Bab Sembilan belas

Lift yang membawa kedua detektif berhenti di lantai yang seharusnya, pintu pun terbuka dan kedua detektif itu melangkah kaki mereka keluar.

Detektif Egan langsung mengarahkan laju kedua kakinya menuju ruang interogasi sementara detektif Keiko justru berusaha mencari keberadaan detektif Abraham terlebih dahulu.

Detektif Keiko membuka pintu sebuah ruangan yang memang disiapkan untuk detektif Abraham selama dia bergabung dengan tim merka tapi di sana dia tak bisa menemukan detektif Abraham.

Detektif Keiko pun berjalan menuju mejanya berharap dapat menemukan detektif Abraham di sana tapi sayang sekali di sana pun tak ada detektif Abraham di sana.

“Bagaimana Kei? Sudah kamu temukan dimana keberadaan detektif Abraham?“ tanya pak Brox yang langsung keluar dari ruangannya ketika melihat kehadiran detektif Keiko.

“Beberapa menit yang lalu detektif Abraham menghubungi saya pak,” ujar detektif Keiko memberitahu.

“Oh ya!? jadi dimana dia?“

“Detektif Abraham bilang bahwa dia berada di lantai ini.“

“Bagaimana dengan tersangka kita?“ tanya pak Brx berantusias.

“Detektif Abraham sudah membawanya ke ruang interogasi. Detektif Egan sudah ke sana dan saya juga akan ke sana sekarang,” detektif Keiko memberitahu.

“Bagus! ayo kita kesana.“

Pak Brox dan detektif Keiko berjalan beriringan menuju ruang interogasi. Namun sebelum keduanya sampai ke ruang interogasi detektif Egan menghentikan langkah kedua.

“Ini tas yang dibawa pelaku tadi,” Detektif Egan memperlihatkan tas yang tadi olehnya sejak tadi.

“Oke! kamu dan Keiko masuk ke dalam dan bawa tas ini sekalian kalian periksa isinya di dalam sana,” pak Brox memberikan sebuah perintah.

Baik detektif Egan maupun detektif Keiko pun menuruti perintah itu seperti perintah-perintah yang lainnya dari pak Brox.

Kini kedua detektif itu memasuki ruang interogasi dan detektif Egan menenteng tas yang cukup berat di tangan kanannya.

Di dalam ruangan itu tersangka sedang terduduk dengan tangan terbogol di depan. Tatapan tersangka yang dingin membuat suasana ruangan interogasi mendadak ikut dingin.

“Selamat datang ke ruangan kejujuran,” ucap detektif Egan memberi salam pada tersangka.

Detektif Egan dan Keiko ikut duduk di hadapan tersangka, dipisahkan sebuah meja. Detektif Egan lalu meletakan tas yang dibawanya itu ke atas meja dan membuka dan langsung memperlihakan isinya.

“Wow, lihat ini detektif Keiko. Pantas saja ini berat dan terasa sait saat mengenai kepalaku, ternyata isinya tumpukan uang tunai,” ucap detektif Egan saat melihat isi dari tas itu.

“Sepertinya banyak sekali. Ada berapa banyak ini?“ detektif Keiko melemparkan pertanyaan kepada tersangka yang tak mendapatkan jawaban apa pun.

Detektif Egan pun menemukkan sebuah pasport yang berada tepat di atas tumpukan uang-uang kertas tunai itu.

Dia membuka passport itu dan akhirnya untuk pertama kalinya detektif Egan mengetahui nama sebenarnya dari tersangka yang tengah terduduk di hadapan mereka bukan bukan Bondan Brown melainkan Brian Candra.

“Bagaimana rasanya selama ini selalu menggunakan identitas palsu Brian?“ tiba-tiba detektif Egan bertanya dan menyebutkan nama asli tersangka.

“Wow, ternyata nama asli anda Brian?! Agak sedikit jauh dari Bondan,” ujar detektif Keiko.

“Mana ada beda jauh, Bondan dan Brian. Ayolah detektif Keiko, itu sangat mirip, bukankah begitu Brian,” ledek detektif Egan.

Menerima semua pertanyaan dan pernyataan dari detektif Egan dan Keiko ternyata tak membuat tersangka merasa terintmidasi.

Laki-laki dingin yang tengah duduk di hadapan detektif Egan dan Keiko hanya tersenyum memberi kesan seram yang sebenarnya tidak membuat kedua detektif merasa takut.

“Apakah andaa menikmatinya, saat anda menghilangkan nyawa korban? Oh maaf salah, seharusnya saya mengatakan nyawa korba-korban karena nampaknya anda tak hanya satu kali menghilangkan nyawa seseorang, bukan begitu Brian?“ ujar detektif Egan.

“Kenapa anda diam saja? apa pertanyaan yang kami ajukan sejak tadi masih kurang jelas?“ tanya detektif Keiko.

Tersangka memundurkan duduknya seolah sedang duduk santai di rumahnya sendiri lalu dia berkata, “ Saya ngga akan menjawab pertanyaan apapun dari kalian sebelum pengacara saya datang.“

Detektif Keiko dan Egan salling bertukar pandangan, mencoba mengerti jalan pikiran laki-laki di hadapan mereka.

Sepetinya tersangka memang bukan orang yang bodoh, jutru dia terlihat cukup cerdas karena memilih untuk bungkam dan meminta seorang pengacara yang bisa membela dan memantunya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan menjebak yang bisa langsung menendangnya masuk ke dalam penjara.

Dari ruangan sebelah, pak Brox juga mengagumi lagkah yang diambil oleh tersangka. Meminta seorang pengacara untuk datang untuk mendampinginya adalah cara terbaik untuk melakukan sebuah kesalahan.

“Saya memiliki seorang pengacara yang biasa membantu saya dalam segala hal yang berhubungan dengan hukum,” ucap tersangka.

“Sepertinya anda sudah sering merepotkan pengacara nada Brian. Apa anda benar-benar sungguh menggembari kegiatan menghilangkan nyawa seseorang?“ detektif Egan berusaha memojokkan.

“Ayolah detektif, kantor polisi bukan hanya mengurusi kasus pembunuhan seperti yang anda tuduhkan kepada saya. Masih ada kasus lain misalnya saya diserang oleh orang lain,” sahut Brian sang tersangka.

“Ada orang yang ingin menyerang anda? Ayolah Brian, siapa yang berani menyerang orang seperti anda kecuali saya,” ucap detektif Egan.

“Apakah saya terlihat semenakutkan itu detektif?“ tanya Brian dengan seringai di wajahnya yang terlihat begitu menyeramkan.

“Ah, anda jangan terlalu percaya diri. Mereka bukan takut kepada anda tapi malas menghabiskan waktu berdebat dengan orang aneh seperti anda,” balas detektif Egan berusaha merendahkan tersangka di hadapannya.

Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut detektif Egan, Brian sekana terpancing. Wajahnya memerah dan kedua tangannya dikepalkan sempurna, semntara gigi-gignya seolah beradu menahan amarah yang seakan segera meledak memecahkan kepalanya.

Namun beberapa detik kemudian, Brian melonggarkan kepalan di kedua tangannya dan wajahnya yang memerah pun kini terlihat telah mereda serta gesekan di gigi-giginya pun sudah tak lagi dia lakukan. Justru kini sebuah senyuman menyeramkan yang menggantikan itu semua, senyuman yang sudah mulai biasa dilihat oleh detektif Egan dan Keiko.

“Anda akan memanggilkan pengacara saya atau tidak detektif?“ tanya Brian.

“Tentu saja, itu kan hak anda untuk bisa didampingi seorang pengacara,” ujar detektif Egtan.

“Serahkan saja nomor telepon pengacara anda dan kami akan menghubunginya untuk anda,” sambung detektif Keiko.

Detektif Egan menyodorkan kertas kosong dan pulpen sebagai sarana untuk Brian bisa menuliskan nomer telepon pengacaranya yang akan dihubungi oleh pihak kepolisian serta mengundang pengacara itu untuk datang.

Setelah Brian menuliskan nomer telepon pengacaranya, detektif Egan langsung mengambil kertas dan pulpen itu dan melempar pandangan kepada rekannya.

“Baik, kami akan menelepn pengacara anda sekarang. Jadilah anak manis dan duduk diam di sini sampai pengacara anda datang,” ucap detektif Egan.

“Tentu saja. Bagaimana saya bisa pergi dengan tangan terborgol seperti ini,” ucap Brian sambil tersenyum.

Detektif Egan pun keluar ruangan di ikuti detektif Keiko yang membawa tas yang berisi uang tunai da passport milik Brian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!