Dengan kecepatan penuh Angel berlari menuju ke sekolahnya. Tidak biasanya ia bangun kesiangan pagi ini. Biasanya ia selalu bangun lebih pagi. Dikarenakan ada Gracia jadi ia tidak perlu bangun terlalu pagi untuk membereskan rumah dulu.
Angel tiba di sekolah 10 menit sebelum bel masuk berbunyi. Angel hendak ke kelas tetapi ketika lewat di depan lapangan basket langkahnya berhenti. Suasana terlihat sangat ramai di sana. Lapangan dikelilingi oleh murid-murid yang terdengar tengah menyoraki nama seseorang. Angel tidak mendengar begitu jelas siapa yang mereka soraki.
'Ada apa, ya? Tidak biasanya pagi-pagi begini ada pertandingan basket,' gumam Angel dalam hati.
Karena penasaran ia pun berjalan mendekat ke lapangan basket. Sorakan dari murid perempuan kini terdengar jelas. Mereka menyoraki nama Lei dan juga Marvel. Mendengar nama Lei disoraki Angel dengan cepat masuk ke dalam kerumunan dan menuju bagian paling depan.
"Lei?!" ucap Angel pelan. Ia yang baru tiba tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Di lapangan nampak pertandingan basket satu lawan satu antara Lei dan Marvel. Pertandingan tersebut telah berlangsung selama hampir 30 menit.
Pagi tadi Marvel menghadang Lei di depan kelas saat Lei akan masuk. Marvel langsung menantang Lei untuk bermain basket satu lawan satu. Marvel memberikan tantangan dengan 5 skor selama 30 menit. Jika Lei berhasil mendapat 5 skor dalam waktu kurang 30 menit, maka Lei menang. Tetapi Lei balik menantang dengan memberinya 10 skor untuk waktu yang sama. Marvel menyetujuinya dengan pikiran meremehkan bahwa Lei tak akan bisa mengalahkannya. Tetapi siapa sangka peluang Lei mengalahkan Marvel kini semakin dekat. Hanya butuh 1 skor lagi bagi Lei untuk menang.
Lei masih terus mendrible bolanya menuju ring Marvel namun terus dihadang oleh Marvel sambil sesekali berusaha merebut bola dari Lei.
"Kamu masih belum mengaku kalah juga?" kata Lei pada Marvel yang sudah terlihat kecapekan.
Dengan skor 9-4 sudah tentu sangat tidak mungkin bagi Marvel untuk mengejar ketertinggalannya. Karena bagi Marvel pantang untuk mengaku kalah meskipun sudah tahu akan kalah. Dia akan berusaha sampai titik penghabisan.
"Cih ... Aku tidak akan menyerah," balas Marvel dengan nafas ngos-ngosan.
Padahal niatnya ingin mempermalukan Lei tapi sial bagi Marvel karena ternyata dirinya lah yang harus menerima kekalahan ini sebagai seorang kapten tim basket di sekolahnya. Marvel tak menyangka ternyata Lei jago bermain basket. Dan itu tentu membuat penggemar Lei menjadi semakin banyak. Sehingga Marvel harus siap-siap kehilangan popularitasnya di mata murid-murid perempuan.
"Baiklah, kalau begitu aku yang akan mempercepat berakhirnya pertandingan ini," kata Lei yang kemudian berhenti mendrible bola.
Dengan kedua tangan mengangkat bola basket. Ia langsung melemparkan bola itu tepat ke dalam ring dengan jarak yang cukup jauh dari tempatnya berdiri. Tepat 5 menit sebelum waktu pertandingan berakhir, Lei berhasil mengalahkan Marvel dengan skor 10-4.
Marvel sampai tak percaya melihatnya. Belum pernah ia berhasil memasukkan bola tepat ke dalam ring dengan jarak sejauh itu. Sorakan kemenangan untuk Lei pun terdengar.
Tatapan Lei seketika menangkap sosok Angel di pinggir lapangan. Lei menepuk punggung Marvel untuk memberinya sedikit semangat meskipun kalah. Dan tersenyum pada Marvel baru setelah itu Lei pergi meninggalkan lapangan basket menuju ke tempat Angel berdiri.
Di pinggir lapangan para penggemar Lei tengah menunggunya. Tetapi Lei hanya melemparkan senyumnya kepada Angel. Ia langsung merangkul pundak Angel dan mengajaknya pergi. Hal itu tentu saja membuat iri dan patah hati semua penggemarnya. Termasuk Lucy yang juga ikut menyaksikan pertandingan itu.
Marvel masih diam mematung di tengah lapangan. Sedangkan bel masuk sudah berbunyi. Murid-murid mulai meninggalkan lapangan basket. Teman sesama tim basket Marvel yang ikut menonton menghampiri Marvel dan menyemangatinya. Kemudian mereka mengajak Marvel pergi meninggalkan lapangan basket itu. Semua kembali ke kelas masing-masing.
...🍁🍁🍁...
Suasana kelas masih gaduh karena belum ada guru yang masuk. Murid-murid masih berhamburan. Merasa jenuh Angel melukis sembarangan wajah Lei di buku tulisnya. Suasana baru kembali tenang saat Guru kesenian memasuki ruang kelas. Murid-murid pun kembali ke tempat duduknya semula.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Guru cantik itu dengan senyum menawan di wajahnya.
"Pagi, Bu!" balas semua murid dengan semangat.
"Hari ini kita kedatangan murid pindahan dari luar negeri," ucap sang Guru. Kemudian memanggil murid baru itu untuk masuk ke kelas.
Murid perempuan itu berjalan pelan memasuki kelas dengan kepala sedikit tertunduk. Rambut panjangnya menutupi sedikit wajahnya.
Saat murid itu berdiri tepat di depan kelas mengangkat kepala dan menunjukkan wajahnya. Seketika itu raut wajah Angel dan Lei menegang.
"Halo, namaku Maria. Aku baru pindah dari luar negeri ikut ayahku yang ditugaskan di kota ini. Aku berharap bantuan serta dukungan dari teman-teman. Semoga kita semua bisa berteman baik," sapa murid itu yang tidak lain ialah Mariabelle, saudari Annabelle.
"Maria, kamu bisa duduk di sana!" kata Guru kesenian sambil menunjuk tempat kosong di seberang kiri Lucy.
"Sekarang keluarkan buku kalian. Kita mulai pelajaran," perintah Guru.
Murid-murid mengeluarkan buku mereka dan guru pun mulai memberi pelajaran. Di sisi lain Angel dan Lei tidak begitu fokus terhadap pelajaran. Pikiran mereka tertuju pada Maria, murid baru yang merupakan jelmaan dari Mariabelle.
Dalam hati Angel bergumam. 'Aku merasa sepertinya akan datang masalah baru."
Di waktu bersamaan Lei juga berpikir dalam hatinya. 'Apa yang sebenarnya dia rencanakan?'
...🍁🍁🍁...
Waktu istirahat murid-murid keluar meninggalkan kelas. Beberapa masih tinggal di dalam kelas termasuk Maria, Angel, Lucy dan Lei.
Lei menghampiri Angel yang ada di tempat duduknya untuk mengajaknya pergi. Mereka baru hendak meninggalkan kelas, namun tiba-tiba dihadang oleh Maria saat lewat di depan tempat duduknya.
"Hai, kita bertemu lagi," sapa Maria dengan wajah berseri-seri.
"Apa mau mu?" tanya Lei datar.
"Hanya ingin berteman," jawab Maria kalem.
"Tidak perlu," ujar Lei dingin lalu mengajak Angel pergi.
Maria hanya diam dan membiarkan mereka pergi. Lucy yang masih berada di tempat duduknya pura-pura tak acuh sambil membaca buku tetapi mencuri dengar percakapan mereka. Maria melirik Lucy sekejap seperti sedang memikirkan sesuatu. Maria kembali ke kursinya dan duduk menghadap Lucy.
"Hai," sapa Maria dengan senyum manis.
"Hai juga," balas Lucy yang sibuk dengan bukunya tanpa menoleh.
"Boleh kenalan?" tanya Maria meski seolah tak dipedulikan.
Lucy berhenti membaca, diam sejenak dan menutup bukunya.
"Ya," jawab Lucy yang memutar kepalanya menatap Maria.
"Maria," ucap Maria sambil mengulurkan tangan.
"Lucy," kata Lucy membalas jabatan tangan Maria.
"Em ... Bisakah kita menjadi teman baik?" tanya Maria dengan menunjukkan wajah lugunya.
"Mungkin," jawab Lucy tak yakin.
"Maukah kamu menemaniku melihat-lihat sekolah ini?" tanya Maria berharap.
"Tentu," jawab Lucy kemudian mereka berdua meninggalkan kelas.
Lei memegang tangan Angel untuk mengajaknya ke suatu tempat.
"Kamu mau membawaku ke mana?" tanya Angel.
"Bertemu seseorang," jawab Lei.
Dan tanpa tanya lagi Angel mengikutinya. Tak lama mereka sampai di ruang UKS. Lei membuka pintu dan nampak Michelle sedang menyimpan sesuatu ke dalam lemari. Michelle menoleh ke arah pintu dan menangkap sosok Lei dan Angel.
"Neville. Angel," seru Michelle senang.
"Ibu sudah kukatakan jangan panggil aku Neville di sekolah," kata Lei lalu mengajak Angel duduk.
"Oh, maaf, Ibu lupa," ucap Michelle.
"Siang, Ibu Michelle," sapa Angel ramah.
Michelle membalas dengan senyum lembut dan ikut duduk di kursi. "Siang, Angel."
"Tumben sekali. Ada apa?" tanya Michelle ramah.
"Dia yang mengajakku kemari," jawab Angel menunjuk Lei.
"Lei ... Ada perlu?" tanya Michelle sembari menatap putranya.
"Tidak. Hanya ingin main-main saja," jawabnya sambil duduk santai di kursi.
"Bagaimana kelas kalian tadi?" tanya Michelle.
"Biasa saja," ujar Lei.
"Ibu, buatkan minum dulu, ya!" kata Michelle yang bangkit dari kursinya untuk membuat minuman.
"Tidak perlu, Bu. Aku dan Angel sudah mau pergi. Ayo!" ajak Lei sambil menarik tangan Angel supaya ikut dengannya.
"Eh, cepat sekali. Mau ke mana?" tanya Michelle tidak jadi membuat minuman.
"Jalan-jalan," jawab Lei dan beranjak pergi.
"Bye, Ibu Michelle," pamit Angel sebelum menghilang di balik pintu.
Michelle hanya menggelengkan kepala pelan melihat tingkah kedua anak itu.
Sambil berjalan, Angel berkata pada Lei. "Lei, kenapa kamu tidak mengajaknya bicara lebih lama lagi? Bukankah sudah lama kalian tidak pernah bertemu?"
"Kalau ingin bicara nanti pulang juga bisa," jawab Lei santai.
"Terus, mengapa membawaku ke sana?" tanya Angel heran.
"Kunjungan singkat," jawab Lei cuek.
"Hm ... Sekarang kita mau ke mana?" tanya Angel lagi.
"Jalan-jalan. Ayo, ke taman!" ajak Lei kemudian merangkul Angel.
Tetapi Angel dengan jengkel berusaha melepaskan rangkulan Lei yang kuat. Lei tertawa keras saat Angel memarahinya dan melarangnya berbuat demikian. Tetapi kembali mengulanginya dan terus menggodanya.
Tak sengaja dari kejauhan Lucy dan Maria melihat mereka. Lucy menatap keakraban Angel dan Lei dengan penuh kecemburuan. Tetapi ia menyembunyikannya dari Maria dan berpura-pura tidak melihat. Jelas Maria bisa menangkap apa yang dirasakan Lucy.
"Aku mau ke kantin. Kamu mau ikut?" tanya Lucy.
"Iya. Ayo!" Maria menyetujui.
Mereka pun berputar arah menuju ke kantin. Maria masih sempat memandang ke arah Lei dan Angel sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
Di taman sekolah yang tidak begitu ramai, Lei dan Angel duduk berdua di bawah rindangnya pohon Walnut.
"Kenapa tiba-tiba ingin ke sini?" tanya Angel memulai pembicaraan.
"Tidak apa-apa. Bukankah hampir setiap hari bersembunyi di atap sekolah. Mungkin ada baiknya sekali-kali berada di tempat ramai," jawab Lei.
"Saat berada di ruang kelas aku sering melihat ke bawah sini. Aku membayangkan bisa duduk di bawah pohon ini bersama seseorang sambil bercerita tentang banyak hal yang membuat kami tertawa bersama, itu pasti sangat menyenangkan," lanjut Lei lagi berandai-andai.
Angel hanya diam mendengarkan dengan seksama. Kemudian Lei menatap Angel dengan penuh arti. Angel tak mengerti apa arti tatapan itu. Namun dengan cepat memalingkan wajah karena tak kuat dengan tatapan mata Lei yang membuat hatinya kembali berdebar-debar.
Perlahan-lahan Lei mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Angel. Di saat bersamaan bel kembali berbunyi tanda berakhirnya jam istirahat. Dengan cepat Angel berdiri.
"Sudah masuk. Aku duluan!" kata Angel lalu berlari meninggalkan Lei.
Lei hanya tersenyum meskipun senyum itu tak dilihat Angel. Kemudian berjalan menuju ruang kelas dengan langkah yang santai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
🔵🍭ͪ ͩ🥜⃫⃟⃤🍁ѕαηti❣️🦚⃝⃟ˢᴴ
makanya Marvel jangan suka ingin mempermalukan orang lain kalo kamu kalah kamu sendiri yang malu
2023-12-21
4
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞꙳❂͜͡✯Nuah-௸
wah firasat angel sama kaya aku, aku juga merasa akan ada masalah baru. Pasti si, tapi semoga tidak terlalu besar dan tidak mempengaruhi hubungan Angel dan Lei ya..
2023-12-20
2
🍁𝐀𝐑𝐀❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Lei mau ngapain ini kok dekat dekat😁
2023-11-09
4