Anezaki mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sebenarnya dia merasa cukup bingung saat ini untuk menjelaskan apa yang telah terjadi kepada ayahnya. Namun akhirnya dia mulai menemukan sebuah alasan yang cukup masuk akal.
"Begini, Ayah ... sebenarnya aku mendapatkan sebuah keberuntungan. Aku mendapatkan sebuah voucher gratis untuk sebuah oprasi plastik dari sebuah rumah sakit yang saat itu sedang berbagi kebaikan kepada beberapa orang yang mengalami luka sepertiku. Maka dari itu aku tidak mau menyia-nyiakannya."
Ucap Anezaki dengan sangat hati-hati dan sebenarnya dia cukup merasa takut hingga dia meremas pakaiannya sendiri.
"Apapun itu terserah kamu saja! Asal kamu tidak menghambur-hamburkan uangku saja dan tidak merepotkanku saja!" sahut sang ayah yang kini berniat untuk meninggalkan ruang makan.
"Ayah baru saja pulang, makanlah sesuatu dulu baru istirahat." sergah Anezaki.
Pria paruh baya itu menghentikan langkah kakinya dan tersenyum miring.
"Yasai itame? Ayah tidak lapar! Lagipula mana mungkin hanya bisa makan dengan sayuran saja! Lain kali belilah beberapa daging dan ikan juga!" ucap sang ayah dengan dingin, namun dia juga meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja dan segera berlalu.
Meskipun terdengar dingin saat berkata, namun Anezaki masih bisa tersenyum tipis dan mengambil uang itu. Biar seberapapun kesal dan benci ayahnya kepada dirinya, namun Anezaki merasa jika sang ayah juga masih peduli dengannya.
"Mumpung belum mengantuk, sebaiknya aku belajar memakai make up deh! Besok pagi coba pakai sedikit saat pergi ke sekolahan deh. Hehe ..." gumamnya segera bergegas pergi ke kamarnya.
Beberapa tutorial natural make up mulai ditontonnya di aplikasi Metube. Dan Anezaki juga mulai mengaplikasikan satu persatu make up yang sudah dibelinya.
"Aduh, mengapa malah menjadi seperti badut? Pewarna bibir dan pipi terlalu terang! Ternyata memakai make up tidak mudah. Huft ..." ucapnya lalu menghapus semua riasan itu dan memulainya dari awal.
Seperti itulah yang terjadi selama beberapa jam. Hingga akhirnya malam sudah semakin larut, dan Anezaki memutuskan untuk segera tidur.
...🍁🍁🍁...
Keesokan harinya ...
Daun ginko yang sudah berwarna kekuningan berterbangan di segala penjuru kota menandakan musim gugur telah tiba.
Terlihat murid-murid SMU Gakkuen mulai memasuki gerbang utama dan mendatangi kelas masing-masing. Anezaki berjalan seorang diri melewati jalan utama halaman SMU Gakkuen. Hembusan angin pagi kala ini menerbangkan beberapa helai rambutnya.
Namun anehnya kini Anezaki menjadi pusat perhatian dari semua murid. Hampir semua orang yang dilaluinya menatapnya dan mulai berbisik.
Ada apa? Mengapa mereka menatapku terus seperti itu? Apakah riasanku terlihat sangat aneh? Padahal aku sudah belasan kali menghapus dan memakai make up hari ini.
Batin Anezaki merasa aneh dan kembali kurang percaya diri.
[ Mereka menatap nona karena kagum. Riasan nona juga sudah cukup menarik. Terlihat natural, fresh and young. Tidak menor dan berlebihan. ]
Jawab Angela menanggapi Anezaki.
"Cantik sekali! Mengapa aku tak pernah melihat Dewi sekolahan yang sangat cantik seperti dia? Apakah dia baru saja pindah ke sekolahan kita?" bisik seorang pemuda saat Anezaki baru saja melewatinya.
"Aku dengar dia adalah Anezaki Mamori, anak kelas 2 jurusan Seni yang buruk rupa itu." balas pemuda lainnya lagi.
"Wah! Benarkah itu? Sungguh aku hampir saja tidak mengenalinya!"
"Hhm. Dia sangat berubah. Satu pekan yang lalu dia datang ke sekolahan dengan wajah yang sudah mulus tanpa luka bakar. Dan kini dia menjadi semakin cantik saja!"
"Sepertinya aku harus segera merubah pujaan hatiku! Sepertinya posisi Cho sebagai Dewi di sekolahan kita akan segera tergeser."
"Kau benar. Anezaki jauh lebih bersinar daripada Cho. Ahahah ..."
Anezaki yang mendengar semua itu sebenarnya merasa kurang nyaman dan belum terbiasa dengan semua itu. Beberapa hari yang lalu, Cho sudah berusaha untuk mencelakainya. Padahal Anezaki tak pernah menyinggungnya. Lalu bagaimana jika sampai Anezaki berhasil menggeser posisi Cho sebagai Dewi sekolahan? Entah hal buruk apa lagi yang akan Cho lalukan.
Tiba-tiba saja seorang pemuda sudah berdiri di samping Anezaki dengan aura dingin memancar dari dirinya.
"Ikut denganku sebentar! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" ucapnya lalu melenggang lebih awal dan diikuti oleh Anezaki di belakangnya.
"Yuru? Benarkah dia adalah Yuru? Bukankah dia baru saja menyelesaikan oprasi di luar negeri karena kecelakaan di labolatorium? Aku dengar lukanya cukup parah. Lalu mengapa dia terlihat sangat baik-baik saja dan tidak memiliki luka?" bisik seorang murid.
"Kakek Yuru adalah orang yang sangat berpengaruh di Tokyo dan pernah menjadi seorang Inspektur Jendral di kota metropolitan Tokyo ini. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang tuan muda yang kaya raya? Tuan muda kaya yang dingin. Ckk ..."
Samar-samar Anezaki masih bisa mendengarkan perbincangan orang-orang di sekitarnya. Bahkan di sepanjang koridor sekolah mereka berdua masih saja menjadi pusat perhatian. Hingga akhirnya Yuru menggiring Anezaki ke perpustakaan sekolah. Tempat paling hening dan sepi di sekolahannya.
Kini mereka sudah berada di salah satu ruangan perpustakaan, namun tak ada percakapan diantara mereka. Bahkan Yuru malah memberikan tatapan dingin dan datar seperti biasanya. Dan situasi ini sempat membuat Anezaki merasa kikuk.
"Syukurlah kamu sudah sembuh dan masuk sekolah lagi." ucap Anezaki mencairkan suasana.
Yuru rak menjawabnya dan malah melemparkan sebuah bingkisan. Dengan cepat Anezaki segera menangkapnya dengan gelagapan.
"Salep pemberian darimu sangat ampuh. Pada awalnya masih ada sedikit bekas luka dan oprasi. Namun saat aku terbangun keesokan harinya, semua bekas itu sudah tidak terlihat. Terima kasih banyak, salep itu pasti sangat mahal dan terbatas. Jadi aku mengembalikan sisanya untukmu lagi. Aku hanya memakainya sedikit dan mengambilnya dengan higienis kok. Jangan khawatir."
Ucap Yuru berbalik dan segera meninggalkan Anezaki.
Syukurlah dia tidak terlalu mencurigaiku. Dan syukurlah dia sudah benar-benar pulih.
Batin Anezaki menatap kepergian Yuru.
...🍁🍁🍁...
Moon Entertaiment, 4 PM
Anezaki segera menghubungi Jia ketika dia sampai di depan sebuah gedung yang cukup besar dan megah. Sebenarnya dia sedikit merasa gugup karena ini adalah pertama kalinya dia mendatangi sebuah agensi, terlebih Moon Entertaiment adalah sebuah agensi raksasa yang selalu melahirkan idol besar, model profesional, aktor dan aktris berbakat luar biasa.
Tak lama menunggu, Jia sudah turun dan menjemputnya. Jia yang selalu terlihat ramah itu mengantarkan Anezaki untuk memasuki sebuah ruangan dimana para trainee baru berkumpul.
Namun yang membuat Anezaki terkejut adalah, dia juga melihat Cho yang juga berada di ruangan ini.
"Ckk ... tidak aku sangka kamu juga terpilih! Padahal kamu kamu hanyalah seorang sampah yang tak berbakat!" cibir Cho ketika mereka berdua duduk bersebelahan.
Bukankah saat pencarian bakat Cho sedang dihukum dan tidak diperbolehkan mendatangi sekolahan saat itu? Lalu mengapa dia bisa terpilih juga?
Batin Anezaki keheranan.
[ Cho mendapatkan sebuah rekomendasi dari pihak sekolahan karena saat ini Cho adalah Dewi sekolahan. Mereka memperlihatkan beberapa foto Cho kepada tim pencari bakat saat itu. Dan akhirnya mereka tertarik. ]
Sahut Angela.
"Kita lihat, kamu pasti akan segera ditendang dari Moon Entertaiment! Karena kamu hanyalah sampah tak berbakat! Dan mereka pasti akan menyesal karena telah mengundangmu hari ini hanya karena melihat wajah palsumu! Cihhh ..." cibir Cho berbisik dan tersenyum meremehkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
𝐩𝐫𝐚𝐬𝐬𝐞𝐭𝐲𝐨 𝟏
🤣🤣🤣 yuru tinggal bilang makasih aja kok susah amat, jual murah dikit napa, pakek acara bilang ambil nya secara di genis pula🤣🤣🤣
2023-08-01
0
+4!?15y4
cho yuk gulat,,,gatel tanganku pengen tak remet lambemu.
2023-07-19
2
@ Yayang Risa Selamanya
Karena belum mengantuk Anezaki mencoba untuk belajar make up
2023-07-16
0