Tidak membutuhkan waktu yang lama hingga akhirnya Birdella bersama tim-nya sampai ke alamat yang telah dikirimkan oleh detektif Egan beberp saat lalu.
TOK!
TOK!
TOK!
Birdella mengetuk kaca jendela mobil di sisi detektif Egan yang sedang serius membaca buku.
ketukan di kaca jendela itu membuat detektif Egan kaget bahkan membuat detektif Keiko yang sedang setengah berbaring itu terperajat.
Detektif Egan menurunkan kaca jendelanya saat menyadari bahwa yang mengetuk adalah Birdella.
“Kenapa ngga lo jagain itu tempat kejadian perkara?“ tanya Birdella.
“Kan udah ada beberapa anggota polisi di sana,” ujar detektif Egan.
“Tapi itu kasus lo dan Keiko udah seharusnya kalian berjaga dan bertanggung jawab sama lokasi itu,” Birdella tak bisaa menerima alasan itu.
“Gue tahu SOP-nya tapi gue di sini juga dalam misi yang ngga kalah penting,” detektif Egan memberikan alasan yang lain.
“Sepenting apa?“ Birdella mendesak.
“Lo ngga lihat ini si Keiko lagi berbaring di sini,” jawab detektif Egan lagi.
Birdella melongok ke kursi sebelah dan melihat detektif Keiko yang sudah berbaring lagi dan tersenyum saat Birdella melihat ke arahnya.
Melihat pemandangan itu mendadak Birdella merasa khawatir.
“Lo kenapa Kei?“
“Ngga apa-apa kok dell,” jawab detektif Keiko yang tak ingin sahabatnya itu makin khawatir.
“Tadi dia habis ngejar tersangka dan ternyata malah hampir kolep,” detektif Egan menerangkan kondisi rekannya.
“Kenapa lo ngga bilang ke gue tadi?!“ protes Birdella pada detektif Egan.
“Kayak ngga kenal sama temen lo yang satu ini aja. Mana boleh bilang ke lo,” tutur detektif Egan.
Setelah bangkit dari rebahannya detektif Keiko langsung keluar dari mobil dan merentangkan tubuhnya mencoba menghilangkan rasa kaku di otot-ototnya.
Melihat itu detektif Egan pun meminta Birdella untuk menyingkir dari depan pintu mobilnya karena dia juga akan urun dari mobil.
Kini ketiganya berjalan menuju rumah yang menjdi tempat yang akan mereka periksa.
Di dalam rumah itu selain ada beberapa polisi yang berjaga untuk mengamakan tempat kejadia perkara ada juga beberapa anggota tim Birdella yang sedang sibuk memeriksa seisi ruangan itu.
“Prof, anda harus lihat ini,” ujar salah satu anggota tim Birdella, menuntun mereka ke bagian belakang rumah itu.
Di sana ada sekitar dua anggota Birdella yang sedang menyinari salah satu tembok dengan sinar biru dan di tembok itu terlihat sebuah pola berantakan.
“Apakah itu darah?“ tanya detektif Keiko.
“Temboknya sendiri bersih saat kami ke sini. Jadi kemungkinan meman darah tapi telah dibersihkan dengan pemutih,” anggota tim Birdella yang tadi membawa mereka ke tempat itu memberi jawaban.
Mereka memeprhtika pola pad tembok itu dan mulai berpikir sesadis apa yang dilakukan oleh pelaku kepada korban dan saat itu mereka menark kesimpulan bahw tempat ini adalah tempat korban dieksekusi oleh pelaku.
Ketika mereka bertiga sedang berdiskusi tiba0tiba seorang wanita mendatangi rumah itu dengan tergesa-gesa.
“Saya diminta ke sini oleh pihak kepolisian tadi. Ada apa ini?“ tanyaya penuh rasa bingung.
“Anda adalah?“ tanya detektif Keiko.
“Saya Angela, pemilik rumah inii,” jawabnya.
“Jadi anda pemilik rumah ini?! Apakah anda menyewakan rumah ini kepada seseorang?“ tanya detektif Egan.
“Betul, saya menyewakan rumah ini pada seseorang pada seseorang yang tak banyak permintaan,” jawab Angela.
“Apa anda tahu siapa nama penyewanya?“ tanya detektif Egan.
“Tentu saja saya megetahuinya. Saya tak akan menyewakan rumah kepada sembarang orang. Namanya adlaha Bondan Darma dan kebetulan saya membawa foto copy identitas yang diberikan saat pertama kali dia masuk ke sini,” cerita Angela smbil menyerahkan selembar footo copy surat izin mengemudi seorang laki-laki yang di dalamnya tertulis namanya Bondan Darma.
Detektif Egan memeriksa foto copy surat izin menegmudi itu dan hanya dalam sekali melihat detektif Egan bisa memastikan bahwa kartu identitas itu palsu.
“Palsu? jadi Bondan memberi saya kartu identitas palsu?“ ujar Angela seakan tak percaya.
“Anda lihat logo di atas fotonya?“ tanya detektif Egan dan dibalas dengan anggukan kepala Angel.
“Nah itu yang membuat saya yakin bahwa itu palsu,” sambung detektif Egan.
“Padahal Bondan adalah orang yang ramah dan murah senyum,” Angela berusaha mengingat-ingat lagi bagaimana sikap Bondan saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.
“Bagaimana dengan pembayarannya untuk sewa tempat ini?“ tanya detektif Keiko.
“Dia sudah membayar satu tahun penuh untuk rumah ini dengan uang tunai,” sebuah senyuman penuh kegembiraan terlukis jelas pada wajah Angela.
Detektif Egan justru merasa bahwa membayar segala hal termasuk membayar uang untuk sewa tempat dengan uang tunai adalah sebuah indikasi yang mengarah pada hal yang mencurigakan.
Karena dengan menggunakan uang tunai maka jejak seseorang akan sulit untuk dilacak oleh pihak yang berwenang.
“Apakah anda tak merasa curiga?“ tanya detektif Egan pada Angela yang ternyata sama tidak perduli sama sekali dengan fakta tersebut.
Bagi Angela uang yang diterima olehnya adalah yang paling penting.
“Apakah foto ini sama dengan wajah asli Bondan?“ tanya detektif Keiko sambil kembali menunjukan foto copy identitas itu kepda Angela.
“Iya jelas sekali itu wajah Bondan,” jawab Angela penuh keyakinan.
“Setidaknya kini kita tahu bagaimana wajah pelaku,” tutur detektif Egan merasa beruntung setidaknya tidak semua di kartu identitas itu palsu.
Ketika kedua detektif itu sedang berbincang, tiba-tiba ponsel detektif Egan di dalam kantung jaketnya berbunyi.
“Halo, dengan detektif Egan di sini,” ucapnya saat dia menjawab panggilan telepon itu.
“Halo detektif Egan yang terhormat. Tolong jangan ganggu pekerjaan saya karena saya tak suka jika ada yang mengganggu apa yang sedang saya kerjakan. Saya bisa saya menemui anda dan memberi anda sebuah pelajaran yang membuat anda kapok untuk mencampuri urusan orang lain,” sebuah suara berat berbicara di ujung telepon itu mencoba untuk mengancam detektif Egan.
“Oh ya?! jadi anda tak suka diganggu? Kalau saya tak suka diancam oleh seseorang seperti sekaarang ini. Bagaimana kalau anda cari saya sekarang? Karena saya juga ingin sekali memberi sebuah pelajaran berhaarga untuk anda,” detektif Egan yang tak pernahmerasa takut justru menantang si penelepon.
Mendengar apa yang dikatakan oleh detektif Egan, si penelepon justru tertawa terbahak, seolah juga tak gentar mendapatkan perlawanan dari detektif Egan.
“Nanti akan ada waktunya kita bertemu detektif, hanya ada anda dan saya. Untuk saat ini kita berpisah dulu detektif. Adios!“ lalu si penelepon mengakhiri sambungan telepon itu.
Mendapatkan ancaman seperti itu tentu saja detektif Egan merasa sangat kesal.
“Dia pikir dia siapa mengancamku seperti itu? Berani-beraninya Bondan melakukan ini,“ umpat detektif Egan dengan yakin menganggap bahwa yang menghubunginya adalah Bondan, sementara itu detektif Keiko hanya bisa melihat tanpa bisa memberi rekasi apapun.
“Maaf!“ ujar Angela sambil mengangkat tanganya sedikit berusaha meminta perhatian detektif Egan yang masih diselimuti amarah yang cukup besar itu.
“Tapi suara penelepon itu bukan suara suara Bondan,” ucap Angela begitu mendapatkan perhatian dari detektif Egan.
“Anda yakin?!“ tanya detektif Keiko.
“Seratus persen saya yakin!“ balas Angela.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments