Angel sedang mengunci pintu rumahnya saat tiba-tiba seseorang mengagetkannya dari belakang.
"Pagi, Angel," sapanya.
Saking kagetnya Angel hampir saja menjatuhkan kuncinya ke lantai. Untung saja Neville-- yang kini menjadi sosok Lei, berhasil menangkapnya.
"Ah, kamu ini, mengagetkan saja!" gerutu Angel yang lantas memeriksa kembali pintu rumahnya, apakah sudah terkunci dengan benar atau tidak.
Setelah memastikan pintu rumah telah terkunci, keduanya berjalan meninggalkan rumah menuju sekolah. Di perjalanan Angel hanya diam. Mengingat saat Neville menciumnya kemarin masih membuatnya malu serta canggung untuk menghadapi malaikat yang satu ini. Maklumlah meskipun dirinya sekarang sudah kelas 3 SMA, Angel belum pernah sekalipun berpacaran apalagi dicium oleh lawan jenis walaupun cuma di pipi.
"Hei, diam saja!" ujar Lei menyadarkan Angel dari lamunannya.
"Eh, ya, eh tidak," sahut Angel latah.
"Hm ... Coba aku lihat," goda Lei sambil menyipitkan kedua matanya berpura-pura seperti akan membaca apa yang ada di pikiran Angel.
"Ah, tidak mau," seru Angel yang dengan cepat berlari menjauh dari Lei. Lei tertawa dengan tingkah Angel yang menurutnya lucu.
...🍁🍁🍁...
Di sepanjang jalan dari gerbang sekolah menuju kelas, Lei banyak disapa oleh murid-murid perempuan. Dari yang sekelas, adik kelas, sampai murid dari kelas lain yang tak dikenali oleh keduanya. Dengan cepat Lei menjadi sangat populer di kalangan murid perempuan. Lei hanya tersenyum dan sesekali balas menyapa saja. Angel berjalan beberapa langkah di depan dan tak terlalu menghiraukan Lei.
"Hei, baru sehari di sini sudah dapat banyak penggemar, ya!" ejek Angel pada Lei.
"Mereka hanya menyusahkan saja," gerutu Lei setengah berbisik.
Angel tertawa kecil lalu keduanya berjalan menuju ruang kelas.
Sesampai di dalam kelas Angel melihat Lucy yang duduk di bangkunya tengah berbicara dengan Hanna-- salah satu teman sekelas mereka. Angel dengan senyum cerianya berjalan menuju tempat Lucy dan menyapa sahabatnya itu.
"Pagi, Lus!"
Namun Lucy tak menghiraukan Angel dan tetap asyik berbicara dengan Hanna seolah tak melihat Angel. Angel mengira Lucy tak mendengar panggilannya jadi ia kembali berkata.
"Lucy, kamu tidak mendengar ku? Apa yang kalian bicarakan dengan begitu serius? Aku boleh ikut bergabung?"
Tanpa menjawab pertanyaan Angel, Lucy langsung bangkit dari kursinya mengajak Hanna untuk pergi.
"Hanna, kita bicara di tempat lain saja. Aku tidak mau dekat-dekat dengan orang munafik," kata Lucy kemudian pergi meninggalkan Angel yang terdiam tidak mengerti.
"Apa maksudnya?" tanya Angel pada dirinya sendiri.
Dari tempat duduknya, Lei bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hati Angel. Ia pun segera menghampirinya.
"Angel, ada apa? Kamu baik-baik saja?" tanya Lei dengan nada khawatir.
"Aku munafik? Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba Lucy berkata seperti itu?" tanya Angel tak mengerti dengan perubahan sikap Lucy yang tiba-tiba memusuhi dirinya.
Belum sempat Lei menjawab pertanyaannya, Angel langsung berlari meninggalkan kelas untuk mencari Lucy. Ia ingin mempertanyakan apa maksud dari ucapannya tadi. Dan kenapa sahabatnya itu tiba-tiba memusuhi dirinya. Karena bagi Angel, Lucy adalah sahabat terbaiknya.
Sementara Lei terus mengikuti Angel dari belakang. Angel mencari ke seluruh gedung sekolah dan akhirnya menemukan Lucy di taman duduk seorang diri. Angel berjalan menghampirinya.
"Lucy, apa maksud perkataan mu tadi? Kenapa tiba-tiba kamu marah dan bersikap aneh kepadaku?" tanya Angel dengan nafas terengah-engah.
Lei berada beberapa langkah di belakang Angel. Lucy berdiri dengan mata tajam menatap Angel.
"Ya, karena itu memang pantas untukmu!" jawab Lucy dengan marah.
"Aku masih belum mengerti dengan perubahan sikapmu. Coba kamu jelaskan apa masalahnya? Kenapa begitu marah padaku?" tanya Angel bingung.
"Oh, kamu masih belum mengerti juga? Baik, akan aku jelaskan dengan sejelas-jelasnya! Aku tidak menyangka bisa memiliki seorang teman munafik seperti dirimu. Bisa mengarang cerita tentang ramalan, malaikat, cermin. Dan kebetulan saja hari itu masuk seorang murid baru yang tampan. Kamu bilang dia itu jelmaan malaikat yang muncul dari cermin. Tapi, kamu sendiri diam-diam mendekatinya. Lalu, apalagi ceritamu selanjutnya? Kenapa tidak mengaku dari awal saja kalau kamu memang suka padanya? Tidak perlu memakai alasan malaikat jadi-jadian. Apa jangan-jangan kamu memang sudah pacaran dengannya dan kamu takut dia direbut orang lain karena dia tampan dan populer?! Kalaupun mau mengarang cerita, buatlah cerita yang masuk akal!" kata Lucy meluapkan semua emosinya.
"Jadi, karena itu kamu marah padaku? Ini konyol. Aku tidak pacaran dengannya. Dia itu memang seorang malaikat seperti yang aku ceritakan. Lucy, aku tidak mungkin berbohong pada sahabatku sendiri," jelas Angel membela diri.
"Oh, yah? Kamu pikir siapa yang akan percaya dengan ceritamu itu? Memangnya kamu bisa buktikan bahwa dia itu benar-benar malaikat?! Coba kamu suruh dia terbang sekarang. Aku mau lihat dia bisa lakukan itu atau tidak. Angel, kamu sangat hebat mengarang cerita. Kamu tidak pacaran dengannya, tapi kamu pulang dan pergi ke sekolah bersamanya, iya kan? Apa itu namanya kalau bukan munafik?!" balas Lucy ketus kemudian berjalan pergi meninggalkan Angel dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Angel mengepalkan kedua tangannya dengan kesal. Perasaannya benar-benar bercampur aduk. Harus menerima kenyataan bahwa persahabatannya selama dua tahun telah hancur hanya karena masalah sepele yang konyol. Angel tahu sifat Lucy yang keras kepala. Pikirannya sangat logis. Sekali dirinya mengatakan tidak maka akan sulit membuatnya mengatakan ya. Kecuali dengan membuktikan kebenaran itu kepadanya maka mungkin dia baru bisa percaya. Tetapi ini juga tidaklah mudah. Dengan perasaan bercampur aduk antara marah, kesal, sedih, yang menyatu di dalam hati. Angel berjalan melewati Lei.
"SEMUA INI GARA-GARA KAMU!" teriak Angel marah.
Kemudian Angel berlari menuju tempat di mana ia bisa sendiri, di atap gedung sekolah. Lei masih mengejar dan mengikutinya dari belakang. Sesampainya di atap gedung sekolah Lei mendapati Angel sedang menangis. Dengan hati-hati Lei mendekati gadis itu dan memeluknya. Ternyata Angel tak menolak pelukan Lei. Dengan kelembutan Lei mampu menenangkan hati Angel.
Lei tidak mengerti hanya karena kehilangan seorang teman bisa membuat Angel begitu terpukul. Namun karena selama ini gadis itu kesepian hanya tinggal seorang diri, Lucy-lah satu-satunya sahabat yang selalu menemaninya. Makanya Angel begitu merasa sedih. Beberapa saat kemudian Angel melepaskan pelukan Lei. Perasaanya sudah agak lebih baik. Tangisnya sudah berhenti. Lei membantu mengusap air matanya.
"Maaf," ucap Angel pelan.
"Kenapa meminta maaf? Harusnya akulah yang minta maaf. Karena aku Lucy jadi memusuhi mu," kata Lei merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, wajar jika dia marah. Mungkin jika aku jadi dia, aku juga akan berpikir bahwa dia hanya mengarang cerita," ucap Angel merasa bersalah.
"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Lei penuh simpati.
Angel mengangguk mengiyakan.
"Aku tidak harusnya marah-marah. Karena semua memang salahku. Aku yang memulai semua ini. Tidak sepantasnya menyalahkan orang lain," kata Angel kemudian.
"Kalau kamu sudah merasa lebih baik, sebaiknya kita kembali ke kelas. Pelajaran sudah akan dimulai. Jangan terlalu terpuruk dalam kesedihan. Dan ... jangan terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak. Begitupun masalah dengan Lucy," pesan Lei mengingatkan Angel.
"Tidak perlu khawatir. Dia juga tidak peduli," ujar Angel.
Lalu keduanya membalikkan badan dan berjalan meninggalkan atap gedung sekolah. Namun baru beberapa langkah tiba-tiba sebuah suara yang tak dikenal muncul dari belakang dan menghentikan langkah keduanya.
"TUNGGU!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
🍁ʀͬαͥɪᷤʂᷜαͥ❣️
ya ampun ternyata lucy marah sama angel gegara dikira ngarang cerita aja too,sabar ya angel
2023-12-20
2
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ada musuh yang tak kalian sangka dan kalian dugaa
2023-11-09
3
MEYTI DIANA SARI, S.M •§͜¢•
ciee kiss pertama nih/Determined/
2023-11-09
2