Bab Dua

Happy Reading.

Pesta pernikahan berjalan dengan lancar, tapi kedua pengantin tidak berada di pelaminan karena William kondisinya masih belum begitu stabil dan memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kamar setelah akad.

Meskipun kecelakaan itu sudah terjadi beberapa bulan yang lalu, tapi kaki William sama sekali tidak bisa digerakkan. Setelah kondisinya membaik pasca kecelakaan, William sebenarnya ingin sekali sembuh dengan mengikuti terapi, tapi karena Katrine semakin hari semakin menjauh, wanita itu merasa malu dengan keadaan William yang menggunakan kursi roda dan puncaknya yaitu kabur seminggu sebelum pernikahan.

Tentu saja hal itu sempat membuat William drop parah dan mengurung diri selama dua hari. Tapi setelah sang Ibu membujuknya dengan sedikit ancaman-ancaman, akhirnya William mau menuruti permintaannya.

Setelah pesta pernikahan selesai, Hanum yang sejak tadi sebenarnya menepi karena tidak mau berbaur dengan keluarga besar melihat suaminya sedang memandang ke arah luar jendela.

William terlihat sedang melamun dan asik dengan dunianya sendiri. Hanum berjalan mendekatinya, "mas, udah lapar belum? Sejak tadi pagi mas William belum makan 'kan?"

Hanum memang mengamati suaminya yang sejak tadi tidak makan, hanya minum air putih saja setelah ijab qobul tadi.

"Apa mas William mau aku ambilkan makanan? Nanti sakit perut loh kalau tidak makan." Hanum masih berusaha mengajak suaminya bicara meskinya diabaikan oleh pria itu.

William yang duduk di kursi rodanya bergeming, dia sama sekali tidak peduli dengan wanita yang sudah menjadi istrinya.

"Mas I'am, aku panggil mas I'am aja ya, soalnya kalau mas William kepanjangan, dan kurang bagus kalau didengar," Hanum tertawa sendiri karena memberi nama suaminya dengan panggilan dari akhirnya saja. Yaitu William diambil yang akhir jadi I'am.

"Ya udah, aku ambilkan makanan, kalau mas I'am masih belum mau ngomong sama Hanum, nggak apa-apa, Hanum ngerti kok gimana perasaan mas I'am,, di sini bukan hanya mas aja yang masih belum menerima keadaan ini, sebenarnya Hanum juga mas, Hanum bahkan sama sekali tidak kepikiran untuk nikah di usia segini, tapi karena balas budi terhadap Paman dan Bibi yang telah membesarkan Hanum, jadinya ya terpaksa Hanum iya kan permintaan mereka," Hanum bercerita lebar agar suaminya mau bicara atau menimpali ucapannya.

Namun William masih diam saja dengan raut wajah yang datar. Entah apa yang dipikirkan pria itu, yang pasti Hanum akan sangat kesulitan menghadapinya. Lihatlah bagaimana dia tidak menganggap Hanum sama sekali.

Sabar Hanum, sabar!

"Hanum keluar dulu ambil makan ya mas?" Wanita berhijab itu akhirnya keluar dari kamar William meskipun suaminya itu tidak menjawab.

Biarlah, Hanum masih sabar dan akan terus berusaha. Hanum tahu kalau William itu masih marah dengan takdir karena membuat keadaan nya seperti ini. Menjadi lumpuh dan ditinggalkan oleh wanita yang sangat dicintai. Sungguh itu tidak mudah dan Hanum mengerti itu.

Tidak lama kemudian Hanum masuk membawa nampan yang berisi makanan untuk William.

"Mas, makan dulu ya?" Hanum mendekati William dan berdiri di samping pria itu. Hanum melihat wajah suaminya dengan lekat, pria itu memiliki wajah yang tampan kebulean karena ibu William asli orang Inggris. Hanum berjongkok agar bisa mendapatkan atensi dari pria yang sejak tadi hanya diam saja itu.

"Mas, jangan terlalu dipikirkan, jangan sedih, mas harus yakin jika mas pasti bisa melewati semua ini, mas pasti sembuh."

Kali ini William sepertinya sedikit tersentuh atau tersentil dengan ucapan Hanum, buktinya pria itu langsung menatap Hanum dengan tatapan tajam.

"Pergi, saya mau sendiri dan jangan ganggu saya!" Ucap William datar namun matanya masih menatap Hanum dengan tajam.

Hanum sedikit tersentak ketika melihat tatapan itu, dia pun langsung berdiri dan meletakkan napan berisi makanan itu diatas paha William.

'Huh, dikira aku takut apa!! Hello, kamu tuh hanya cowok menyedihkan yang ditinggal tunangannya dan sekarang bersedih karena harus menikah dengan aku!' jerit Hanum dalam hati.

'Sabar Hanum!!'

William melotot melihat tingkah Hanum yang sangat berani menurutnya.

"Apa? Mas I'am mau marah? Iya? Hanum nggak takut, tinggal bilang aja ke Bapak Sofyan Atmaja kalau putranya ini nggak mau di ladeni sama istrinya, terus aduin ke Ibu negara yaitu Ibu Valeria biar terjadi drama lagi, mas ini nggak tau ya kalau Hanum itu menantu kesayangan!" Hanum berkacak pinggang.

Apakah dia sudah kehilangan kesabaran? Tidak! Hanum melakukan itu sudah atas izin mertuanya. Hanum disuruh berani memarahi William kalau pria itu mulai melawan. Hanum masih sabar, stok sabar Hanum banyak, dia hanya harus bisa membuat William sembuh dan mau diterapi agar bersemangat untuk kembali ke kelurahan dan memimpin Atmaja Group kembali.

William sedikit terkejut dengan tingkah Hanum, ternyata gadis itu berani kepadanya. Sampai mengancam dengan bawa-bawa nama orang tua. Huh, menyebalkan. Batin William.

Mau tidak mau akhirnya William memakan makanan yang ada diatas pangkuannya dan hal itu membuat Hanum tersenyum.

***

Hanum sudah berganti pakaian dengan piyama tidur, dia belum pernah melepaskan hijabnya selama beberapa jam ini. Sepertinya Hanum tetap akan memakai Hijab meskipun di depan suaminya. Gadis itu tidak akan memperlihatkan rambutnya pada William jika pria itu belum menganggap nya sebagai istri.

Hanum bisa melihat William yang sudah berbaring di atas tempat tidur, sepertinya pria yang sudah sah menjadi suaminya itu sangat kelelahan.

Akhirnya Hanum memutuskan untuk naik ke atas ranjang karena dia juga sudah sangat mengantuk.

"Siapa yang menyuruhmu tidur disini?" Hanum terkejut mendengar suara William. Padahal tadi dia kira William sudah terlelap.

"Hanum ngantuk mas, mau tidur. Lagian kita tuh suami istri, jadi nggak apa-apa donk kalau Hanum tidur di ranjang yang sama dengan Mas," ujar Hanum.

William membuka matanya dan langsung melotot tajam pada gadis itu.

"Aku tidak sudi berbagi ranjang dengan mu, jadi sebaiknya jangan kau injakan tubuhmu di atas kasur ini!" Tegar William.

Hanum merasa sakit hati dengan ucapan suaminya itu, tapi Hanum tetap tidak akan menyerah.

"Mas, Hanum nanti bisa bantu Mas I'am kalau ingin ke kamar mandi gitu kalau Hanum tidur di samping mas 'kan, Hanum janji nggak akan ngapa-ngapain?"

"Ku bilang tidak ya tidak!! Jangan kira kamu bisa mengatur saya seenaknya saja!! Saya tidak sudi tidur sama kamu, silahkan keluar dan tidur dikamar lain kalau ingin tidur di ranjang," ujar William masih menatap Hanum dengan tatapan tajam.

"Loh, kok gitu,, nanti kalau ditanya Ayah sama Ibu gimana?"

"TERSERAH!! Saya tidak peduli. Kalau kamu masih mau di kamar ini, silahkan tidur di sofa itu dan jangan berani-berani naik ke atas ranjang saya!!"

Hanum menunduk untuk menekan rasa sakit di dadanya. Sabar Hanum, sabar.

Hanya itu mantra yang selalu diucapkan oleh Hanum dalam hati. Akhirnya Hanum memilih untuk melangkah kan kakinya menuju Sofa dan segera merebahkan diri.

Tenang Hanum, ini masih belum ada sehari, kamu pasti kuat menjalaninya.

Sedangkan William sendiri hanya bisa mengatur emosinya, sungguh dia masih belum rela jika Katrine pergi meninggalkannya.

Terpopuler

Comments

Noor Sukabumi

Noor Sukabumi

maaf ya thor itu William kerja dikelurahan p diperusahaan 😁😁🙏🙏 Mas iam jutek bnget sih

2023-08-09

1

Cicih Sophiana

Cicih Sophiana

favorit dulu thor ceritanya bagus...
masih terselip typo thor...

2023-08-03

1

Moms_Anang&Ainun

Moms_Anang&Ainun

arsya apa wiliam sih thor

2023-06-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!