Bab Tiga

Seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun berjalan masuk ke dalam ruangan divisi di bawah kepemimpinan pak Brox setelah keluar dari dalam lift yang bru saja berhenti tepat di lantai tempat divisi 810 berada.

Laki-laki itu yang berperawakan lumayan gagah dengan otot-otot kecil yang sedikit menyembul dari kemeja beige yang dia gunakan hari itu, menandakan bahwa dia adalah orang yang senang akan olah raga.

Dengan tinggi badan di atas rata-rata dan wajah manis membuatnya sedap dipandang mata bahkan oleh sesama laki-laki. Namun walau begitu dia juga terlihat kusut hari ini karena sepertinya dia kurang istirahat

ketika melihat laki-laki yang berjalan tertatih menuju ruangannya kerjanya, detektif Egan dengan segera mendekat untuk menemuinya dan menyambutnya sehangat mungkin sebisanya.

POV detektif Egan..

“Detektif Egan?“ tanya laki-laki itu berusaha memastikan bahwa orang yang ada di hadapannya adalah orang yang menghubunginya beberapa waktu lalu dan mengundangnya untuk datang ke kantor polisi.

“Betul sekali, saya detektif Egan. Apakah anda Arjuna Sukmadjaya?“ gantian kini aku yang bertanya untuk memastikan bahwa aku tak salah bertemu dengan orang.

“Betul. Saya adalah Arjuna. Apakah saya diminta ke sini sekarang terkait dengan keberadaan istri saya?“ tanya Arjuna.

Setelaha sama-sama yakin bahwa kami menemui orang yang benar kemudian aku pun mengarahkan Arjuna, suami korban untuk berjalan menuju ruang khusus yang disediakan oleh divisi itu untuk para keluarga korban yang memang diundang oleh pihak kepolisian untuk mencoba mencari informasi tambahan yang akan membantu mereka guna menyelesaikan kasus yang sedang berjalan.

“Silahkan anda tunggu di sini sebentar ya pak Arjuna. Saya akan segera kembali,” ujarku setelah mempersilahkan Arjuna untuk duduk.

Arjuna duduk di sebuah ruangan yang dicat dengan warna biru terang guna menghadirkan rasa nyaman dan tenang terhadap mereka yang masuk ke dalamnya.

Diharapkan dengan hal itu mereka, keluarga korban bisa dengan tenang mendengar kabar duka atau juga memberi informasi terkain korban yang bisa dijadikan data yang membantu para detektif untuk menyelidiki.

Kemudian aku pun keluar untuk memanggil rekanku, detektif Keiko. Seperti biasanya, bagiku maupun detektif Keiko, menghadapi dan memberitahukan tentang berita duka kepada keluarga korban adalah sebuah bagian paling berat dari pekerjaan kami ini.

“Apakah suami korban sudah sampai?“ tanya detektif Keiko saat melihatku sudah kembali ke meja kerja.

“Sudah,” jawabku singkat sambil mencari segala hal yang bisa membantuku bisa tenang memberikan kabar duka kepada Arjuna.

Detektif Keiko pun berdiri lalu memegang pundakku dan berkata, “Kita lakukan bersama-sama. Seberat apapun buat kita, buat keluarga korban pasti jauh lebih berat. Gue pernah ada di posisi itu, lo tahu itu,” ujar detektif Keiko dengan kesedihan yang masih tersisa di nada bicaranya.

Aku yang mengerti betul maksud dari rekanku itu mengnggukan kepala dengan pelan sambil berusaha mengusai diriku sendiri, karena bagaimana pun bagiku pekerjaan yang satu ini tetaplah berat.

Detektif Keiko berjalan terlebih dahulu sambil membawa map berisi kertas dan pulpen, bersiap untuk kemungkinan adanya hal yang perlu dia catat dari obrolan kami dengan suami korban nanti. Namun sementara itu aku memilih sejenak berjalan menuju pantry mengambilkan minuman untuk suami korban yang mungkin membutuhkannya saat mendengar berita yang akan kami sampaikan di ruangan itu nanti.

Setelah selesai dari pantry pun segera masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa segela air putih dengan suhu ruangan dan aku letakan tepat di depan suami korban yang masih duduk dengan tegang menunggu dan menerka-nerka kabar apa gerangan yang akan di dengar dari kedua detektif yang ad di ruangan itu bersama dengan dia.

“Terima kasih banyak!“ ucap suami korban, lalu dia mengambil gelas itu dan segera meminumnya hingga hanya sisa setengah.

Sementara itu, detektif Keiko yang sudah masuk terlebih dulu sudah duduk di kursi tepat di sebrang suami korban dan mereka pun saling bertukar pandangan seolah saling memerintah untuk memulai pembicaraan yang pada akhirnya mengabarkan kabar duka itu kepada suami korban.

“Pak Arjuna, kami akan mengabarkan sesuatu,” detektif Keiko yang akhirnya memulai.

“Apakah ini tentang istri saya, Sephia?“ tanya Arjuna dengan nada penuh harap da semangat.

Detektif Keiko meleparkan pandangan ke arahku yang sama kebingungannya dan resah saat mendengar pertanyaan dari Arjuna itu.

“Sebenarnya kami akan mengabarkan sebuah berita duka kepada anda,” aku melanjutkan bicara dan raut wajah suami korban berubah seketika.

Wajah penuh harap itu kini berubah kebingungan namun seolah sudah bisa menebak apa yang akan dia dengar dari kami, para detektif, wajahnya kini menjadi kelabu seolah ada awan hitam di atas kepalanya yang menutupi sinar yang jatuh ke wajahnya yang manis itu.

“Kami menemukan sesosok jasad perempuan di jalur lari taman kota yang kami identifikasikan sebagai istri anda, Sephia Sukmadjaya,“ aku yang sudah bisa mengusasi diri berusaha memberi informasi itu dengan keyakinan penuh agar suami korban pun tak menerka-nerka dan masih memiliki harapan palsu dalam dirinya.

Mendengar apa yang dikatakan olehku itu, wajah suami korban menjadi semakin pucat dan dengan nada bergetar dia berusaha memastikan apa yang baru saja dia dengar, “Apakah kalian sudah sanagt yakin bahwa itu adalah Sephia saya? Apakah benar istri saya?“

“Kami menemukan kartu identitas istri anda di tempat kejadian perkara dan kami sudah mengkonfirmasi baik data yang tertulis di kartu identitas itu dengan pengenal wajah dan sidik jari korban di data base kami, dengan menyesal kami pastikan bahwa itu memang adalah istri anda,” jawab detektif Keiko dengan nada yang juga penuh dengan rasa sedih.

Suami korban meletakkan gelas yang masih dipegangnya sejak tadi dan memundurkan duduknya berusaha menarik nafas dalam yang seolah sulit dia lakukan walau seharusnya ini adalah kegiatan sehari-hari yang bahkan sering kali dia tak menyadari melakukannya.

Detektif Keiko merasa khawatir melihat keadaan suami korban namun saat dia akan maju ke arah suami korban, tapi aku berusaha untuk menahannya.

Mereka harus memberi ruang bagi suami korban yang sedang berusaha mengolah informasi yang dia terima, memvalidasinya dan sedikit demi sedikit menerima keadaannya itu.

Sekali lagi, hari ini aku dan Keiko harus melihat sebuah pemadangan memilukan yang menyayat hati kami. Sebuah pemandangan yang selalu membuat kami merasa amat tak nyaman dan sebisa mungkin kami hidari walau kenyataannya dalam pekerjaan ini, kami harus selalu menghadapi situasi itu bahkan tak jarang ksmi justru harus berusaha tegar untuk menguatkan keluarga korban dan menjadi orang yang bisa mereka andalkan dalam situasi yang tak mengenakan ini

Terpopuler

Comments

mama galaau

mama galaau

lanjut... tp kadang pelaku adalah orang terdekat korban
mreka syok bukan karena mendengar kabar kematian itu. tp syok+ takut aksinya terbongkar

2023-10-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!