Bab Empat

Setelah wajah Arjuna, suami korban sudah kembali sedikit memerah, hilang pucatnya sedikit demi sedikit yang bertanda bahwa semuanya kini sudah baik-baik saja seperti sedia kala.

Suami korban kini sudah bisa bernafas kembali seperti bisa dan seakan telah bisa menguasai dirinya lagi wlau pun dengan susah payah, dia kembali menegakan posisi duduknya.

“Apakah kalian sudah menemukan bedeb** yang melakukan semua ini kepada istri saya?“ tanya suami korban masih dengan suara bergetar yang sekuat tenaga berusaha dia sembunyikan.

“Sayang sekali Arjuna, kami belum menemukan pelakunya namun bisa kami pastikan bahwa kami akan menangkapnya demi kedamaian mendiang istri anda,” jawabki dengan yakin juga berusaha menguatkan suami korban.

“Maka dari itu kami sungguh sangat butuh bantuan dari anda agar kami bisa secepatnya menangkap pelakunya,” tambah detektif Keiko penuh rasa harap.

“Tentu saja! Apa pun akan saya lakukan, pertanyaan anda akan saya jawab, barang apapun yang perlu saya serahkan kepada pihak kepoliasan akan secepatnya saya berikan karena yang penting sekarang ini adalah kalian harus memberikan kepastian kepada saya bahwa kalian akan menangkap si br****** itu dan memberikan hukuman yang paling setimpal dengan apa yang telah dia lakukan pada istri tercinta saya,” kesedihan di suara suami korban kini berubah menjadi sebuah amarah yang terdengar amat nyata dan seolah bisa meledak kapan pun tanpa bisa diduga.

“Jadi mari kita urutkan kembali semua sejak awal. Kapan tepatnya anda melaporkan hilangnya istri anda itu?“ tanyaku memulai sesi tanya jawab ini dengan Arjuna, suami korban.

“Kemarin sore, saya melaporkan kehilangan Sephia kemarin sore saat dia tak kembali di waktu yang seharusnya. Seperti biasa, istri saya pergi di siang hari menuju sore untuk melakukan jogging, sebuah kebiasaan yang selalu dan sudah dia lakukan bahkan sebelum kami menikah dulu,” suami korban mulai bercerita sekaligus menjawab pertanyaan dariku.

“Jadi seharusnya korban sudah mengenal tempat lari itu dengan baik bukan!?“ aku mencoba mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dari sang suami.

“Istri saya itu baru ikut saya kembali ke kota ini sekitar dua tahun lalu setelah kami sudah menikah. Sebelumnya dia tidak tinggal di sini tapi tinggal di kota lain bersama keluarganya. Tapi jika kalian bertanya apakah dia mengenal kota ini dengan baik terutama taman kota itu? saya bisa jawab bahwa kemungkin besar dia sudah tahu walau tidak secara keseluruhan,” suami korban menjawab pertanyaan itu dengan mudah.

“Kenapa anda tak mencoba mencari korban di jalur dia biasa lari tadi malam? Kenapa harus melaporkan dahulu kepada pihak kepolisian? Bukankah akan lebih mudah jika anda mencari istri anda sendiri, seperti kata anda istri anda hampir setiap hari jogging tentu anda mengetahui jalur yang biasa istri anda lalui?!“ tanya detektif Keiko sekalian membaca reaksi suami saat diberikan pertanyaan semacam itu.

“Istri saya memang biasa jogging sekitar satu jam dan tak pernah lebih dari empat kilometer jaraknya dari rumah kami tiap harinya namun istri saya selalu mengganti jalur larinya dengan jangka waktu yang tak pernah kami berdua ketahui. Seperti yang kalian juga tahu, bahwa jalur lari di taman kota itu bercabang-cabang. Bahkan kadang dia tak pergi ke taman kota tapi dia biasa mencoba ke tempat lain untuk jogging karena istri saya mudah sekali bosan dan jujur saja kemarin itu saya tak mengetahui apakah dia memang lari di taman kota itu atau di tempat lain,” jawab suami korban lagi lalu kemudian tatapan korban mendadak kosong seolah jiwanya terlepas dari raganya yang masih duduk di hadapan aku dan detektif Keiko.

“Dengan kata lain hari itu anda tak tahu dimana keberadaan istri anda dengan tepat?“ tanyaku lagi berusaha menyadarkan Arjuna.

“Betul sekali seperti yang saya katakan tadi dan saat malam itu dia tak pulang seperti perkiraan jam biasanya dia pulang, saya langsung menghubungi 117 untuk melaporkan kehilangannya,“ dengan cepat jiwa Arjuna telah masuk kembali ke raganya.

Ruangan yang tak seberapa luas itu hening untuk sesat karena kondisi mulai tak kondusif lagi. Wajah suami korban kembali pucat seolah oksigen yang seharusnya masuk ke paru-parunya kembali terblokir dan dengan sigap detektif Keiko menghampirinya berusaha membantu sebisanya.

kemudian aku pun keluar ruangan itu dengan cepat untuk mengambil segelas air hangat lagi dan kembali ke ruangan itu secepat yang aku bisa sambil diliputi rasa khawatir yang mendalam.

Setelah melihat suami korban sudah kembali bisa menguasai dirinya lagi, aku pun memberikan air hangat yang aku bawa dari pantry.

“Apakah anda baik-baik saja, Arjuna?“ tanya detektif Keiko berusaha memastikan kondisi suami korban yang sekali lagi koleps.

Setelah meminum air hangat itu suami korban menganggukan kepala dengan pelan dan memberi sinyal bahwa dia baik-baik saja.

“Apakah anda bisa melanjutkan sesi tanya jawab kita atau lebih baik anda pulang untuk istirahat saja dulu dan kita bisa menjadwalkan ulang wawancara ini di kemudian hari?!“ detektif Egan memberi sebuah usulan yang bisa suami korban pilih.

Namun suami korban memilih untuk melanjutkan sesi tanya jawab ini karena ingin sesegera mungkin menyelesaikan kasus ini dan pihak kepolisian menangkap pelaku yang harus bertanggung jawab atas hilangnya nyawa istri tercintanya.

“Kita teruskan saja, demi istri saya, saya bisa melakukannya,.“

Setelah mendapat persetujun itu, akhirnya aku dan detektif Keiko memutuskan untuk melanjutkan sesi tanya jawab itu dengan suami korban yang kondisinya kini sudah jauh lebih baik.

“Apa yang dikatakan oleh pihak 117 kepada anda malam itu Arjuna?“ tanyaku berusaha mencari informasi lagi.

“Malam itu mereka berjanji kepada saya untuk menemukan istri saya dan mereka juga mengatakan bahwa dia telah meneruskan laporan saya kepada divisi yang memang mengurusi orang hilang saat itu juga,” jawab suami korban lagi.

“Memang seperti itu prosedurnya arjuna,” ujarku menyetujui apa yang dilakukan oleh suami korban.

“Mereka memang menepati janji mereka kepada saya untuk menemukan istri saya tapi sungguh saya tak pernah berharap bahwa mereka menemukan istri saya dalam keadaan seperti ini.“

Air mata yang tertampung di bagian bawah mata suami korban yang sudah sekuat tenaga ditahannya seolah hampir jatuh membanjiri wajahnya yang cukup gagah itu.

“Mungkin kalian akan menanyakan kepada saya bagaimana cara saya yakin bahwa istri saya selalu mencapai titik empat kilo meter setiap kali melakukan jogging? karena setiap minggu kami berdua akan sama-sama mengecek gelang pemantau yang memang tersambung dengan perangkat komputer kami di rumah. Sebuah gelang pemantau yang saya berikan kepadanya sebagai hadiah ulang tahun tahun lalu dan saya masih ingat betul bagaimana wajah bahagia istri saya saat menerima kado itu,” lanjut suami korban dengan berurai air mata yang sudah tak mampu dia tahan lagi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!