Bab Delapan

Happy Reading.

Beberapa waktu sebelumnya.

Hari itu Hanum membuatkan William sop buah, dia ingat pesan dari dokter untuk membuatkan berbagai jenis makanan sehat untuk William agar bisa membantu pemulihan otot-otot kakinya. Dokter Hilmi mengatakan jika William rutin ikut terapi dan mengkonsumsi obat serta makanan yang sehat, bisa dipastikan William akan bisa berjalan normal kembali dalam waktu 6 bulan.

Hanum bersiap untuk membawa dua mangkuk sop buah itu ke kamar mereka di lantai atas. Wanita berhijab itu berjalan perlahan menaiki anak tangga, wajahnya selalu dibaluti senyuman menawan.

Setelah beberapa hari melakukan terapi, William terlihat lebih bersemangat dari biasanya, entah apa yang dipikirkan William, tetapi pria itu sekarang terlihat semakin peduli terhadapnya.

Dalam hal-hal kecil sekalipun William terlihat memperhatikan Hanum dan hal itu sukses membuat Hanum menjadi main hati dan perasaan.

Sebagai seorang wanita biasa dan seorang istri, dia menginginkan jika pernikahannya bersama William akan menjadi pernikahan nyata yang tidak ada kata-kata perceraian di dalamnya.

Hanum selalu berdoa dan memohon kepada Allah SWT Semoga rumah tangganya bisa dikaruniai keberkahan dan juga sakinah, mawadah dan warohmah.

Kesabarannya menghadapi William di awal-awal pernikahan dan hal itu pun membuatnya menjadi kuat dan memilih bertahan meskipun tidak pernah dianggap oleh sang suami waktu itu.

Hanum ingin pernikahannya ini berjalan dengan baik. Apakah Hanum bersalah jika menginginkan Cinta dari suaminya meskipun sebenarnya suaminya itu masih memiliki cinta masa lalu.

"Aku harap Mas I'am juga memiliki pemikiran yang sama denganku meskipun untuk saling mencintai mungkin sangat sulit dan kesulitan itu ada di pihak dia, karena aku merasa jika diriku sudah mulai tumbuh sebuah perasaan dengan sikapnya yang ternyata penuh kehangatan." Batin Hanum.

Wanita cantik itu membuka pintu kamar dengan perlahan, dia melihat suaminya tengah berada di balkon. Pintu dan jendela terbuat dari kaca sehingga pemandangan luar bisa terlihat dari dalam.

Wanita itu tersenyum dan meletakkan nampan yang berisi 2 mangkuk Sop buah itu di atas meja. Hanum berjalan mendekati sang suami, tapi sepertinya William tidak menyadarinya.

Saat itu Hanum ingin mengagetkan suaminya dan berjalan perlahan, tapi tidak disangka malah dia yang dikagetkan dengan pemandangan didepannya.

Hanum mendapati suaminya menatap foto katrine di dalam ponsel. Foto itu terlihat sangat jelas karena memang sepertinya itu foto Selfi.

Sungguh tidak ada wanita yang sanggup jika melihat suaminya tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu. Hanum kecewa dan tentu saja cemburu. William diam-diam masih merindukan Katrine.

'Kenapa wanita itu beruntung sekali ya Allah, sebenarnya terbuat dari apa hati mas William sehingga dia masih mencintai mantan tunangan yang telah tega meninggalkannya?' Hanum memegang dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.

Perlahan dia memundurkan langkahnya sampai masuk kamar dan Hanum masih fokus menatap punggung suaminya itu. Hanum tekan rasa sakitnya agar tidak menangis saat ini juga. Tiba-tiba wanita itu menabrak kaki meja sehingga terdengar bunyi yang membuat William mengalihkan atensinya.

"Hanum?" Panggil William saat melihat istrinya yang ternyata sudah masuk ke dalam kamar. William langsung mematikan ponselnya dan mengantonginya. Hal itu tidak luput dari pengamatan Hanum yang entah kenapa semakin membuat dadanya terasa sesak.

"Udah siap sop buahnya?" William kini memutar kursi rodanya dan berjalan masuk ke dalam kamar. Istrinya hanya tersenyum simpul dan berjalan ke arah suaminya. Hanum mendorong kursi roda itu dan di dekatkan ke arah meja.

"Iya mas, sekarang dimakan dulu ya?" Hanum menyerahkan mangkuk Sop buahnya pada William.

Kemudian dia mengambil Sop buahnya sendiri. William mengamati istrinya yang sejak tadi hanya diam saja, tidak biasanya Hanum tidak cerewet. "Kamu kenapa?" Tanya William akhirnya, dia penasaran kenapa istrinya makan sop buahnya sendiri dengan diam. Padahal dia saja belum menyentuh sendoknya. Biasanya Hanum pasti akan cerewet kalau masalah makan dan meminta William untuk cepat menghabiskan makanannya.

"Em,,, maksudnya kenapa? Aku nggak apa-apa, ayo di makan sop buahnya mas, ini seger banget loh," ujar Hanum berusaha tersenyum meskipun hatinya masih menahan perih.

William merasa jika istrinya berbeda hari ini, Hanum terlihat sedikit murung. Tapi dia tidak bisa bertanya lebih karena Hanum memintanya untuk segera makan sop buahnya.

Namun setelah makan beberapa sendok, William merasa tidak mood karena Hanum hanya diam saja.

"Suapi!" Hanum tersentak ketika William menaruh mangkuknya ke atas meja.

Hanum menatap William dengan kening mengkerut, "mas mau disuapi?"

"Hemmm!" Jawab William dengan gumaman.

Hanum menghela nafas, kemudian dia meletakkan mangkuk miliknya dan akan mengambil mangkuk milik suaminya.

"Aku mau makan punya milikmu, kita makan bersama," Hanum menghentikan tangannya yang akan mengambil mangkuk William. Dia sedikit terkejut karena ternyata William meminta hal yang mengejutkan.

"Eh, mas itu udah sisaku loh."

"Nggak apa-apa, ayok suapi!" Hanum benar-benar terkejut dengan kelakuan William. Kenapa suaminya itu selalu membuat jantungnya berdebar, bahkan Hanum hampir salah paham dengan perasaannya kalau saja tadi dia tidak melihat sendiri bagaimana William masih merindukan sosok mantan tunangannya.

"Baiklah mas," Hanum mengambil mangkuknya dengan tidak semangat dan hal itu membuat William menjadi yakin jika istrinya itu sedang ada masalah.

William membuka mulutnya saat Hanum menyuapkan sop buahnya, mata William tidak terlepas dari wajah Hanum yang terlihat murung.

"Hanum, apa kamu ingin jalan-jalan? Apa kamu suntuk dirumah karena selalu mengurusi ku?" Hanum menatap wajah suaminya dan menggeleng pelan.

"Nggak mas, aku nggak suntuk, apalagi untuk mengurus mas I'am, Hanum seneng banget dan ikhlas kok!" Jawab Hanum dari lubuk hatinya.

Dia memang sama sekali tidak merasa terbebani untuk mengurus suaminya. Ah, apakah perubahan hati Hanum terlihat dimata ya, sampai William bertanya seperti itu.

'Ya Allah, apakah mas I'am curiga karena sejak tadi aku hanya diam saja, padahal biasanya cerewet sekali, huh! Sabar Hanum, kamu tidak boleh marah sama mas I'am karena bagaimanapun dia dan mantan tunangannya sudah berhubungan lama sekali, sedangkan sama kamu baru berjalan beberapa bulan saja, apa kamu harus cemburu sampai seperti ini?'

"Tapi kenapa sejak tadi mulut ini diam saja, tidak tersenyum dan cerewet seperti biasanya?" Hanum tersentak ketika William tiba-tiba menyentuh sudut bibirnya dengan tangannya.

Sungguh hal itu mampu membuat jantung Hanum jumpalitan. William terkekeh kecil saat melihat reaksi Hanum yang terkejut seperti itu. Entah kenapa dimatanya terlihat lucu sekali.

"Ehmm, aku-aku lagi PMS mas, jadi moodnya memang seperti ini, kadang badmood dan langsung good mood, jadi mas I'am jangan khawatir," jawab Hanum tersenyum lembut. Kali ini senyumnya tulus dan ikhlas. Dia memang harus sabar dalam menghadapi segala ujian dalam rumah tangganya.

Bersambung

Terpopuler

Comments

Totoy Suhaya

Totoy Suhaya

sabar ya num...lnjuut

2024-02-10

0

Noor Sukabumi

Noor Sukabumi

aduh iam knp msh mikirin c katering sih yg jelas2 ninggalin km krn Lumpuh buat apalagi coba

2023-08-14

0

Cicih Sophiana

Cicih Sophiana

ayolah Willian tutup hati mu untuk si mantan yg kabur... buat apa juga di inget..

2023-08-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!