Bab Sembilan Belas

Happy Reading.

Hanum menatap kepergian Katrine, wanita yang pernah dia lihat di ponsel sang suami. Wanita yang pernah membuat suaminya terpuruk berbulan-bulan dan membuat sikap William menjadi begitu dingin. Ternyata dia sudah kembali dari kepergiannya yang entah kemana.

Hanum merasa jika kembalinya Katrine membuat posisinya terancam, tapi Hanum jug tidak mau berpikir yang tidak-tidak. Meskipun begitu dia sungguh penasaran dengan kedatangan wanita itu di kantor sang suami.

'Apa maunya? Semoga saja tidak aneh-aneh, bukankah dia sudah meninggalkan mas I'am? Jadi itu artinya katrine sudah tidak menginginkan suamiku lagi, bukan?' batin Hanum menerka-nerka.

Dia ingin berpikir positif saja, karena pikiran buruk nanti bisa membuatnya menambah dosa.

Hanum menatap Rion yang sejak tadi hanya menunduk patuh, pria itu juga hanya diam saja sejak tadi, mungkin karena tidak enak dengannya. Kemudian dia melangkah menuju pintu ruangan William dan membukanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Biarlah dikatakan tidak sopan, kan tadi tamunya sudah pergi, itu artinya William juga sedang lenggang.

"Assalamualaikum!" Sapa Hanum.

"Wa'alaikumsalam ....!" William terkejut saat melihat Hanum masuk ke dalam ruangannya. Dia juga tidak mendengar suara ketukan pintu.

Sungguh dia tidak menyangka jika istrinya itu akan datang ke kantor hari ini. Tapi bukankah Katrine baru saja keluar dari sini dan Hanum masuk tidak berselang lama dengan keluarnya Katrine, itu artinya Hanum pasti melihat Katrine baru saja dari sini 'kan. Batin William.

William melihat istrinya berjalan ke arah sofa yang ada di pojok ruangan. Kaki William reflek mengikuti gerak istrinya yang sedang menaruh dua paper bag di atas meja kaca itu.

'Apa kamu tadi ketemu sama Katrine, Num? Apa yang kamu pikirkan sekarang?'

Sungguh William merasa bersalah pada sang istri saat tadi Katrine memeluknya, membiarkan tubuhnya bersentuhan dengan wanita lain. William juga tidak tahu akan dipeluk oleh Katrine seperti itu.

Meskipun Hanum tidak melihat saat dia disentuh oleh Katrine, tapi tetap saja rasa bersalah itu memenuhi relung hatinya. Apalagi jika Hanum tahu kalau Katrine baru saja menemuinya hari ini.

'Gimana ini, apa aku jelasin aja ke Hanum ya? Tapi kenapa sikap Hanum terlihat biasa aja? Apa dia nggak tahu keberadaan Katrine tadi?'

"Mas," sapa Hanum dengan senyum hangat. "Aku bawa bekal makan siang untuk kamu, tadi aku belanja beberapa ikan, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengolah ikan mas menjadi ikan goreng, mas pasti suka deh, ada oseng tauge juga, sekarang makan dulu ya?" Ujar Hanum seperti tidak ada beban yang mengganjal di hatinya.

Meskipun Hanum ingin sekali bertanya kepada sang suami perihal sang mantan yang datang, tapi entah kenapa Hanum tidak sampai. Takutnya kalau nanti ada hal-hal yang tidak dia inginkan, lebih baik Hanum pura-pura tidak tahu saja, itu lebih baik.

Beda lagi ceritanya kalau William yang menjelaskannya, Hanum pasti akan sangat maklum dan mengerti bagaimana kondisi suaminya. Tapi nyatanya sampai sekarang William hanya diam saja tanpa ada penjelasan yang berarti.

Kalau Hanum bertanya dan jawaban sangat tidak Hanum harapkan, yang ada bukankah hanya sakit hati dan penyesalan yang didapatkan.

Hanum berpikir positif saja, mungkin memang pertemuan mereka tidak istimewa sehingga membuat William bungkam dan tidak cerita.

"Makan sama kamu kan?"

"Iya donk, aku kan sengaja bawa banyak buat kita makan berdua," jawab Hanum mengeluarkan kotak besar dari paper bag.

Wanita itu membuka kotak makanan itu. Jumlahnya ada 4 wadah dan masing-masing berisi menu yang berbeda. Wadah satu berisi nasi, satunya ikan mas goreng, lalu oseng tauge dan juga gorengan.

Hanum mengambil paper bag satunya yang berisi peralatan untuk makan. Seperti piring, sendok dan garpu.

William masih melihat bagaimana reaksi istrinya itu. Dia mengamati Hanum yang dengan cekatan mengambilkan makanan untuknya.

"Ini buat mas I'am," Hanum menyerahkan piring yang sudah di isi nasi beserta lauk pauknya.

"Makasih," William mengambil piring itu, tersenyum ke arah sang istri yang entah kenapa hari ini terlihat begitu cantik dimatanya.

'Terima kasih telah hadir di hidup ku, aku berjanji tidak akan menyakitimu, istriku!' Batin William.

Sebenarnya William ingin mengatakan sesuatu dan menjelaskan perihal kedatangan Katrine tadi. William ingin Hanum tidak salah paham.

Tapi melihat Hanum yang nampak baik-baik saja dan melayaninya dengan senyuman teduh diwajahnya membuat asumsi William jika memang Hanum tidak bertemu dengan Katrine.

Takutnya nanti kalau William cerita malah jadi masalah, akhirnya William memutuskan untuk diam saja. William memutuskan untuk menyuapkan masakan istrinya ke dalam mulut.

Hanum menatap William dengan antusias, tentu saja dia ingin sekali William memuja masakannya meskipun itu kurang enak. Duh, Hanum ini ternyata suka di gombali ya?

"Gimana rasanya, Mas?" Tanya Hanum penuh harap.

"Masakan mu selalu enak, mas beruntung bisa memiliki istri cantik dan pintar masak seperti kamu ini," jawab William tulus.

Pipi Hanum langsung bersemu merah, dia merasa malu dipuji seperti itu oleh sang suami. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya, Hanum benar-benar jatuh ke dalam pesona William.

"Mas ihh, jadi malu tuh! Gak usah puji-puji donk, nanti Hanum besar kepalanya," sungut gadis tersebut.

William terkekeh melihat reaksi istrinya, dia gemes sekali melihat Hanum yang biasanya pecicilan terlihat malu-malu. Rasa cinta yang hadir dihatinya kini kian membuncah, bahkan William sudah melupakan bagaimana cintanya pada Katrine yang baru beberapa menit lalu mendatanginya.

"Nggak papa dong, kan Mas muji sesuai fakta, Kamu cantik, baik, pintar masak dan juga Sholihah, paket komplit deh," ujar William jujur, dia memang merasa jika istrinya itu definisi sempurna, meskipun dulu William sempat menolak keberadaan Hanum, mungkin sekarang dia sudah terkena karmanya.

"Aahh, cukup mas, aku jadi terbang loh, nanti kalau jatuh 'kan sakit!"

"Kalau jatuh nanti mas tangkap deh, tubuhmu kan ramping tapi berisi ditempat yang pas, cantik banget pokoknya," Hanum dipuji terus seperti itu akhirnya mencak-mencak, bukan marah tapi terlalu malu karena William benar-benar membuatnya melambung tinggi.

"Udah deh mas,, makan aja nggak usah jadi tukang gombal," akhirnya William berhenti berucap dan menikmati makan siang dengan sang istri.

Makanan Hanum menjadi favorit nya sekarang, dia suka semua olahan masakan sang istri.

Setelah kenyang dan lauk pauknya hampir habis, akhirnya mereka menyudahi makan siangnya.

"Udah waktunya aku pulang, nanti makan malam mau di masakin apa?" Tanya Hanum.

"Ehmm, apa saja, asalkan kamu yang masak, aku pasti suka," jawaban William membuat Hanum terharu.

Sekarang William benar-benar respect terhadapnya dan mudah-mudahan saja William juga bisa jatuh cinta padanya. Doa Hanum setiap saat karena Hanum sudah mencintai suaminya sejak dulu, mungkin sejak saat William mengucapkan ijab qobul itu, hati Hanum sudah bergetar.

"Baiklah, aku pulang dulu ya mas," Hanum mencium punggung tangan William.

"Hati-hati," William mencium kening Hanum lama seraya berucap maaf dalam hati.

Hanum merasakan perasaan aneh ketika mengingat pertemuan William dan mantan kekasihnya.

"Mas, apa tidak ada yang ingin mas katakan padaku?"

Deg!

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Noor Sukabumi

Noor Sukabumi

entahlah bingung Iya sbnrnya gedeg Iya.mending km jelasin ke hanum William biar g salah paham c hanum ke km nantinya

2023-08-15

0

Cicih Sophiana

Cicih Sophiana

I'am jujur aja napa sama Hanum...
ga usah pura pura bodoh deh

2023-08-07

0

Anik Trisubekti

Anik Trisubekti

lebih baik jujur dan terbuka mas I'am drpd Hanum salah paham

2023-07-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!