Trishna tidak sadar bahwa dirinya telah digendong ala bride style karena hari sudah semakin malam. Trishna belum juga sadar dari tidurnya.
Ferdian membawa Trishna masuk ke dalam apartemennya menggunakan kekuatan sihir seorang vampir yang bisa melakukan teleportasi ke mana pun yang mereka mau.
Ferdian meletakkan Trishna di atas ranjang milik Trishna lalu meninggalkannya sendiri di kamar itu.
"Bagaimana Rob? Keluarganya bukan dari kelompok serigala kan?" tanya Ferdian.
"Saya sudah periksa Tuan, hasilnya tidak ada darah dari keturunan serigala hanya saja Trishna mempunyai darah vampir yang mengalir dalam tubuhnya," jawab Roben dengan menerangkan tentang hasil cek darah Trishna tempoh hari.
"Berarti dia keturunan vampir?" tanya Ferdian memastikan walaupun sudah tahu maksud ucapan Roben tadi.
"Tepat Tuan," jawab Roben singkat.
Ferdian kaget dan semua rasa penasarannya seolah terjawab. Rasa menyesal telah menyesap banyak darah Trishna. Ferdian sengaja menghi*ap begitu banyak darah Trishna karena dia mengira Trishna mempunyai garis keturunan serigala.
"Cepat panggilkan dokter dan pastikan Trishna sembuh lagi," perintah Ferdian pada Roben.
.....
"Sial apa dia tahu siapa Trishna sebenarnya?" tanya seorang pria tampan yang saat ini terlihat bengis.
"Maaf Tuan saya belum bisa pastikan hal itu, saya hanya tahu tadi Roben membawa sampel darah Trishna kepada Ranera si vampir penyihir kegelapan itu," jawab Dev.
Pria tampan itu terlihat mengenggam tangannya. Rasa marah karena keturunan Alverio selalu saja muncul di mana-mana membuat dirinya risih.
Sedang asyik berbincang dengan Dev tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Pria itu mengizinkannya masuk.
"Maaf menganggu Tuan Daniel tapi Nona Daya berada di bawah dia bersikeras ingin menemui Tuan," ucap salah satu karyawan di perusahaannya.
Pria tampan yang dikenali sebagai Daniel Lindel merupakan seorang vampir yang telah lama berbaur dalam kalangan manusia tapi itu tidak menghapus kebiasaan seorang vampir yang sering lapar dan haus akan da*ah manusia.
Daniel sering mencari manusia dia klub-klub karena tempat itu dia mudah mendapatkan makanan yang enak dan segar iaitu da*ah.
"Suruh dia naik," jawab Daniel dengan wajah tegasnya.
Selang berapa menit wanita yang dipanggil Daya telah memasuki ruangannya dengan wajah yang terlihat sumringah.
"Hai Sayang," ucap Daya menatap Daniel.
"Saya permisi Tuan," ucap Dev lalu keluar karena dia tidak mau menganggu sang majikan bersama kekasihnya.
Setelah Dev pergi barulah Daya mendekati Daniel dan memeluknya. Daya menci*m bibir Daniel yang terlihat begitu pucat kemerahan.
"Kamu merindukanku?" tanya Daniel setelah tautan bibir mereka terlepas.
"Sangat merindukanmu, hmm Daniel aku ke sini membawa berita buruk," jawab Daya dengan wajah yanh ditekuk.
"Hei, hei kenapa wanitaku berwajah masam seperti ini? Apakah ini ada kaitan dengan berita buruk itu?" tanya Daniel kembali menarik dagu Daya perlahan agar kembali menatap dirinya.
Daya mengangguk lalu mulai bercerita.
"Aku dijodohkan dengan Galang Ferdian Alverio, aku sudah coba menolak tapi Daddy bersikeras tetap tidak mendengarkanku," terang Daya.
"Terus aku bagaimana?" tanya Daniel dengan raut wajah tidak kalah shocknya.
"Kita nikah lari saja," jawab Daya memberi ide.
Daniel tampak tersenyum walaupun sebenarnya rasa marahnya sudah ingin meledak karena semuanya berkaitan dengan keluarga Alverio.
Dari sini Daniel semakin kuat ingin menghancurkan keluarga Alverio. Apalagi saat ini ponakannya seperti menjadi tawanan salah satu keturunan Alverio.
"Kau akan jatuh cinta padanya kalau kau melihat wajahnya," ucap Daniel.
"Aku sudah melihat wajahnya Daniel dan kau tau apa? Kau lebih tampan. Hatiku hanya untuk kau Daniel," jawab Daya lalu membenamkan kepalanya di dada bidang Daniel.
'Eh tapi aku bisa menggunakan hal ini untuk menghancurkan Alverio. Heh aku akan bekerjasama dengan Daya dan menghancurkan kalian!" ucap Daniel dalam hati.
Daniel tersenyum tipis sambil mengusap puncak kepala Daya wanita yang sangat dia cintai.
.
.
.
.
.
"Darah Nona terlalu rendah Tuan, sebaiknya Nona beristirehat dulu dan pastikan jangan terlalu stress," ucap dokter yang datang memeriksa kondisi Trishna.
"Baiklah terima kasih Dok," jawab Ferdian dengan wajah datarnya.
Dokter tadi pamit pulang dan kini hanya tinggal Ferdian dan Trishna di dalam kamar itu. Trishna masih saja belum sadar sedari tadi.
"Maafkan aku yang terlalu gegabah," ucap Ferdian lirih.
Ferdian menunggu Trishna bangun hingga jam sudah menunjukkan pukul 9 malam barulah Trishna bangun dari tidurnya.
"Uuhh," Trishna coba menggerakkan tangannya tapi bahu kirinya terasa sangat ngilu.
"Jangan bergerak, kamu lagi tidak baik-baik saja," ucap Ferdian yang duduk di kursi samping ranjang Trishna.
"Eh maaf Tuan, sudah merepotkan tapi kalau boleh tahu saya kenapa Tuan?" jawab Trishna lalu kembali bertanya karena dia juga bingung kenapa dengan dirinya.
"Kamu darah rendah," jawab Ferdian.
"Hah? Kok bisa?" tanya Trishna.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments