Sebuah rekaman percakapan seorang pria yang mengungkap kejahatannya dibawah perintah Cho mulai terdengar membuat Nagisa, Cho, dan Aimi terkejut bukan main.
Dengan cepat Cho berniat untuk merebut jepit rambut tersebut dari Anezaki. Namun Anezaki yang menyadari semua itu segera menjauhkan jepit rambut tersebut dari Cho.
"Bagaimana? Apa masih berani untuk pergi ke ruang guru dan sudah siap untuk menerima hukuman lagi?" ucap Anezaki menyodorkan sebuah pertanyaan retoris untuk Cho.
Cho terlihat sangat kesal. Karena sebenarnya memiliki masalah di sekolahan adalah cukup membuatnya berada dalam masalah juga. Dan dia juga akan mendapatkan hukuman dari sang ayah yang selama ini selalu menuntutnya untuk bisa unggul dalam segala hal.
"Berikan rekaman itu padaku!" ucap Cho penuh dengan penekanan dan menengadahkan tangan kanannya ke depan. Sementara sepasang manik-manik indahnya menatap Anezaki tajam.
"Bagimana jika aku tidak mau?" tantang Anezaki menyeringai manis.
"Kau!! Berani sekali menentang kami!!" geram Nagisa ikut terbawa emosi.
"Mengapa aku tidak berani? Kalian bebas melakukan apapun. Itu artinya aku juga bebas melakukan apapun bukan? Hhm ... perlu kalian ketahui, aku bukanlah Anezaki seperti yang kalian kenal dulu! Jika kalian ingin bermain-main denganku, maka aku akan meladeni kalian. Tapi jangan menyesal jika aku melakukan sesuatu yang mengejutkan untuk kalian." sahut Anezaki masih menghiasi wajah ayunya dengan senyuman ramah yang mematikan.
"Apa maumu?!" tanya Cho kehabisan cara dan masih terlihat kesal.
"Apa mauku? Aku tidak mau apapun, namun kalian selalu saja berusaha untuk mencelakaiku. Dan kalianlah yang mengajakku untuk pergi ke ruang guru. Jadi, mari kita pergi saja bersama!" ucap Anezaki dengan wajah polosnya.
"Maaf ..." ucap Cho sangat lirih dan menunduk.
Nagisa dan Aimi terkejut bukan main mendengar ucapan Cho. Seorang Cho meminta maaf kepada orang? Tentu itu adalah sebuah hal yang sangat langka! Namun disaat kedua gadis itu berusaha untuk menghentikan Cho, Cho segera mengangkat tangan kanannya meminta agar kedua temannya berhenti.
"Apa? Aku tidak mendengarnya. Bukankah kamu baru saja memakan kue mahal? Apa kamu masih kurang banyak memakanya?" ucap Anezaki dengan nada jenaka.
Cho menghela nafas dan kembali berkata, "Tolong jangan lakukan itu! Papaku akan kembali menghukumku jika mengetahui aku membuat masalah lagi."
Ucapan Cho membuat raut wajah Anezaki seketika berubah. Senyumnya perlahan memudar, dan dia menjadi murung. Kini dia mulai teringat oleh sosok ayahnya yang selama ini selalu saja suka memberikan hukuman hanya karena masih menganggapnya sebagai anak pembawa sial. Dan tentu saja semua itu sangat menyakitkan untuknya.
Satu-satunya sandaran yang seharusnya menjadi tempat berlindungnya, namun tidak baginya.
"Aku berjanji tidak akan melakukan hal seperti ini. Maafkan aku ..." ucap Cho lagi menurunkan nada bicaranya dan menunduk tanpa menatap Anezaki.
Angan Anezaki mulai buyar, dia melihat raut wajah Cho yang masih terlihat cemas penuh dengan kekhawatiran. Anezaki menarik sudut-sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang berbeda dari sebelumnya. Sebuah senyuman yang lebih hangat karena dia pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Cho.
"Lupakan saja! Aku tidak akan melaporkan semua ini pada guru!" sajut Anezaki merusak rekaman di dalam jepit rambut itu dan menghempaskannya ke tempat sampah begitu saja.
"Terima kasih ..." ucap Cho terlihat sangat berat namun lega.
Anezaki hanya membalasnya dengan seulas senyum sebelum dia meninggalkan kelasnya untuk menemui Minzy dan Jun yang sudah menunggunya di kantin.
Sementara Cho hanya menatap kepergian Anezaki dengan raut wajah yang sulit untuk digambarkan. Namun pada akhirnya dia tersenyum menatap tempat sampah dimana Anezaki membuang jepit rambut berisi rekaman tersebut.
...🍁🍁🍁...
Meja culun, kantin SMU Gakkuen.
Anezaki membawa semangkok ramen dan sekaleng minuman hangatnya yang baru saja dibelinya dari vending machine lalu bergabung bersama Minzy dan Jun.
"Tumben lama sekali datang. Apa ada pekerjaan dari guru?" tanya Minzy.
"Tidak ada kok. Hanya mengerjakan seseuatu sebentar saja." sahut Anezaki mulai menikmati ramen kesukaannya.
Baru beberapa detik berlalu, seorang pemuda dengan cueknya menempati bangku kosong meja culun bersama dengan mereka. Dia adalah Yuru yang datang dan segera duduk untuk menikmati makanannya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Lagi-lagi hal ini cukup mengejutkan Minzy dan Jun.
"Ehm, Yuru ... apa kamu tau ... sebenarnya tempat ini adalah meja untuk anak-anak culun di sekolahan kita. Sebaiknya kamu bergabung di meja populer bersama anak-anak populer lainnya." ucap Anezaki merasa agak aneh karena Yuru yang tiba-tiba bergabung lagi bersama mereka.
"Semua meja menurutku adalah sama. Semua terbuat dari kayu dan bisa digunakan oleh semua murid SMU Gakkuen. Jadi mau duduk dimanapun akan sama saja." sahut Yuru seadanya dan mulai meraih sepasang sumpitnya untuk menikmati makanannya.
Ucapan Yuru seolah menjadi skak mat, membuat Anezaki tak bisa membantahnya lagi. Sebenarnya Anezaki hanya tidak ingin jika pamor Yuru juga akan turun hanya karena dia yang akhir-akhir ini terlihat bersama dengan anak-anak kurang populer di sekolahan.
Tiga menit berlalu, dan kini Shozo juga datang bersama dengan kedua temannya dan juga ikut bergabung bersama dengan mereka di meja culun.
Sebuah senyuman mempesona yang biasanya selalu digunakan oleh Shozo untuk memikat para gadis dan palin anti gagal, kini mulai dilayangkannya untuk Anezaki yang duduk tepat di hadapannya.
"Anezaki, kamu berhutang sesuatu padaku! Nanti sepulang sekolah kamu harus menemaniku untuk menonton! Tidak ada kata tidak!" tandasnya penuh percaya diri.
"Tidak bisa! Dia sudah berjanji padaku sebelumnya untuk pergi ke suatu tempat!"
Bukannya Anezaki yang menjawab, Yuru malah lebih dulu menjawabnya dengan tenang namun penuh penekanan.
"APA?!" Shozo terlihat sangat murka dan menusuk dagingnya dengan garpu sangat kuat.
"Senior Shozo, aku tidak pernah berhutang apapun kepadamu. Dan kami datang di meja ini adalah untuk makan. Jadi jangan membuat keributan di tempat ini. Atau senior Shozo bisa pindah ke meja lainnya saja." ucap Anezaki dengan ramah namun sebenarnya sangat menusuk.
Akhirnya mau tak mau Shozo kembali menusuk daging di hadapannya dengan sangat kuat dan mulai memakannya dengan ekspresi dipenuhi amarah menatap Yuru yang sedang santai dan tenang saat menikmati makan siangnya.
Minzy dan Jun hanya saling bertatapan aneh dan mengedikkan bahu lalu segera menikmati makan siang mereka kembali tanla berkata-kata.
...🍁🍁🍁...
Yummy Restauran, depan menara Tokyo , jam 4 sore.
Seorang gadis dengan pakaian kasual dan memakai pakaian hangatnya terlihat sedang duduk di salah satu meja di Yummy restauran dan menunggu seseorang.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya seorang gadis remaja yang memiliki paras cantik dan imut terlihat datang bersama seorang pemuda yang cukup tampan namun terlihat dingin dan datar.
"Maaf, kami datang terlambat. Itu semua karena adikku yang terlalu lama berdandan ..." ucap gadis itu yang masih menarik-narik tangan pemuda itu dengan tawa kecilnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
𝐩𝐫𝐚𝐬𝐬𝐞𝐭𝐲𝐨 𝟏
Hahahahaha kayanya yuru yak alasan nya yg ngundang shirin padahal dia yg nak ajak ketemu anezaki🤣🤣🤣 mana dandan nya lama pula kek acara mau kencan aja
2023-08-01
0
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
kayaknya Cho punya rencana lain dengan sikap dia
2023-07-23
1
@ Yayang Risa Selamanya
Cho berbicara ke Anezaki kalau papanya Cho akan menghukum Cho lagi kalau Cho membuat masalah
2023-07-20
0