Bab 11

Pagi-pagi lagi Trishna telah bangun untuk membuat sarapan pagi untuk keluarganya. Setelah keluar dari kamarnya betapa terkejutnya dia melihat sosok Ibunya telah berada di dapur sedang memasak.

Trishna mulai tidak enak hati karena setahun kebelakangan ini setelah Ayahnya mengalami kelumpuhan Ibunya tidak pernah lagi memijakkan kakinya di dapur untuk memasak maupun mencuci.

Perlahan langkah Trishna mendekati Ibunya. Walaupun hatinya merasa ragu tapi dia tidak boleh membiarkan Ibunya yang memasak karena takut akan kemarahan Ibunya.

"Ibu lagi buat apa?" tanya Trishna dengan hati-hati.

Ibu yang mendengar suara Trishna langsung saja menoleh ke arah Trishna. Ibu mengukirkan senyuman yang telah lama tidak pernah terukir dibibirnya.

"Ibu sedang membuat sarapan," jawab Ibu sambil mengaduk makanan yang ada di dalam periuk.

Trishna sedikit kaget karena pemandangan ini, pemandangan yang sangat dia rindu. Apa mungkin ini cuma mimpi karena mustahil Ibunya tiba-tiba berubah begini tapi dalam hati kecil Trishna dia merasa senang karena Ibunya tidak terlihat garang saat ini.

"Biar Trish bantu," ucap Trishna

Baru saja hendak mengambil pisau untuk memotong beberapa sayuran untuk dicampur di dalam masakan Ibunya tapi tangannya dihentikan oleh sang Ibu.

"Biar Ibu yang kerjakan, kamu bersiaplah untuk pergi bekerja," ujar Ibunya.

'Apa mungkin mimpi ini membuat telingaku menjadi salah mendengar, ini sepertinya sangat membahagiakan tapi kenapa ada rasa aneh di dalam hatiku,' batin Trishna sambil menatap lekat Ibunya.

"Apa yang kamu lamunkan? Cepat pergi bersiap dan jangan lupa bangunkan Tiana untuk segera bersiap ke sekolah juga," lanjut sang Ibu lagi sambil mendorong Trishna untuk keluar dari ruang dapur.

'Mudah-mudahan ini bukan mimpi,' batin Trishna.

Pagi ini mereka seperti biasa sarapan bersama wajah Trishna terlihat begitu bahagia karena sifat Ibunya yang telah lama hilang akhirnya kembali.

Kecuali Tiana, dia hanya terdiam menatap Ibunya dengan penuh curiga tapi dia sendiri tidak membuka suara untuk mengatakan kejanggalan pada sang Ibu.

Sehinnga sebelum mereka berangkat keluar untuk pergi, Ibunya menyempatkan diri untuk menyiapkan bekal makanan untuk mereka. Dan menghantar mereka hingga di depan gerbang rumah.

Dalam perjalanan Tiana coba bertanya kepada sang Kakak tentang Ibu mereka.

"Kak apa Kakak tidak merasa aneh dengan Ibu yang tiba-tiba berubah?" tanya Tiana dengan wajah serius.

Wajah sumringgah Trishna berubah. Entah kenapa ucapan Tiana kedengaran sedikit aneh. Trishna mengerutkan dahinya.

"Tia, kamu harus bersyukur Ibu telah berubah kembali dan berpikirlah positif. Mungkin Ibu telah menyadari sifatnya selama ini," jawab Trishna, sambil mengusap puncak kepala Tiana.

Sebenarnya Trishna juga tiba-tiba menjadi curiga tapi dia coba memadamkan kecurigaannya itu karena tidak baik untuk mencurigai Ibu sendiri, begitulah pikirannya.

Tiana mengangguk tapi dalam pikirannya masih memikirkan perubahan sikap Ibunya. Dia menghela nafas perlahan.

....

["Hari ini aku sudah menjalankan tugasku dengan baik sebagai seorang Ibu, jangan lupa janjimu untuk mentranfer uang padaku,"] ucap seorang wanita berumur yang sedang bertelepon.

["Aku sudah melihat semuanya, teruskan dan setiap hari aku akan mentransfermu tepat jam 10 pagi sudah masuk ke rekeningmu tapi ingat! Jangan pernah membocorkan hal ini pada Trishna ataupun adiknya,"] sahut seorang pria dari seberang sana.

Wanita berumur merupakan Ibu Trishna, saat ini Ibunya itu tersenyum senang. Tugas yang akan dilakukannya adalah hal yang gampang karena dulu pun dia pernah mengerjakan semua hal dalam rumah tanpa bantuan anak-anaknya.

Setelah mematikan ponselnya, bunyi notifikasi muncul. Sang Ibu dengan cepat memeriksa notifikasi tersebut.

[Dana sebanyak Rp20,000,000 telah masuk ke rekening anda.]

Ibu langsung melompat kegirangan karena uang yang dijanjikan oleh pria yang menemuinya semalam telah benar-benar dikirim ke rekeningnya.

"Ibu kenapa terlihat girang begitu?" tanya sang suami yang baru saja masuk ke kamar mereka karena mendengar suara istrinya.

"Ibu terima uang Yah, lihat ini," jawab sang istri sambil memperlihatkan sms yang dia terima tadi.

"Dari siapa Bu?" tanya Ayah Trishna lagi, karena merasa aneh saja istrinya bisa menerima uang dengan nominal 2 bulan gaji Trishna.

"Shhhttt Ayah jangan bilang ke anak-anak awas saja Ayah dan uang ini Ayah tidak perlu tahu dari mana yang penting ini uang halal," jawab Ibu dengan sedikit ketus.

Ibu melenggang keluar dari kamar dengan bersenandung karena hatinya begitu bahagia. Kali ini dia bisa lagi kembali seperti dulu membeli apa yang dia inginkan dan pergi keluar jalan-jalan bersama teman-temannya.

Ayah melihat punggung Ibu yang keluar meninggalkannya sendiri di kamar mereka. Hatinya merasa sakit apabila tahu sang istri menerima uang entah dari siapa.

"Aku harus cari tahu siapa yang memberinya uang," ucap Ayah Trishna dengan suara lirih.

Di tempat Trishna bekerja, hari ini Trishna begitu bahagia walaupun kenyataannya hatinya masih sedang berduka tentang Varel. Tapi dia tetap akan coba untuk bisa move on dari perasaannya terhadap Varel.

Sedang asyik mempromosikan barang perhiasan berlian yang baru dengan pelanggan setianya tiba-tiba senyuman ramah Trishna memudar karena dia menangkap satu sosok sedang sibuk memperhatikannya.

'Dia buat apalagi datang ke sini? Ehh tapi ini tempatkan miliknya huhh sabar sajalah Trish hadapi dengan senyuman dan jangan biarkan dia mendekatimu,' batin Trishna dan kembali tersenyum melayani pelanggan-pelanggannya.

Manager Diana terlihat terburu-buru keluar dari ruangannya setelah mendengar sang pemilik sedang berada di dalam toko mereka.

Dengan wajah tersenyum bahagia dia mendekati sang pemilik.

"Selamat pagi menjelang siang Tuan Galang," sapa Diana dengan gaya genitnya.

Sang pemilik yang datang tadi adalah Ferdian. Sengaja dia mendatangi toko di mana Trishna bekerja karena ingin menemui Trishna karena rasa penasarannya masih belum terjawabkan.

"Selamat pagi juga, maaf anda manager di sini?" tanya Ferdian karena memang dia tidak mengenal siapa manager di toko ini.

Itu karena Ferdian tidak pernah datang sendiri toko melihat cabangnya dan hanya Roben yang sering datang memeriksa keadaan toko cabang miliknya.

"Benar Tuan, saya Diana manager di sini," jawab Diana dengan malu-malu.

"Oh sekali lagi maaf tapi kenapa kancing bajumu terbuka berlebihan itu sangat tidak cocok dengan penampilan kamu apalagi kamu seorang manager. Harusnya kamu jadi contoh dengan karyawan lain," tegur Ferdian dengan wajah datarnya.

Wajah Diana memerah dia membalikkan badannya dan mengancing kembali kancing kemeja yang sengaja dia buka tadi untuk memperlihatkan belahan gunungnya kepada sang pemilik.

"Maaf Tuan saya tadi sedikit terburu-buru," ucap Diana malu. Ingin sekali rasanya menenggelamkan diri dan menghilang karena awalnya ingin menggoda sang pemilik tapi semuanya menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.

"Hmm, dia chief marketing di sini?" tanya Ferdian sambil menunjuk ke arah Trishna.

Diana ikut melihat ke arah yang dimaksudkan Ferdian. Sebelum dia menjawab Ferdian, Diana menatap tajam ke arah Trishna karena dia sadar Ferdian sepertinya dari tadi terus memperhatikan Trishna.

'Ck, awas kamu Trish!' batin Diana sambil menatap tidak suka.

"Iya benar Tuan. Bagaimana kalau kita berbincang di ruangam saya saja Tuan karena takutnya kehadiran Tuan akan memancing para pelanggan dan mereka akan menyerbu Tuan, apalagi mereka tahu Tuan adalah pemilik perusahaan berlian yang paling terkenal itu," ujar Diana sengaja mengalih perbicaraan supaya Ferdian tidak menatap ke arah Trishna terus menerus.

"Baiklah, kita bicara di ruanganmu saja," sahut Ferdian yang sebenarnya tahu isi pikiran Diana.

Di dalam ruangan Diana, Ferdian duduk cantik di sofa yang telah disediakan sambil memeriksa beberapa laporan keuangan toko cabangnya itu.

"Menarik, pantas saja Trishna mendapat anugerah kemarin," ucap Ferdian dengan bangga.

"Itu semua hasil dari briefing yang saya lakukan setiap pagi sebelum mereka memulakan pekerjaan Tuan," timpal Diana.

Diana tidak mahu Ferdian hanya memuji Trishna. Tanpa dia sadar setiap apa yang dia pikirkan telah dibaca oleh Ferdian.

Ferdian tidak menanggapi ucapan Diana, dia terus membolak balik laporan yang berada di tangannya saat ini.

"Oh ya, kebetulan beberapa menit lagi jam makan siang, aku mau mengajak makan siang," ucap Ferdian sambil melihat jam dipergelangan tangannya.

'Wahh kesempatan besar, Tuan Galang mengajakku makan siang, aku harus dandan secantik mungkin,' batin Diana yang mulai merasa senang.

"Baiklah saya akan bersiap sekarang," jawab Diana dengan senyuman yang sudah mulai mengembang.

"Maaf maksud aku, aku ingin mengajak Trishna makan siang," ucap Ferdian membetulkan ucapannya tadi.

"Oh baiklah," jawab Diana yang wajahnya mulai memerah.

'Sial awas kamu Trish!' batin Diana yang kesal terhadap Trishna.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Dilarasofea Rahman

Dilarasofea Rahman

Bagus ceritanya, Thor. Semangat 💪

2023-07-25

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!