Bab Sepuluh

Detektif Egan segera kembali ke ruangan kerjanya sendiri, turun menggunakan lift sambil sesekali memeriks ponselnya, berjaga-jaga jika ada hal baru yang mungkin terlewatkan olehnya.

Saat pintu lift terbuka, pak Brox sedang berdiri sambil memperhatikan angka yang menunjukan posisi lift di atas pintu.

“Dari mana?“ tanya pak Brox sambil melangkah masuk ke dalam lift.

“Dari ruangan Aris pak,” jawab detektif Egan yang justru melangkah keluar lift.

“Laporkan kepada saya jika ada perkembangan baru,” balas pa Brox yang memencet tombol untuk menutup pintu lift dan detektif Egan hanya tersenyum menjawab perintah pakpak Brox.

Sesampainya di ruang kerjanya detektif Keiko sedang sibuk dengan beberapa hal di mejanya.

“Udah terima pesan dari Aris?“ tanya detektif Egan.

“Aris ngirim apa?“ tanya detekitif Keiko sambil meraih ponsel yang tergeletak di atas meja tepat di hadapannya dan mengeceknya.

Detektif Egan kemudian mengirimkan file ke komputer yang biasa mereka gunakan untuk memeriksa beberapa barang bukti yang berupa video atau pun kumpulan foto.

“Coba lo lihat ini deh,” ujar detektif Egan.

Detektif Keiko yang awalnya masih sibuk mengecek ponselnya kini berdiri dari duduknya dan melihat ke layar besar di ruangan mereka itu.

Di layar itu kini terpampang beberapa foto yang tadi detektitf Egan lihat di ruangan Aris. dan kini kedua detektif itu berusaha memperhatikan setiap foto dengan seksama.

“Menurut lo, apa yang kita dapat dari kumpulan foto-foto ini?“ tanya detektif Egan.

Detektif Keiko nyatanya membutuhkan beberapa waktu hingga akhirnnya dia menyadari apa yang telah di sadari detektif Egan sejak di ruangan Aris tadi.

“Yang di depan ini pelaku kita 'kan, Bondan?“ tanya detektif Keiko.

“Betul!!“

“Terus laki-laki dengan kaca mata hitam dan masker itu siapa?“ tanya detektif Keiko begitu menyadari akanya laki-laki yang sepertinya selalu mengikuti tersangka mereka.

“Itu dia, dia itu maksud gue. Tapi sayangnya Aris belum bisa menganalisa laki-laki itu melalu foto ini,” ujar detekif Egan.

Detektif Keiko memperhatikan kumpulan foto itu dengan seksama dan mulai mengelola informasi yang dia terima di dalam kepalannya.

“Apa mungkin mereka sebenarnya sersekongkol,” ujar detektif Keiko.

“Maksud lo?“

“Maksud gue, apa mungkin sebenarnya laki-laki yang ada di belakang tersangka kita itu adalah kaki tangan tersangaka?“ detektif Keiko mulai menarik kesimpulan yang dia buat sendiri.

Detektif Egan merassa kagum dengan pola berpikir detektif Keiko. Detektif Egan yang awalnya tak memeikirkan hal itu justru merasa bahwa hal itu bisa sangat masuk akal.

“Jangan-jangan, orang yang menghubungi lo kemarin itu adalah laki-laki ini, makanya suara yang kita dengar kemarin bukan suara yang familiar buat bu Angela,” tutur detektif Keiko.

Mendengar hal itu pun, detektif Egan semakin merasa yakin bahwa semua hal itu seolah puzzle yang mulai tersusun rapi dah membuat semua semakin masuk akal.

“Jadi tersangka kita tak melakukan semua kejahatan ini sendiri,” ujar detektif Egan sembari berpikir.

“Kemungkinan itu bisa kita masukan ke dalam hal yang bisa saja terjadi bukan?!“ balas detektif Keiko.

Saat detetif Egan dan Keiko sedang berusaha meyakinkan diri mereka masing-masing dengan kemungkinan yang paling masuk akal dari kumpulan foto serta skenario di sekitarnya, ponsel detektif Egan dan Keiko berbunyi.

Kedua detektif itu meraih ponsel merek masing-masing dan mengecek info apa yang masuk yang ternyata adalah sebuah pesan yang dikirimkan oleh Aris.

Aris mengirimi kedua detektif itu sebuah foto baru dengan sebuah info di bawahnya.

“Bukankah ini foto laki-laki yang memakai masker dan kacamata hitam yang baru kita bahas?“ ujar detektif Keiko.

“Betul! Coba baca info di bawah fotonya deh,” detektif Egan mengarahkan.

Foto itu memprlihatkan laki-laki berkacamata hitam dan menggunakan masker itu sedang menaiki sebuah taksi.

“Foto kapan ini?“ tanya detektif Keiko.

“Ini ada waktu dan tempat dimana CCTV mengambil gambar laki-laki itu. Sekitar tiga puluh lima menit yang lalu,” balas detektif Egan.

“Apakah dia hendak melarikan diri?“ tanya detektif Keiko.

“Sayangnya kita tak pernah benar-benar tahu. Atau lebih parahnya mungkin kita akan kehilangan jejaknya kalau dia pergi keluar kota,” kelus detektif Egan.

“Kenapa lo begitu pesimis gan,” ujar detektif Keiko.

“Kenyataannya kita bakal kehilangan kaki tangan tersangka kita Kei,” balas detektif Egan masih merasa bahwa keadaan mereka tak baik.

“Lo lupa kalau kita ini punya Aris?“ ujar detektif Keiko penuh semangat.

“Bagaimana gue bisa lupa sama orang secerdas Aris. Tapi apa hubungannya dengan ini?“ tanya detektif Egan yang mulai kebingungan.

Detektif Keiko berjalan mendekat ke arah layar besar di kini mengganti tampilan di dalamnya dari foto-foto tersangka bersama orang yang mereka curigai sebagai kaki tangan si pelaku dan kini berganti foto orang itu yang tengah masuk ke dalam taksi yang akan membawanya entah kemana.

Detektif Keiko menunjuk salah satu titik di foto itu dan berkata dengan penuh rasa percaya diri, “Plat nomer di taksi ini terlihat sangat jelas.“

“Iya, lalu?“

“Kita bisa meminta Aris buat cek nomer plat mobil ini, balas detektif Keiko.

“Kita tahu bahwa taksi itu adalah milik sebuah perusahaan Kei, buat apa kita periksa lagi,” timpal detektif Egan.

“Egan, karena taksi adalah kendaraan umum yang dijalankan oleh sebuah perusahaan sudah pasti mereka punya catatan yang terperinci soal segala hal yang menyangkut kendaraan dan supirnya, bukan?“ detektif Keiko melemparkan pertanyaan kepada rekannya.

“Betul, lalu?“

“Kita minta Aris buat cari nama perusahaan yang mengelola taksi itu dan minta mada perusahaan itu daftar perjalanan taksi itu dan dari sana kita bisa mengetahui tempat yang dituju oleh laki-laki ini,” tutur detektif Keiko.

“Keiko, jarang sekali satu taksi hanya membawa satu penumpang dalam satu hari,” detektif Egan berusaha menyanggah.

“Ayolah Egan. Kita bisa minta sama perushaan itu untuk mengecek di waktu dimana kali-laki ini naik. Bukannya Aris udah memberi kita petujuk soal waktu kapan laki-laki ini naik?!“ ujar detektif Keiko lagi.

“Ya ampun! kenapa gue ngga mikir sampai ke situ ya?! andai bukan bareng lo mungkin gue melewatkan detail se penting ini,” puji detektif Egan.

“Sudah, ngga usah menerbangkan gue setinggi langit. Saat ini yang paling penting kita cari tahu kemana laki-laki berkacamta hitam ini pergi,” ujar detektif Keiko berusaha mengalihkan pembicaraan mereka karena sebenernya dia memang sudah merasa tersanjung saat mendengar apa yang dikatakan oleh rekannya itu.

“Oh iya, bener juga lo. Kita perlu menghubungi Aris supaya dia segera memeriksa dan mencari tahu soal data-data ini,” ujar detektf Egan sambil berjalan menuju ke meja kerjanya.

Detektif Egan mengangkat gagang telepon di mejanya, berusaha menghubungi Aris melalui intercome dan meminta Aris untuk mencari segala info yang terkait taksi yang membawa laki-laki berkacamata dan bermasker itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!