Bab Enam belas

Di saat detektif Egan masih menikmati aroma kemenangan di udara yang dihirupnya di dalam ruangannya, Aris yang biasanya hanya berdiam di dalam laboratorium yang sekaligus goa suci tempatnya menikmati kehidupanya yang berada beberapa lantai di atas ruangan detektif Egan dan Keiko kini tiba-tiba saja turun ke ruangan divisi pemb*nuhan itu.

“Teman-teman, saya ada info baru buat kalian,” ujar Aris penuh semangat.

“Selamat pagi ris!“ sambut detektif Egan setengah kaget.

“Sela… mat pagi,” balas aris.

“Wah kita sepertinya kedatangan tamu,” tambah Aris.

“Perkenalkan ris, ini detektif Abraham. Detektif Abraham adalah seorang detektif dari divisi yang sama dengan gue dan Egan dari wilyah Spring hill,” detektif Keiko memperkenalkan.

“Hai! Saya Aris yang bekerja membantu detektif Egan dan Keiko dalam hal-hal sepele,” ujar Aris sambil menyodorkan tangan kanannya kepada detektif Abraham.

“Abraham, detektif Abraham Brown,” sahut detektif Abraham sambil menyambut tngan Aris.

“Hal-hal sepele? Kalau ngga ada lo gue sama Keiko bakal sangat sering ketemu kesulitan,” bantah detektif Egan.

“Ah apalah artinya saya,” ucap Aris berusaha terus merendah.

“Aris ini yang biasa membantu kami memecahkan segala hal yng berkaitan dengan barang bukti berupa apapun yang dia kerjakan di lab miliknya,” detektif Keiko berusaha menjelaskan tugas Aris kepada detektif Abraham.

“Ah, kamu termasuk dalam tim forensik?!“ ujar detektif Abraham.

“Iya, saya termasuk dalam tim forensik di sini,” balas Aris.

“Sebuah pekerjaan yang sangat penting dalam sebuah penyelidikan,” sambung detektif Abraham.

“Betul, seperti yang saya katakan tadi, jika kami tak memiliki Aris mungkin kami akan lebih sering bertemu dengan kesulitan dalam memecahkan sebuah kasus,' timpal detektif Egan.

“Terima kasih atas pujian anda sekalian,” balas Aris dengan wajah memerah.

“Ngmong-ngmong lo ke sini mau ngapain ris?“ tanya dettektif Keiko.

“Oh iya, hampir aja saya lupa dengan tujuan saya ke sini,” ucap Aris yang kemudian mengambil remote di meja detektif Egan dan mengarahkannya ke monitor besar yang berada di tengah ruangan.

Sekali memencet remote sebuah foto kini terpampang di monitor di hadapan mereka.

Dua buah foto yang menampilkan wajah Bondan di dua tempat yang berbeda di tampilkan di layar monitor itu.

“Kamera pengawas yang tersambung dengan data base kantor kita menangkap wajah Bondan di beberapa tempat,” ujar Aris.

“Dimana aja dia berada?“ tanya detektif Keiko.

“Di foto yang ini, menurut info di fotonya, Bondan berada di sebuah tempat peminjaman mobil yang berada di jalan bintang,” Aris berusaha menerangkan.

“Apakah dia sedang berusaha melarikan diri lagi?“ ucap detektif Abraham yang khawatir bahwa tersangkanya akan berusaha menghilang untuk kedua kalinya.

“Bisa saja itu terjadi,” balas detektif Egan masih berusaha memenangkan sebuah perdebatan dengan detektif Abraham.

“Di foto kedua ini, Bondan sedang berada di sebuah toko bunga yang berada tak jauh dari sebuah pemakaman,” Aris seolah tak mau perduli dengan apa yang dikatakan oleh dua detektif di dekatnya itu dan kembali menyampaikan kondisi dan lokasi yang ada di dalam foto kedua.

“Apa nama toko bunganya?“ tanya detektif Keiko.

Aris mengarahkan sinar infra-red yang berada diremote yang dia pegang sejak tadi ke sebuah nama, “Toko bunga Aster di jalan kemangi.“

“Toko bunga Aster? Kalau ngga salah jaraknya cuma satu samapi dua kilometer dari sini,” ujar detektif Keiko sambil berusaha mengingat-ingat karena merasa pernah melewati toko bunga itu beberapa kali.

“Dan foto ini di ambil dari kamera pengawas di toko bunga itu sekitar sepuluh menit yang lalau,” Aris menambahkan informasi.

“Kalau kita bergegas kayaknya kita bisa meringkus Bondan,” ujar detektif Egan.

“Tapi Bondan akan pergi kemana?“ tanya detektif Abraham.

“Bukan waktunya untuk bercanda detektif Abraham,” protes detektif Egan.

“Kenapa anda menganggap saya bercanda detektif Egan?“ tanya dtektif Abraham dengan sungguh-sungguh.

Detektif Egan membelalakan kedua matanya dan bertanya kepaa detektif Abraham, “Jadi anda benar-benar tak bisa menebak dimana kemana kira-kira Bondan akan pergi?“

“Saat ini bukan waktu yang tepat buat kalian berdebat,” detektif Keiko berusaha menengahi.

Detektif Egan pun memasukan senjata api miliknya ke sarungnya yang selalu ditempatan detektif Egan di ikat pinggang yang selalu melekat di pinggangnya setiap hari.

Begitu pula dengan detektif Keiko yang memawa senjata apinya dan membawanya di balik rompi khusus miliknya dan detektif Abraham pun akhirnya ikut memepersiapkan senjata apinya

Ketiga detektif bergegas keluar dari kantor mereka dan meuju ke tempat yang kemungkinan menjadi tujuan dari Bondan selanjutnya.

*****

Bondan yang ternyata saat memang sudah membeli sebuah bucket bunga yang sejak awal dia niatkan untuk dia bawa berziarah ke makam ibunya.

Sebuah bucket bunga lili kesukaan ibunya yang juga bernama Lili, Bondan bawa di tangan kirinya dengan sebuah senyuman yang terukir di wajahnya yang dingin. Sungguh menjadi sebuah penampakan yang menakutkan di antara sepinya pemakaman umum itu.

Semilih angin di sore hari dan cahaya matahari yang mulai meredup menemani Bondan yang terus berjalan di antara barisan makam yang tersusun rapi dan jelas sangat terurus, semacam pemakaman kelas menengah ke atas yang tak sembarang orang bisa dimakamkan sebagus di tempat itu.

Bondan berhenti di sebuah makam yang di atasnya terdapat vas bunga yang berisi bunga Lili yang sudah mulai layu. Bondan mengambil bunga itu dan menggantinya dengan hunga baru yang dia bawa.

Kemudian Bondan berlutut di depan makam ibunya lalu melengkungan bibirnya lalu berkata, “Ma, aku datang lagi. Aku juga bawakan mama bunga Lili kesukaan mama.“

Kemudian Bondan menundukan kepalanga dan mulai melantukan sebuah doa di dalam hatinya.

Hanya beberapa menit kemudian Bondan pun kembali mengangkat kepalanya dankembali berbicara dengan makam ibunya, “Terima kasih ma sudah menjaga arang-barang milikku.“

Kali ini Bondan menggali tanah dimana makam ibunya berada hanya menggunakan kedua tangannya tanpa alat bantu apapun dan hanya butuh sedikit kesabaran hingga akhirnya dari dalam tanah menyembul sebuah tas berwarna gelap.

Melihat tas itu, senyuman Bondan yang sempat hilang kini kembali terukir mulus di wajah dinginnya lalu dia pun mulai tertawa kecil.

Baru saja Bondan akan mengangkat tas dari dalam tanah itu ketika sebuah suara menghentikan kegiatannya.

“Jangan bergerak! Letakan apapun yang sedang kamu pegang itu,” teriak detektif Egan yang datang terlebih dahulu di lokasi itu kepada Bondan.

Bondan yang mendengar perintah itu mendadak mematung tak bergerak sedikit pun, namun dia tak meletakan tas yang sebagian kecilnya masih berada di dalam tanah.

“SAYA BILANG LETAKAN!“ sekali lagi detektif Egan beerteriak memerintahkan agar Bondan melepaskan tangannya dari tali tas itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!