
Angel menoleh ke sumber suara dan mendapati Neville atau Lei berdiri di sana dengan senyum khasnya.
Perasaan kesal Angel muncul kembali mengingat kemunculan Neville di rumahnya kemudian tiba-tiba menjadi Lei di sekolah sehingga membuat sahabatnya Lucy tak mempercayainya.
"Apa sebenarnya maumu? Semalam kamu tiba-tiba keluar dari cermin dengan sosok malaikat bersayap, lalu sekarang kamu datang ke sekolahku dan menyamar menjadi manusia yang bernama Lei. Gara-gara kamu, Lucy tidak percaya padaku. Dia bilang aku konyol dan tidak masuk akal," gerutu Angel kesal.
Neville yang kini berwujud Lei bisa memahami perasaan Angel. Ia bahkan tahu apa yang dipikirkan Angel. Tapi tidak bisa berbuat banyak.
"Aku tahu, maaf, sudah menyusahkanmu. Dan ... mungkin akan terus menyusahkanmu. Jadi, aku hanya bisa berpesan sebaiknya kamu persiapkan diri karena masih banyak kejutan yang akan datang mengganggumu," ucap Lei datar.
"Apa maksudmu? Apalagi yang akan kamu lakukan padaku? Tidak bisakah kamu pergi dari hidupku dan jangan ganggu aku lagi? Anggap saja kamu tidak pernah muncul dari cermin. Dan kita tidak pernah bertemu. Aku ... Aku tidak mengerti dengan semua kekonyolan ini. Sahabatku bahkan berkata aku sudah tidak waras," kata Angel semakin kesal.
"Kamu yang membawaku kemari. Ingat? Jadi, seharusnya kamu sudah siap dengan apa yang akan terjadi padamu nanti," kata Lei menekankan kalimatnya.
"Apa? Aku? Oke, aku minta maaf. Memang aku yang salah memanggilmu. Tapi kenapa harus muncul juga di sekolahku? Tidak bisakah tetap diam di suatu tempat menjadi iblis atau malaikat atau apalah ...," seru Angel mulai tak sabaran.
"Aku hanya melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan. Dan semua untuk kebaikanmu," jelas Lei tetap merasa tak bersalah.
"Kebaikanku? Kebaikan apa? Pertama kali kamu muncul di sekolahku sudah membuat hubunganku dengan sahabatku merenggang. Kebaikan apanya?" sahut Angel ketus.
"Sampai waktunya kamu akan mengerti. Aku hanya ingin melindungi mu," ujar Lei lalu pergi meninggalkan Angel.
"Melindungi? AKU TIDAK BUTUH PERLINDUNGAN DARI MALAIKAT BODOH SEPERTIMU!" teriak Angel sejadi-jadinya.
Waktu istirahat berakhir. Murid-murid kembali ke dalam kelas begitupun Angel. Melihat Lucy sudah duduk di bangkunya, Angel pun menghampirinya.
"Lucy."
"Jangan bicara padaku, kalau kamu masih ingin menuduh Lei sebagai makhluk bersayap!" sahut Lucy. Angel pun diam dan berjalan ke tempat duduknya dengan lemah.
...🍀🍀🍀...
'Apa-apain dia itu seenaknya saja datang dan mengacaukan hidup orang. Gara-gara dia, sejak istirahat sampai sekarang Lucy tidak mau bicara lagi padaku. Memangnya dia siapa? Malaikat bodoh yang menyamar jadi manusia untuk melindungiku? Melindungi dari gempa, dari badai? Memangnya ada bencana apa yang bisa terjadi di kota ini. Mengesalkan sekali!' sungut Angel dengan kesal.
Angel berjalan pulang dengan perasaan marah. Lei diam-diam mengikuti Angel dari belakang dan mendengar apa yang dia pikirkan.
"Masih kesal rupanya!" sahut Lei secara tiba-tiba mengagetkan Angel yang berjalan dua langkah di depannya.
Angel menoleh ke belakang dan melotot pada Lei dengan geram.
"Sejak kapan kamu ada di belakangku?" tanya Angel ketus.
"Sejak tadi, Nona. Kamu terlalu sibuk dengan pikiranmu sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku," jawab Lei santai lalu mensejajarkan langkahnya dengan Angel.
"Seperti tahu saja apa yang kupikirkan," gumam Angel memperlambat langkahnya.
"Tentu saja aku tahu. Aku tahu semua yang kamu pikirkan dari yang ada di kepala sampai di hatimu," kata Lei mendekatkan bibirnya ke telinga Angel hampir berbisik saat mengucapkan 'hatimu'.
Angel kaget dan mundur beberapa langkah darinya. "Sudah, jangan menggangguku!" kata Angel dengan nada tinggi lalu berjalan lebih cepat meninggalkan Lei.
"Hei, tunggu aku! Tidak bisakah pelan sedikit jalannya?" seru Lei sambil mengejar Angel.
Tak disangka, tanpa sepengetahuan keduanya, ada seseorang yang sedari tadi terus mengikuti dan memperhatikan mereka berdua secara diam-diam.
"Dasar munafik!" ucap orang itu. Lalu beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
☠⏤͟͟͞R⚜🍾⃝ ὶʀαͩyᷞαͧyᷠυᷧͣ🏘⃝Aⁿᵘ
wkwkwk hayuuu luuuhhh Angel, ke manapun kamu pergi bakal diikuti sama Lei, tanggung jawab kamu Angel, udah manggil juga🤣
2023-12-21
10
ℛᵉˣ🍾⃝ɴͩᴀᷞᴜͧғᷠᴀᷧʟ🤎🦁ˢ⍣⃟ₛ
siapa kira kira yang menjadi stalker dan mengikuti mereka berdua
2023-12-20
4
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
Lucy kali yang ngikutin?
2023-12-20
1