"Apa yang kamu katakan, Shirin? Lagipula siapa yang meminta untuk diantar olehku? Padahal beberapa sopir keluarga kita juga ada!" dengus Yuru membela diri.
"Hehe. Karena aku mau kita datang bersama! Yuk!"
Shirin menarik tangan Yuru memaksanya untuk duduk di seberang Anezaki, namun Yuru malah menahan tubuhnya seolah menolaknya untuk tetap bersama di tempat ini.
"Aku akan pergi. Kalian berdua saja. Hubungi saja kalau minta dijemput." sahut Yuru berniat untuk segera pergi.
"Dasar tidak seru!" dengus Shirin mengerucutkan bibir tipisnya beberapa senti ke depan setelah melihat Yuru yang benar-benar berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Maaf yah, dia memang selalu menyebalkan seperti itu. Kata mamaku, dia sangat mirip dengan papa saat masih muda. Sangat dingin dan datar. Hanya saja ... mama mengatakan jika Yuru sedikit tidak menyeramkan jika dibanding masa muda papa." ucap Shirin terlihat leluasa saat bercerita dengan Anezaki.
"Tidak masalah kok. Maksudnya menyeramkan seperti apa? Apa papamu sangat sangar dan menakutkan?" tanya Anezaki penasaran.
Shirin mengangguk antusias sambil meraih buku menu, "Kata mama, papa sangat menakutkan dan kejam saat meringkus para penjahat saat dia masih muda. Tapi itu dulu kok. Lagipula papaku terlihat sangat tidak menyeramkan bagiku! Dia papa yang hangat dan tampan! Hehe ..."
Anezaki mengukir sebuah senyuman membayangkan keharmonisan keluarga Shirin, namun senyumannya perlahan mulai memudar dan dia menjadi murung ketika mengingat sang ayah.
"Andai ayah juga bisa bersikap hangat dan peduli padaku. Pasti aku sudah akan merasa sangat bahagia meski hanya dia yang aku miliki saat ini. Aku harap suatu saat nanti ayah bisa memaafkanku, menerimaku dan kembali menyayangiku seperti dulu ketika ibu masih ada." batin Anezaki penuh harap.
"Ayo kita makan sesuatu dulu! Setelah ini aku akan mengatakan maksudku mengajakmu untuk bertemu." ucap Shirin dengan senyuman khasnya yang begitu manis.
"Okay!"
.
.
.
Setelah beberapa saat kedua gadis itu sudah menyelesaikan makan dan kembali berbincang.
"Jadi begini ... pekan depan di sekolahanku akan mengadakan sebuah acara festival budaya. Dan akan ada sebuah panggung seni untuk acara puncak. Kebetulan aku diminta untuk mengisi salah satu acara tersebut untuk bermain piano untuk mengiringi temanku bernyanyi. Jadi ... aku ingin kamu meriasku saat itu. Aku lihat riasanmu begitu natural dan lembut. Dan aku sangat menyukainya! Jadi ... bisakah kamu membantuku saat itu, Anezaki?" tanya Shirin penuh harap.
"Ehh? Kamu menginginkan aku untuk meriasmu?" tanya Anezaki cukup terkejut bukan main.
Karena selama ini dia hanya belajar secara otodidak dan hanya menonton dari siaran Metube saja. Itupun dia baru saja belajar memakai make up kurang lebih satu pekan ini. Sangat tidak disangka jika akan ada seseorang yang mengaguminya dan ingin dirias olehnya.
Shirin mengangguk antusias, "Hhm. Bisakah kamu melakukannya?"
"Aku bisa saja melakukannya. Tapi ... apakah kamu yakin untuk aku rias? Aku takut riasanku akan mempermalukan kamu karena riasanku masih begitu buruk." ucap Anezaki kurang percaya diri.
"Tidak-tidak! Riasanmu sangat cantik! Terlihat sangat natural, lembut, segar dan muda. Aku sangat menyukainya!" sahut Shirin antusias dan menatap Anezaki penuh binar.
"Uhm ... baiklah. Kalau begitu aku akan meriasmu. Kalau boleh tau dimana kamu sekolah, Shirin? Mengapa kamu tidak di sekolah di tempat yang sama dengan Yuru?"
"Yuru menginginkan sekolah di tempat biasa katanya. Dia tidak ingin masuk di SMU Nada seperti aku. Ya sudah ... akhirnya kami tidak sekolah di sekolah yang sama deh." sahut Shirin dengan nada ceria, karena pada dasarnya dia memiliki kepribadian ceria dan ramah. Sangat bertolak belakang dengan Yuru.
"Apa? Shirin menganggap SMU Gakkuen adalah SMU biasa? Padahal aku mati-matian untuk bisa memasukinya 2 tahun yang lalu. Itupun aku hampir saja ditolak karena menduduki peringkat kelima dari paling bawah. Hiks ..." batin Anezaki merasa sangat tidak berguna di hadapan Shirin yang terlihat cukup cerdas, cantik dan sempurna.
Percakapan ringan terus saja terjadi dan membuat mereka berdua semakin akrab. Bahkan Shirin juga terlihat sangat menyukai Anezaki dan merasa nyaman untuk berteman dengannya.
...🍁🍁🍁...
SMU Gakkuen, kelas 2 jurusan Seni.
Usai melakukan kelas olahraga di lapangan olahraga, para murid kembali ke kelas untuk mengambil baju ganti di dalam loker masing-masing.
Namun tiba-tiba saja seorang siswi berteriak histeris karena kehilangan sesuatu di dalam lokernya.
"Tidak mungkin! Mengapa bisa sampai tidak ada! Bagaimana bisa menghilang begitu saja?!" seorang siswi berteriak histeris sambil mengubrak-abrik kembali loker miliknya untuk mencari sesuatu.
"Ada apa? Apanya yang menghilang, Rukia?" tanya Serika yang kebetulan di dekat Rukia.
"Hari ini aku membawa jam mahal dan sangat mewah pemberian dari nenekku. Jam tangan itu adalah salah satu barang limited edition dari Ruby Shine dan hanya ada 5 pisis di dunia ini. Aku sangat yakin sebelumnya jam tangan itu masih ada di dalam lokerku sebelum aku pergi ke lapangan. Tapi sekarang jam tangan itu menghilang begitu saja ..."
Ucap Rukia sangat panik karena telah menghilangkan sesuatu yang sangat berharga pemberian dari neneknya.
"Pasti ada seseorang yang sengaja mengambilnya! Sebaiknya kita memeriksa seluruh loker di kelas ini!" seru Ozaki mengusulkan.
"Baiklah. Karena teman kita telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Maka kami akan memeriksa loker kalian semua. Semoga kalian tidak keberatan untuk membuka loker masing-masing untuk segera kami periksa." ucap Near sang ketua kelas dengan bijak.
Semua murid segera membuka loker masing-masing, termasuk Yuru dan Anezaki. Lalu mereka mundur kembali. Near mulai memeriksa satu persatu loker itu dibantu oleh Serika yang merupakan wakil ketua kelas.
Beberapa saat berlalu dan mereka berdua masih tidak menemukan apapun. Hingga akhirnya mereka mulai menemukan sebuah jam tangan super mewah dengan bahan berlian dan emas. Jam tangan super mewah itu ditemukan di dalam loker Anezaki dan membuat semua orang terkejut bukan main. Termasuk Anezaki yang seketika mematung saat melihat Near mengeluarkan jam tangan super mewah itu dari dalam lokernya.
Semua murid mulai saling berbisik dan menggunjing Anezaki.
"Cckk ... ternyata dia yang melakukannya ya. Selama ini dia terobsesi menjadi cantik dan kaya. Namun aku sungguh sangat tidak menyangka, jika dia akan nekat mencuri seperti ini." bisik seorang siswi.
"Jadi alasan dia mengatakan sakit perut beberapa saat yang lalu hanyalah sebuah kebohongan ya? Dia mengatakan akan pergi ke ruang medis, tidak taunya dia malah membobol loker Rukia dan mengambil jam tangan Rukia. Dasar pencuri!" timpal siswi lainnya lagi.
"A-aku tidak berbohong! Aku memang sakit perut dan mendatangi ruangan medis saat itu. Aku bahkan meminum obat pereda nyeri dan beristirahat disana. Aku baru saja datang ke kelas bersama dengan kalian semua." ucap Anezaki membela dirinya.
Bersambung ...
...🍁🍁🍁...
Bonus visual Seijuro Shirin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
𝐩𝐫𝐚𝐬𝐬𝐞𝐭𝐲𝐨 𝟏
kayanya tuh jebakan nya temen² nya cho kolatos yak🤔 karena yg musuhi anezaki hanya mereka
2023-08-01
1
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
pasti ulah Cho lagi ni yang ingin balas dendam kpd Anezaki
2023-07-23
1
@ Yayang Risa Selamanya
Pasti Anezaki di tuduh mencuri jam tangan oleh orang
2023-07-22
0