Sosok itu kini malah berjalan mendekati bangku Anezaki dan berdiri tepat di sampingnya. Dan tentu saja hal ini membuat Anezaki merasa was-was kembali.
"Sial! Semoga saja dia tidak mendengar percakapanku bersama Angela! Bisa-bisa dia akan mencurigaiku atau menganggap aku gila dan aneh." batin Anezaki hanya bisa menatap bukunya dan sesekali melirik sebuah sepatu sport berwarna putih milik sosok pemuda itu.
"Anez, apakah kamu ada waktu setelah pulang sekolah?"
Terdengar bariton suara seorang pemuda yang begitu jernih dan dingin. Karena menyadari suara itu adalah suara seseorang yang dikenalinya, akhirnya Anezaki menengadahkan wajahnya menatap sosok itu.
"Yuru? Kebetulan aku akan libur berlatih saat sabtu. Ada apa?"
"Datanglah ke Yummy restauran yang berada di dekat Menara Tokyo jam 4 sore. Apa kamu bisa?"
Ucapan Yuru sukses mengejutkan Anezaki. Pemuda yang terkenal dingin dan tidak pernah mempedulikan apapun itu kini sedang mengajak seorang gadis untuk bertemu? Sungguh seperti bukan sosok dari seorang Yuru.
"Dia sedang mengajakku untuk bertemu? Apakah dia benar-benar Yuru teman sekelasku yang dingin dan tak pernah mempedulikan hal sekecil apapun yang terjadi di sekitarnya? Atau jangan-jangan dia sedang kerasukan roh jahat?" batin Anezaki menatap Yuru penuh curiga.
"Namun jika kamu tidak bisa, tidak masalah. Aku akan mengatakannya kepada Shirin. Jika kamu tidak bisa menemuinya." ucap Yuru lagi yang sukses membuat Anezaki terkejut dan seketika merasa malu, karena rupanya Shirin lah yang ingin bertemu dengan dirinya.
"Shirin?" tanya Anezaki merasa konyol sendiri.
"Hhm. Dia ingin bertemu denganmu."
"Tapi mengapa tiba-tiba kakakmu Shirin ingin bertemu denganku?" tanya Anezaki penasaran.
"Sepertinya dia tertarik denganmu."
"Apa? Kakak Yuru tertarik padaku? Dia gadis yang cantik dan manis, bagaimana mungkin tertarik padaku? Di dunia ini pasti begitu banyak pemuda yang menyukainya bukan? Lalu mengapa dia malah ..." batin Anezaki syok bukan main.
"Jadi kamu bisa menemuinya atau tidak?" tanya Yuru kembali.
"Baiklah. Aku akan menemuinya." sahut Anezaki akhirnya menepis pemikiran buruknya tentang Shirin.
Yuru mengngguk samar dan segera mendatangi bangkunya yang berada dua baris di belakang Anezaki.
Beberapa murid mulai memasuki kelas. Bahkan Cho juga sudah mulai memasuki kelas bersama dengan Nagisa dan Aimi. Seperti biasa seketika para siswa langsung terpesona oleh ketiga gadis itu yang selalu mereka puja
Namun betapa terkejutnya Cho ketika dia melihat Anezaki yang baik-baik saja dan masih terlihat sangat cantik. Wajahnya terlihat masih cantik tidak seperti dengan apa yang sudah dibayangkan sebelumnya, jika Anezaki akan kembali mengalami luka bakar pada wajahnya atu wajahnya yang rusak karena serangan dari para berandalan bayarannya.
Dengan ekspresi aneh Cho segera mengalihkan pandangannya ketika pangdangannya sempat bertemu dengan Anezaki. Dia segera duduk di bangkunya yang berada tepat di samping Anezaki.
"Mengapa dia terlihat baik-baik saja? Wajahnya tidak rusak dan tidak melepuh. Apakah mereka gagal melakukan tugasnya? Lalu mengapa mereka tak memberikan kabar padaku? Padahal mereka sudah mengambil uang muka dariku! Sial!!" batin Cho merasa sangat kesal.
Sementara Anezaki hanya tersenyum misterius sambil melirik Cho dengan ekor matanya.
...🍁🍁🍁...
Saat jam istirahat Cho, Nagisa dan Aimi hanya menghabiskan waktu di dalam kelas. Karena hari ini mereka menikmati oleh-oleh yang yang dibawakan oleh papa Cho yang baru pulang dari Luar Negeri. Sambil menikmati oleh-oleh itu mereka juga memakai make up kembali.
Anezaki sengaja tidak meninggalkan kelas. Dan kini dia mendatangi Cho dan kedua temannya. Anezaki mendaratkan kedua tangannya di atas meja Cho dengan tubuh yang sedikit condong mendekati Cho.
Sebuah senyuman misterius juga sudah menghiasi wajah Anezaki. Membuat Cho merasa aneh, dan membuat Nagisa dan Aimi merasa kesal.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu mengira kami akan memberikan kue dan coklat mahal ini untukmu jika kamu datang?! Jangan mimpi!!" ketus Nagisa kesal.
Anezaki mengabaikan ucapan Nagisa dan masih saja fokus menatap Cho dengan senyuman misterius.
"Cho! Sebenarnya apa tujuanmu? Mengapa kamu selalu saja berusaha untuk mencelakaiku?! Aku bahkan tidak pernah mengusik hidupmu! Lalu mengapa kamu malah nekat menyewa para berandalan itu untuk mencelakaiku malam itu?" tanya Anezaki langsung tanpa berbasa-basi.
"Apa mkasudmu? Mengapa kamu menuduh Cho sembarangan seperti itu? Sangat membuang-buang waktu dan tenaga saja melakukan hal bodoh seperti itu! Lagipula sadar diri dong, kamu itu siapa! Kamu hanya lalat kecil yang merusak pemandangan saja! Malas banget berurusan dengan lalat yang selalu hinggap di tempat sampah! Ckk ..." cibir Nagisa dengan sombongnya dan tak berperasaan.
"Kamu berkata sembarangan dan menuduh Cho seperti ini sama saja kamu sudah mencemarkan nama baiknya! Kami bisa saja melaporkanmu agar kamu dihukum!" timpal Aimi membela Cho.
Sementara Cho masih saja terdiam dan hanya menatap tajam Anezaki yang mulai menarik salah satu sudut bibirnya kembali sambil menatapnya.
"Baiklah! Ayo laporkan saja semuanya! Kita lihat siapa yang akan terbukti bersalah dan siapa yang akan mendapatkan hukuman!" ucap Anezaki menantang dan tanpa merasa takut.
"Okay! Siapa takut?! Ayo kita menghadap guru!!" sahut Nagisa dan Aimi dengan cepat bersamaan.
"Tunggu!" sergah Cho tiba-tiba mulai bangkit dari tempat duduknya dan berdiri berhadapan dengan Anezaki.
"Dia merasa sangat percaya diri dan tidak merasa takut sama sekali. Ataukah jangan-jangan dia memiliki sebuah bukti? Jika akulah yang memerintahkan ketiga berandalan bodoh itu? Sudah gagal melakukan tugas dan kini malah menyebut namaku! Tidak berguna!!" batin Cho mengepalkan kedua tangannya dan masih menatap tajam Anezaki.
"Jaga ucapanmu dan jangan membual! Kamu bahkan tidak memiliki bukti apapun! Lalu mengapa berani mengatakan hal seperti itu padaku?!" ucap Cho dengan aura kebencian yang semakin meningkat.
"Lalu bagaimana jika aku memiliki bukti itu? Apa yang akan kamu lakukan?" sahut Anezaki dengan santai dan masih menghiasi wajah ayunya dengan senyuman misterius.
Cho mendengus dan tertawa singkat mendengar ucapan Anezaki.
"Tidak mungkin! Lagipula tidak akan ada yang percaya padamu! Semua orang pasti akan lebih mempercayai ucapanku jika dibanding denganmu!" balas Cho kembali percaya diri.
"Oh ya? Bagaimana dengan ini?" ucap Anezaki mulai mengeluarkan sebuah jepit rambut lucu dari dalam saku seragamnya dan mulai memutar sebuah rekaman.
Rupanya jepit rambut itu adalah sebuah alat perekam suara yang malam itu sudah disiapkan oleh Anezaki untuk antisipasi. Dan rupanya semua itu berguna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
𝐩𝐫𝐚𝐬𝐬𝐞𝐭𝐲𝐨 𝟏
wah jepit rambutnya kagak tau nya adalah alat rekam. Ku kira punya cho yg kebetulan jatuh.
ehh tapi pemikiran nya anezaki parah amat🤣🤣🤣 masa di kira shirin nya belok🤦♂🤦♂️🤣🤣🤣
2023-08-01
0
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
wah cerdik juga ternyata si Anezaki 👏
2023-07-23
1
@ Yayang Risa Selamanya
Anezaki sampai mengira kalau Yuru itu sedang kerasukan roh jahat
2023-07-20
0