Bab 16

Trishna terperangah apabila mendengar ucapan Roben tentang posisi barunya di perusahaan itu. Dia merasa bulu kuduk di seluruh tubuhnya merinding dengan cepat dia menoleh ke arah Ferdian.

"Jangan bilang ini ulahmu Tuan," ucap Trishna sinis.

"Sudah tentu Trish, kalau bukan ulahku bagaimana kau bisa menduduki posisi itu," jawab Ferdian jujur dengan senyuman bahagia yang dicetak jelas di wajahnya.

"Kalau begitu aku menolak!" sahut Trishna berani.

"Baiklah tapi siap dipotong gajimu hingga lebih dari setengah," ucap Ferdian mengancam Trishna.

"Terserah! Kebetulan sekali, saya BERHENTI saja," jawab Trishna ketus.

"Hei, hei tidak kamu tidak boleh berhenti," ucap Ferdian mulai kalang kabut.

"TERSERAH!" jawab Trishna membentak.

Ferdian dan Roben kaget melihat Trishna tidak ada takut sedikitpun dengan mereka.

"Tuan menakutkan juga ya wanita ini," ucap Roben lewat telepati.

"Ck, cepat cari cara jangan sampai dia berhenti," jawab Ferdian lewat telepati juga.

Roben mencari-cari ide lain sehingga dia menemukan satu posisi yang kebetulannya kosong karena orangnya yang dulu telah pansiun.

"Nona dengar tadi itu saya cuma bercanda, posisi sebenar Nona ada di bagian manager pemasaran, bagaimana?" tawar Roben tiba-tiba.

Ferdian menatap Roben dengan tatapan sedikit kaget. Berarti dia harus berjauhan dengan Trishna.

Padahal dia sengaja meletakkan posisi Trishna sebagai sekretaris supaya dia bisa memantau langsung dan kecurigaannya terjawab.

"Tidak ada yang lebih dekat dengan aku lagi ka? Asisten atau apalah," tanya Ferdian kesal lewat telepati.

"Kalau berdekatan dengan Tuan pasti dia menolak," jawab Roben kembali.

Trishna menatap wajah Roben untuk memastikan keseriusan Roben. Dia hanya melihat senyuman aneh dari bibir Roben kemudiannya dia menoleh ke arah Ferdian yang juga ikut tersenyum.

'Manager ya, baguslah yang penting bukan sekretaris si kuat mesum ini,' batin Trishna.

"Oh baiklah saya mau, hmm sebelumnya saya minta maaf tadi sedikit membentak Tuan. Saya juga cuma bercanda mau berhenti," ucap Trishna lalu menundukkan kepalanya.

Sesuatu terlintas dipikiran Ferdian, dia kembali tersenyum tipis lalu memasang wajah seriusnya agar rencana nakalnya kali ini tidak dicurigai Trishna.

"Di dalam lingkungan pekerjaan ada etikanya, kamu telah melanggar etikanya. Aku ini pemilik perusahaan ini tapi kamu sebagai karyawan rendahan berani membentakku," ucap Ferdian dengan wajah serius.

"Roben untuk karyawan yang tidak menghormati atasan apa hukumannya?" tanya Ferdian pada Roben.

"Pecat!" jawab Roben mantab.

Ferdian langsung menoleh ke arah Roben karena bukan itu jawaban yang dia mau.

"Bukan pecat sialan, bilang saja harus jadi menjadi pembantu di rumahku tanpa gaji selama sebulan!" ucap Ferdian lewat telepati lagi agar Roben bisa membetulkan ucapannya.

"Yang ada malah dia merasa aneh Tuan, hmm Tuan kok hari ini aneh-aneh? Tuan sudah lapar lagi?" tanya Roben yang merasa aneh pada Ferdian masih lewat telepati.

Ferdiam tampak mengelus dadanya, entahlah kenapa asistennya hari ini susah sekali untuk memikirkan ide yang lebih baik tidak seperti hari-hari sebelumnya.

"Maaf Tuan, tapi jangan pecat saya. Baiklah-baiklah saya mengaku saya salah tapi jangan sampai pecat saya," ucap Trishna yang mulai ketakutan akan kehilangan pekerjaannya.

'Tidak, jangan sampai terjadi. Sial amat ini mulut kenapa harus membentak pemilik perusahaan kan sudah termakan jerat sendiri cih,' ucap Trishna dalam hati. Jujur dia menyesal telah membentak Ferdian.

Apalagi keluarga Trishna bergantung pada uang gajinya untuk makan dan minum. Belum lagi hal lain yang harus Trishna tanggung.

"Tuan saya rela lakukan apa saja, yang penting Tuan jangan memecat saya," ucap Trishna lagi.

Ferdian mengernyitkan kedua alisnya lalu berkata, "apapun itu?"

Trishna mengangguk walaupun berat rasanya karena dia tahu pasti Ferdian akan mengambil kesempatan ini untuk menjeratnya lagi.

"Baiklah kamu harus menjadi pembantu di apartemen saya selama sebulan," ucap Ferdian tegas.

"Tidak ada yang lainkah Tuan yang agak ringan?" tanya Trishna coba bernegosiasi dengan Ferdian.

"Ada kamu mau tau?" jawab Ferdian dengan kembali bertanya.

"Apa Tuan, adakah lebih ringan?" ucap Trishna.

"Sangat ringan, hmm gajimu akan dipotong untuk bulan ini sebanyak 60%. So, kamu tergantung kamu pilih yang mana," jawab Ferdian dengan wajah datarnya.

'Kan benar-benar ingin menjebakku, ck kalau pilih potong gaji nanti bagaimana dengan keluargaku tapi kalau pilih jadi pembantu di rumahnya ihh menyeramkan juga, aku harus pilih yang mana,' ucap Trishna masuk dalam dilema.

Trishna menundukkan saja wajahnya, dia tidak tahu harus memilih pilihan yang mana. Dia mencoba meminta pilihan lain lagi.

"Tuan itu terlalu ringan seperti hembusan angin, tidak ada yang ringan biasa-biasa saja?" tanya Trishna kembali mencoba memberanikan diri.

'Apa susahnya, kalau tidak mau kehilangan gaji kan bisa jadi pembantu. Ck wanita ini ribet sekali,' batin Ferdian menggerutu.

"Maaf Trish hanya itu pilihannya. Aku beri kamu waktu sampai jam pulang kantor. Sekarang kamu bisa ikut Roben untuk ke ruanganmu," jawab Ferdian.

Trishna mengangguk, kali ini kalah sudah dia karena pilihan itu sungguh menjeratnya. Dengan langkah yang gontai, Trishna mengikuti Roben menuju ke lantai 2 di mana ruang manager pemasaran itu berada.

Sedikit lega karena ruangan jauh dari Ferdian yang berada di lantai 8. Trishna telah berada di dalam ruangannya. Matanya tidak habis-habis mengitar ruangan manager pemasaran yang terlihat begitu mewah dan nyaman.

"Kenapa tempat ini terlalu nyaman, kursi dan sofanya juga empuk. Hehh begini rasanya duduk di dalam ruangan manager," celoteh Trishna sendiri.

Dia mulai menghampir mejanya lalu duduk di kursi. Dirinya merasa bangga karena bisa mendapatkan jabatan yang menjadi incaran banyak orang.

"Semua ini berkat Ibu dan Ayah," ucap Trishna lagi tapi dia kembali merasa sedih ketika mengingat Ibunya.

"Ibu kok berubahnya agak aneh atau jangan-jangan Ibu telah sadar dan intropeksi diri. Eh tapi tidak mungkin hufftt, mudah-mudahan Ibu kembali seperti dulu," ucap Trishna lirih.

Trishna membuka beberapa dokumen yang ada di atas mejanya. Dia membacanya satu demi satu untuk mengambil kesimpulan tentang perencaan pemasaran yang akan dilakukan.

Sehingga bunyi waktu jam istirehat, Trishna masih berada di dalam ruangannya sehingga Roben datang tiba-tiba mengagetkannya.

"Pak Roben kapan ...?" tanya Trishna karena hampir saja dia terjungkir dari kursinya.

"Sedari tadi, saya sudah coba memanggil kamu tapi kamu terlihat sangat serius," kelit Roben padahal dia baru saja dengan kecepatan angin masuk tanpa mengetuk pintu dulu.

"Maaf-maaf mungkin saya fokus baca semua perencanaan ini," jawab Trishna dengan polosnya percaya ucapan Roben.

"Tidak apa, saya datang cuma mau bilang sebentar ada pengumam baru dan perkenalan tentang posisimu untuk devisi pemasaran. Setelah jam istirehat kamu datang ke ruang rapat di lantai 7 karena karyawan lain sudah diinfomasikan," ucap Roben lagi.

"Baiklah, terima kasih Pak," sahut Trishna.

"Kalau begitu saya pamit," ucap Roben lalu keluar dari ruangan Trishna.

Roben keluar dengan wajah yang gelisah karena sampai saat ini dia tidak bisa mendengar detak jantung Trishna.

"Kalau dia bukan manusia pasti keturunan serigala, ck aku harus pastikan sebelum dia membahayakan keselamatan Tuan," ucap Roben lirih.

Roben menuju ke arah lift untuk naik kembali ke ruangan Ferdian karena kebetulan Ferdian menyuruhnya masuk ke ruangan.

.

.

.

.

.

"Rob, kau kenal Elizabeth Lindel?" tanya Ferdian.

"Kenal, kenapa Tuan?" Roben kembali bertanya.

"Siapa?" bukan menjawab tapi Ferdian kembali bertanya dengan antusiasnya.

"Dia putri dari mantan raja Wilson Lindel 6000 tahun yang lalu," jawab Roben.

"6000 tahun? Dari mana kau tahu?" tanya Ferdian lagi karena dia sendiri tidak tahu cerita tersebut.

"Kami sebagai pelayan keturunan raja telah di ajari tentang sejarah karena cerita tentang mendiang Nona Elizabeth merupakan cerita yang penuh dengan pelajaran untuk kita kaum vampir," jawab Roben.

"Hmm ceritanya bagaimana?" tanya Ferdian mulai penasaran.

"Dia meniduri seorang manusia lalu hamil anak manusia tapi sayangnya anaknya tidak hidup malah setelah melahirkan anaknya hancur menjadi debu, kali kedua dia hamil dia coba meminum darah manusia iaitu darah dari suaminya untuk memastikan anaknya bisa selamat tapi nyatanya sama saja walaupun anaknya berhasil dilahirkan sempurna tetap saja 3 bulan kemudian anaknya mati dan menjadi debu," terang Roben tentang Elizabeth.

"Terus apakah Elizabeth masih hidup sekarang? Kalau diperkirakan umurnya baru sekitar 5000 tahun sekarang," ucap Ferdian.

"Mendiang nona Elizabeth dihukum mati Tuan, kenapa raja keturunan Lindel diturunkan dan digantikan dengan dengan keturunan Alverio itu adalah berpunca dari mendiang nona Elizabeth," jawab Roben serius.

"Aku tidak pernah mendengar cerita ini Roben," sahut Ferdian bingung.

"Sengaja tidak dibicarakan karena yang tahu cerita ini adalah keturunan pelayan seperti kami Tuan," terang Roben.

"Terus apa kaitannya dengan Ayah Trishna?" tanya Ferdian pada Roben.

"Ayah Trishna? Kenapa dengan Ayah Trishna?" Roben kembali bertanya karena bingung.

"Ayah Trishna yang memberitahuku nama Elizabeth Lindel," jawab Ferdian.

Roben mengernyitkan dahinya karena Ayah Trishna merupakan seorang manusia biasa karena dia pernah menemuinya sekali sewaktu kejadian kecelakaan yang menimpa Ayah Trishna.

Roben teringat detak jantung Trishna yang tidak bisa didengarnya.

"Tuan, apa Tuan yakin Trishna seorang manusia biasa?" tanya Roben dengan wajah yang serius.

Bersambung....

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!