Bab Sembilan

Detektif Egan memasuki ruangan Aris yang di sana terlihat tak hanya si empunya tapi juga segala peralatan yang mendukung pekerjaannya yanga sangat sibuk sibuk akhir-akhir ini.

“Lo udah coba analisa foto pelaku yang udah gue kasih kemarin ris?“ tanya detektif Egan pada Aris yang belum mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya.

“Soft ware di komputer saya masih berusaha mencari data identitas asli dari pelaku tapi kamu harus tahu untuk wajah tersangka, komputer masih saja sibuk melakukan analisa karena wajahnya terekam di banyak sekali CCTV baik yang ada beberapa spot di jalanan maupun CCTV pribadi milik perorangan yang tersambung langsung ke data base kepolisian,” ujar Aris.

Lalu Aris memperlihatkan layar komputernya yang di dalamnya terpampang begitu banyak kumpulan foto dengan wajah pelaku di beberapa lokasi berbeda dan waktu yang berbeda pula.

“Bagaimana dengan suara penelepon yang gue rekam dan gue kirim ke lo kemarin?“ tanya detektif Egan lagi.

“Saya juga belum bisa memastikan itu suara siapa, apa itu suara dari Bondan yang sengaja dia samarkan dengan sebuah perubah suara atau memang suara orang lain, masih belum ada jawaban pasti. Gue masih melakukan analisa lebih lanjut,” ujar Aris.

“Kira-kira kapan lo bisa dapat hasilnya ris?“ tanya detektif Egan merasa tidak sabar untuk menemukan siapa orang yang mengancamnya lewat ponselnya itu.

“Dengan ala-alat secanggih ini, saya yakin ngga akan lama akan ada hasilnya,” jawab Aris penuh percaya diri nahkan kini cenderung sombong seperti biasanya.

“Bagus! Semakin cepat ada hasilnya akan semakin baik buat gue,” timpal detektif Egand penuh harap.

Kedua mata detektif Egan tak sekali pun terlepas dari monitor yang masih terus melanjutkan pencarian wajah Bondan di seluruh CCTV di kota itu, walau pun dia tetap bisa benar-benar fokus ngobrol dengan Aris yang berada tepat di sampingnya.

Kemudian sebuah foto menarik perhatian detektif Egan, sebuah mobil berjenis Pick up yang dimana Bondan sedang berusaha masuk ke dalamnya.

“Gue lihat mobil Bondan di foto ini,” ujar detektif Egan sambil memanggil Aris dan memperlihatkan foto itu berharap Aris bisa memberinya petunjuk dari foto yang satu itu.

“Ah, foto yang itu. Saya sudah coba menganalisa foto itu tapi nomer platnya terlalau jauh dari kamera pengawas jadi waktu saya coba memperbesarnya, fotonya justru pecah dan semakin sulit untuk dilihat,” jawab Aris dengan nada kecewa.

“Jadi kita tidak dapat apa-apa dari foto yang satu ini?“ detektif Egan berusaha mengkonfirmasi masih berusaha menumbuhkan sebuah harapan pada dirinya sendiri.

“Maaf gan tapi kita memang tak bisa mendapatkan info apapun dari foto itu,” Aris beruaha menegaskan namun tentu saja penegasan itu justru telah meruntuhkan harapan yanng hanya setitik di hati detektif Egan.

Detektif Egan kembali melihat-lihat foto di monitor itu dan matanya kembali menangkap sebuah foto lain yang sekali lagi menarik perhatiannya namun kemudian dia tinggalkan namun sebuah foto lain juga menarik perhatiannya.

Dua foto itu kemudian saling didekatkan satu sama lain oleh detektif Egan yang sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ada kesamaan diantara kedua foto itu.

“Ada apa gan?“ tanya Aris yang mulai menyadari bahwa detektif Egan berkali-kali menggerakan bola matanya ke kiri dan ke kanan.

“Coba lo lihat kedua foto ini deh ris!“ perintah detektif Egan mencoba mengambil fokus Aris lagi.

Aris pun mendekat ke arah monitor menuruti perintah dari detektif Egan dan ikut memperhatikan dengan seksama kedua foto itu namun Aris butuh beberapa menit hingga akhirnya dia menyadari apa yang telah terlebih dahulu disadari oleh detektif Egan.

“Siapa laki-laki ini?“ tanya Aris sambil menunjuk seseorang dengan kacamata hitam dan masker juga berwarna hitam yang di kedua foto itu berada di belakang Bondan.

Salah satu foto adalah hasil tangkapan kamera pengawas pada mesin ATM dan laki-laki berkacamata dan masker hitam itu tepat di belakang Bondan dengan jarak anatara dua hingga tiga meter.

Sementara di foto yang lain, laki-laki itu berdiri lumayan jauh dari Bondan namun seolah dia sedang mengawasi Bondan dan sekitarnya.

“Apakah lo juga merasa bahwa laki-laki itu cukup mencurigakan?“ detektif Egan bertanya pada Aris berusaha melatih insting Aris sebagai salah satu anggota kepolisian.

“Bukankah laki-laki itu sepertinya sedang memperhatikan si Bondan ngga sih?!“ ujar Aris berusaha mengkonfirmasi isi pikiranya.

“Tapi pertanyaannya buat apa dia mengikuti Bondan?“ sebenarnya pertanyaan detektif Egan itu lebih ditujukaan untuk dirinya sendiri namun sepertinya Aris yang dapat mendengar pertanyaan itu dan merasa seolah dia ikut diajak berdiksusi dan dimintai pendapatnya.

“Apa mungkin itu semua hanya sebuah kebetulan aja?“ tanya Aris pada detektif Egan.

“Bukankah ini adalah kebetulan yang terlalu aneh?!“ balas detektif Egan.

“Kebetulan yang aneh? begitukah menurut kamu gan?“ kini Aris meragukan dirinya dan jalan pikirannya sendiri.

“Apa lo bisa memeriksa dan memindai wajah orang yang ini, orang yang jalan di belakang Bondan itu?“ tanya detektif Egan.

Aris pun mulai menggerakan jari jemarinya di atas keyboard dan berusaha memenuhi permintaan detektif Egan namun setelah beberapa kali mencoba sepertinya Aris menemukan jalan buntu dan harus menyerah serta mengaku kalah pada foto itu.

“Maaf gan tapi wajah laki-laki itu terlalu tertutup, hanya sebagian kecil wajahnya yang bisa dilihat dan itu membuat software milik aku ngga bisa bekerja secara maksimal. Dan satu lagi jaraknya terlalu jauh dari kamera pengawas dan kayaknya saya ngga bisa memindai wajahnya,” ucap Aris dengan rasa kecewaa yang terdengar nyata di nada bicaranya.

Detektif Egan berpikir sejenak sambil terus memperhatikan kedua foto itu namun beberapa saat kemudian dia beralih keponselnya.

“Aris seperti biasa ya?!“ ujar detektif Egan.

“Bagaimana maksudnya, gan?“ tanya Aris yang kebingungaan.

“Bukannya lo selalu bangga dengan kemajuan teknologi apalagi yang menunjang segala pekerjaan lo,” ucap detektif Egan.

Setelah merenung sejak berusaha mengolah informasi yang diucapkan oleh detektif Egan akhirnya Aris mengerti apa yang diingikan oleh detektif Egan.

“Oh maksud anda, anda minta saya untuk mengirimkan kedua foto ini ke ponsel anda?!“ Aris berusaha memastikan bahwa apa yang dia tangkap sesuai dengan keinginan detektif Egan.

“Bukan cuma ke ponsel gue tapi juga ke ponsel Keiko,” sahut detektif Egan sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya.

“Baik gan!“ jawab Aris yang merasa bahwa kali inisudah menyelesaikan tugasnnya dengan benar.

“Hebat sekali! terima kasih banyak ya ris buat kerja keras lo selama inibuat bantuin gue dan Keiko,” ujar detektif Egan yang tersenyum penuh kepuasan dan tanpa banyak basa-basi meninggalkan ruangan Aris itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!