Setelah pak Brox dihubungi oleh atasan detektif Abraham yang pada akhirnya mengkonfirmasi kebenaran dari semua pernyataan detektif Abraham maka pak Brox pun dengan resmi memasukan detektif Abraham dalam tim yang di dalamnya terdapat detektif Egan dan detektif Keiko juga.
Pagi itu baik detektif Egan maupun detektif Keiko sedang membahas sebuah tempat makan yang sangat cocokuntuk sarapan dan menjadwalkan sebuah sarapan yang tenang setelah menyelesaikan kasus ini.
“Sarapan apa yang cocok untuk saya?“ tiba-tiba pak Brox muncul diantara mereka.
“Bagaimana pak?“ tanya detektif Keiko yang kaget sekaligus kebingungan.
“Tadi saya dengar, sarapan yang cocok untuk kamu itu teh hangat dengan wangi melati dan sepiring roti manis. Lalu untuk Egan sarapan yang cocok adalah kopi hitam hangat denga nasi uduk dan katanya tempat makan itu bisa memilihkan sarapan yang cocok untuk seseorang. Jadi menu sarapan apa yang cocok untuk saya?“ pak Brox mengulangi pertanyaannya.
“Oh soal itu. Bapak harus datang sendiri ke tempat makan itu nanti mereka yang akan menganalisa menu sarapan apa yang paling cocok untuuk pelanggannya,” detektif Keiko berusaha menerangkan.
“Kalau begitu kalau kasus ini sudah selesai kita ke tempat makan itu sama-sama, saya yang traktir,” ujar pak Brox dan dilanjutkan dengan srak sorai tanda kebahagiaan dari detektif Egan dan Keiko.
“Makanya segera selesaikan kasus ini. Oh, iya sebentar lagi kita akan kedatangan seorang tamu,” lanjut pak Brox.
“Bukankah kita sudah biaa kedatangan tamu pak. Apakah tamu ini begitu istimewa?“ tanya detektif Egan.
“Nanti kalian juga kan tahu. Saya minta kalian menyambutnya dengan hangat seperti biasanya,” balas pak Brox.
Tak berapa lama, pintu lift di lantai itu terbuka dan seseorang berbadan tegap dengan pakaian yang rapi melangkah mendekat ke meja detektif Egan dan Keiko yang di sana juga masih berdiri pak Brox.
“Selamat pagi!“ ucap laki-laki yang baru saja datang itu sambil menampilan sebuah senyuman ramah.
“Selamat datang!“ sambut pak Brox.
Detektif Egan dan Keiko yang melihat laki-laki itu kaget luar biasa karena pagi ini berdiri detektif Abraham di hadaapan mereka berdua.
“Mulai hari ini detektif Abraham akan bergabung di dalam tim kalian samapai kasus ini selesai,” pak Brox memperkenalkan anggota baru dalam tim itu yang datang secara mendadak.
“Tapi kenapa dia harus masuk dalam tim kami,” detektif Egann protes.
“Tenang saya Egan, seperti yang saya katakan di awal. Detektif Abraham Brown akan ada di tim ini hanya sampai kasus ini selesai,” pak Brox mengulang informasi yang di awal sudah dia sampaikan.
Namun sepertinya detektif Egan tetap tidak merasa puas dengan jawaban yang diberikan oleh pak Brox tapi biar begitu pak Brox sepertinya sama sekali tidak perduli.
Setelah itu pak Brox segera meninggalkan meja detektif Egan dan Keiko yang dipenuhi rasa canggung dan dia kembali masuk ke dalam ruangannya.
Namun biar bagaimana pun, pekerjaan para detektif ini harus dilanjutkan kembali dalam keadaan seperti apapun.
Detektif Abraham meraih flashdisk yang dia bawa dan berusaha mencari sebuah perangkat yang bisa dia gunakan untuk flashdisk itu.
“Anda mencar sesuatu?“ tanya detektif Keiko yang meyadari kebingungan detektif Abraham.
“Apa kalian punya itu,” ujar detektif Abraham sambil menggambar sebuah kotak di udara.
“Maksud anda?“ tanya detektif Keiko yang kebingungan.
“Kami menyebutnya CPU,” lanjut detektif Abraham dengan nada meremehkan.
Detektif Egan menarik sesuatu di bawah meja dan di dalam sana ternyata ada sebuah CPU yang tersambung pada perangkat komputer milik detektif Egan.
“Maksud anda ini?!“ balas detektif Egan dengan nada yang tentu saja juga meremehkan.
“Ternyata kalian juga punya, saya pikir kalian tidak memilikinya,” timpal detektif Abraham.
“Jadi menurut anda, bagaimana cara kami menyalakan komputer-komputer ini pak?“ balas detektif Egan.
“Apakah harus kami tegaskan kepada anda bahwa yang sudah tua dan sepertinya ketinggalan jaman itu adalah anda. Kami ini orng-orang muda yang sangat mengikuti perkembangan teknologi.“
Detektif Egan jelas sekali ingin membalas penghinaan dari detektif Abraham yang memang sudah memasuki usia akhir pensiun. Karena sepertinya dteektif Abraham merasa bahwa dia sangat perlu menghina kantor wilayah di tempat detektif Egan bekerja namun tanpa dia sadari bahwa ternyata dia adalah orang yang paling tertinggal soal kemajuan teknologi.
Karena sudah merasakalah dalam perdebatan ini, detektif Abraham kembali sibuk dengan pencariannya akan colokan yang cocok dengan flashdisk yang dia bawa di saku jasnya sejak tadi.
“Sebenernya apa yang ingin anda lakuka detektif?“ tanya detektif Egan yang sudah mulai gemas melihat gerakan detektif Abraham yang terlihat lamban.
“Saya mencari colokan untuk flaskdisc ini,” jawab detektif Abraham.
“Untuk apa itu?“ tanay detektif Keiko ingin tahu.
“Kamu bahkan tak tahu gunanya flaskdisc ini detektif,” balas detektif Abraham yang merasa menemukan celah baru untuk menghancurkan mental seorang detektif muda.
“Tentu saja rekan saya ini tahu apa gunanya sebuah flashdisc. Yang dia tanyakan apa yang akan anda lakukan dengan mencolokan flashdisc itu,” sahut detektif Egan yang lagi-lagi justru menjatuhkan mental detektif Abraham.
“Tentu saja saya akan memberikan kalian info menyangkut korban yang dihabisi oleh Bondan. Di dalam sini terdapat beberapa kumpulan foto korban yang sudah kami kumpulkan di tempat kejadian perkara di wilayah kami,,” detektif Abraham masih berusaha menyelamatkan dirinya.
Detekif Egan menunjukan sebuah lubang di CPU itu dan dengan wajah penuh kebahagiaan detektif Abraham mencolokkan flashdisknya.
Detektif Egan dan Keiko berdiri di depan layar monitor di atas meja detektif Egan.
“Ngapain kalian di sana?“ tanya detektif Abraham.
“Melihat kumpulan foto korban yang ingin anda tunjukan kepada kami,” jawab detektif Keiko.
“Bukankah seharusnya kumpulan foto itu akan ditampilkan di layar itu?“ detektif Abraham menunjuk ke arah layar monitor besar yang berada di tengah ruangan.
“Kenapa anda tidak bilang sejak tadi detektif,” gerutu detektif Egan.
“Ada apa? apa salah saya?“ detektif Abraham ikut menggerutu.
“Anda tidak salah detektif hanya saja anda kurang jelas memberi arahan kepada kami,” balas detektif Keiko berusaha untuk sesopan mungkin.
Detektif Egan mencabut flashdisc yang masih tertancap di CPU miliknya dan berjalan menuju sebuah perangkat yang berada di dekat layar monitor yang berada di tengah ruangan itu.
Sebentar detektif Egan berdiri di sana dan mengutak-atik sebentar hingga akhirnya kumpulan foto korban yang dimaksdu oleh detektif Abraham kini sudah terpamang di layar monitor besar di tengah ruangan itu seperti yang inginkan oleh detektif Abraham.
“Ini adalah apa yang sejak tadi saya maksud,” ujar detektif Abraham yang kemudian berjalan mendekat ke layar monior itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 39 Episodes
Comments
Ismi Kawai
mantap kak, jangan kasih kendor
2023-06-24
1