Bab Enam

Happy Reading.

William akhirnya menerima kenyataan jika dia harus tetap melanjutkan hidupnya. Bukan hanya untuk dirinya saja tetapi untuk keluarga, istri dan perusahaan. William bertekad untuk sembuh dan bisa berjalan kembali.

Mungkin dengan keputusannya untuk melakukan terapi adalah hal yang terbaik, dan tidak terus terpuruk dan menyalahkan takdir karena dirinya yang lumpuh.

Terkadang William memang masih menyalahkan takdir yang terjadi untuk dirinya. Kehilangan kemampuan untuk berjalan karena kecelakaan dan juga kehilangan calon istri karena pergi meninggalkannya.

Wanita yang begitu dia cintai itu tidak terima jika dirinya lumpuh, karena merasa jika kelumpuhan adalah akhir dari segalanya. William merasa dunianya hancur seketika.

Namun, ketika dia sudah mengenal dekat dengan Hanum, seorang gadis muda yang dinikahkan paksa dengannya, wanita yang begitu keras kepala dan gigih menginginkan kesembuhannya hingga akhirnya kekecewaan Hanum terhadap dirinya mampu membuat William bangkit dan ingin secepatnya sembuh.

"Bagaimana dok? Kapan jadwal terapi Mas William?" Tanya Hanum antusias terhadap dokter pribadi suaminya itu.

"Senin depan sudah bisa ikut terapi, saya sarankan anda selalu mensupport dan ikut Bapak William untuk menemani terapinya karena support istri itu begitu penting," ujar dokter Toni tersenyum.

Tentu dokter itu merasa begitu senang mendengar kabar jika William ingin secepatnya sembuh. Sungguh sebuah keajaiban mengingat bagaimana keras kepalanya seorang William Atmaja yang memilih pasrah dengan jalan takdirnya dan tidak mau untuk diobati ataupun terapi.

"Baik dok, tentu saja saya akan menemani suami saya dan selalu mensupport nya,, terima kasih ya dokter?" Ujar Hanum.

William hanya diam saja mengamati istrinya dan dokter pribadinya itu saling berbicara, William percaya jika Hanum pasti bisa untuk mengurusinya.

"Sama-sama Bu Hanum, kalau begitu saya permisi dulu Bapak William dan ibu Hanum," dokter Toni bangkit dari duduknya dan berpamitan dengan William dan Hanum. Kemudian pria paruh baya itu keluar dari kamar tersebut.

"Bagaimana perasaan Mas sekarang? Apakah sudah merasa lega dan tidak ada lagi yang mengganjal di hati?" Tanya Hanum duduk di samping William yang sedang duduk bersandar di atas ranjang.

Pria itu sejak tadi memang hanya mengamati sang istri, sikap dan sifat Hanum yang tidak pernah terintimidasi oleh kedinginan sikapnya membuat hati William yang begitu keras akhirnya melebur.

"Seperti yang kamu lihat, aku merasa sangat lega dan ingin segera sembuh," jawab pria itu.

"Kalau Mas I'am udah sembuh, nanti jangan lupa ajak Hanum jalan-jalan ya, keliling dunia karena cita-cita Hanum itu pergi ke Eropa dan melihat salju di sana, bagaimana?" William semakin menarik kedua sudut bibirnya dia itu mengangkat tangan kanannya ke atas jilbab Hanum dan mengelus kepala istrinya itu berlahan.

Deg!

Reaksi Hanum tentu sangat kaget apalagi ini pertama kalinya William menyentuhnya dengan keadaan sadar, biasanya jika melayani sang suami untuk mandi, dia tidak pernah bersentuhan lebih dari telapak tangan dan punggung tangan saja.

Ada sebuah rasa ada yang menjalar di hatinya, seperti desiran halus yang membuat darahnya meremang.

"Baiklah aku janji kalau sudah sembuh nanti akan mengajakmu keliling Eropa," ujar William.

Kali ini pria itu menurunkan tangannya dari kepala Hanum, entah kenapa William rasa jika akhir-akhir ini istrinya itu terlihat semakin cantik. Padahal bisa saja karena baru akhir-akhir ini William memperhatikan Hanum.

"Bener ya mas?" William mengangguk.

Dan hal itu sukses membuat Hanum bertepuk tangan karena saking senangnya. "Terima kasih mas I'am,, tapi mas harus janji untuk secepatnya sembuh, sekarang Hanum mau ketemu Mama Valeria dulu, mas aku tinggal sebentar ya?"

"Hemm," balas William singkat.

Setelah itu Hanum pergi keluar dari dalam kamar, William menatap kepergian Hanum dengan seiring senyumnya yang telah pudar, kini wajah William terlihat datar kembali.

'Sebenarnya siapa wanita itu? Dan apa tujuannya menikah dengan ku? Aku harus secepatnya mengetahui tentang Hanum.'

William selama ini memang tidak mau tahu tentang siapa wanita yang dipaksa untuk menjadi pengganti Katrine. Saat itu dia merasa jika takdir benar-benar mempermainkannya. Sehingga tidak ada sedikitpun rasa penasaran siapa Hanum itu.

Namun minim yakin jika keluarganya pasti tidak akan asal memilihkan calon pengantin pengganti.

William mengambil ponsel di atas nakas, pria itu kemudian mendial nomor asisten pribadinya.

"Halo, Ari. Aku memiliki tugas untukmu, nanti sore datanglah kemari dan temui aku."

"Baik tuan!"

Setelah itu William menutup teleponnya dan menyadarkan kembali tubuhnya di kepala ranjang.

William tiba-tiba ingin mengetahui seluk beluk wanita yang mulai menarik perhatiannya itu. William harus benar-benar tahu wanita seperti apa yang dinikahinya dan apa motif dari wanita tersebut?

Sore harinya, Hanum baru saja selesai mandi dan juga William. Wanita berhijab itu berinisiatif untuk memakaikan seluruh pakaian William tapi tidak termasuk bagian bawahnya.

"Nah, kalau menurut kan jadinya enak? Tidak perlu maksa-maksa lagi," ujar Hanum selesai memakaikan pakaian William.

"Sepertinya memang lebih cepat di pakaikan seperti ini," ujar William terkekeh.

Hanum hanya mengerucutkan bibirnya, suaminya sekarang lebih banyak tersenyum dan menggodanya. William juga semakin terbuka dan lebih hangat.

"Apa kamu dulu kuliah?" Tanya William.

Hanum duduk disamping suaminya dan memiringkan tubuhnya agar berhadapan. "Hanum pernah kuliah, tapi harus berhenti karena masalah biaya, setelah itu aku diharuskan menikah muda dan beginilah sekarang, menjadi karena dari seorang William Atmaja," jawab gadis itu.

Tiba-tiba pintunya diketuk, Hanum bangkit dari duduknya dan berjalan kearah pintu kemudian membukanya.

"Maaf Nona, saya dipanggil Tuan William untuk datang ke sini," ternyata pria itu adalah Ari. Orang kepercayaan suaminya.

Hanum membuka pintu sedikit lebar dan menoleh kearah sang suami.

"Hanum, apa aku bisa bicara dengan Ari terlebih dahulu, ini menyangkut pekerjaan," ujar William.

"Baiklah, silakan masuk Pak Ari saya akan keluar," Hanum kemudian pergi keluar dan Ari masuk ke dalam.

"Sebenarnya ini menyangkut Hanum, Aku ingin kamu nyelidiki tentang gadis itu, siapa keluarganya dan bagaimana masa lalunya, aku harus tahu semuanya," ujar William.

Ari sedikit terkejut dengan keinginan majikannya itu, tapi menurutnya ini langkah awal yang baik karena itu tandanya peduli terhadap istrinya.

"Baik tuan, saya akan memberitahu informasi kepada anda mengenai Nona Hanum, tapi sebelum itu saya akan mencari tahu lagi latar belakangnya," jawab Ari.

"Bagus, jangan sampai Papa tahu, begitupun dengan Mama, cari tahu juga kenapa dia mau dijodohkan dengan ku, masa muda gadis itu dan ada berapa banyak lelaki yang dekat dengannya," ujar William.

"Baik Tuan."

Akhirnya William menyuruh orang kepercayaannya itu untuk menyelidiki Hanum dan masa lalunya.

Meskipun sebenarnya Ari sudah tahu semuanya, tapi dia juga haris menyelidiki masa lalu istri dari Tuhannya itu.

Terpopuler

Comments

🌷𝙈𝙗𝙖 𝙔𝙪𝙡 ☪

🌷𝙈𝙗𝙖 𝙔𝙪𝙡 ☪

typo... istri dari tuhannya ‐-> istri dari tuannya

2023-08-17

1

Carlina Carlina

Carlina Carlina

gitu dong mas iam 👍👍👍👍😅😅😅😂😂😘😘😘😘

2023-08-11

0

Noor Sukabumi

Noor Sukabumi

cieeeee Mas iam udah mulsi perhatian

2023-08-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!