Setelah detektif Egan dan Keiko mendapatkan alamat dimana tempat terakhir gelang pemantau itu berada, melalui ponsel Aris ke ponsel mereka masing-masing lalu keduanya pun langsung meluncur ke lokasi yang ditunjuk.
didalam perjalanan mereka menuju ke alamat rumah itu keduanya pun berdiskusi tentang apa saja yang mungkin akan terjadi dan apa saja yang akan mereka lakukan ketika sampai ke tempat yang mereka tuju karena mereka tahu betul bahwa mereka akan berhadapan dengan seorang pembunuh yang kemungkinan akan bertindak ekstrim.
Belum lagi kemungkinan bahwa tersangka memiliki senjata tajam atau mungkin juga memiliki senapan yang bisa saja melukai salah satu diantara mereka atau bahkan mungkin keduanya.
Mereka menghentikan dan memarkir mobil yang mereka kendarai di sebuah lahan parkir yang cukup luas yang memang disediakan oleh pihak pengembang perumahan itu karena sepertinya setiap rumah di sana tidak ada yang memiliki carport utuk menyimpan kendaaraan mereka di depan rumah mereka persis.
Ketika sampai di sana, mereka baru menyadari bahwa ternyata rumah-rumah disana adalah kumpulan beberapa gedung berlantai empat dengan bentuk kotak kaku.
Bukan rumah pada umumnya namun juga bukan sebuag apartment seperti biasanya lebih seperti apartemen kecil bergaya eropa.
Detektif Egan dan Keiko berjalan cepat menuju rumah yang alamatnya telah diberikan oleh Aris ke ponsel mereka masing-masing.
Alamat yang diberikan oleh Aris membawa mereka ke salah satu gedung di sana dan ternyata alamat itu berada di lantai paling bawah dari gedung itu.
Rumah itu nampak sepi dan tertutup seolah tak ada aktifitas di dalamnya tak jauh berbeda dari rumah-rumah lainnya di lingkungan itu.
Detektif Egan mengetuk pintu rumah itu tapi tak ada jawaban dari dalam sama sekali namun beberapa detik kemudian dari dalam rumah itu mereka berdua mendengar suara benda jatuh yang membuat kedua detektif itu curiga bahwa sebenarnya ada orang di dalam sana.
Karena mereka khawatir masih ada korban lain yang disekap di dalam rumah itu maka detektif Egan pun berinisitif untuk mendobrak pintu rumah itu.
BRAK!
“POLISI!!“ teriak detektif Egan begitu pintu itu terbuka dengan satu kali usaha pendobrakan.
Dari arah belakang rumah terlihat ada orang yang berlari lewat pintu belakang dan dengan cepat detektif Keiko yang posisinya memang lebih dekat ke arah dapur pun berlari untuk mengejar orang tersebut.
Detektif Keiko masih bisa melihat punggung orang tersebut saat pengejaran tapi ternyata lari orang itu sangat cepat dan di tambah kenyataan bahwa dia lebih mengerti kondisi dan mengenal tata letak rumah-rumah di daerah itu membuatnya bisa menyelinap dengan mudah diantara deretan rumah di sana.
Ketika detektif Keiko sampai di sebuah lapangan luas masih di daerah perumahan itu dia menyadari bahwa dia sudah kehilangan jejak dari target yang dikejar olehnya.
“Kemana dia?“ tanya detektif Egan yang baru datang sepersekian detik setelahnya yang juga berlari namun dia mengambil inisiatif untuk mengejar melalu pintu depan berharap bisa menyergap tersangka dari sisi berlawanan.
“Dia hilang,” jawab detektif Keiko singkat sambil mengatur nafasnya yang masih terengah-engah karena memaksa dirinya berlari dengan kekutn maksimal yang dia miliki.
“Bagaimana mungkin dia bisa hilang?!“ protes detektif Egan yang tak percaya bahwa orang yang mereka kejar bisa hilang begitu saja di hadapan mereka berdua.
“Gue ngga sanggup mengimbangi larinya. dia cepet banget,” ujar detektif Keiko masih tak bisa menguasai dirinya.
Wajah detektif Keiko mulai terlihat membiru karena pasokan oksigen yang masuk ke paru-parunya belum mencukupi.
Detektif Egan yang khawatir segera menopang tubuh rekannya itu dan dia menuntun detektif Keiko untuk duduk di atas rerumputan.
“Pelan-pelan aja Kei, atur nafas lo baik-baik,” detektif Egan berusaha memberi arahan kepada rekannya agar tak panik yang akhirnya bisa membuat keadaannya semakin buruk.
Detektif Keiko mengikuti arahan yang diberikan oleh rekannya dan sesuai harapan keduanya kini wajah detektif Keiko kembali memerah menandakan bahwa pasokan oksigen ke paru-parunya sudah kembali normal dan nafasnya memang sudah mulai teratur kembali.
“Ayo balik ke mobil aja dulu, Kei. Lo masih perlu istirahat sebentar,” ujar detektif Egan sambil membantu rekannya berdiri.
“Tapi gimana dengan tersangka kita?“ detektif Keiko merasa bersalah karena dia adalah orang yang kehilangan jejak dari tersangka saat pengejaran tadi.
“Itu kita urus nanti. Sekarang yang penting kondisi lo pulih dulu, sekalian gue mau hubungin Birdella supaya dia bisa ke sini dan melihat tempat kejadian perkara di sini,” ujar detektif Egan yang kini menuntun detektif Keiko yang masih cukup kesulitan untuk berjalan walau dia terus mencoba membawa dirniya sendiri.
“Apa kita sudah perlu panggil Birdella ke sini?“ tanya detektif Keiko saat dia berusaha naik ke mobil yang mereka parkir cukup jauh dari lapangan tempat terakhir kali mereka kehilangan tersangka, tentu saja detektif Keiko dibantu oleh detektif Egan.
“Bukankah kemungkinan tempat ini adalah tempat terakhir korban masih hidup. Gue rasa bukan cuma Birdella yang perlu ke sini buat melakukan pengecekan, bahkan tim dia juga perlu untuk ke sini,” tutur detektif Egan sambil memberikan tumbler berisi air putih hangat yang memang selalu dia bawa di dalam mobil setiap harinya kepada detektif Keiko yang tengah mencari posisi paling nyaman untuknya saat ini.
“Kali ini tumbler lo yang satu ini akhinya ada gunanya juga ya, gan.“ ujar detektif Keiko saat menerima tumbler itu dan meminum air putih hangat di dalamnya.
“Lo istirahat dulu deh sebentar, Kei sambil kita nunggu Birdella dan timnya di sini,” ujar detektif Egan setelah menertawakan ucapan detektif Keiko sebelumnya yang memang benar adanya karena selama ini tumbler itu selalu ikut turun dengan mereka setiap kali mereka kembali ke kantor mereka namun tidak sekali pun dan tak ada seorang pun yang meminum isinya.
Detektif Egan pun membantu rekannya menurunkan posisi sandaran kursi penumpang di sebalah kursi pengendara itu hingga detektif Keiko bisa rebahan walau tidak kengan kondisi maksimal.
Setelah memastikan posisi detektif Keiko sudah cukup nyaman, akhirnya detektif Egan mengambil ponsel miliknya dari dalam kantong celana bagian belakang dan memencet nomer Birdella dari daftar kontak yang sering dia hubungi.
“Birdella di sini!“ ucap Birdella saat nada sambung berhenti dan berganti dengan suaranya.
“Dell ini gue, Egan. Gue rasa gue perlu lo dan tim lo buat ke sini segera,” tutur detekif Egan menjawab ucapan dari Birdella diseberang sana.
“Kirimin aja alamatnya ke ponsel gue yang satu lagi, gue dan tim bakal ke sana secepatnya,” balas Birdella dan setelah itu langsung memutuskan sambungan telepon diantara keduanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments