Bab Tiga

Maaf kalau ada typo 🙏😁 tolong di tag typonya ya

Happy Reading.

Hari-hari berlalu begitu saja, kehidupan pernikahan Hanum dan William masih sama. William dengan kedinginan nya dan Hanum yang harus menyimpan stok sabar yang banyak.

Hanum bisa mengerti kenapa William bersikap seperti itu, padanya,

Pagi ini Hanum sudah berada di dapur, dia akan mengambilkan sarapan untuk William. Suaminya itu masih belum mau sarapan bersama keluarga besar. William hanya akan makan jika dibawakan ke dalam kamar atau dia tidak akan makan sama sekali.

William masih hidup dalam kesedihan, dia belum bisa melupakan Katrine yang menemaninya selama 3 tahun ke belakang. Tapi dia juga sakit hati karena wanita yang sangat dicintainya itu pergi meninggalkannya karena tidak bisa menerima keadaannya yang lumpuh karena kecelakaan.

"Hanum, mau membawa sarapan untuk Willi?" Tanya sang ibu mertua.

"Iya, Ma. Mas I'am saya buatkan nasi goreng mentega, seperti dia ingin makan nasi goreng," jawab Hanum.

"Yang sabar ya nak, Willi itu keras kepala sekali, dia masih belum bisa menerima kenyataan jika dirinya telah di tinggal okeh Katrine karena lumpuh, mungkin jiwanya masih terguncang, kamu harus sabar dan buat dia bicara padamu," Pinta sang Ibu mertua yang bernama Valeria.

"Insya Allah, Ma. Hanum akan bikin mas I'am mau terapi juga, saat ini mas I'am memang masih begitu dingin sama Hanum, dia hanya merenung saja kerjaannya tiap hari, nanti coba Hanum kasih motivasi agar mas I'am semangat kembali," ujar Hanum.

Mama Valeria tersenyum membelai punggung tangan menantunya itu. Ternyata suaminya tidak salah memilihkan istri. Hanum memang sangat layak untuk menjadi istri seorang William.

"Mama percaya padamu, nak!"

Setelah ngobrol sebentar dengan sang ibu mertua, akhirnya Hanum lanjut ke kamarnya untuk membawakan nasi goreng mentega untuk sang suami.

"Mas, sarapan dulu ya, ngelamunnya ditunda," ujar Hanum saat melihat William masih betah memandang luar jendela.

Pria itu hanya diam saja, menoleh pun tidak dan Hanum sudah biasa diabaikan oleh suaminya selama seminggu ini.

Tapi seperti kesabaran Hanum sangat tipis, setipis lembar tisu dibelah tujuh, dan mulai sekarang dia harum membuat William bicara padanya.

"Mas, aku tahu pita suara mu masih berfungsi dan tidak putus! Jadi usahakan kalau diajak bicara itu ya jawab, jangan cuma diam saja!"

Kali ini ekor mata William tergerak kesamping untuk melirik wanita yang sejak tadi begitu cerewet itu.

Hanum yang kesal kemudian berjalan ke arah depan untuk menghadap William. "Silahkan di makan sarapannya, mas I'am!"

"Aku tidak lapar," jawab William saat Hanum meletakkan nampan berisi makanan yang tidak lain adalah nasi goreng mentega.

Masakan kesukaan suaminya, itu sih setahu Hanum. Padahal William ingat jika masakan itu adalah masakan favorit Katrine, hingga akhirnya William juga jadi ikut suka.

"Terserah, tapi lambung mas tidak sekuat otak dan keras kepalanya mas ini!" Akhirnya Hanum menyendok nasi itu dan langsung menyuapkan ke arah suaminya.

William akhirnya menyerah dan membuka mulutnya, dia mengunyah nasi goreng buatan Hanum dan William menyadari jika masakan istrinya itu enak. Akhirnya Hanum berhasil membuat William makan sarapannya lagi.

***

William memang masih dingin, tapi Hanum tahu apa yang membuat William seperti itu. Suaminya itu masih sakit hati karena ditinggal oleh wanita yang dicintai. Sepertinya hari ini setelah sarapan Hanum akan menyempatkan waktunya untuk bicara dengan suaminya dari hati ke hati agar pernikahan mereka tidak berjalan sangat dingin.

"Mas, kenapa sih kamu tuh masih mikirin mantan tunangan mas yang jelas-jelas udah ninggalin mas gitu aja, maaf ni ya sebelumnya, aku ingin membuat kesepakatan dengan mas I'am, gimana? Apa mas mau?"

William hanya diam saja menatap Hanum yang menurutnya sangat berani itu.

"Aku ingin mulai hari ini mas nggak boleh mengingat masa kelam itu," ujar Hanum menatap ke dalam manik mata William.

Dan entah kenapa William merasa terhipnotis dengan tatapan gadis yang berani padanya itu. Padahal selama ini tidak ada yang berani menatap William secara intens kalau bukan orang terdekatnya, tetapi Hanum yang baru seminggu menjadi istrinya memang bukan wanita biasa.

Tatapan Hanum bukan tatapan menggoda, wanita itu sama sekali tidak berniat menggoda dirinya. Bahkan selama tinggal satu kamar dengannya, Hanum terkesan menjaga diri.

William menarik nafas dan membuangnya perlahan, apakah mungkin benar yang dikatakan oleh Hanum, jika dirinya harus berdamai dengan keadaan dan menerima takdir yang telah ditetapkan.

"Baiklah, aku akan mulai menerima semuanya, bahkan aku akan mulai menerima kehadiran mu!"

Hanum tersenyum lebar saat mendengar ucapan William. "Kalau begitu mulai saat ini aku akan tidur di ranjang yang sama dengan Mas dan mas I'am tidak boleh menolaknya," ujar Hanum semangat.

Ya, karena selama ini dia mengalah dan tidur di sofa. Hanum harus menegaskan pada William kalau dia adalah istrinya dan punya hak untuk tidur di atas ranjangnya.

Terpopuler

Comments

Totoy Suhaya

Totoy Suhaya

seru ceritanya...aku mampir thor smngt💪

2024-02-10

0

Noor Sukabumi

Noor Sukabumi

semangat buat hanum bkn Mas iam klepek2 n lupa Sama c katring eh katerine mksdnya😁😁

2023-08-09

1

Cicih Sophiana

Cicih Sophiana

semangat thor...💪

2023-08-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!