Happy Reading.
William mencium kening Hanum sebelum berangkat kerja.
"Aku pergi dulu, ya? Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya mas."
Ya, hari ini William sudah mulai masuk kerja dan akan membereskan seluruh kekacauan yang dia tinggalkan. Meskipun Ayah Sofyan sudah menangani di bantu Ari dan Umar, kekuasaan William masih belum bisa terkalahkan hingga masih ada segelintir orang yang tidak takut dengan Sofyan Atmaja.
Mungkin karena pengaruh William di perusahaan yang sudah hampir 8 tahun menggantikan posisi Ayahnya itu menjadi semakin berjaya dan berkembang ketika di pimpin olehnya.
William juga merasa ada yang janggal dengan kecelakaan nya, dia akan mulai penyelidikan akan siapa dalang dibalik semuanya. William juga berjanji akan segera mengurus Paman dan Bibi Hanum secepatnya.
Hanum tersenyum melihat kepergian sang suami, setelah tadi dia juga telah bersalaman dengan mencium punggung tangan suaminya, Hanum merasa semakin berdebar saja.
Sudah Enam bulan lebih mereka menjadi suami istri memang baru ini William meninggalkan nya untuk bekerja. Kenapa rasanya berdebar dan senang, seperti di daram-drama yang dulu sering dia tonton.
'Semoga langkah mu selalu diberi keberkahan Mas, aku di sini juga selalu mendoakan segalanya. Mudah-mudahan selalu di beri kemudahan rezeki, Aamiin!'
****
Semua orang tentu tidak terkejut lagi saat melihat William masuk ke perusahaan. Rumor sembuhnya William memang sudah terdengar dan kembalinya William ke perusahaan juga sudah di umumkan oleh Sofyan saat pertemuan kemarin lusa.
"Selamat pagi, Pak Willy!"
"Selamat pagi Pak, selamat datang."
Sapa beberapa karyawan seperti biasanya, William hanya diam tanpa membalas sapaan mereka. Hilang sudah keramahtamahan William, setelah kecelakaan itu memang membuat William tidak bisa percaya begitu saja dengan orang luar.
William bersikap seperti ini hanya akan menjadi tameng saat banyak musuh yang berada di dalam selimut tidak bisa menyentuhnya. Sekali lagi, William memang merasa jika ada seseorang yang melakukan rencana untuk membuatnya lenyap.
"Pak Willy, apa kabar?" Sapa Ester, sekretaris baru Sofyan dan sekarang menjadi sekretaris William.
Ester adik dari Umar, dia bisa bertanggung jawab penuh dengan pekerjaannya.
"Berikan jadwal ku dan berikan seluruh laporan dari setahun yang lalu," ujar William datar tanpa membalas pertanyaan Ester.
"Baik Pak, akan saya siapkan," jawab Ester menunduk.
Umar mengkode adiknya untuk segera melanjutkan pekerjaannya.
William benar-benar tidak bisa toleransi terhadap orang yang melakukan kesalahan, seperti saat ini dia telah memberi surat peringatan kepada dua orang bagian keuangan yang salah dalam menghitung pengeluaran dan pemasukan. Jika sampai kedepannya mereka melakukan kesalahan lagi, bisa dipastikan mereka akan ditendang langsung oleh William.
Hari beranjak sore, William tidak mau memforsir tenaganya dengan lembur, dia akan menuruti keinginan Hanum untuk pulang tepat waktu. Akhirnya William memilih menutup laptopnya dan memutuskan untuk segera pulang.
Hanum menyambut kedatangan suaminya dengan senyum yang lebar. Kemudian dia langsung mengambil tangan William untuk di cium.
"Gimana kerjanya mas?"
"Alhamdulillah, bisa teratasi," jawab William.
"Aku siapin air hangat buat mandi, ya?" William mengangguk.
Kemudian Hanum mengajak William masuk ke dalam kamar mereka. William sejak tadi senyum-senyum sendiri, dia melihat istrinya selalu menutup tubuhnya dengan pakaian panjang seperti gamis dan jilbab yang lebar.
Entah kenapa saat melihat istrinya yang sedang masuk ke kamar mandi, tiba-tiba William membayangkan yang tidak-tidak. Pikirannya melayang, dia ingin melihat Hanum tanpa memakai pakaian yang lebar dan panjang itu.
"Mas, sudah siap airnya," William terperanjat ketika melihat Hanum sudah selesai menyiapkan air untuknya.
"Eh, iya, aku mandi dulu," jawab William. Untung saja dia tidak gugup, bisa ketahuan nanti.
****
Setelah makan malam, William dan Hanum langsung masuk ke dalam kamar, memang Hanum ingin suaminya itu istirahat. Karena sejak tadi William terlihat diam saja. Hanum mengira jika suaminya masih capek karena ini hari pertamanya bekerja.
Padahal William sejak tadi berpikiran lain, dia ingin meminta hak pada Hanum. Tapi entah bagaimana mengatakannya.
"Hanum, dilepas dong jilbabnya, kalau kita di kamar berdua, kamu sudah boleh lepas, nggak perlu nunggu mau tidur dulu," ujar William. "Atau mungkin kamu juga bisa memakai pakaian tidur yang disiapkan oleh Mama, ada di lemari sana kan?"
Hanum mengingat jika Mama mertuanya itu memang memberikan beberapa pakaian tidur, tapi dia belum melihat nya.
"Eh, boleh mas? Aku malah belum lihat baju tidur yang dikasih sama Mama, coba aku pakai deh," ujar Hanum.
"He'em,,, harus dipakai loh, kalau sampai kamu nggak mau pakai, aku akan marah," tegas William.
Pria itu sudah tahu apa yang diberikan oleh Mamanya, sebuah lingerie seksi yang ada beberapa buah di dalam lemari sana. Memang tidak di keluarkan dari kotaknya, tapi William sudah pernah melihat.
"Iya mas," Hanum tersenyum dan mengangguk. Dia memang biasanya memakai baju tidur yang kebesaran. Mungkin Mamanya membelikan baju tidur yang bagus dan nyaman dipakai.
Hanum mengambil kotak kado dari sang Mama mertua. Gadis cantik itu langsung membawanya ke kamar mandi.
William sudah senyum-senyum sendiri, dia jadi tidak sabar melihat bagaimana penampilan sang isteri.
Sedangkan didalam kamar mandi, Hanum membuka kotak itu dan langsung menganga, perlahan tangannya mengambil kain tipis berwarna pink muda itu.
"Ini apa?" Hanum mengambil yang satunya berwarna hitam, dan itu lebih buruk karena kainnya transparan.
"Ini mah bukan baju tidur, tapi lingerie," gumam Hanum mengetuk dahinya dengan jari.
Hanum menutup kembali kotak itu dan akan keluar, tapi tidak jadi. Gadis itu mondar-mandir tidak jelas, dia sudah berjanji pada William akan memakai baju yang diberikan oleh Valeria.
"Tapi gimana kalau Mas I'am marah!" Hanum menggigit kuku jarinya. Dia gugup setengah mati.
Sedangkan di luar kamar mandi, William sudah menunggu istrinya dari beberapa menit yang lalu, bahkan ini sudah lebih dari lima belas menit. Tapi Hanum belum terlihat ada tanda-tanda keluar.
William takut terjadi apa-apa dengan isterinya. Akhirnya dia memutuskan untuk menggedor pintu kamar mandi.
"Hanum! Hanum! kamu nggak apa-apa kan?" William masih menggedor pintunya. "Hanum!!"
Ceklek!
William merasa sedikit lega saat mendengar pintu kamar mandi dibuka, perlahan pintu itu terbuka dan kepala Hanum muncul.
"Hanum, kamu nggak apa-apa?" Hanum menggeleng. Dia masih belum mau keluar.
"Ayok keluar, kenapa masih di dalam?"
"Malu mas!"
William tersenyum, dia tahu pasti Hanum memang malu, tapi kali ini William memaksa.
"Kenapa malu? Ayok, aku ingin cepat tidur," kali ini Hanum tidak bisa bersembunyi. Pintunya dibuka lebar oleh sang istri.
Hanum berjalan keluar dan kepalanya menunduk. Tangannya menarik ujung lingerie yang panjangnya di atas lutut. Rambu hitamnya digerai menutupi sebagian wajah.
Sungguh, Hanum sangat malu. Baru kali ini dia berpenampilan seperti ini di depan orang lain, dan sekarang dia rela memakai pakaian tipis ini demi suaminya.
"Hanum," William menyentuh dagu sang istri dan mengangkat wajahnya.
William terpaku melihat kecantikan sang istri yang sangat natural. Hati William semakin berdebar kencang dan hasratnya langsung naik seketika melihat Hanum memakai pakaian yang sudah disediakan oleh Mamanya.
"Cantik!"
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 35 Episodes
Comments
Noor Sukabumi
terpesona William m kecantikan hanum nih yeeee
2023-08-14
0
Dewi Anggya
baru sadar y mas i'am pny istri syantik alami 😘😘
2023-08-10
0
Cicih Sophiana
part nya pendek thor
2023-08-07
0