Sesampainya kedua detektif itu di kantor polisi, detektif Keiko memaksa rekannya untuk memeriksa dirinya di ruang pemeriksaan yang memang di sediakan oleh kantor demi menjamin dan menjaga kesehatan setiap pekerjanya.
“Gue baik-baik aja Kei,” ujar detektif Egan yang berusaha untuk menolak secara halus permintaan rekannya itu.
“Kok bisa-bisanya lo bilang kalau ngga kenapa-kenapa padahal lo babak belur kayak gini. Mana tadi buat berdiri aja lo ngga sanggup,” detektif Keiko masih juga berusaha memaksa rekannya untuk memeriksakan diri.
“Emangnya lo ngga bisa lihat kalau sekarang gue udah bisa jalan dengan benar lagi?!“ timpal detektif Egan yang keras kepala yang tentu saja pada akhirnya membuat detektif Keiko harus mengaku kalah dengan kehebatn rekannya itu berdebat.
“Lo emang paling cocok ada di dalam ruang interogasi,” gerutu detektif Keiko sambil jalan mendahului rekannya itu.
“Hei, apa lo ngambek sama gue Kei?“ tanya detektif Egan sambil mengejar rekannya itu sambil tertawa kecil karena tahu bahwa dia sudah berhasil membuat rekannya merasa kesal.
Detektif Keiko melambatkan jalannya gara detektif Egan bisa mengimbangi langkahnya dan kini keduanya sudah berjalan berbarengan hingga akhirnya mereka sampai di ruang kerja.
“Saya denger kalian sudah menangkap tersangka kita, Bondan?“ tanya pak Brox yang baru saja keluar dari ruangannya.
“Iya pak, kami menangkap tersangka tadi di pemakaman ibunya,” jawab detektif Keiko.
“Terus dia dimana sekarang?“ tanya pak Brok lagi.
“Tadi detektif Abraham membawanya ke sini bersama seorang petugas,” kali ini detektif Egan yang memebri jawaban.
Pak Brox beberapa kali menengokan kepalanya ke kiri dan ke kanan dan berkata, “Tapi sayan belum melihat detektif Abraham dan orang yang mungkin kalian angap sebagai tersangka sejak tadi.“
Mendengar hal itu tentu saja baik detektif Egan mauppun detektif Keiko tersentak kaget.
Kedunya menjadi sangat khawatir, takut kalau-kalau detektif Abraham justru menjadi korban berikutnya dari Bondan.
Detektif Keiko langsung meraih ponselnya dan berusaha untuk menghubungi ponsel deketif Abraham.
“Bagaimana, dia jawab telepon lo?“ tanya detektif Egan.
Detektif Keiko menggelengkan kepalanya dan sekali lagi memencet sebuah gambar gagang telepon berwarna hijau masih tetap berusaha menhubungi ponsel detektif Abraham.
“Bagaimana ini?“ tanay detektif Keiko dengan rasa khawatir yang semakin menjadi dan dia masih menempelka ponselnya ke telinganya berharap ada jawaban dari detektif Abraham.
“Kita minta tolong aja sama Aris buat lacak dimana posisi ponsel detektif Abraham,” detektif Egan memberi sebuah saran.
“Coba kalain hubungi Aris sekarang dan minta untuk mencari dimana detektif Abraham berada. Kita ngga boleh kehilangan dia karena selama dia bergabung dengan tim kita, dia adalah tanggung jawab kita,” pak Brox langsung memeberi perintah pencarian terhadap detektif Abraham.
Detektif Egan menarik lengan detektif Keiko membawa rekannya itu untuk naik ke atas lift yang kebetulan saja terbuka saat mereka masih berbicara dengan pak Brox.
“Pak kami ke ruangan Aris sekarang,” ujar detektif Egan.
Pak Brox menganggukan kepalanya tanda bahwa dia menyetujui apa yang dilakukan oleh detektf Egan.
Di dalam lift yang sedang bergerak ke atas meuju latai dimana ruangan Aris berada, detektif Keiko masih juga berusaha mengutak-atik ponselnya.
Begitu pintu lift terbuka, kedua detektif itu melangkahkan kaki keluar dan berjaan luru menuju ruangan Aris.
Namun belum juga merreka sampai ke ruangan Aris, poonsel yang sejak tadi masih berada di tangan detekkti Keiko kini berbunyi.
Detektif Keiko enghentikan langkahnya dan juga menahan langkah kaki rekannya dengan meraih pundaknya.
Sebuah nama terpampang di layar ponselnya, detektif Abraham menghubunginya setelah beberapa detektif Keiko berusaha menghubungi tapi tak satu pun yang tersambung.
“Halo dengan detektif Keiko di sini,” seperti biasa detektif Keiko mengatakan hal yang sama setiap kali menjawab sebuah telepon.
“Anda menghubungi saya detekttif?“ tanya detektif Abrham tanpa menambahkan ekspresi apapun di nada bicaranya.
“Anda kemana saja sejak tadi detektif Abraham?“ tanya detektif Keiko menambahkan sedikit emosi di nadabicaranya.
“Saya? sejak tadi saya sudah ada di kantor wilayah kalian. Kalian lho yang lagi dimana? saya dari tadi menunggu kalian,” balas detektif Abraham.
“Sejak tadi saya sudah berusaha menghubungi anda tapi ponsel anda tidak aktif,” ucap detektif Keiko mulai kesal juga.
“Oh, ponsel saya tadi memang mati kehabisan daya. Ini saya baru saja mencolokan ponsel saya ke sumber daya,” jawab detektif Abraham masih dengan nada santai yang membuat detektif Keiko semakin memuncak rasa kesalnya.
Namun begitu detektif Keiko merasa jauh lebih tenang karena sudah mengetahui keberadaan detektif Abraham dan tahu bahwa kondisi detektif itu baik-baik saja.
Detektif Keiko menarik sebanyak mungkin oksigen yang bisa ditambung oleh paru-parunya namun kemudian membuat sisa pembakaran oksigen itu secara berlahan hingga akhirnya bisa membuat detektif Keiko jauh merasa lebih tenang.
“Baiklah kalau begitu, berartia nda ada di kantor ini dengan keadaan yang baik-baik saja kan?“ detektif Keiko berusaha memastikan satu kali lagi.
“Seperti yang sejak tadi saya katakan kepada anda, saya baik-baik saja sampai ke kantor dengan keadaan selamat,” detektif Abraham menegaskan keadaannya.
“Lantas sekarang tersangka kita, Bondan ada dimana?“ tanya detektif Keiko.
“Dia ada di ruang interogasi milik kalian. Saya dan petugas yang membantu saya tadi langsung membawanya ke ruang interogasi,” jawab detektif Abraham.
“Anda meninggalkannya tanpa pengawasan?“ tanya detektif Keiko.
“Ayolah detektif Keiko. Apa anda meremehkan kantor anda sendiri?! Sebuah kantor dengan kecanggihan yang luar biasa ini,” balas detektif Abraham.
Mendengar jawaban dari detektif Abraham itu menyadarkan detektif Keiko bahwa kekhawatirannya soal kemungkinan Bondan untuk kabur sangatlah mengada-ngada.
“Baiklah detektif, saya dan Egan akan segera ke sana untuk menemui tersangka di ruang interogasi,” ucap detektif Keiko.
“Bagus kalau begitu dan cepatlah!“ perintah detektif Abraham yang kemudian memutuskan hubungan telepon keduannya.
Detektif Keiko memasukan ponselnya ke dalam saku blazernya dan menghela nafas panjang sekali lagi.
Melihat hal itu tentu saja detektif Egan merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Yang barusan telepon detektif Abraham?“
“Bener!“
“Hah? dia ngga kenapa-kenapa?“
“Tenang aja, detektif Abraham baik-baik aja,” jawab detektif Keiko sambil memutar tubuhnya bersiap berjalan ke arah lift.
“Terus sekarang dia ada dimana?“ tanya detektif Egan yang mengikuti apa yang dilakukan oleh rekannya.
“Ada di ruangan kita dan dia nyuuh kita buat kesana secepatnya,” jawab detektif Keiko.
Detektif Egan terbahak mendengar apa yang dikatakan oleh rekannya itu, “Kita mengkhawatirkan sesuatu yang tak perlu dikhawatirkan.“
Dari kejauhan Aris yang baru keluar dari ruangannya berteriak memanggil detektif Egan da Keiko yang kini sudah berada di dalam lift.
“Kalian mau kemana?“ tanya Aris sambil berteriak.
“Balik ke ruangan kita,” jawab detektif Egan sambil melambaikan tangan dan membiarkan pintu lift itu tertutup perlahan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments