Bab Tujuh Belas

Happy Reading.

Hanum merasakan pelukan dari belakang, itu artinya suaminya telah kembali. Entah jam berapa William pulang, tadi Hanum langsung ketiduran.

Hanum merasakan kecupan di kepalanya, kemudian William menyerukan wajah di lehernya, meskipun terasa geli tapi mata Hanum lebih berat untuk terbuka dan akhirnya dia biarkan saja kenyamanan yang akhir-akhir ini dia terima dari sang suami.

William juga langsung tertidur setelah merasa mengantuk, dia pulang pukul 11 malam dan melihat sang istri yang sudah meringkuk di atas ranjang membuat William tidak tega untuk membangunkan.

Sebenarnya William merasa tidak enak telah meninggalkan Hanum, tapi dia juga harus tahu detail bagaimana dia akan melancarkan rencana untuk Katrine.

'Maafkan aku!'

Sebuah kecupan dia turunkan di rambut sang istri, kemudian dia mencari tempat ternyaman untuknya ketika tidur memeluk Hanum seperti ini.

****

Tiga hari setelah kejadian di mana Hanum memakai Lingerie dan siap untuk melepaskan keperawanan yang akhirnya tidak jadi, keesokan harinya Hanum kedatangan tamu bulanan dan alhasil William harus menunda dulu. Sekarang mereka sudah berada di sebuah rumah elit dua lantai yang begitu mewah.

Ya, William dah Hanum memutuskan untuk menempati rumah baru mereka. Rumah yang William beli belum lama ini dan ia atas namakan sang istri. Sebenarnya William sudah punya rumah yang tidak kalah megah. Rumah itu dia siapkan untuk dirinya dan Katrine tempati setelah menikah, tapi ternyata pernikahan itu pun gagal.

William juga enggan menempatinya, bukan karena dia akan teringat dengan Katrine, tetapi William lebih menghormati Hanum dan ingin menghadiahkan sebuah rumah untuk istrinya itu. Meskipun sebenarnya hadiah itu bukan apa-apa dibandingkan dengan apa yang telah kamu berikan padanya selama menikah. Sehingga membuatnya bisa bangkit seperti ini.

"Padahal Mama masih berharap kalau kalian tinggal lebih lama lagi bersama kami," ujar Mama Valeria.

Hanum memeluk sang Mama, dia Merasa bersyukur memiliki mertua yang begitu menyayanginya seperti ini. "Mama tidak perlu khawatir, Hanum dan Mas I'am pasti akan sering-sering main ke rumah mama, nanti kalau kami masih tinggal bersama mama dan papa, nggak akan bisa mandiri mandiri dong!" Ujar Hanum.

"Iya Ma, bener kata Hanum," sela William.

"Awas kalau sampai kamu sakiti mantu kesayangan Mama, akan Mama kasih hukuman!"

"Iya Ma, iya,, Aku juga gak mau nyakitin istri sendiri," jawab William cepat.

Papa Sofyan hanya geleng-geleng kepala melihat interaksi istri dan putranya, sedangkan Hanum terus saja bersyukur karena telah diberikan keluarga yang benar-benar menyayangi nya dengan tulus seperti ini.

"Nanti Mama sama Papa nginep sini kan?" Tanya Hanum.

Saat ini Valeria dan Sofyan sedang berada dirumah baru William. Mereka mengunjungi putra dan mantunya yang baru sehari pindah. Banyak barang-barang baru seperti perabotan dan keperluan Hanum yang dibelikan oleh mertuanya.

"Maunya sih nginep, tapi Mama pagi-pagi ada urusan, dan Papa akan ikut Mama, iya kan Pa?"

"Heem," jawab Papa Sofyan dengan gumaman. Padahal sebenarnya mereka tidak enak saja harus menginap di sana, takut mengganggu.

Akhirnya Valeria dan Sofyan pulang diwaktu malam hari setelah Isya dan sekalian makan malam.

"Mas, suka makanan apa? Besok aku mau ikut Bik Sum ke pasar, sekalian mau belanja kebutuhan dapur," ujar Hanum.

Saat ini William tengah bersandar di headboard sambil memangku laptop memeriksa pekerjaan. William sudah resmi kembali di perusahaan karena sekarang dia sudah benar-benar sehat dan bisa bekerja kembali. Dia juga bisa menarik para investor yang kemarin pergi meninggalkannya.

"Apa aja, sekarang aku suka semua masakan, apalagi yang masak istri sendiri," jawab William menatap Hanum.

Kali ini istrinya itu memakai piyama tanpa lengan dengan tali spaghetti yang melintang di bahu Hanum. Warnanya maroon dan sangat cocok di kulit Hanum yang seputih susu.

Hanum mendekati sang suami, duduk di sisinya sambil tersenyum lebar, "oke deh, kalau gitu aku mau masakin Mas semua masakan ku, awas aja kalau nggak suka," Hanum menyipitkan matanya.

William tergelak melihat tingkah istrinya itu, William meletakkan laptop ke sisi sebelahnya dan menarik Hanum ke dalam pangkuannya.

"Kalau saja tamu kamu sudah pergi, mas nggak akan biarin kamu bisa berjalan esok hari," William menggigit pipi Hanum gemas.

Hal itu membuat pipi Hanum bersemu.

"Sabar ya Mas," Hanum memegang sisi wajah William, mengelus bulu-bulu halus yang tumbuh di rahang sang suami.

"Tapi kalau cium kamu, aku nggak bisa sabar," William langsung meraup bibir istrinya dengan bibirnya dan mereka melakukan itu hampir satu jam. Sambil pegang sana sini tentunya.

*****

William berangkat ke kantor seperti biasanya, tadi Hanum meminta izin untuk pergi ke pasar bersama salah satu asisten rumah tangga yang di bawa dari rumah orang tuanya.

Hanum sejak dulu memang suka belanja ke pasar, dia selalu di suruh Bibi Asma untuk belanja kebutuhan.

"Bik, nanti siang aku mau masakin mas I'am Ikan mas goreng, sambel ijo sama oseng tauge, gimana menurut Bik Sum?"

"Nggak apa-apa non, pasti den William mau apalagi yang masakin non Hanum, Bibik jamin pasti suka," jawab wanita paruh baya itu.

Hanum akhirnya membeli bahan-bahan yang dia perlukan, Bik Sum juga membeli bahan untuk isian kulkas. Hanum sangat antusias ketika belanja di pasar tradisional seperti ini. Bik Sum benar-benar salut kepada majikannya ini. Dulu saat William masih bersama Katrine boro-boro wanita itu belanja, mau masuk dapur saja tidak pernah.

Bik Sum selalu mendoakan, semoga pernikahan Hanum dan William langgeng dan di beri banyak keturunan.

****

Siang itu saat di kantor William, seorang wanita cantik berjalan dengan anggun masuk ke dalam. Para resepsionis terkejut ketika melihat kehadiran nya. Siapa yang tidak mengenal sosok cantik tersebut, sehingga semua orang yang melihatnya pasti akan menunduk dan menyapa sopan karena dia adalah calon istri atasannya.

Tapi, bukankah sekarang dia bukan siapa-siapa lagi bagi William. Namun, tetap saja auranya yang mendokumentasikan membuat semua orang tetap saja menganggap nya tetap sama.

"Nona, maaf anda mau kemana?" Tanya Ari.

"Aku tidak perlu meminta izinmu kalau ingin bertemu dengan William, bukan? Ingatlah posisi mu!" Jawab wanita itu sarkas.

"Nona Katrine, anda tidak bisa masuk begitu saja!"

Ya, wanita itu tentu saja Katrine, dia mendorong tubuh Ari yang akan menahannya masuk ke dalam ruangan William.

Dan berhasil, Katrine akhirnya sampai di pintu CEO kemudian membukanya segera.

"Willy, Honey!"

William terkejut saat melihat Katrine datang ke perusahaannya dengan raut wajah tidak bersalah. Bahkan wanita itu tersenyum seperti biasanya.

"Kate!"

"Iya sayang, ini aku,, Kate-mu,, aku kembali Honey,, aku minta maaf, maafin aku ya?" Ucap Katrine semakin mendekat.

William tahu jika wanita itu lambat laun akan menemuinya. Sungguh sesuai dengan prediksi nya.

"Untuk apa kau kesini? Butuh uang?" tanya William dingin.

Katrine yang tahu akan reaksi William langsung mengeluarkan air matanya.

"Hiks, Honey, maafkan aku, aku tahu aku salah, aku labil dan belum bisa berpikir dewasa, maafkan aku ya, aku janji tidak akan pernah pergi lagi," ucap wanita itu mengusap air matanya.

William terpaku, pikirannya sempat kacau, setelah sekian lama dia tidak bertemu dengan wanita masa lalunya itu, ada setitik rasa rindu yang membuncah, tapi rasa benci dan kecewa mendominasi.

'Kau harus sadar Will, dia wanita munafik yang telah tega membuat mu hancur!! Jangan sampai kau tergoda lagi dengan rayuan mautnya!' batin William mengepalkan tangannya.

Pria itu menutup matanya, terlintas bayangan Hanum yang tengah tersenyum. William jadi tenang. Dia tidak boleh mengecewakan istrinya.

Katrine yang melihat William menutup mata langsung beranjak mendekati, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan William kembali.

"Aku benar-benar minta maaf, Honey!"

GREP!

William merasakan tubuhnya dipeluk oleh Katrine, tubuhnya langsung menegang. Dia masih syok dengan apa yang terjadi.

Katrine tersenyum tipis karena dia tidak di dorong oleh William saat memberikan pelukan yang itu artinya William masih mencintainya.

'Aku yakin jika masih tersisa cinta untuk ku, kamu tidak akan bisa melupakan ku, Will!'

Namun, sedetik kemudian William benar-benar mendorongnya sambil menatap tajam Katrine.

"Jangan sentuh aku!!"

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Totoy Suhaya

Totoy Suhaya

duuh s kate udah beraksi mudah"n william tdk tergoda😊😊

2024-02-10

0

Noor Sukabumi

Noor Sukabumi

awas j low William sampe tergoda m c katering

2023-08-15

0

Carlina Carlina

Carlina Carlina

yang tegas ding wiliam...langsung usir aja k'lo d deketin si lacur kateeee😡😡😡😡😏😏😏😏

2023-08-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!