“Gue denger ada gelang pemantau yang sedang lo pelajari dan coba cek buat menemukan petujuk baru buat kasus kita kali ini ya ris,” ujar detektif Egan begitu dia masuk ke dalam ruangan kerja Aris yang kini tidak lagi digabungkan dengan para peneliti lain di lantai khusus para peneliti dan tim forensik di kepolisian di wilayah itu.
Kini dengan rekomendasi dari Birdella sebagai salah satu petinggi dibagian analisa dan otopsi di kepolisian wilayah itu, maka Aris bisa mendapatkan sebuah ruangan sendiri yang walaupun ukurannya tak seberapa besar namun untuk alat-alat yang akan menunjang pekerjaannya sudah bisa dianggap lumayan lengkap dan yang pasti juga dia memiliki privasi sekarang ini.
Privasi ini pula yang pada akhirnya memberi keleluasaan bagi para detektif yang bekerja bersama dengan Aris untuk bisa bertanya tanpa harus menunggu bergantian dengan peneliti lain, termasuk juga untuk detektif Egan dan Keiko seperti saat ini.
Dan untuk urusan pekerjaan Aris pun sekarang ini bisa jadi jauh lebih cepat dalam melakukan pengecekan barang bukti dan hal lain karena dia tak perlu lagi menunggu bergantian alat yang akan digunakan olehnya karena dia tak perlu menunggu peniliti lain yang mungkin juga sedang menggunakan alat yang dia perlukan.
Seperti kali ini pun Aris sedang mengerjakan dan mengecek gelang pemantau yang aksesnya sudah diberikan oleh detektif Keiko kemarin sore dan tanpa banyak berbicara Aris langsung melakukan apa yang diminta oleh detektif Keiko dan Birdella itu.
“Ada sebuah fakta yang terjadi di sekitar kita yang sepertinya kamu harus juga tahu gan, bahwa ternyata ngga semua orang suka menggunakan gelang pemantau seperti yang dilakukan oleh korban kita,” jawaban yang diberikan Aris bukanlah jawaban yang diingikan oleh detektif Egan hingga membuat detektif Egan mengerutkan keningnya.
“Ada beberapa orang yang justru lebih suka kalau lokasi keberadaannya tak dketahui oleh siapa pun. Seakan berusaha melarikan diri dan tidak diketahui oleh siapa pun, kamu ngerti maksud aku 'kan gan?!” lanjut Aris.
“Maaf Aris, tapi gue beneran ngga ngerti apa maksud lo,” jawab detektif Egan secara terang-terangan kepada Aris.
“Kayak yang tadi saya bilang ke kamu, bahwa ngga semua orang ingin terdeteksi oleh orang lain tentang titik posisi dan keberadaannya namun aku sedang sangat beruntung karena aku bisa dengan mudah mengakses serta mengetahui rute yang biasa diambil oleh korban selama beberapa minggu terakhir karena sepertinya korban bukan tipe yang saya bicarakan sejak tadi,” Aris kembali mencoba memberikan pengertian kepada detektif Egan dan kini detektif Egan baru meyadari apa yang dimaksud oleh Aris sejak tadi setelah berputar-putar bercerita dan membuat detektif Egan justru semakin kebingungan dibuatnya.
“Bagus dong kalau gitu. Berarti kita tahu bahwa korban bukan tipe orang yang senang menyusahkan orang lain,” balas detektif Egan mulai merasa bersemangat kembali setelah beberapa menit merasa kebingungan.
“Seperti kata suami korban. Korban memang tak pernah lari lebih dari empat kilometer setiap harinya, justru dia selalu melakukannya dengan konsisten tapi…”
“Tapi kenapa ris?' karena Aris memotong kalimatnya di sana, tentu saja detektif Egan menjadi sangat penasaran.
“Hari dimana dia dilaporkan hilang oleh suaminya, dia belum lari sejauh empat kilometer dari titik awal dia menyalahan gelang pemantau karena kalau kita lihat di sini,” ujar Aris sambil menunjuk ke arah monitornya yang kini menampilkan foto korban dan di sebelahnya ada gambar peta yang didapat dari sotfware pada gelang pemanatau korban yang sepertinya adalah peta wilayah yang biasa dilewati oleh korban untuk kelakukan jogging setiap harinya.
“Jika kita liat hari pergerakan kecepatannya sangat berbeda dengan saat dia biasanya berlari,” lanjut Aris.
“Yang artinya?“ detektif Egan menunggu kelanjutan dari jawaban Aris.
“Saat di sini kemungkinan korban berada di sebuah kendaraan tapi tentu aja saya ngga bisa yakin kendaraan apa yang digunakan.“
“Jadi di saat itulah korban kita diculik?“ tanya detektif Egan kepada Aris.
“Kemungkinan terbesarnya memang seperti itu,” balas Aris.
“Apa lo udah menemukan alamat si pelaku dan tempat korban kita disekap ris?“ tanya detektif Egan dengan segala rasa penasaran yang memuncak setelah mendengar segala penjelasan dari Aris tadi.
“Kita memang harus banyak berterima kasih pada kemajuan teknologi pada saat ini. Berkat gelang pemantau korban yang dihadiahkan oleh suaminya dan alat-alat canggih yang berada di ruangan saya saat ini , saya dengan mudah bisa mendapatkan alamat tempat terakhir kali gelang pemantau itu berfungsi dan mungkin di sanalah korban kita kehilangan nyawanya,” jawab Aris dengan penuh percaya diri.
“Bagus kalau begitu! Namun gue rasa secanggih apapun teknologi yang berkembang pada saat ini tak akan ada artinya sama sekali kalau ngga ada orang-orang hebat macem lo ris,” puji detektif Egan pada Aris.
“Anda memang orang yang sangat baik, gan.“ Dengan wajah tersipu Aris menanggapi pujian yang dia terima dari orang yang paling dia kagumi itu.
“Jadi, apakah alamat itu bisa lo kirim ke ponsel milik gue dan Keiko secepatnya?“ tanya detektif Egan.
“Satu kali lagi kita bisa berterima kasih pada kemajuan teknologi yang pada akhirnya mempermudah pekerjaan kita semua,” balas Ariis.
“Yang artinya?“ tanya detektif Egan yang masih menunggu lanjutan dari jawaban dengan versi paling mudah dia mengerti dari Aris yang ternyata masih tersenyum bangga karena merasa bangga pada dirinya sendiri.
“Oh, maksud saya tentu saja saya bisa dengan sangat mudah mengrim alamat yang kamu minta itu ke Ponsel anda dan Keiko,” dengan kikuk Aris menjawab.
“Bagus kalau begitu, segera kirim ke ponsel gue sebagai bkti bahwa perkembangan teknologi saat ini sangat berarti buat pekerjaan kita ris,” sahut detektif Egan sambil melemparka sebuah senyuman kaku ke arah Aris yan kini berdiri kikuk di hadapan detektif Egan.
Ternyata senyuman yang diberikan oleh detektif Egan itu justru kali ini membuat kepercayaan diri Aris hilang seketika terbawa angin dingin dari senyuman detektif Egan yang kini tengah berjalan membelakangi Aris ttanpa perduli bahwa apa yang dia lakukan itu memberi efek pada Aris dan tentu saja detektif Egan terus berjalan keluar dari ruangan itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Sempat mematung selama beberapa detik namun akhirnya Aris segera sadar dan secepatnya mengirimi alamat yang sudah dia dapatkan dari pengecekan yang dia lakukan di perangkat komputernya ke ponsel milik detektif Egan dan Keiko sesuai permintaan dari detektif Egan sebelum meninggalkan ruangan Aris dan menyisakan rasa dingin yang begitu terasa nyata hingga ke tulang-tulang Aris bahkan hingga membuatnya merasa merinding untuk beberapa saat lamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments