Setelah pengumuman perkenalan, karayawan yang lain kembali ke meja masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan termasuk Trishna.
Ferdian hanya menatap Trishna dari jauh dan tidak berbicara seperti biasa kepada Trishna karena Roben telah mencurigai Trishna adalah keturunan serigala.
Kelompok serigala merupakan musuh berbuyutan bagi kelompok vampir. Hal itu tidak pernah berubah sejak dahulu kala.
Oleh itu, Ferdian mencurigai Trishna yang merupakan keturunan musuh besarnya.
'Pasti dia belum menyadari dirinya siapa,' ucap Ferdian dalam hati.
Semua rasa penasaran seakan terjawab walaupun masih terdapat sedikit keraguan. Ferdian telah menyuruh Roben untuk mencari tahu tentang Ayah Trishna.
Jika benar Trishna seorang keturunan serigala dia terpaksa menangkap dan menahan Trishna, dia akan menyiksa Trishna dan tidak akan melepaskan semua keluarga Trishna.
Apalagi Ferdian mempunyai dendam pribadi dengan serigala yang berkaitan dengan masa lalunya yang menyebabkan dia tidak ingin tinggal di kota vampir yang terletak di atas pergunungan tersembunyi.
Seharian Ferdian tidak fokus menyelesaikan pekerjaan kantornya karena pikirannya hanya tertuju pada Trishna.
Ferdian meletakkan pulpennya lalu berdiri dan menuju ke sofa ruangannya. Ferdian membuka meja yang berhadapan dengan sofa itu.
Ukuran mejanya sedikit panjangan sama seperti kepanjangan tubuh Ferdian dari atas rambut hingga ke telapak kakinya. Sebenarnya tidak cocok untuk dijadikan meja karena benda tersebut merupakan peti atau lebih dikenali dengan keranda.
Ferdian memasuki tempat itu lalu menutupnya kembali karena tubuhnya merasa sangat lelah dan dia membutuhkam energi dari dalam keranda yang mempunyai asupan energi.
....
Setelah selesai jam kantor, mau tidak mau Trishna terpaksa naik ke lantai 8 untuk bertemu dengan Ferdian dan mengatakan apa pilihannya.
"Cuma sebulankan, tidak apa-apa daripada harus potong gajiku," ucap Trishna lirih.
Sepanjang perjalanan menuju ke ruangan Ferdian, Trishna terus saja menguatkan dirinya untuk menerima hukuman ini dan yakinkan dirinya bahwa sebulan bukan waktu yang lama.
Kini dia telah berada di depan pintu ruangan Ferdian, Trishna telah mengetuk beberapa kali pintu tersebut tapi tidak ada sahutan sedikit pun.
"Mungkin Tuan sudah pulang, huhh aku juga harus pulang hari semakin gelap," ucap Trishna pada dirinya sendiri lalu menoleh ke arah jendela besar itu.
Langit berwarna jingga, matahari sudah hampir tenggelam dan lampu-lampu kantor sudah mulai padam karena hampir semua karyawan telah pulang.
Baru saja hendak berganjak pergi tiba-tiba pintu ruangan Ferdian terbuka dan membuat Trishna hampir saja menjerit karena kaget.
Trishna menolak pintu tersebut, terlihat di dalam ruangan Ferdian begitu gelap karena gorden jendelanya tertutup.
"Tuan," panggil Trishna.
Tidak ada sahutan membuat Trishna bergidik ngeri, tapi dia mencoba untuk tenanh karena dirinya tidak biasa melihatkan kepada siapa pun bahwa dia ketakutan.
Perlahan kaki Trishna melangkah masuk ke dalam ruangan Ferdian sehingga menjauh dari pintu tadi.
Bamm!
Pintu tadi tertutup membuat Trishna melompat kaget karena bunyinya, kini pandangan Trishna begitu gelap. Dia coba merogoh tasnya mencari ponselnya.
Setelah dia memegang ponselnya dengan cepat dia nyalakan dan mencari tombol senter untuk menyalakan senter ponselnya.
Dengan menggunakan senter ponselnya Trishna terus berjalan sehingga tanpa sadar lengannnya tergores pada hujung perhiasan ikan-ikan yang ada di dalam ruangan itu.
Da*ah mengalir dari lengannya dan aromanya mulai masuk ke dalam rongga hidung Ferdian yang masih terbaring di dalam kerandanya.
'Bau manis!' batin Ferdian.
Sisi vampir Ferdian telah bangun dan segera keluar dari keranda itu dengan secepat hembusan angin dan hanya terdengar bunyi keranda kembali tertutup saja.
Brukk!
Sekali lagi Trishna melompat karena ada bunyi aneh yang terdengar.
"Sial bunyi apa lagi tu," ucap Trishna sambil mengelus dadanya.
Tanpa dia sadar ada sepasang mata merah menyala menatap ke arahnya. Trishna berdiri di tempat membuat Ferdian melangkah dengan perlahan.
Trishna masih menatap ponselnya untuk berbalas pesan pada sang adik karena dia telah berjanji untuk pulang bersama hari ini tapi dia terpaksa ingkar.
Selain itu Trishna juga sengaja sibuk dengan ponselnya karena jantungnya semakin berdegup kencang, ketakutan semakin tinggi apabila ekor matanya menangkap bayang-bayang hitam.
Gigi taring yang tajam sudah keluar dari tempatnya dan mulai memanjang. Hampir saja Ferdian menancapkan taringnya tapi kembali dia kembali menghilangkan diri apabila mendengar suara Roben melalui telepati.
"Tuan tolong sadar, dia Trishna!" ujar Roben lewat telepati.
"Sial!" sahut Ferdian setelah sadar lalu pergi menghilangkan diri seperti angin.
Roben masuk ke ruangan Ferdian lalu menghidupkan lampu.
"Aaaarrrkkkhhh," teriak Trishna karena lampu tiba-tiba hidup.
"Trishna?" panggil Roben membuat Trishna membuka mata lalu menoleh ke arah Roben.
Trishna terduduk dengan lemas setelah menatap Roben. Dahinya terlihat basah karena keringat dingin yang keluar tadi.
'Syukurlah cuma bayangan,' batin Trishna.
Roben mencium aroma darah lalu menatap Trishna dengan teliti sehingga dia mendapati lengan Trishna berdarah.
'Pantasan Tuan hampir hilang kawalan lagi,' ucap Roben dalam hati.
"Kamu buat apa di sini?" tanya Roben.
"Tadi pintu terbuka dan saya masuk karena ingin menemukan Tuan Galang tapi rupanya Tuan Galang tidak ada," jawab Trishna jujur.
"Maafkan saya Pak, jika saya lancang masuk ke ruangan Tuan," lanjut Trishna lagi.
"Tidak apa-apa, hmm Tuan sudah pergi tadi dan mungkin langsung pulang. Kamu pulanglah juga dan obati lenganmu yang luka itu," ucap Roben.
Trishna dengan cepat melihat ke arah lengannya, dia baru sadar dia terluka.
"Baiklah Pak terima kasih, ehh tapi sebelum itu bisa Pak Roben sampaikan pada Tuan. Bilang pada Tuan saya pilih pilihan yang pertama jadi pembantu di apartemennya," ujar Trishna.
"Baiklah nanti saya sampaikan," jawab Roben tersenyum.
Trishna akhirnya pamit. Setelah bayangnya sudah tidak terlihat barulah Roben segera mengunci pintu itu dan kembali bertemu dengan Ferdian yang kembali baring di dalam kerandanya.
"Sudah aman Tuan," ucap Roben lalu membuka keranda Ferdian.
Roben melihat Ferdian meremas baju bagian dadanya. Dia membantu Ferdian keluar lalu di baringkannya di sofa. Dengan kecepatan luar nalar manusia, Roben telah menyiapkan beberapa botol yang terisi da*ah binatang dan diletakkannya dia atas meja keranda itu.
Dengan cepat Ferdian meneguk semua isi dalam botol dihadapannya itu hingga semuanya tandas tanpa sisa setitik pun. Tetapi Ferdian masih saja terus meremas baju bagian dadanya.
'Sialan ini masih terasa panas!' batin Ferdian.
Roben tampak panik.
"Tuan biar saya carikan manusia saja atau saya ambil dari rumah sakit," ucap Roben.
"Lebih baik rumah sakit daripada manusia," jawab Ferdian yang semakin tidak tahan dengan panas di bagian dada yang dia rasakan.
"Tunggu 2 menit, saya kembali lagi," Roben langsung pergi dengan kecepatannya.
Tidak bisa dihindari lagi, hari ini Ferdian akan kembali meminum da*ah manusia dan sudah bisa dipastikan dia akan menjadi ketagih seperti dulu lagi.
"Gerhana sialan! Gara-gara kau aku harus minum darah manusia!" gerutu Ferdian sambil menahan rasa panas yang semakin membuncah di dalam dadanya.
Roben telah kembali dan membawa beberapa kantong darah yang dia ambil dari rumah sakit. Baru saja dia memasukkan darah tersebut ke dalam gelas. Ferdian muntah dan menjauhi darah manusia tersebut sambil menutup hidungnya.
"Sialan bau bangkai! Buang semuanya!" teriak Ferdian.
Roben sempat mencicipi darah tersebut dan masih terasa segar dan tidak berbau bangkai tapi mau tidak mau dia harus membuangnya ke tempat yang jauh.
"Tuan bagaimana ini, mungkin Tuan tidak cocok dengan darah manusia yang dari rumah sakit," ucap Roben.
"Mungkin harus yang benar-benar segar dari tubuh manusia," lanjut Roben lagi.
"Lupakan aku mau menemui Trishna dulu," jawab Ferdian lalu dengan cepat menghilang begitu saja dari hadapan Roben.
"Tapi Tuan masih sakit," ucap Roben melalui telepati.
"Aku baik-baik saja, kamu siapakan apartemen. Trishna akan tinggal di sana untuk sebulan," sahut Ferdian lewat hubungan telepati lagi.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments