Bab Lima

“Bagaimana dengan suami korban Kei? Gimana keadaannya? Gue denger lo udah mengabari suami korban kemarin?“ tanya Birdella saat dia dan detektif Keiko berada di dalam ruang otopsi dimana Birdella masih memeriksa jasad Sephia yang kini memang sudah dipindahkan dari tempat kejadian perkara ke ruangan otopsi khusus Birdella.

Pagi ini detektif Keiko membawakan Birdella segelas americano panas dan sebuah pancake coklat yang memang sudah dipesan oleh Birdella sejak tadi malam saat mereka melakukan panggilan telepon.

Namun berbeda dengan detektif Keiko yang semalam berasa di rumah, sejak tadi malam Birdella justru menghabiskan waktunya di ruangan karena harus menyelesaikan beberapa laporan dari beberapa kasus berbeda yang dia bantu melakukan otopsi terhadap jasad-jasad itu.

Dan pagi ini Birdella memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya di ruang otopsi dengan melakukan pemeriksaan pada jasad Sephia, perempuan yang mereka temukan beberapa hari lalu di jalur lari pada taman kota.

“Seperti yang lo tahu, gue dan Egan paling benci bagian pekerjaan kita yang itu,” jawab detektif Keiko yang seolah baru sadar dari lamunannya.

Pekerjaan untuk mengabari keluarga korban masih jadi yang paling sulit bagi detektif Egan begitu juga bagi detektif Keiko.

“Berat pasti jadi suami korban, mengetahui bahwa istri yang dicintainya justru kini sudah tidak ada apalagi dengan cara yang buruk seperti ini. Gue juga pasti akan sedih kalau mendapatkan kabar seperti itu,” ucap Birdella sambil mengusap rambut Sephia seolah merapikannya, berusaha membuat tampilan Sephia tetap terlihat baik.

“Ya, gue amat mengerti kondisi suami korban kemarin itu karena gue juga pernah ada di posisinya dan mengenal rasa kehilangan itu dengan baik bahkan sampai hari ini rasanya masih tersisa di kehidupan gue,” balas detektif Keiko dengan tatapan yang menerawang jauh entah kemana.

Rasa kehilangannya terhadap kepergian Diatmika dengan cara yang tak wajar beberapa bulan lalu nyatanya masih begitu membekas di salah satu sudut hati detektif Keiko.

Bahkan di kasus yang dia tangani kali ini yang korbannya adalah juga seorang perempuan seolah membuat detektif Keiko kembali berhadapan dengan kasus Diatmika beberapa bulan lalu itu.

Sepertinya libur panjang yang diberikan oleh pak Brox selama beberapa minggu tak terlalu membantu detektif Keiko melupakan kejadian menyakitkan itu dan menghapusnya dari hidupnya.

Walaupun kini pelakunya memang sudah tertangkap dan mendekam di penjara dan dijatuhi hukuman yang tak main-maiin tapi keyataannya kehilangan Diatmika masih begitu terasa bagi detektif Keiko.

Birdella mendekat ke arah detektif Keiko dan memberikan detektif Keiko sebuah pelukan hangat berusaha membuat detektif Keiko tenang dan melupakan rasa perih itu walau pun hanya untuk sesaat.

“Maafin gue ya Kei. Gue ngga bermaksud bikin lo kembali lagi teringat dengan Diatmika,” ujar Birdella berusaha berbicara dengan nada serendah mungkin.

“Jangan merasa ngga enak soal itu dell. Pekerjaan gue ini memang selalu akan bersentuhan dengan segala hal yang akan mengingattkan gue pada kasus Diatmika. Gue cuma perlu lo tenangkan kayak gini,” detektif Keiko berusaha menenangkan sahabatnya itu juga.

Kemudian keduanya saling melepaskan pelukan mereka dan dan dalam sekejap mereka sudah kembali lagi fokus dengan pekerjaan mereka.

“Suami korban kelihatan sedih banget pas dia ceritake gue dan Egan kalau dia sempet menghadiahkan istrinya ini sebuah gelang pemantau setahun lalu. Suami korban membelikan itu karena tahu bahwa istrinya sangat suka olah raga terutama jogging bahkan sejak sebelum keduanya menikah. Sebuah kegemaran yang akhirnya membawanya pada ajal yang tak baik,” detektif Keiko menceritakan ulang apa yang dia dengar dari suami korban kemarin di ruangan khusus keluarga korban.

“Kata lo tadi, suami korban bilang kalau korban mengenakan gelang pemantau? yan biasa kita gunakan untuk mengecek detak jantung, tekanan darah, kadar oksigen, kalori yng terbakar?“ Birdella berusaha menyamakan apa yang dipikirkan olehnya dengan data valid yang dimilki oleh detektif Keiko.

Pertanyaan dari Birdella itu membuat detektif Keiko tersentak, jiwanya yang beberapa menit lalu melanglang buana ke masa lalu akhirnya kembali ke ruangan itu.

“Iya. Suami korban bilang kalau dia membelikan gelang pemantau itu sebagai hadiah ulang tahunnya setahun yang lalu karena dia mengetahui bahwa istrinya sangat suka jogging bahkan jauh sebelum keduanya menikah,” detektif Keiko mengulang kebali informasi yang tadi dia sampaikan kepada Birdella.

“Tapi seinget gue, gue ngga menemukan apapun apalagi gelang pemantau itu di tempat kejadian perkara waktu melakukan pemeriksaan di sana,” ujar Birdella berusaha mengingat-ingat apa saja yang dia temukan di sana.

“Begitu juga dengan gue. Bahkan Egan juga bilang ke gue kemarin setelah sesi tanya jawab selesai kalau dia juga ngga lihat apapun waktu dia nyoba nyisir tempat kejadian perkara beberapa hari lalu,” sahut detektif Keiko mencoba mengingat juga apa yang telah disampaikan oleh detektif Egan padanya.

“Apa lo udah tahu kode akses ke gelang pemantau itu Kei?“ tanya Birdella sambil merapikan pakaian korban yang baru saja dia copot dari tubuh korban guna mempermudah pekerjaannya melakukan otopsi pada jasad korban.

Bahkan Birdella menyusun pakaian-pakaian itu serta sepatu milik koban dengan sangat rapih seolah akan dia masukan ke dalam lemari pakaian miliknya sendiri.

“Belum. Gue harus tanya dan minta ke suami korban dulu nanti,” jawab detektif Keiko sambil memperbaiki duduknya yang sudah mulai merosot dari posisi semula di kursi yang memang disediakan oleh Birdella di ruangan itu untuk siapapun yang akan datang dan bertanya soal apapun yang berhubungan dengan otopsi yang sedang dia lakukan guna menambah info dalam kasus yang biasanya mereka kerjakan.

“Oh, oke! memang ada baiknya lo minta akses atau minimal pin gelang pemantau itu sama suami korban. Nanti lo bisa kasih ke gue dan gue bakal anter ke Aris. Atau kalau lo mau langsung serahkan ke Aris juga akan lebih baik,” Birdella mengusulkan hal itu sambil meminum americano miliknya yang sudah mulai hilang panasnya karena sudah terlampau lama berada di ruangan yang sebenarnya cukup dingin itu.

“Oke kalau begitu, secepatnya gue bakal kasih pin aksesnya ke lo atau Aris nanti setelah gue dapet dari suami korban!“ jawab detektif Keiko menyetujui usulan dari rekannya itu.

TOK!

TOK!

TOK!

Pintu ruang otopsi diketuk dari luar dan Birdella sebagai penguasa ruang otopsi itu langsung memberi ijin pada siapa pun yang berada di balik pintu itu untuk masuk.

Ketika pintu ruang otopsi itu terbuka, di ana berdiri Aris yang kedua tangannya sibuk membawa tas kertas yang terlihat penuh akan berbagai macam kudapan dan gelas kertas.

“Boleh saya masuk prof?“ tanya Aris meminta ijin.

“Masuklah ris, tak ada yang melarang,” jawab Birdella.

“Apa yang lo bawa itu?“ tanya detektif Keiko yang penasarn dengan isi kantung kertas yang dibawa Aris.

Aris melangkah mendekat ke arah detektif Keiko dan meletakan kntung kertas itu d hadapan detektif Keiko.

“Saya membawakan kalian es kopi dana beberapa makanan,” ujar Aris sambil mengeluarka seluruh isi kantung kertas itu.

“Gue udah punya kopi dan waffle,” ujar Birdella sambil mengangkat gelas berisi americano.

“Yah, saya beli ini untuk andajuga prof,” Aris terlihat benar-benar amat kecewa.

“Lo beliin gue ngga ris?“ tanay detektif Keiko.

“Tentu aja saya beliinanda Kei. Ini,” ujar Aris sambil menyerahkan gelas ke tangan detektif Keiko yang langsung meminumnya tanpa ragu.

“Wow, lo tahu kopi kesukaan gue,” detektif Keiko cukup kaget.

“Es kopi latte dengan gula aren,” jawab Aris.

“Luar biasa,” sahut detektif Keiko.

“Saya sering melihat Egan membelikan itu untuk anda,” balas Aris.

“Lo bener-bener pengamat yag luar biasa,” puji Birdella kepada bawahannya itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!