Malam itu Anezaki mengoleskan salep ajaibnya pada bekas luka bakar di tangannya dan segera beristirahat. Karena sudah malam sudah semakin larut, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit keesokan harinya saja.
Tak ada satupun orang yang menemaninya di rumah sakit. Karena Minzy dan Jun juga harus segera pulang saat itu. Namun hal itu sudah dianggap biasa oleh Anezaki. Karena selama ini dia sudah terbiasa sendiri dan berteman dengan sepi.
Keesokan harinya, Anezaki segera memeriksa tangannya. Dan seperti biasa, bekas luka bakar itu sudah menghilang tanpa bekas. Dan kulitnya sudah kembali mulus tanpa ada bekas luka ataupun goresan apapun.
Hal itu cukup membuatnya berbinar dan merasa lega. Namun senyumnya mulai memudar ketika dia mengingat Yuru, Serika dan Ozaki.
"Aku akan menjenguk Yuru sebentar! Dan aku juga harus menemui Serika dan Ozaki untuk mencari tau sesuatu dan mengungkap masalah ini!" gumamnya segera menuruni brankar dan meninggalkan kamar rawat itu.
Namun betapa terkejutnya Anezaki ketika melihat ruangan di sebelahnya sudah kosong. Hanya ada seorang perawat yang sedang merapikan kamar kosong tersebut.
"Permisi, Suster. Kalau boleh tau dimana pasien yang menempati kamar ini sebelumnya?" tanya Anezaki bertanya kepada perawat itu.
"Oh ... pasien di kamar ini sudah meninggalkan St. International Luke's Hospital sejak dini hari tadi, Nona. Karena akan melakukan oprasi lagi di luar negeri." jawab perawat itu dengan ramah.
"Oh begitu ya." sahut Anezaki tanpa mengurangi rasa khawatir dan rasa bersalahnya.
"Lalu bagaimana dengan kedua temanku yang lain, Suster? Korban kecelakaan dari SMU Gakkuen. Apakah mereka juga masih dirawat disini?" imbuh Anezaki bertanya kembali.
"Mereka ada di ruangan Teratai nomor 10, Nona. Ruangannya ada di lorong seberang." sahut tenaga medis itu sambil mengulurkan tangan kanannya mengarah ke lorong kanan.
"Baiklah. Terima kasih, Suster." sahut Anezaki lalu bergegas untuk menuju ke ruangan rawat tersebut.
Anezaki melewati lorong seberang dan mencari kamar rawat tersebut. Hingga akhirnya dia mulai menemukannya dan berhenti sejenak di depan sebuah kamar rawat. Setelah mengetuknya beberapa kali, akhirnya dia mulai memasukinya.
Terlihat di dalam ruangan rawat ini ada 2 pasien yang masih beristirahat di atas brankar. Dan mereka tak lain adalah Ozaki dan Serika. Anezaki mendekati brankar Serika karena melihat Serika yang terduduk sambil bermain ponsel. Sementara Ozaki sedang tertidur miring membelakangi mereka.
"Serika, bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Anezaki yang sebenarnya cukup merasa aneh dan canggung.
Karena selama ini dia sangat jarang untuk berinteraksi bersama teman-teman sekelasnya. Bukan Anezaki tidak mau melakukannya, namun karena mereka semua yang tak menginginkannya dan selalu menjaga jarak dengannya.
"Aku baik-baik saja. Dan sebentar lagi juga akan segera pulang." sahut Serika yang juga merasa aneh dan canggung.
"Syukurlah. Begini, Serika. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu." ucap Anezaki tak mau membuang-buang waktu, karena kini dia hanya memiliki sisa waktu 2 hari saja untuk menyelesaikan misinya.
"Katakan padaku! Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?" sahut Serika masih terlihat datar dan canggung untuk berbincang dengan Anezaki.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi di sekitar kelompok kita sebelum ledakan itu terjadi? Seperti sesuatu yang mencurigakan?" tanya Anezaki berharap Serika juga memiliki sebuah petunjuk.
Serika terdiam dan berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu. Namun akhirnya dia menggeleng.
"Tidak ada. Kelompok kita hanya 6 orang. Dan tidak ada orang lain yang mendekati kelompok kita saat itu. Semua terjadi begitu saja, dan entah mengapa Ozaki bisa menaikkan suhu destilasi secara berlebihan."
Ini semua memang terlihat seperti sebuah kecelakaan dan kelalaian Ozaki. Namun Angela mengatakan padaku jika semua ini adalah rencana jahat seseorang. Tidak mungkin Ozaki yang memegang kendali alat penyulingan saat itu dengan sengaja melakukan semua itu bukan? Bahkan hal itu sangat membahayakan dirinya. Benar! Tidak mungkin Ozaki melakukannya dengan sengaja! Bahkan dia sendiri juga kebingungan saat Yuru memintanya untuk mematikan api saat itu. Itu artinya bukan dia ...
Batin Anezaki berusaha untuk menganalisis semua itu.
"Kelompok kita adalah 6 orang. Namun aku tidak melihat keberadaan Cho dan Nagisa saat kecelakaan itu terjadi. Dimana mereka saat itu?" tanya Anezaki.
"Mereka pergi ke ruang peralatan untuk mengambil beberapa alat untuk pratikum." sahut Serika seadanya.
Sementara itu ...
Sebenarnya Ozaki tidak benar-benar sedang tidur. Dia sedang kebingungan dan ketakutan saat ini karena mendengar kabar jika Yuru terluka cukup parah, hingga kini dibawa ke luar negeri untuk sebuah oprasi lagi. Dia merasa sangat bersalah karena kecerobohannya saat itu. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa.
Ucapan dari Nagisa yang kemarin malam diucapkannya ketika mengunjungi Ozaki kembali terngiang memenuhi indra pendengarannya.
Akui jika kamu memang bersalah! Jangan sekali-kali kamu menyebut namaku! Atau aku tidak akan mau untuk berbicara denganmu lagi!
Ucap Nagisa malam itu.
"Ozaki. Bagaimana kamu bisa menaikkan suhu destilasi saat itu? Padahal aku sangat yakin jika kamu tidak akan seceroboh itu. Kamu adalah salah satu siswa berprestasi di SMU Gakkuen. Jadi hal seperti itu seharusnya tak akan dilakukan olehmu. Katakan padaku, sebenarnya apa yang sudah terjadi saat itu?"
Ucapan Anezaki yang sudah berada tepat di sebelah brankarnya sukses mengejutkan Ozaki dan membuatnya seketika terduduk gelagapan.
"A-apa maksudmu?! Semua itu terjadi adalah karena kecerobohanku. Tidak ada hal lain yang terjadi saat itu. Aku lalai dan ceroboh ..." ucap Ozaki memutuskan untuk melindungi Nagisa, gadis yang selalu dikaguminya.
"Apa kamu serius, Ozaki?" tanya Anezaki seolah-olah masih mencurigai Ozaki.
"Tentu saja aku serius!" ucap pemuda itu kembali menandaskan.
Anezaki cukup kebingungan untuk mengungkap semuanya, karena tidak ada petunjuk apapun.
Hingga akhirnya dia mulai memikirkan sesuatu, dan dia segera bergegas meninggalkan rumah sakit. Anezaki memutuskan untuk mendatangi SMU Gakkuen dan mendatangi ruang pemantauan CCTV. Dia berniat untuk memeriksa beberapa rekaman CCTV di sekolahannya.
Pada awalnya seorang petugas yang berjaga tidak mengijinkannya karena hal itu biasanya akan sangat privasi dan tidak sembarang orang bisa melihatnya. Namun pada akhirnya dia mengijinkanya karena hal ini menyangkut kecelakaan yang terjadi di ruang labolatorium.
Anezaki memeriksa rekaman CCTV yang terjadi di dalam labolatorium Kimia, tepatnya sebelum ledakan itu terjadi. Dia melihat jika Nagisa mendekati Ozaki sambil berkata sesuatu dan menyerahkan sebuah gelas berisi sebuah larutan kimia.
Namun sayangnya tak terdengar pembicaraan diantara Nagisa dan Ozaki. Dan itu cukup membuat Anezaki kebingungan.
Setelah memberikan gelas berisi zat kimia untuk Ozaki, Nagisa terlihat meninggalkan ruangan labolatorium bersama dengan Cho. Bahkan Aimi juga terlihat mulai meninggalkan ruangan itu.
Sebenarnya hal itu cukup membuat Anezaki curiga dan berpikir seolah-olah mereka bertiga sengaja menghindari kecelakaan itu.
Bagaimana ini? Aku harus mencari bukti lain! Karena Ozaki tidak mengatakan apapun dan seolah berusaha untuk melindungi Nagisa.
Batin Anezaki berpikir keras kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
𝓐𝔂⃝❥🍁●⑅⃝ᷟ◌ͩṠᷦụᷴfᷞi ⍣⃝కꫝ🎸❣️
ozaki aneh org udah ada korban masih mau tutup mulut demi rasa kagum sama cewek licik itu, tunggu aja bila kebenaran terungkap.
2024-05-01
1
𝐩𝐫𝐚𝐬𝐬𝐞𝐭𝐲𝐨 𝟏
apa kagak salah tuh berkorban sampek segitumya hanya demi melindungi orang yg hanya di kagumi 🤦♂️🤦♂️ yg ada malah semakin di manfaatkan karena kebodohan nya 🤣🤣🤣
2023-08-01
1
+4!?15y4
masih menynggu karma
2023-07-18
0